Pagi itu, Jakarta tidak menyambutku dengan hangat. Setelah kejadian di acara arisan Maria, aku mengira telah memenangkan satu babak penting dalam pertarungan harga diri ini. Namun, aku lupa bahwa di dunia yang dikuasai oleh orang-orang seperti Hartono dan Maria, kemenangan moral sering kali dibayar mahal dengan kehancuran finansial.
Baru saja aku menyesap teh hangat di balkon hotel, Alif datang dengan wajah yang sangat tegang. Ia tidak membawa kopi seperti biasanya. Di tangannya hanya ada sebuah tablet yang menampilkan tajuk berita dari beberapa portal media besar.
"Lisna, kita dalam masalah besar," suara Alif terdengar berat.
Aku mengambil tablet itu. Mataku membelalak membaca judul utama yang tersebar secara masif. Penulis Fenomenal Diduga Melakukan Penipuan Publik: Mantan Suami Membongkar Kebohongan di Balik Naskah Sisa Aroma Dapur.
Di bawah berita itu, terdapat video wawancara eksklusif Aris yang tampak sangat rapi—jauh lebih rapi daripada saat ia mengamuk di arisan kemarin. Rupanya, uang dari cek yang kuberikan tidak ia gunakan untuk pulang ke kampung, melainkan untuk membeli pakaian baru dan membayar jasa pengacara untuk menyerangku balik melalui media.
"Dia bilang bahwa naskah itu bukan tulisanku, Mas?" tanyaku dengan suara yang mulai bergetar. "Dia bilang dia yang menyusun kerangkanya dan aku hanya mencurinya?"
"Bukan hanya itu, Lisna," Alif mengusap wajahnya dengan kasar. "Maria sudah bergerak lebih jauh. Ia menekan asosiasi penerbit dan distributor buku nasional. Pagi ini, aku menerima kabar bahwa tiga jaringan toko buku besar menarik novelmu dari rak mereka dengan alasan etika dan sengketa hak cipta. Mereka tidak mau mengambil risiko hukum."
Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam dadaku. Tekanan ini jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik yang dulu sering kuterima. Mereka sedang mencoba membunuh karakterku, mematikan sumber penghasilanku, dan menghapus eksistensiku sebagai seorang kreator.
Siang harinya, tekanan itu semakin nyata. Aku menerima telepon dari Bu Sarah, perwakilan rumah produksi yang sedang menggarap serial dramaku. Suaranya terdengar penuh penyesalan namun juga sangat tegas.
"Mbak Lisna, mohon maaf sebelumnya. Karena kegaduhan ini, para sponsor utama menarik diri. Mereka tidak ingin merek mereka diasosiasikan dengan penulis yang sedang terlibat skandal moral dan hukum. Untuk sementara waktu, produksi serial ini kami tangguhkan sampai ada kejelasan hukum tentang kepemilikan naskah Anda."
Aku terduduk di tepi tempat tidur, memandangi tumpukan buku catatanku yang berserakan. Semua perjuanganku, semua malam tanpa tidur yang kuhabiskan untuk menulis setiap kata di sana, kini dianggap sebagai hasil curian oleh pria yang bahkan tidak bisa membedakan antara kata depan dan imbuhan.
"Ini tidak adil, Mas," bisikku saat Alif kembali ke kamar untuk memeriksa kondisiku. "Aris tidak tahu apa-apa soal menulis. Dia bahkan tidak pernah membaca satu pun bukuku."
"Aku tahu, Lisna. Tapi di mata publik, suara pria yang mengaku sebagai suami yang tersakiti sering kali terdengar lebih nyaring jika dibumbui dengan air mata palsu. Apalagi ada kekuatan uang Maria di belakangnya yang memastikan berita itu tetap berada di puncak pencarian."
Ponselku mulai dipenuhi dengan pesan kebencian dari netizen yang dulu memujiku. Mereka menyebutku pembohong, pencuri karya, dan wanita yang haus harta. Tagar boikot karyaku mulai menggema di media sosial. Di sisi lain, Aris terus mengunggah status-status menyedihkan yang memperlihatkan seolah-olah dia adalah korban keserakahan istri yang sudah lupa daratan.
Puncaknya adalah saat pemilik hotel tempatku menginap meminta secara halus agar aku mencari tempat tinggal lain. Mereka beralasan bahwa kerumunan wartawan yang mengepung lobi setiap hari mulai mengganggu privasi tamu-tamu VVIP mereka. Aku tahu, ini pun adalah bagian dari permainan Maria. Dia ingin mengusirku dari zona nyamanku, membuatku merasa terpojok dan tidak memiliki tempat untuk bernaung di Jakarta.
"Kita akan pindah ke apartemen pribadiku," kata Alif tegas. "Di sana keamanannya lebih terjamin dan tidak ada yang bisa menyuruhmu pergi."
"Tidak, Mas," aku menggeleng. "Jika aku bersembunyi di apartemenmu, narasi tentang perselingkuhan yang mereka bangun akan semakin kuat. Aku tidak mau memberinya celah lagi."
"Lalu kamu mau ke mana?"
Aku menatap cermin, melihat wajahku yang pucat namun matanya masih menyala. "Aku akan kembali ke akar. Aku akan menyewa rumah kecil di pinggiran kota. Aku ingin mereka melihat bahwa meskipun mereka mencabut semua kemewahanku, aku tetaplah Lisna yang sama. Aku tidak butuh hotel mewah atau status sosial untuk menjadi seorang penulis."
Malam itu, dengan hanya membawa dua koper dan anak-anakku, aku pindah ke sebuah rumah kontrakan sederhana di daerah terpencil. Jauh dari gemerlap Jakarta Pusat, jauh dari pengawasan Maria. Anak-anakku tampak bingung, namun mereka tidak mengeluh. Mereka sudah terbiasa dengan kehidupan yang sulit di masa lalu.
"Ibu, kenapa kita pindah lagi?" tanya Bumi sambil memeluk tas sekolah barunya.
"Kita sedang bermain petak umpet dengan orang-orang jahat, Sayang. Jangan takut, Ibu ada di sini," kataku sambil mencium keningnya.
Malam itu, aku duduk di lantai kontrakan yang hanya beralaskan tikar pandan. Tidak ada AC, hanya kipas angin tua yang berderit. Aku membuka laptopku, menatap layar kosong. Rasanya sangat berat. Kepercayaan diriku hancur berkeping-keping. Apakah aku benar-benar bisa menang melawan raksasa seperti Hartono dan Maria dengan hanya bermodalkan kejujuran?
Keesokan harinya, tekanan finansial mulai terasa. Rekening bank-ku dibekukan sementara oleh pihak bank atas permintaan pengacara Aris yang mengajukan gugatan harta gono-gini darurat. Aku hampir tidak memiliki uang tunai yang cukup untuk biaya hidup sebulan ke depan jika buku-bukuku tidak segera dijual kembali.
Di tengah keputusasaan itu, aku menerima kiriman paket tanpa nama. Isinya adalah sebuah amplop cokelat besar. Saat kubuka, di dalamnya terdapat foto-foto lama ibuku, Siti Aminah, saat masih bekerja di rumah Hartono. Di belakang salah satu foto terdapat tulisan tangan yang sangat rapi: Kebenaran tidak butuh panggung yang mewah, ia hanya butuh keberanian untuk tetap hidup di bawah tekanan. Teruslah menulis, Lisna. Kamu tidak sendirian.
Aku tidak tahu siapa pengirimnya, namun pesan itu seperti siraman air di padang pasir. Aku menyadari bahwa Maria dan Hartono sedang mencoba memaksaku untuk kembali "mengemis" pada mereka. Mereka ingin aku datang ke rumah mereka, berlutut, dan memohon agar kontrakku dikembalikan.
"Tidak akan," gumamku pada diri sendiri.
Aku mulai membuka kembali aplikasi live streaming-ku. Kali ini, aku tidak menggunakan latar belakang mewah. Aku duduk di depan tembok rumah kontrakan yang catnya sudah mengelupas. Aku menyalakan kamera.
Jumlah penonton awalnya sangat sedikit, dan kolom komentar dipenuhi dengan makian. Namun aku tetap tenang.
"Selamat malam semuanya," kataku dengan suara yang serak namun stabil. "Banyak yang bilang saya adalah penipu. Banyak yang bilang naskah saya adalah curian. Malam ini, saya tidak akan membela diri dengan kata-kata. Saya akan melakukan sesuatu yang selalu saya lakukan di dapur desa dulu saat saya sedang sedih: saya akan menulis di depan kalian semua secara langsung."
Aku mulai mengetik. Bukan naskah novel, tapi sebuah surat terbuka untuk publik. Aku menceritakan secara mendalam tentang proses kreatifku, tentang bau bawang yang menemani setiap paragrafnya, tentang tangis anak-anak yang menjadi latar belakang setiap babnya. Aku menceritakan detail-detail yang hanya bisa diketahui oleh orang yang benar-benar menulisnya.
"Jika Mas Aris mengklaim naskah ini miliknya, silakan tanya padanya, apa makna dari paragraf di bab sepuluh yang menceritakan tentang rasa sakit di pergelangan tangan kiri sang tokoh utama?" aku menantang di depan kamera. "Hanya penulisnya yang tahu bahwa itu adalah refleksi dari saat tangan saya terkilir karena diputar olehnya demi mengambil uang belanja."
Siaran itu perlahan-lahan mulai menarik simpati. Netizen mulai melihat perbedaan antara ketenanganku dan kegaduhan yang dibuat Aris. Namun, di tengah siaran, tiba-tiba listrik di rumah kontrakanku padam secara mendadak. Kegelapan total menyergap.
Aku mendengar suara langkah kaki di luar rumah. Langkah yang berat dan tidak asing.
"Lisna! Keluar kamu! Jangan jadi pengecut di balik layar!" suara Aris berteriak di depan pintu, kali ini suaranya terdengar mabuk dan penuh amarah.
Aku memeluk anak-anakku di kegelapan. Tekanan ini bukan lagi sekadar soal karier atau uang, tapi soal keselamatan nyawa. Maria benar-benar ingin menghancurkanku sampai ke dasarnya, dan dia menggunakan Aris sebagai alat untuk melakukannya di tempat yang tidak terjangkau oleh bantuan Alif dengan cepat.