BAB 13: DI AMBANG BATAS

30 January 2026

Kegelapan di dalam rumah kontrakan kecil itu terasa begitu mencekik. Hening yang tercipta setelah listrik padam secara tiba-tiba justru membuat setiap suara dari luar terdengar berkali-kali lipat lebih mengancam. Aku bisa merasakan napas Bumi dan Bintang yang memburu di kedua sisiku. Mereka memeluk lenganku dengan sangat erat, tubuh mungil mereka gemetar hebat. Di dalam kamar, Cahaya mulai merengek karena takut akan kegelapan yang pekat.

"Lisna! Jangan sok suci kamu! Aku tahu kamu di dalam!" suara Aris kembali menggelegar dari balik pintu kayu yang sudah mulai lapuk. Suaranya terdengar serak, ada nada keputusasaan sekaligus keberanian palsu yang didapat dari alkohol. "Buka pintunya! Kamu pikir dengan pindah ke lubang tikus ini aku tidak bisa menemukanmu? Maria benar, kamu itu cuma sampah yang beruntung bisa pakai baju bagus!"

Aku mencoba menenangkan detak jantungku yang berpacu liar. Otakku bekerja cepat. Bagaimana dia bisa tahu alamat ini secepat itu? Padahal baru beberapa jam yang lalu aku pindah dengan bantuan Alif. Hanya ada satu kemungkinan, Maria memiliki kaki tangan yang mengikutiku, atau Aris memang disuruh untuk menerorku agar aku menyerah.

"Bumi, bawa adik ke dalam kamar. Kunci pintunya dari dalam. Jangan keluar sampai Ibu yang panggil, ya?" bisikku setenang mungkin meski suaraku hampir hilang.

"Tapi Ibu..." Bumi ragu, matanya yang besar menatapku penuh kecemasan.

"Lakukan sekarang, Nak. Ibu baik-baik saja," aku memberikan dorongan lembut pada bahunya.

Setelah anak-anak masuk dan aku mendengar bunyi kunci diputar, aku berdiri di tengah ruang tamu yang gelap. Aku tidak ingin membuka pintu, tapi aku juga tahu pintu ini tidak akan bertahan lama jika Aris terus menendangnya. Aku meraih ponselku, mencoba menghubungi Alif, namun sialnya sinyal di daerah pinggiran ini sangat buruk, ditambah lagi baterai ponselku tinggal lima persen akibat siaran langsung tadi.

Braakk!

Satu tendangan keras membuat engsel pintu berderit. Aris benar-benar nekat. Dia tidak peduli lagi dengan hukum atau harga diri.

"Mas, pergi dari sini!" teriakku dari dalam. "Polisi sedang menuju ke sini! Alif sudah melaporkan posisimu!"

"Bohong! Alif si pengacara sombong itu sedang ada di pertemuan bisnis di Jakarta Pusat. Aku tahu jadwalnya! Maria yang memberitahuku!" Aris tertawa jahat. "Buka pintunya atau aku bakar rumah ini!"

Mendengar nama Maria disebut secara terang-terangan, aku menyadari bahwa ini adalah rencana matang. Maria ingin aku merasa tidak aman di mana pun aku berada. Dia ingin aku merasa bahwa satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan merangkak kembali kepadanya dan menyetujui kesepakatan untuk bungkam.

Tiba-tiba, suara keributan di depan pintu berhenti. Bukan karena Aris pergi, tapi terdengar suara orang lain yang sedang beradu argumen dengannya.

"Siapa kamu? Jangan ikut campur!" suara Aris meninggi.

"Pergi dari sini sebelum saya patahkan tanganmu," suara itu terdengar berat dan sangat asing di telingaku. Bukan suara Alif.

Aku memberanikan diri mendekat ke arah jendela, mengintip melalui celah gorden yang tipis. Di bawah temaram lampu jalan yang masih menyala di kejauhan, aku melihat Aris sedang berhadapan dengan seorang pria jangkung yang mengenakan jaket kulit hitam. Pria itu tampak sangat tenang, namun auranya begitu mengancam hingga Aris yang sedang mabuk pun tampak ragu untuk menyerang.

"Ini urusan rumah tangga saya! Dia istri saya!" Aris mencoba membusungkan dadanya.

Pria asing itu tidak banyak bicara. Dengan satu gerakan cepat yang tidak sempat kulihat detailnya, dia mencengkeram kerah baju Aris dan menekannya ke tembok pagar. "Dia bukan istrimu lagi sejak kamu mencuri uang anaknya. Sekarang pergi, atau kamu akan bermalam di sel polisi dengan tulang rusuk yang patah."

Aris yang pengecut itu akhirnya menyerah. Dia mengumpat pelan sambil melangkah mundur, lalu berlari menjauh ke arah kegelapan gang. Pria misterius itu berdiri diam sebentar, memastikan Aris benar-benar pergi, lalu ia berbalik menatap ke arah rumahku. Aku segera menjauh dari jendela, jantungku berdegup kencang. Siapa dia? Apakah dia orang suruhan Hartono yang lain? Atau seseorang yang dikirim oleh pengirim paket foto ibuku?

Pria itu tidak mencoba masuk. Dia hanya berdiri di depan pagar selama beberapa menit sebelum akhirnya sebuah mobil hitam menjemputnya. Tak lama kemudian, listrik di rumahku kembali menyala. Lampu-lampu berkedip dan akhirnya bersinar terang, mengusir bayangan ketakutan yang sempat menguasai ruangan.

Keesokan harinya, Alif datang dengan wajah yang sangat pucat. Dia langsung memelukku begitu aku membuka pintu. "Maafkan aku, Lisna. Aku baru tahu Aris ke sini setelah sinyal ponselmu aktif kembali pagi ini. Aku sedang dijebak dalam pertemuan palsu semalam oleh kolega Hartono."

"Aku tidak apa-apa, Mas. Ada seseorang yang membantuku semalam," kataku sambil mempersilakannya masuk ke rumah kontrakan yang sederhana ini.

Alif mengernyitkan dahi. "Siapa? Aku tidak mengirim siapa pun karena aku pikir tempat ini masih rahasia."

Aku menceritakan tentang pria berjaket kulit itu. Alif tampak berpikir keras. "Sepertinya ada pihak lain yang sedang bermain di sini, Lisna. Pihak yang tidak ingin kamu hancur di tangan Maria, tapi juga mungkin punya agenda sendiri terkait Hartono."

Tekanan dalam hidupku kini terasa seperti lapisan bawang yang tidak ada habisnya. Di satu sisi aku harus menghadapi boikot karya dan pembekuan rekening, di sisi lain aku menjadi pusat perhatian dari orang-orang kuat yang tidak kukenal.

"Lisna, ada berita buruk lagi dari penerbit," Alif berkata pelan sambil duduk di kursi plastik satu-satunya di ruangan itu. "Mereka secara resmi mengirimkan surat somasi. Mereka menuntut ganti rugi atas kerusakan reputasi brand mereka akibat skandal hak cipta yang dilemparkan Aris. Mereka meminta kamu mengembalikan uang muka yang sudah kamu pakai untuk biaya hidup dan pengobatan Bapak di desa."

Aku memejamkan mata. Uang itu sudah habis untuk kebutuhan mendasar dan cicilan rumah Bapak yang sempat tertunggak karena ulah Aris dulu. Jika aku harus mengembalikannya sekarang, aku benar-benar akan jatuh miskin dalam semalam.

"Berapa yang mereka minta, Mas?"

"Lima ratus juta rupiah. Termasuk denda pembatalan sepihak karena dianggap melanggar kontrak etika."

Aku tertawa getir. Lima ratus juta. Angka yang bagi Maria mungkin hanya harga sebuah tas tangan, tapi bagiku sekarang, itu adalah gunung yang mustahil kudaki. Tekanan finansial ini benar-benar menjepit leherku. Maria tahu persis di mana harus memukul agar aku bertekuk lutut.

"Aku punya tabungan pribadi, Lisna. Aku bisa bayar denda itu," Alif menawarkan diri.

"Tidak, Mas. Jangan," aku menolak dengan tegas. "Jika kamu membayar itu, Maria akan menggunakan bukti transfermu untuk memperkuat narasi bahwa aku adalah wanita simpananmu. Aku tidak mau menghancurkan kariermu juga. Biarkan aku menghadapi ini dengan caraku."

"Tapi bagaimana caranya? Rekeningmu beku, karyamu ditarik dari pasar."

Aku berdiri, berjalan menuju meja kayu kecil tempat laptopku berada. "Dulu, aku berjualan kue tanpa modal besar. Aku hanya punya tepung, gula, dan kemauan. Sekarang, aku punya kata-kata. Jika mereka menutup pintu toko buku, aku akan membuka pintuku sendiri."

Aku mulai mengetik di media sosialku. Bukan kemarahan, tapi sebuah kejujuran. Aku mengumumkan bahwa aku akan merilis bab-bab terbaru dari novelku secara gratis di sebuah platform digital yang tidak bisa dikontrol oleh asosiasi penerbit Maria. Aku juga membuka donasi sukarela bagi mereka yang ingin mendukung perjuanganku sebagai penulis independen.

"Ini berisiko, Lisna. Kamu bisa dianggap melanggar hak cipta penerbit lamamu," Alif memperingatkan.

"Biarkan saja. Aku hanya merilis karya baru, bukan karya yang mereka klaim. Aku akan menulis cerita baru tentang seorang wanita yang dikeroyok oleh para raksasa namun tetap memilih untuk bernapas."

Namun, sore itu, tekanan kembali datang dari arah yang tidak terduga. Bapak Sugeng menelepon dari desa dengan suara yang sangat sedih. "Lisna... ada orang-orang datang ke rumah. Mereka bilang rumah Bapak akan disita karena Aris menggunakan sertifikat rumah ini sebagai jaminan hutang judi yang belum lunas. Bapak harus keluar dalam tiga hari, Lis."

Aku merosot ke lantai. Tangisku pecah. Hartono dan Maria benar-benar menutup semua jalanku. Mereka menyerang karirku di Jakarta dan menghancurkan satu-satunya tempat bernaung orang tuaku di desa. Mereka ingin aku melihat bahwa keberanianku di televisi tempo hari adalah sebuah kesalahan fatal yang menghancurkan orang-orang yang kusayangi.

Aku menatap layar ponselku yang menampilkan foto Bapak sedang menggendong Cahaya. Hatiku hancur berkeping-keping. Di ambang batas ini, aku merasa hampir ingin menyerah. Mungkin memang benar, orang miskin sepertiku tidak seharusnya bermimpi terlalu tinggi.

Tapi kemudian, aku teringat pesan dalam amplop cokelat itu. Kebenaran tidak butuh panggung yang mewah.

Aku menghapus air mataku dengan kasar. Aku tidak akan mengemis pada Hartono. Aku tidak akan memohon pada Maria. Jika mereka ingin mengambil segalanya dariku, maka aku akan memastikan bahwa mereka juga kehilangan sesuatu yang paling berharga bagi mereka: kedamaian mereka.

"Mas Alif," kataku dengan suara yang serak namun penuh dendam yang terukur. "Siapkan konferensi pers kecil besok pagi. Bukan di hotel, tapi di depan kantor urusan agama. Aku akan menggugat Aris secara total, dan aku akan membongkar dokumen tentang ibu saya yang dikirim orang misterius itu. Jika mereka ingin bermain kotor, mari kita lihat siapa yang paling banyak menyimpan lumpur."