Setelah konferensi pers yang menggegerkan di depan kantor urusan agama kemarin, atmosfer di sekitarku berubah drastis. Simpati publik yang sempat luntur karena fitnah Aris kini kembali mengalir deras. Namun, aku sadar betul bahwa dalam dunia drama rumah tangga dan perebutan kekuasaan, saat musuhmu terpojok, itulah saat mereka menjadi paling berbahaya. Maria tidak akan diam saja melihat citranya sebagai istri teladan hancur karena masa lalu suaminya yang kubongkar.
Pagi itu, Alif tidak datang sepagi biasanya. Aku mencoba menghubunginya berkali-kali, namun ponselnya tidak aktif. Perasaan cemas mulai merayap di dadaku. Di tengah tekanan boikot penerbit yang masih berlangsung, Alif adalah satu-satunya tiang penyanggaku di Jakarta. Tanpanya, aku merasa seperti kembali ke masa-masa awal di desa; sendirian menghadapi badai.
Sekitar jam sepuluh siang, sebuah mobil mewah berhenti di depan kontrakan kecilku. Bukan mobil Alif yang biasa menjemputku. Dari dalamnya keluar seorang pria berpakaian sangat formal yang memperkenalkan diri sebagai asisten pribadi Hartono.
"Ibu Lisna, Tuan Hartono ingin bertemu secara mendesak di kantornya. Beliau berkata ini soal keselamatan karier Pak Alif Pratama," ujar pria itu dengan nada yang sangat dingin.
Jantungku berdegup kencang. Karier Alif? Apa hubungannya dengan semua ini? Aku segera bersiap, menitipkan anak-anak kepada tetangga yang kini sudah mulai berbaik hati kepadaku setelah tahu kebenaran ceritaku, lalu berangkat menuju pusat kota.
Gedung pencakar langit milik Hartono berdiri angkuh di kawasan Sudirman. Saat aku melangkah masuk ke ruang kerjanya yang luas di lantai teratas, aku melihat Hartono duduk di balik meja besarnya. Namun, yang membuatku terperangah adalah keberadaan Maria yang duduk di sofa panjang sambil menyesap teh, serta beberapa foto yang tersebar di meja tamu.
"Duduklah, Lisna," suara Hartono terdengar parau, seolah dia tidak tidur berhari-hari.
Aku tidak duduk. Aku langsung menatapnya tajam. "Apa maksud Anda mengancam karier Mas Alif?"
Maria berdiri, ia berjalan mendekat sambil membawa salah satu foto. Ia melemparkannya ke meja di depanku. "Lihatlah ini. Pengacaramu yang suci itu ternyata memiliki sejarah yang menarik dengan perusahaan kami. Lima tahun lalu, Alif pernah memenangkan kasus sengketa lahan yang merugikan ribuan warga desa demi membela salah satu anak perusahaan Hartono. Dia tidak sehebat dan sebersih yang kamu pikirkan, Lisna."
Aku menatap foto itu. Foto Alif yang bersalaman dengan Hartono dalam sebuah acara peresmian proyek besar di masa lalu. Hatiku mencelos.
"Alif adalah orang yang kami tempatkan untuk mengawasimu sejak awal," sambung Maria dengan senyum kemenangan yang memuakkan. "Dia mendekatimu bukan karena peduli pada naskahmu, tapi karena dia diperintah oleh Hartono untuk memantau sejauh mana kamu tahu tentang rahasia keluarga kami. Tapi sepertinya dia mulai 'tersesat' dan benar-benar jatuh cinta padamu. Sangat dramatis, bukan?"
Duniaku terasa berputar. Apakah semua dukungan Alif selama ini hanyalah akting? Apakah bantuan hukumnya, perlindungannya pada anak-anakku, dan tatapan tulusnya itu hanyalah bagian dari skenario Hartono?
"Aku memberimu pilihan, Lisna," Hartono angkat bicara. "Batalkan tuntutan tes DNA itu dan tarik semua pernyataanmu di televisi semalam. Sebagai imbalannya, aku tidak akan menghancurkan izin praktik hukum Alif dan tidak akan membongkar keterlibatannya dalam kasus sengketa lahan itu ke publik. Jika kamu nekat, Alif akan kehilangan segalanya, dan kamu akan dicap sebagai wanita yang ditipu oleh pahlawannya sendiri."
Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku memutih. Tekanan ini jauh lebih berat daripada denda lima ratus juta rupiah dari penerbit. Maria dan Hartono sedang menyerang titik terlemahku: kesetiaanku pada orang yang kucintai.
Aku keluar dari gedung itu dengan kaki yang terasa seperti kapas. Aku langsung menuju kantor Alif. Di sana, suasana tampak kacau. Beberapa stafnya terlihat sibuk mengemas dokumen. Aku menerobos masuk ke ruang kerja Alif dan menemukannya sedang berdiri menatap jendela besar ke arah kota.
"Mas Alif," panggilku lirih.
Alif berbalik. Wajahnya tampak sangat terpukul. Begitu melihatku, dia langsung tahu bahwa aku sudah menemui Hartono.
"Lisna... aku bisa menjelaskan semuanya," ujarnya dengan suara yang pecah.
"Apakah benar kamu pernah bekerja untuk Hartono?" tanyaku, mencoba menahan air mata yang ingin tumpah.
"Ya. Lima tahun lalu, saat aku baru merintis firman hukum ini. Aku melakukan kesalahan besar demi mendapatkan modal. Aku membela mereka dalam kasus sengketa lahan itu. Itu adalah noda dalam karierku yang selalu ingin aku hapus," Alif melangkah mendekat, mencoba meraih tanganku, namun aku mundur.
"Dan apakah benar kamu mendekatiku karena perintah Hartono?"
Alif terdiam sejenak, matanya menatapku dengan kepedihan yang mendalam. "Awalnya, ya. Hartono memintaku untuk memastikan kamu tidak menulis hal-hal yang membahayakan citranya. Tapi Lisna, demi Tuhan, itu hanya berlangsung selama seminggu pertama. Setelah aku membaca tulisanmu, setelah aku melihat bagaimana kamu berjuang menghidupi anak-anakmu dari tamparan Aris... aku berhenti menjadi mata-mata. Aku memilih untuk benar-benar membantumu. Aku jatuh cinta padamu karena siapa kamu, bukan karena perintah siapa pun."
Aku terduduk di kursi tamu, menangis sesenggukan. Rasa dikhianati dan rasa cinta bertarung di dalam dadaku. Tekanan dari Maria benar-benar berhasil mengoyak kepercayaanku.
"Hartono mengancam akan menghancurkanmu jika aku tetap menuntut tes DNA, Mas," kataku di sela tangisku.
"Biarkan dia melakukannya, Lisna," sahut Alif tegas. Ia berlutut di depanku. "Hancurkan aku, tapi jangan biarkan dirimu hancur. Aku lebih baik kehilangan izin praktik hukumku daripada kehilangan integritasmu. Kamu sudah sampai di titik ini. Jangan berhenti karena aku."
Ujian kesetiaan ini terasa begitu menyiksa. Jika aku melanjutkan, Alif akan hancur. Jika aku berhenti, aku mengkhianati perjuangan ibuku dan harga diriku sendiri.
Tiba-tiba, Aris menelepon. Kali ini suaranya terdengar sangat sombong. Rupanya dia sudah mendengar kabar tentang "skandal" Alif.
"Lisna! Lihat kan? Laki-laki kaya itu ternyata lebih kotor dariku!" ejek Aris dari seberang telepon. "Baliklah padaku. Hartono sudah menjanjikan rumah bagus di Pekanbaru kalau kamu mau mencabut laporan polisi terhadapku dan membatalkan tes DNA itu. Kita mulai dari awal, Lis. Kamu jadi penulis, aku yang kelola uangnya. Gimana?"
Mendengar suara Aris yang penuh ketamakan itu justru membuat pikiranku menjadi jernih secara instan. Aris adalah contoh pria yang akan menjual istrinya demi uang, sementara Alif adalah pria yang bersedia kehilangan kariernya demi kebenaranku.
Aku mematikan telepon Aris tanpa menjawab. Aku menghapus air mataku dan menatap Alif.
"Mas Alif, aku tidak akan mundur," kataku dengan suara yang kini sudah stabil. "Jika Hartono ingin membongkar masa lalumu, biarkan saja. Kita akan mengakuinya lebih dulu sebelum dia sempat melakukannya. Kita akan tunjukkan pada mereka bahwa orang yang pernah melakukan kesalahan bisa berubah menjadi lebih baik, sedangkan orang yang terus menutupi kesalahannya dengan kejahatan baru adalah iblis yang sesungguhnya."
Alif menatapku dengan tidak percaya. "Kamu yakin, Lisna? Karierku mungkin akan berakhir besok."
"Karier bisa dibangun lagi dari nol, Mas. Kita sudah terbiasa hidup susah, kan? Tapi harga diri tidak bisa dibeli kembali kalau sudah kita jual pada Hartono."
Sore itu, kami tidak menunggu Hartono menyerang. Bersama Alif, aku kembali ke akun media sosialku. Kami melakukan siaran langsung bersama. Alif secara terbuka mengakui keterlibatannya dengan Hartono di masa lalu dan meminta maaf kepada publik serta warga desa yang pernah dirugikannya.
"Saya melakukan kesalahan di masa lalu karena ambisi," ujar Alif di depan kamera. "Namun, mengenal Lisna telah mengajarkan saya apa artinya integritas. Malam ini, saya mengundurkan diri dari beberapa posisi konsultan hukum di perusahaan-perusahaan besar, dan saya akan fokus sepenuhnya untuk membela Lisna sebagai warga sipil biasa, bukan lagi sebagai orang yang terafiliasi dengan kekuasaan."
Respon publik luar biasa. Kejujuran Alif justru membuatnya semakin dihormati. Maria dan Hartono yang tadinya ingin menggunakan rahasia ini sebagai senjata pemusnah, kini justru melihat senjata itu meledak di tangan mereka sendiri.
Namun, di balik layar, Maria tampak sangat geram. Ia membanting vas bunga di ruang tamunya setelah melihat siaran kami.
"Dia pikir dia pintar?" desis Maria. "Jika mereka tidak peduli dengan karier dan reputasi, mari kita lihat apakah mereka peduli dengan hal yang paling berharga bagi seorang ibu."
Maria meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang selama ini ia sembunyikan—seorang pria dari masa lalu Siti Aminah yang bisa mengubah seluruh narasi tentang siapa ayah kandung Lisna sebenarnya.