BAB 16: BENANG MERAH YANG TERPUTUS

30 January 2026

Ketenangan yang menyelimuti rumah kontrakan mungilku pagi ini terasa semu. Meskipun pengakuan jujur Alif di siaran langsung semalam mendapat simpati luas dari publik, aku tahu bahwa keluarga Hartono tidak akan tinggal diam setelah senjata pamungkas mereka dipatahkan begitu saja. Kejujuran memang membebaskan, namun kejujuran juga sering kali membuat musuh kehilangan akal sehat dan beralih ke cara-cara yang lebih rendah.

Aku duduk di teras kecil sambil memperhatikan Bintang dan Bumi yang sedang asyik menggambar di atas lantai semen. Cahaya baru saja terlelap di dalam ayunan kain yang kupasang di ruang tengah. Di saat seperti ini, aku merasa sangat kaya, bukan karena uang yang ada di rekeningku yang masih dibekukan, melainkan karena kedamaian yang kurasakan saat melihat mereka bernapas dengan tenang tanpa ada bau alkohol atau ancaman makian dari Aris.

Ponselku berdering. Nama Alif muncul di layar. Aku segera mengangkatnya dengan perasaan yang berdebar.

"Lisna, kamu harus melihat berita pagi ini," suara Alif terdengar sangat tegang. "Maria baru saja mengadakan konferensi pers mendadak di hotel pribadinya. Dia membawa seseorang yang dia klaim sebagai saksi kunci dari masa lalu ibumu."

Tanganku mendadak dingin. Aku segera menyalakan televisi tua yang ada di ruang tamu. Di sana, di saluran berita utama, aku melihat Maria berdiri dengan anggun di balik podium. Di sampingnya duduk seorang pria paruh baya yang tampak kumal namun mengenakan jas yang terlihat baru dibelikan. Pria itu memiliki wajah yang lelah dengan mata yang tampak tidak jujur.

"Saya ingin meluruskan fitnah yang selama ini dilemparkan oleh Saudari Lisna kepada suami saya, Tuan Hartono," ujar Maria dengan nada suara yang begitu tenang dan meyakinkan. "Tuan Hartono adalah korban dari sebuah konspirasi. Dan hari ini, kami membawa Tuan Jaka, pria yang sebenarnya menjalin hubungan dengan Siti Aminah tiga puluh tahun lalu saat mereka berdua masih bekerja di perkebunan milik keluarga kami."

Pria bernama Jaka itu kemudian mulai bicara. Dia menceritakan sebuah narasi yang sangat rapi tentang bagaimana dia dan Siti Aminah menjalin kasih, dan bagaimana Siti Aminah sengaja mengaitkan nama Hartono karena menginginkan uang jaminan hidup yang lebih besar. Dia bahkan menunjukkan sebuah foto lama yang memperlihatkan dirinya sedang duduk berdua dengan seorang wanita yang memang sangat mirip dengan ibuku.

"Lisna bukan anak Tuan Hartono," kata Jaka dengan suara yang dibuat sedih. "Dia adalah anak saya. Saya terpaksa diam selama ini karena saya takut pada pengaruh media, tapi melihat Tuan Hartono difitnah seperti ini, hati nurani saya tergerak untuk bicara jujur."

Aku terduduk lemas di lantai. Rasa mual menjalar ke seluruh tubuhku. Maria benar-benar licik. Dia tidak lagi menyerang karier Alif, dia menyerang kehormatan ibuku. Dia mencoba menghapus kebenaran tentang asal-usulku dengan cara menghidupkan sosok ayah palsu.

Beberapa jam kemudian, Alif sampai di kontrakanku. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Ia membawa beberapa asistennya yang sedang sibuk memeriksa data latar belakang pria bernama Jaka tersebut.

"Ini murni rekayasa, Lisna," ujar Alif sambil membanting setumpuk berkas ke meja. "Kami menemukan data bahwa Jaka ini adalah seorang mantan narapidana kasus penipuan yang baru keluar penjara bulan lalu. Dia memiliki banyak hutang di mana-mana. Jelas sekali dia dibayar oleh Maria untuk memainkan peran ini."

"Tapi foto itu, Mas... wanita itu benar-benar mirip Ibu," kataku dengan suara yang bergetar.

"Di zaman sekarang, foto bisa direkayasa atau dicari kemiripannya. Kita tidak boleh terjebak dalam permainan psikologis mereka," Alif menggenggam tanganku, mencoba memberikan kekuatan. "Mereka sengaja melakukan ini untuk menghancurkan mentalmu tepat sebelum tes DNA dilakukan. Jika kamu terlihat ragu, publik akan mulai percaya pada Jaka."

Tekanan ini terasa begitu berat. Di satu sisi aku harus menghadapi penghinaan terhadap ibuku, di sisi lain aku harus menghadapi Aris yang tiba-tiba muncul lagi di depan pagar rumahku setelah melihat berita tersebut.

"Lisna! Lihat itu! Ayahmu ternyata cuma buruh perkebunan!" teriak Aris dari balik pagar. Dia tertawa terbahak-bahak, seolah-olah dia baru saja memenangkan lotre. "Kamu sok kaya, sok anak konglomerat, ternyata cuma anak dari pria gembel itu! Balik ke aku saja, Lis! Setidaknya aku ini orang yang kamu kenal, bukan penipu seperti ibumu!"

Aku tidak keluar rumah. Aku membiarkan Aris berteriak sampai petugas keamanan lingkungan mengusirnya. Namun, kata-katanya tetap menusuk seperti duri. Maria berhasil membuatku menjadi bahan tertawaan di media sosial. Tagar AnakPalsu dan DramaPenulisGagal mulai bermunculan.

Sore harinya, saat aku sedang mencoba menenangkan diri dengan menulis, aku menerima sebuah pesan teks dari nomor yang tidak kukenal. Isinya hanya sebuah alamat gudang tua di kawasan Jakarta Utara dan sebuah kalimat pendek: Jika kamu ingin tahu siapa Jaka sebenarnya, datanglah sekarang tanpa membawa Alif atau polisi.

Aku ragu sejenak. Ini bisa jadi jebakan lain. Namun, ada sesuatu dalam diriku yang mendorongku untuk pergi. Aku harus tahu siapa yang sedang mencoba mengubur kebenaran tentang hidupku. Aku menitipkan anak-anak pada asisten Alif yang berjaga di depan, lalu secara diam-diam aku memesan taksi online menuju alamat tersebut.

Gudang itu terletak di daerah yang sepi dan berdebu. Saat aku turun dari taksi, jantungku berdebar kencang. Aku melangkah masuk ke dalam bangunan yang luas dan remang-remang itu. Di sana, di bawah lampu gantung yang redup, aku melihat Baskara berdiri menunggu.

"Kamu nekat datang sendirian," ujar Baskara dengan senyum tipis yang penuh teka-teki.

"Aku butuh jawaban, Pak Baskara. Siapa Jaka itu sebenarnya?"

Baskara memberikan isyarat agar aku mengikutinya ke sebuah ruangan kecil di sudut gudang. Di sana, pria bernama Jaka yang tadi muncul di televisi sedang duduk terikat di sebuah kursi kayu. Wajahnya tampak pucat dan penuh ketakutan.

"Tanyakan padanya," kata Baskara dingin.

Aku mendekati Jaka. Pria itu gemetar saat melihatku. "Tolong, Mbak... saya cuma disuruh. Saya butuh uang buat bayar hutang judi saya."

"Siapa yang menyuruhmu?" tanyaku dengan suara yang rendah namun penuh penekanan.

"Nyonya Maria... dia yang atur semuanya," aku Jaka sambil menangis. "Foto itu... itu foto kakaknya Siti Aminah, bukan Siti Aminah. Mereka mirip sekali. Nyonya Maria tahu karena dia dulu yang menyimpan semua berkas lama para pekerja perkebunan. Saya disuruh mengaku sebagai ayahnya Mbak agar nama Tuan Hartono bersih."

Rasa amarah yang luar biasa membuncah di dadaku. Maria tidak hanya memfitnah ibuku, dia menggunakan keluarga ibuku sendiri untuk menghancurkanku.

"Aku punya rekaman pengakuannya di sini," Baskara menunjukkan sebuah perekam suara kecil. "Gunakan ini untuk menghancurkan konferensi pers Maria besok pagi. Tapi ingat, Lisna, Maria akan melakukan apa saja jika dia tahu kamu memiliki ini. Dia bukan wanita yang suka kalah."

"Kenapa Bapak melakukan ini?" tanyaku pada Baskara.

"Karena aku berhutang nyawa pada ibumu, Lisna. Dulu saat aku sakit keras dan tidak punya biaya, ibumulah yang secara diam-diam memberikan seluruh tabungannya padaku tanpa memberi tahu siapa pun. Dia wanita paling tulus yang pernah aku temui di rumah terkutuk milik Hartono itu."

Malam itu, aku kembali ke rumah dengan perasaan yang jauh lebih kuat. Aku tidak lagi merasa tertekan oleh fitnah Maria. Aku justru merasa kasihan padanya. Dia begitu takut kehilangan statusnya sehingga dia harus mengotori tangannya dengan cara-cara yang sangat memuakkan.

Aku menemui Alif dan memberikan rekaman itu kepadanya. Alif tampak terkejut namun juga lega.

"Ini adalah bukti yang cukup untuk menjerat Maria atas dugaan pencemaran nama baik dan manipulasi informasi," ujar Alif. "Besok, saat jadwal tes DNA dimulai, kita akan putar rekaman ini di depan semua awak media."

Namun, saat kami sedang menyusun rencana, sebuah berita baru muncul di layar ponsel kami. Hartono dikabarkan dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung mendadak. Maria memberikan pernyataan bahwa suaminya ambruk karena tekanan batin akibat fitnah kejam dariku.

Ini adalah taktik lain. Taktik meminta simpati publik melalui narasi kesehatan. Jika aku menyerang Hartono sekarang, aku akan dicap sebagai anak durhaka yang ingin membunuh ayahnya sendiri demi uang.

"Mereka sangat licik, Mas," bisikku sambil memandang langit malam dari teras kontrakan. "Mereka menggunakan penyakit sebagai perisai."

"Kita harus tetap pada rencana, Lisna. Kejujuran tidak boleh ditunda hanya karena mereka berpura-pura menjadi korban," Alif merangkul bahuku. "Tes DNA harus tetap dilaksanakan. Itu satu-satunya cara untuk memutus benang merah yang mereka coba putus secara paksa ini."

Aku menatap foto Siti Aminah yang ada di tanganku. Benang merah itu tidak akan pernah terputus, Ibu. Aku akan membuktikannya kepada dunia, meskipun aku harus menghadapi ribuan kebohongan yang mereka ciptakan. Aku tidak akan mengemis pengakuan dari mereka, karena akulah yang akan membuat mereka berlutut memohon maaf atas semua dosa yang mereka lakukan kepadamu.