Cermin Berjalan

Penulis Levanter
30 January 2026

"Kepadamu."

Satu kata itu cukup untuk membuat dunia Sarah runtuh.

Udara di sekitarnya terasa berubah. Lebih berat, seperti dipenuhi debu halus yang tak terlihat. Napasnya tertahan di tenggorokan, dadanya terasa sempit, seolah ada sesuatu yang perlahan merayap masuk ke dalam dirinya tanpa izin.

"Apa… maksudnya?" suara Sarah terdengar asing di telinganya sendiri.

Reno tersenyum. Bukan senyum licik yang berlebihan, melainkan senyum puas seseorang yang akhirnya sampai di garis akhir. "Ritual barusan bukan buat memurnikan kutukan itu, Sarah. Dari awal, tujuannya cuma satu."

Ia menunjuk dada Sarah. "Memindahkan kutukannya."

Mia mundur satu langkah. "Omong kosong," katanya cepat, tapi suaranya bergetar. "Cermin itu udah hancur."

"Bentuk fisiknya, iya," jawab Reno tenang. "Tapi energi di dalamnya gak bisa dimusnahkan. Terlalu banyak jiwa. Terlalu banyak kematian. Yang bisa dilakukan cuma dipindahkan ke wadah baru."

Sarah menggeleng keras. "Enggak. Ini gak mungkin. Gue gak—"

Kata-katanya terputus.

Sesuatu berdenyut di balik matanya. Seperti ada tangan tak kasatmata yang menekan bagian dalam kepalanya. Seketika, bayangan di sekeliling puing-puing Indah Mahkota Antik berubah. Cahaya pagi yang tadi terasa hangat kini tampak pucat, seolah warnanya disedot habis.

Sarah terhuyung.

"Sarah!" Mia refleks memegang lengannya.

Sentuhan itu membuat Sarah tersentak. Dalam sepersekian detik, bayangan di belakang Mia berubah. Wajahnya memanjang, matanya kosong, mulutnya terbuka lebar tanpa suara.

Sarah menjerit dan menarik lengannya sendiri.

Bayangan itu lalu lenyap begitu saja.

Mia menatapnya panik. "Kenapa? Lo kenapa ngelihat gue kayak gitu?"

Sarah terengah. "Gue… gue barusan—" Ia menelan ludah. "Gue lihat sesuatu di belakang lo."

Reno mengangguk kecil, seolah baru saja mendapat konfirmasi. "Efek samping awal," katanya ringan. "Penglihatanmu mulai menyesuaikan."

"Menyesuaikan dengan apa?" tanya Mia.

"Dengan peran barunya," jawab Reno. "Sarah sekarang bukan lagi pengamat. Dia bukan cuma orang yang melihat pantulan kematian. Dia adalah cermin kematian itu sendiri."

Sarah memeluk kepalanya. Bayangan-bayangan mulai bermunculan di sudut penglihatannya, siluet manusia tanpa wajah, berdiri di antara puing-puing, saling bertumpuk, berbisik tanpa suara.

"Diam…" gumamnya. "Tolong… diam."

"Ini baru permulaan," kata Reno. "Mulai sekarang, dimanapun kamu berada, kematian akan mengikuti. Orang-orang di sekitarmu akan mulai melihat apa yang tidak seharusnya mereka lihat. Mendengar apa yang tidak seharusnya mereka dengar."

Mia menarik tangan Sarah. "Kita pergi. Sekarang."

Ia berlari, menyeret Sarah menjauh dari reruntuhan.

Untuk beberapa langkah pertama, tidak ada yang terjadi.

Lalu tanah di bawah kaki Sarah terasa dingin, terlalu dingin. Seperti berjalan di atas lantai batu yang baru dikeluarkan dari lemari es. Bayangan di sekeliling mereka bergerak semakin cepat, berdesakan mengikuti.

Sarah tersandung.

Saat ia menoleh ke belakang, ia melihat jejak kaki di tanah berdebu.

Bukan dua pasang, melainkan puluhan.

Mia berhenti mendadak. "Sar," katanya pelan, nyaris berbisik. "Lo… lo lihat itu juga, kan?"

Sarah mengangguk lemah.

Dari arah reruntuhan, Reno tidak mengejar. Ia hanya berdiri di tempat, menonton mereka dengan kepala sedikit miring, seperti ilmuwan yang sedang mengamati eksperimen berjalan sesuai dengan rencananya.

"Kalian gak bisa kabur dari ini," teriaknya. "Kutukan itu butuh jangkar. Dan jangkar itu sekarang hidup."

Mia menarik napas cepat, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

"Tunggu," katanya. "Tunggu sebentar."

Ia menggulung lengan bajunya.

Kulit pucat lengannya terbuka, memperlihatkan sebuah tato hitam, simbol lingkaran dengan garis-garis berpotongan, sama persis dengan simbol yang pernah mereka lihat di buku catatan ayah Reno.

Sarah terpaku. "Mi… sejak kapan lo punya tato itu?"

Mia menatap tato itu dengan ekspresi campur aduk. "Sejak kecil. Gue pikir cuma tato dengan gambar aneh. Tapi sekarang…" Ia mengangkat wajahnya, menatap Reno. "…sekarang gue ingat ini bukan sekadar tato."

Mia mengangkat lengannya lebih tinggi, membiarkan cahaya pagi menyentuh tato itu. Garis-garis hitamnya terlihat lebih dalam dari sekadar tinta, seperti terukir sampai ke lapisan yang tidak seharusnya terlihat oleh mata biasa.

"Ini simbol keluarga kami," lanjut Mia pelan. "Simbol pengikat. Simbol janji."

Reno berhenti tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ekspresinya berubah. Rahangnya mengeras, sorot matanya menggelap. "Turunin tangan lo, Mia."

Sarah menatap mereka bergantian, kepalanya masih berdenyut. Bayangan-bayangan di sekelilingnya merapat, seolah penasaran dengan apa yang akan terjadi. "Mi… apa maksudnya semua ini?"

Mia menarik napas panjang, seolah selama ini ia menahan cerita itu terlalu lama. "Sebenarnya... gue anak kedua ayahnya Reno," katanya akhirnya. "Gue adik tirinya."

Dunia terasa kembali bergeser di bawah kaki Sarah.

Sarah menggeleng kecil. "Enggak… enggak mungkin."

"Ayah kami seorang okultis," lanjut Mia, suaranya stabil meski matanya berkaca-kaca. "Bukan cuma pencipta cermin itu, tapi dia juga pencipta ritual-ritual lain yang lebih gelap. Dari kecil, Reno disiapkan buat nerusin semua itu. Sementara gue—"

Ia tersenyum pahit. "—gue gak pernah percaya dan setuju sama apa yang dia lakuin."

Reno mendengus. "Dan karena itu lo dibuang."

"Karena itu gue dikucilkan," koreksi Mia. "Karena gue bilang kalau semua ini salah, kalau nyawa manusia bukan bahan bakar yang seenaknya bisa mereka gunakan."

Sarah merasa tenggorokannya tercekat. "Jadi… selama ini lo—"

"Gue gak bohong sama lo," potong Mia cepat. "Perasaan gue ke lo nyata. Ketakutan gue juga nyata. Tapi alasan gue mendekati lo… iya. Itu bukan kebetulan. Gue tahu cermin itu bakal mencari wadah baru. Gue tahu tanda-tandanya. Dan saat gue lihat lo… gue harap gue masih punya waktu."

Bayangan di sekitar Sarah bergetar, seperti bereaksi terhadap emosi yang melonjak.

"Lo ngawasin gue?" suara Sarah bergetar, antara marah dan terluka.

"Mengawasi," Mia mengangguk. "Dan melindungi sebisanya. Gue mau nebus kesalahan keluarga gue. Gue mau menghentikan semua ini."

Reno tertawa mengejek. "Dengan apa? Penyesalan?"

Mia menatapnya tajam, enggan memberikan jawaban.

Udara terasa menegang.

Sarah merasa tenggorokannya kering. "Terus… kenapa lo gak menghentikan ritual tadi?"

Mia menatapnya penuh rasa bersalah. "Gue kira ritual tadi benar buat memurnikan kutukan itu, karena tercatat di buku catatan ayah juga. Cuma gue gak nyangka kalau Reno bohong dan memalsukan isi catatannya."

Sarah mengepalkan tangan lalu menggigit bibir bawahnya. "Kenapa harus gue?"

Mia menunduk. "Karena lo terhubung. Sejak pertama kali lo cerita soal cermin itu, gue tahu. Sensitivitas lo itu... jarang banget ditemui. Ayah gue selalu bilang, orang-orang kayak lo adalah 'wadah sempurna'."

Reno tersenyum tipis. "Dan kali ini, dia benar."

"Gue berharap gue bisa nemuin cara lain sebelum semuanya sejauh ini," lanjut Mia. "Gue ikut lo ke kota ini buat memastikan. Gue ikut investigasi buat ngarahin lo menjauh. Tapi setiap langkah… seolah ada yang selalu menarik lo kembali."

Sarah menutup mata. Kilasan bayangan muncul lagi. Wajah-wajah asing, dingin, penuh tuntutan. Ia terisak pelan. "Jadi gue… cuma alat?"

"Enggak," kata Mia cepat. "Lo korban. Dan gue gagal melindungi lo."

"Sebenarnya... ada ritual untuk menghancurkan cermin itu sepenuhnya," lanjut Mia, suaranya lebih lirih sekarang. "Bukan cuma wadahnya. Tapi juga kutukannya, mata rantainya."

Sarah merasakan jantungnya berdegup keras.

"Kalau lo tahu caranya, kenapa gak lo lakuin dari awal? Kenapa lo gak bilang gue dari awal?!"