Kata-kata Sarah menggantung di udara.
"Kalau lo tahu caranya," ulang Sarah, suaranya pecah, "kenapa lo gak lakuin dari awal?! Kenapa lo gak bilang gue dari awal?!"
Mia terdiam lama. Terlalu lama. Bayangan di sekitar mereka merapat, seperti dinding hidup yang perlahan menutup. Reno tidak menyela. Ia hanya berdiri di kejauhan, menikmati jeda itu seperti penonton yang tahu akhir pertunjukan.
"Karena ada harga yang harus dibayar, ritual itu butuh pengorbanan tertinggi," kata Mia akhirnya. "Dulu gue juga belum bisa lakuin ritual itu karena syaratnya belum terpenuhi. Gue belum siap kehilangan lo."
"Memang pengorbanan macam apa?" tanya Sarah yang lebih terdengar seperti gumaman.
Reno menyipitkan mata. "Jangan dijawab."
"Seseorang yang sudah terinfeksi kutukan," kata Mia, setiap katanya seperti ditarik paksa dari dadanya, "harus rela mengorbankan nyawanya sendiri. Supaya energi itu gak punya tempat lagi untuk berpindah."
Sarah terdiam. Dia paham sekali dengan arti ucapan Mia barusan. Kalau dia setuju untuk melakukan ritual itu, artinya sama saja dengan menghadapi kematiannya sendiri.
"Alasan utama gue gak bilang ke lo soal ini adalah... gue sama sekali gak siap kehilangan lo, Sar," lanjut Mia yang kemudian menundukkan kepalanya.
Sarah tertawa pendek, nyaris histeris. "Kehilangan gue?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Mi, lihat gue sekarang. Gue udah kehilangan diri gue sendiri."
Seolah menjawab ucapannya, udara di depan Sarah beriak. Pantulan samar muncul. Bukan di kaca, bukan di permukaan apa pun, melainkan di ruang kosong. Wajah seorang pria tua terbentuk perlahan, matanya kosong, rahangnya terkatup rapat.
Mia mengernyit. "Sarah?"
Terlambat.
Wajah itu mendadak tersenyum. Senyum yang salah. Terlalu lebar.
Lalu menghilang begitu saja.
Sarah terhuyung ke belakang, napasnya tersengal. "Gue gak butuh cermin lagi,” bisiknya, ketakutan merayap di setiap suku kata. "Mereka… sekarang mereka muncul begitu aja."
Reno bertepuk tangan pelan.
**Clap. Clap.
"Indah, bukan?" katanya puas. "Ayah pasti bangga."
"Diam," bentak Mia. "Lo dapet apa dari semua ini, Reno? Kekuatan? Pembuktian?"
Reno mengangkat bahu. "Keseimbangan, mungkin? Dunia selalu butuh wadah. Dulu benda, sekarang manusia. Bukankah ini hal yang paling keren di dunia ini?"
Mia mengepalkan kedua tangannya erat. Rahangnya mengeras. Napasnya memburu seolah sedang menahan amarah yang bisa membunuh Reno saat itu juga.
Sementara itu, Sarah merasakan sesuatu berdenyut di dadanya, mengikuti irama jantungnya. Setiap detak terasa lebih berat. Setiap tarikan napas membawa bisikan.
Lihat kami.
Ingat kami.
Pantulkan kami.
"Mia," Sarah berbisik. "Mereka ngomong."
Mia menggenggam tangan Sarah erat. Sentuhannya dingin, tapi terasa nyata. "Fokus ke gue. Dengar suara gue aja."
Namun saat Sarah menatap Mia, pantulan lain muncul. Bayangan hitam berdiri tepat di belakangnya. Bentuknya tidak jelas, tapi Sarah bisa merasakan niatnya. Bayangan itu terlihat lapar, seolah sedang menunggu sesuatu.
Sarah memejamkan mata dan menjerit.
Bayangan itu kemudian meledak menjadi serpihan gelap, lenyap ke udara.
Mia tersentak. "Ada apa? Lo kenapa?!"
"Gue… gue cuma mau bayangan itu pergi," jawab Sarah terengah. "Dan dia... beneran pergi."
Reno tertawa kecil. "Lihat? Sekarang lo bukan cuma cermin. Lo juga pengatur. Setiap ketakutan, setiap emosi, semuanya memantul balik ke dunia."
Seolah membuktikan ucapan Reno barusan, terdengar teriakan dari kejauhan. Suara manusia. Lalu suara benda jatuh.
Sunyi mendadak menelan semuanya.
Sarah membeku. "Itu… dari luar reruntuhan?"
Mia memejamkan mata, seolah merasakan sesuatu. "Kutukan ini merambat," katanya pelan. "Semakin lama lo hidup sebagai cermin, semakin luas juga pantulannya."
Sarah mematung. "Berarti… orang-orang bakal mati… karena gue?"
Reno tersenyum. "Bukan karena lo. Tapi, melalui lo."
Kalimat itu menghantam lebih keras dari sebuah tamparan.
Sarah melepaskan genggaman Mia, mundur beberapa langkah. Setiap langkahnya diikuti jejak bayangan baru. Ia melihat kilasan. Seorang anak kecil yang berdiri di persimpangan jalan, seorang perempuan yang terjatuh dari tangga, seorang pria yang memegangi dadanya sambil terengah, dan semuanya belum terjadi.
Semuanya menunggu.
"Berhenti," Sarah memohon. "Tolong… berhenti."
Bayangan-bayangan itu menoleh padanya dengan serempak.
Sarah menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menggeleng cepat. "Gue gak mau jadi cermin kematian ini."
Mia mendekat perlahan, suaranya lembut tapi tegas. "Cara terakhir cuma dengan yang gue jelasin tadi. Tapi, gue berharap lo gak ngelakuin ritual itu. Kita bisa coba cari cara lain kalau lo mau."
Sarah mengangkat kepala. Matanya merah, penuh air. "Kalau gue bertahan bahkan cuma buat hari ini, berapa banyak korban yang bakal berjatuhan? Gue gak mau hidup dengan rasa bersalah selamanya, Mi."
Mia terdiam. Sejujurnya, ia pun akan merasakan hal yang sama dengan Sarah jika menjadi dirinya.
"Kalau gue setuju buat lakuin ritual itu... apa gue beneran bakal... mati?" tanya Sarah sambil menyeka air matanya.
"Bukan sekadar mati," jawab Mia jujur. "Lo harus rela. Kutukan ini cuma bisa diputus kalau wadahnya melepaskan diri dengan sadar. Kalau enggak… energinya akan mencari pengganti."
"Dan itu bisa jadi siapa aja," sambung Reno. "Termasuk dia." Ia menunjuk Mia.
Mia tidak membantah.
Sarah menatap Mia lama. Terlalu lama. "Lo tahu ini dari awal?"
Mia mengangguk pelan. "Gue tahu risikonya. Tapi gue berharap… gue berharap bisa nemuin cara lain. Atau jadi penggantinya sendiri sebelum lo sampai sejauh ini."
"Terus... kenapa gak lo aja?" tanya Sarah lirih.
Mia tersenyum sedih. "Karena kutukan ini gak milih sembarang orang. Dan karena… gue gak sekuat lo."
Kata-kata itu terasa pahit dan hangat sekaligus.
Lalu, tiba-tiba saja bayangan kembali muncul. Kali ini lebih dekat.
Sarah bisa mencium bau darah dan tanah basah. Ia melihat dirinya sendiri di antara bayangan itu. Wajahnya pucat, matanya kosong. Pantulan dirinya tersenyum.
Sarah menjerit dan memalingkan wajah. "Cukup."
Mia berdiri di samping Sarah. Tangannya gemetar, tapi ia tidak mundur. "Kalau lo setuju… gue akan lakuin ritualnya. Gue yang akan ngikat. Gue yang akan memastikan ini benar-benar berakhir."
Sarah menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, bisikan-bisikan itu mereda, seolah menunggu jawabannya.
Sarah menatap tangannya sendiri. Melihat bayangan tipis bergerak di kulitnya, seperti refleksi di air keruh. "Apa yang bakal terjadi setelahnya?" tanyanya pelan.
Mia menelan ludah. "Kutukan itu hancur dan menghilang. Semua pantulan berhenti. Gak ada lagi cermin. Gak ada lagi wadah."
Sarah tertawa lirih. "Ironis ya. Dari awal gue cuma mau hidup normal."
Ia melangkah maju, lalu berdiri di antara Mia dan Reno. Bayangan di sekelilingnya membentuk lingkaran, seperti altar hidup.
"Gue capek," katanya. "Capek lari. Capek lihat orang mati."
Kemudian ia menoleh ke Mia. "Kalau gue lakuin ini… lo bisa pastiin satu hal?"
Mia mengangguk cepat.
"Jangan biarin hal ini kejadian lagi."
Mata Mia berkaca-kaca. "Gue janji."
Sarah mengangguk pelan. Lalu menatap Reno untuk terakhir kalinya. "Lo kalah."
Reno tersenyum tipis. "Kita lihat nanti."
Sarah menggenggam tangan Mia. Bayangan-bayangan mulai berputar, angin dingin berhembus dari segala arah.
"Ayo mulai," kata Sarah.
Mia menarik napas dalam, lalu mengangkat tangannya. Tato di lengannya mulai menyala redup. Dan jauh di dalam kegelapan yang belum sepenuhnya terungkap, sesuatu bergerak.
Seolah menunggu saat ritual akhir dimulai.