BAB 17: UJUNG SEBUAH KEBOHONGAN

30 January 2026

Suasana di depan Rumah Sakit Medistra pagi itu jauh lebih padat daripada pasar kaget di desa. Barisan mobil van milik stasiun televisi terparkir rapi di sepanjang bahu jalan. Para jurnalis dengan kamera besar mereka sudah bersiap di depan lobi utama, menantikan perkembangan kondisi kesehatan Hartono sekaligus kepastian mengenai tes DNA yang sempat tertunda. Kabar tentang serangan jantung Hartono telah menjadi tameng sempurna bagi Maria untuk menunda segala bentuk tuntutan hukum, namun bagiku, ini hanyalah babak baru dari skenario yang sengaja mereka ulur.

Aku turun dari mobil Alif dengan perasaan yang lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Aku tidak lagi merasa seperti seorang terdakwa. Rekaman pengakuan Jaka yang diberikan Baskara semalam adalah peluru perak yang tersimpan rapat di dalam tas tanganku. Aku mengenakan pakaian serba putih—sebuah simbol kesederhanaan sekaligus transparansi yang ingin kutunjukkan kepada publik yang mulai meragukanku.

"Lisna, ingat, jangan terpancing emosi jika Maria mulai menggunakan narasi kesedihan di dalam nanti," Alif berbisik tepat di samping telingaku saat kami berjalan melewati barisan wartawan. "Dia akan mencoba membuatmu terlihat sebagai anak yang tidak punya hati karena menuntut tes DNA di saat ayahnya sedang kritis."

Aku hanya mengangguk pelan. Aku sudah mempersiapkan mental untuk segala kemungkinan terburuk.

Di ruang tunggu VVIP lantai tujuh, Maria sudah menunggu. Ia tidak lagi mengenakan kacamata hitam. Matanya tampak sembab, entah karena benar-benar menangis atau sekadar polesan riasan yang sangat ahli. Ia duduk di kursi kulit mewah, dikelilingi oleh tim pengacara keluarga Hartono yang tampak sangat intimidasi.

"Kamu benar-benar datang, Lisna," Maria berdiri, suaranya terdengar serak dan penuh tekanan. "Suamiku sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana, dan kamu masih tega membawa pengacara dan kamera untuk menuntut pengakuan? Di mana nuranimu sebagai manusia?"

Aku berdiri tegak, menatapnya tanpa kedipan. "Nurani saya tetap ada pada tempatnya, Nyonya Maria. Justru karena Tuan Hartono sedang dalam kondisi sulit, kebenaran ini harus segera diselesaikan agar beban batinnya berkurang. Bukankah kebohongan yang disimpan terlalu lama bisa merusak kesehatan jantung seseorang?"

Wajah Maria menegang. Ia melirik ke arah para wartawan yang diperbolehkan masuk dalam jumlah terbatas. "Hentikan omong kosong ini. Kita semua tahu siapa kamu. Kamu hanyalah wanita yang haus harta. Jaka sudah bicara jujur kemarin, dan dunia sudah melihat siapa sebenarnya orang tuamu."

"Bicara soal Jaka," aku membuka tas tanganku dan mengeluarkan sebuah alat pemutar suara kecil. "Saya rasa Anda perlu mendengar versi yang lebih jujur daripada apa yang Anda tampilkan di televisi kemarin sore."

Aku menekan tombol play. Suara Jaka yang gemetar dan ketakutan saat mengakui bahwa ia dibayar oleh Maria untuk memalsukan identitas serta menggunakan foto kakak kandung Siti Aminah terdengar sangat jelas di seluruh ruangan. Suasana seketika menjadi hening yang mematikan. Para pengacara Hartono saling berpandangan dengan wajah pucat, sementara kamera jurnalis terus merekam setiap detik reaksi Maria yang berubah dari sombong menjadi sangat panik.

"Itu... itu rekayasa! Kamu menculik pria itu dan memaksanya bicara!" teriak Maria, suaranya kini melengking tinggi, kehilangan keanggunannya.

"Saya tidak perlu menculik siapa pun, Nyonya. Orang yang jujur akan bicara jika mereka tahu kebenaran tidak bisa dibeli selamanya," kataku tenang. "Sekarang, apakah kita akan melanjutkan tes DNA ini dengan sukarela, atau saya harus membawa rekaman ini langsung ke pihak kepolisian atas dugaan manipulasi informasi dan pencemaran nama baik?"

Di tengah ketegangan itu, pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah yang sangat serius. Maria segera menghampirinya, mencoba mengalihkan perhatian dari rekaman suara tersebut.

"Dokter! Bagaimana suami saya?" tanya Maria histeris.

"Tuan Hartono sudah melewati masa kritisnya, Nyonya. Beliau sudah sadar dan... beliau meminta untuk bertemu dengan Ibu Lisna. Sendirian," ujar dokter tersebut.

Maria tertegun. "Tidak mungkin! Beliau butuh istirahat! Beliau tidak boleh bertemu dengan wanita ini sekarang!"

"Itu permintaan langsung dari pasien, Nyonya. Beliau menolak untuk diberikan penanganan lebih lanjut jika keinginannya tidak dipenuhi," tegas sang dokter.

Alif menatapku, memberikan isyarat agar aku masuk. Aku melangkah melewati Maria yang masih berdiri mematung dengan wajah penuh kebencian. Saat pintu ICU tertutup di belakangku, bau antiseptik dan suara mesin detak jantung menjadi satu-satunya latar belakang.

Hartono terbaring lemah dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Wajahnya yang dulu tampak begitu berkuasa kini terlihat sangat renta dan rapuh. Begitu melihatku mendekat, matanya yang sayu terbuka perlahan.

"Lisna..." suaranya hampir menyerupai bisikan. "Kamu... benar-benar memiliki sorot mata yang sama dengan Siti."

Aku duduk di kursi samping tempat tidurnya. Tidak ada amarah yang meluap, hanya ada rasa hampa. "Kenapa Anda meminta saya masuk, Tuan?"

"Aku tidak ingin mati dengan membawa beban ini lagi," Hartono menarik napas pendek yang terdengar sangat berat. "Maria... dia melakukan banyak hal tanpa sepengetahuanku untuk menjagaku. Tapi aku sadar, dialah yang membuatku semakin jauh dari kebenaran. Kamu memang anakku, Lisna. Aku tidak butuh tes DNA untuk mengetahuinya. Aku sudah tahu sejak pertama kali melihatmu di peluncuran buku itu."

"Lalu kenapa Anda membiarkan Maria menghancurkan saya? Kenapa Anda membiarkan Aris mengusik hidup saya?" tanyaku dengan suara yang mulai bergetar.

"Karena aku pengecut," Hartono memejamkan matanya, air mata mengalir dari sudut matanya yang keriput. "Aku takut pada istriku, aku takut pada karierku, aku takut pada bayang-bayang masa laluku sendiri. Tapi melihatmu berdiri tegak di televisi... aku merasa sangat malu. Kamu jauh lebih kuat daripada aku yang bergelimang harta ini."

Hartono meraih tanganku dengan jemarinya yang dingin. "Ambil ini. Di bawah bantal... ada surat kuasa yang sudah kutandatangani sebelum aku pingsan kemarin. Itu adalah pengakuan hak waris dan instruksi untuk menghentikan semua boikot terhadap karyamu. Gunakan itu untuk membersihkan namamu. Dan tolong... maafkan aku."

Aku menggenggam surat itu dengan tangan yang gemetar. Di satu sisi, ini adalah kemenangan yang selama ini kucari. Namun di sisi lain, melihat pria perkasa ini hancur dalam penyesalan membuatku sadar bahwa harta yang paling besar memang bukan uang, melainkan kedamaian hati yang tidak pernah dia miliki selama tiga puluh tahun ini.

Saat aku keluar dari ruang ICU, Maria langsung menghadangku. Ia melihat surat di tanganku dan mencoba merebutnya.

"Apa yang dia berikan padamu?! Berikan padaku!" teriak Maria.

Alif segera menghalangi Maria dengan tubuhnya. "Nyonya, ini sudah berakhir. Tuan Hartono sudah mengakui semuanya secara hukum melalui surat kuasa ini. Jika Anda terus membuat keributan, Anda hanya akan mempermalukan diri sendiri di depan kamera yang masih menyala di sana."

Maria menoleh ke arah para jurnalis. Ia menyadari bahwa citranya sebagai istri sempurna telah hancur berkeping-keping. Dengan langkah yang gontai, ia meninggalkan rumah sakit, diikuti oleh para pengacaranya yang mulai menjaga jarak darinya.

Di sisi lain koridor, aku melihat Aris sedang berdiri dengan wajah yang pucat pasi. Dia rupanya mencoba menyelinap masuk untuk mencari keuntungan dari situasi ini. Saat matanya bertemu dengan mataku, dia tidak lagi berani berteriak atau mencaci. Dia berbalik dan lari secepat mungkin, sadar bahwa pelindung besarnya sudah tidak ada lagi dan kini dialah yang menjadi target utama hukum atas kasus penipuan dan KDRT yang pernah kulaporkan.

Aku berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan Jakarta. Matahari sore bersinar terang, menyinari wajahku yang kini terasa sangat ringan.

"Sudah selesai, Lisna?" tanya Alif lembut.

"Satu babak besar sudah selesai, Mas. Kebohongan itu sudah mencapai ujungnya," aku tersenyum, menatap surat kuasa di tanganku. "Besok, aku akan membawa Bapak dan anak-anak kembali ke desa untuk merayakan ini. Bukan di rumah besar Hartono, tapi di rumah Bapak yang sudah kita amankan."

"Lalu bagaimana dengan kariermu?"

"Aku akan terus menulis, Mas. Tapi kali ini, aku tidak akan menulis tentang dendam. Aku akan menulis tentang bagaimana cara memaafkan diri sendiri, karena itulah yang paling sulit dilakukan."

Alif merangkul bahuku, dan untuk pertama kalinya sejak aku menginjakkan kaki di Jakarta, aku merasa benar-benar pulang. Kebenaran telah menang, bukan karena uang atau kekuasaan, tapi karena kejujuran yang tidak pernah menyerah pada tekanan.