Jakarta sore itu terlihat lebih ramah. Langit yang biasanya tertutup polusi kini menampakkan rona jingga yang lembut, seolah ikut merayakan kemenangan kecil atas kebenaran yang baru saja terungkap di rumah sakit. Surat kuasa dari Hartono yang kini berada di genggamanku terasa lebih berat daripada tumpukan emas mana pun. Surat itu bukan sekadar pengakuan hak waris atau instruksi untuk menghentikan boikot, melainkan sebuah kunci yang akhirnya membebaskan aku dari penjara masa lalu yang selama ini mengurungku.
Aku duduk di kursi belakang mobil Alif, menatap ke luar jendela. Kami sedang dalam perjalanan kembali ke rumah kontrakan untuk menjemput anak-anak. Alif sesekali melirikku melalui spion tengah, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya yang kini tampak jauh lebih rileks.
"Kamu terlihat berbeda, Lisna," ujar Alif memecah keheningan. "Beban di pundakmu seolah menguap begitu saja."
"Aku hanya merasa lega, Mas. Selama ini aku seperti berlari di dalam air, sangat lambat dan melelahkan. Sekarang, untuk pertama kalinya, aku merasa kakiku benar-benar menapak di tanah yang kokoh," jawabku sambil merapikan surat-surat penting di dalam tas.
"Tapi jangan lupa, surat kuasa itu baru langkah awal. Maria pasti sedang berkonsultasi dengan tim hukumnya untuk mencari celah. Dia bukan tipe wanita yang akan membiarkan hartanya dibagi begitu saja kepada anak yang selama ini dia anggap tidak ada."
Aku menghela napas. "Biarkan saja. Fokusku sekarang bukan lagi pada hartanya, Mas. Aku ingin memulihkan nama baik Ibu dan memastikan anak-anak memiliki masa depan yang tenang. Hartono sudah meminta maaf, dan itu sudah cukup bagiku sebagai seorang putri."
Begitu sampai di depan kontrakan, aku melihat Bumi dan Bintang sedang duduk di teras bersama asisten Alif. Begitu melihat mobil kami berhenti, mereka langsung berlari menyongsongku.
"Ibu! Kita jadi pulang ke desa?" tanya Bumi dengan mata berbinar.
"Jadi, Sayang. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat. Kita jemput Kakek dan kita rayakan semuanya di sana," aku memeluk mereka berdua erat-erat. Ada kebahagiaan murni yang tidak bisa dibeli dengan uang di dalam pelukan itu.
Malam itu, aku mulai mengemasi barang-barang kami. Rumah kontrakan ini hanya menjadi saksi bisu selama beberapa hari, namun di tempat yang sempit inilah aku belajar bahwa kemewahan sejati adalah keamanan dan dukungan dari orang-orang tulus.
Tiba-tiba, pintu depan diketuk dengan pelan. Alif, yang sedang membantu mengangkut koper ke bagasi mobil, membukanya. Di sana berdiri Baskara. Pria berjaket kulit itu tidak lagi tampak mengancam. Dia membawa sebuah kotak kayu kecil.
"Tuan Baskara, masuklah," ajakku.
Baskara menggeleng pelan. "Aku hanya sebentar, Lisna. Aku dengar Hartono sudah memberikan surat kuasa padamu. Itu bagus. Tapi kamu harus waspada. Maria baru saja menyewa detektif swasta untuk melacak setiap detail hidupmu di masa lalu, termasuk semua transaksi keuanganmu sejak di desa."
"Dia mencari celah untuk menuduhku melakukan pencucian uang atau penipuan, ya?" tanyaku.
"Kurang lebih begitu. Dia ingin membuktikan bahwa kesuksesanmu sebagai penulis adalah hasil dari skema investasi bodong atau semacamnya agar publik kembali membencimu," Baskara menyerahkan kotak kayu itu padaku. "Ini adalah catatan asli pengeluaran rumah tangga keluarga Hartono saat ibumu masih di sana. Di sini tercatat bahwa Siti Aminah tidak pernah menerima uang sepeser pun selain gaji pokoknya. Gunakan ini jika Maria menuduh ibumu memeras Hartono di masa lalu."
Aku menerima kotak itu dengan rasa syukur yang mendalam. "Terima kasih, Pak Baskara. Anda sudah banyak membantu kami."
"Aku hanya membayar hutang budi, Nak. Setelah ini, aku akan pergi dari Jakarta. Tugasku selesai. Hiduplah dengan baik," ujar Baskara sebelum akhirnya menghilang di kegelapan gang.
Keesokan paginya, kami memulai perjalanan panjang menuju desa. Alif bersikeras mengantar kami sendiri dengan mobilnya, sementara satu mobil pengawal mengikuti dari belakang untuk memastikan keamanan. Perjalanan menuju Jawa Tengah itu terasa sangat emosional bagi aku. Setiap jengkal jalanan yang kami lalui mengingatkanku pada saat aku melarikan diri beberapa bulan lalu—saat aku hanya membawa tas plastik berisi baju anak-anak dan hati yang hancur karena Aris.
Saat mobil memasuki gapura desa, suasana tenang dan bau tanah basah menyambut kami. Rumah Bapak Sugeng tampak berdiri kokoh di ujung jalan. Sertifikat yang sudah kembali ke tangan Bapak membuat rumah itu kini benar-benar menjadi milik kami seutuhnya tanpa bayang-bayang hutang judi Aris.
"Lisna!" Bapak Sugeng berlari keluar dari pintu depan, air matanya tumpah saat melihat cucu-cucunya keluar dari mobil.
Kami berpelukan di halaman rumah yang rindang. Tidak ada lampu kristal atau marmer mewah di sini, tapi hangatnya matahari desa dan suara ayam berkokok di kejauhan terasa jauh lebih mewah daripada hotel berbintang di Jakarta.
"Bapak bangga sama kamu, Nduk," bisik Bapak sambil mengusap kepalaku. "Bapak tahu kamu anak yang kuat. Ibumu pasti melihatmu dari sana dengan tersenyum."
Malam harinya, kami mengadakan syukuran kecil-kecilan. Hanya tetangga dekat dan beberapa kerabat. Aku duduk di teras, memandangi langit desa yang penuh bintang. Alif duduk di sampingku, menyesap kopi tubruk buatan Bapak.
"Nyaman ya di sini, Lisna," ujar Alif.
"Sangat nyaman, Mas. Terkadang aku berpikir, apakah aku harus kembali ke Jakarta?"
Alif menatapku serius. "Duniamu sekarang ada di sana, Lisna. Kamu seorang penulis besar sekarang. Kontrak bukumu yang sempat tertunda akan segera dipulihkan. Surat kuasa Hartono sudah bekerja. Pagi tadi, asosiasi penerbit mengirim email permintaan maaf secara resmi padaku."
Aku tersenyum tipis. "Aku akan kembali, Mas. Tapi bukan sebagai Lisna yang haus pengakuan. Aku akan kembali sebagai wanita yang ingin memberikan suara bagi mereka yang tertindas. Aku ingin mendirikan yayasan untuk wanita korban KDRT di desa-desa seperti ini."
"Itu rencana yang luar biasa. Dan aku akan membantumu mewujudkannya."
Namun, di tengah kedamaian itu, Alif menerima sebuah pesan di ponselnya. Wajahnya kembali berubah serius.
"Ada apa lagi, Mas? Maria?" tanyaku cemas.
"Bukan Maria. Tapi Aris," Alif menunjukkan sebuah foto yang dikirim oleh informannya di kepolisian. "Aris tertangkap di perbatasan saat mencoba melarikan diri ke luar negeri dengan paspor palsu. Rupanya dia juga terlibat dalam jaringan judi online internasional yang lebih besar dari yang kita duga. Polisi menemukan bukti bahwa dia sering menjual informasi pribadi para nasabah bank di desa untuk didepositokan ke situs judi."
Aku terperangah. Aris bukan hanya pecandu, dia sudah menjadi bagian dari kriminalitas yang terorganisir.
"Ini berarti dia akan menghadapi hukuman yang sangat lama," lanjut Alif. "Dan Maria... polisi mulai mencurigai adanya aliran dana dari perusahaan Hartono ke rekening Aris yang digunakan untuk mendanai operasional judi tersebut. Maria terjepit, Lisna. Dia mungkin akan dipanggil sebagai saksi atau bahkan tersangka jika terbukti dia tahu uang itu digunakan untuk hal ilegal demi menjatuhkanmu."
Aku menyandarkan kepala di bahu Alif. Tekanan yang mereka berikan padaku kini berbalik arah menyerang mereka sendiri. Karma memang tidak pernah salah alamat. Saat aku memilih untuk tidak mengemis harta dan tetap berpegang pada kebenaran, alam semesta justru membukakan jalan bagiku untuk mendapatkan keadilan yang lebih besar.
"Mas depan kita baru saja dimulai, Lisna," bisik Alif sambil menggenggam tanganku.
Aku menatap anak-anak yang tertidur lelap di dalam rumah. Besok, aku akan mulai menulis naskah baru. Bukan tentang rasa sakit, tapi tentang fajar yang selalu datang setelah malam yang paling gelap. Perjalanan menuju bab empat puluh masih panjang, dan aku siap menghadapinya dengan kepala tegak.