BAB 19: PERCIKAN API TERAKHIR

30 January 2026

Ketenangan di desa ternyata hanya menjadi jeda singkat sebelum badai besar berikutnya menghantam. Pagi itu, saat aku sedang membantu Bapak menjemur kerupuk di halaman rumah, sebuah iring-iringan mobil hitam mewah yang sangat kukenali memasuki halaman rumah kami yang sederhana. Itu bukan mobil Alif. Itu adalah mobil-mobil milik keluarga besar Hartono.

Hatiku mencelos saat melihat Maria keluar dari mobil tersebut. Namun, kali ini penampilannya berbeda. Tidak ada lagi gaun desainer yang mencolok atau perhiasan berlebihan. Ia mengenakan setelan hitam yang tertutup, wajahnya tampak kuyu, dan sorot matanya yang biasanya tajam kini terlihat penuh dengan keputusasaan yang dipaksakan.

"Lisna," panggilnya dengan suara yang dibuat serak. Ia berjalan perlahan ke arahku, mengabaikan tatapan heran dari para tetangga yang mulai berkumpul di pinggir jalan.

Aku tetap berdiri di tempatku, menggenggam tampah kayu dengan erat. "Mau apa lagi, Nyonya Maria? Bukankah segalanya sudah jelas di rumah sakit kemarin?"

Bapak Sugeng keluar dari rumah, berdiri di sampingku dengan waspada. "Ada apa ini, Lisna? Siapa mereka?"

"Ini istri Tuan Hartono, Pak," jawabku pelan.

Maria tiba-tiba bersimpuh di depanku, tepat di atas tanah halaman yang berdebu. Tindakan itu membuatku terkejut setengah mati. Seorang wanita seangkuh Maria, yang pernah merendahkanku di acara arisan, kini berlutut di bawah kakiku.

"Tolong, Lisna... tolong suamiku," isaknya. "Hartono kembali kritis setelah kamu pergi semalam. Dan bukan itu saja. Polisi baru saja mendatangi rumah kami. Mereka menghubungkan dana operasional perusahaan dengan kegiatan ilegal yang dilakukan Aris. Aku tahu aku pernah salah padamu, aku tahu aku kasar, tapi tolong jangan biarkan nama besar keluarga ini hancur."

Aku menatapnya dengan rasa hambar. "Nyonya, Anda datang ke sini bukan karena merasa bersalah padaku. Anda datang karena takut kehilangan kenyamanan hidup Anda. Anda takut ditarik ke penjara karena dana yang Anda berikan pada Aris untuk menerorku ternyata berasal dari sumber yang ilegal."

Maria mendongak, air matanya luntur merusak riasannya yang tipis. "Aku melakukan itu demi menjaga kehormatan Hartono! Aku tidak ingin dia tahu bahwa dia punya anak dari seorang pelayan! Aku hanya ingin melindungi keluargaku!"

"Dengan cara menghancurkan keluarga orang lain?" potongku tajam. "Nyonya, kehormatan tidak dibangun di atas tumpukan kebohongan. Sekarang, silakan berdiri. Jangan berakting di depan rumah Bapak saya. Di sini, kami menghargai kejujuran, bukan drama panggung."

Alif tiba di desa satu jam kemudian setelah mendapat kabarku. Ia segera mengajak Maria dan tim hukumnya untuk bicara di balai desa, menjauh dari anak-anakku. Aku ikut serta, ingin mendengar apa sebenarnya yang sedang terjadi di Jakarta.

"Situasinya sangat serius, Lisna," Alif menjelaskan setelah mereka melakukan pembicaraan tertutup. "Aris sudah mulai bicara di kantor polisi. Untuk mendapatkan keringanan hukuman, dia menyerahkan semua bukti percakapannya dengan Maria. Aris memiliki rekaman di mana Maria secara eksplisit meminta Aris untuk 'melakukan apa saja' asalkan Lisna pergi dari Jakarta, dan Maria menjanjikan aliran dana rutin melalui perusahaan cangkang."

Aku menarik napas panjang. "Jadi, Maria benar-benar terancam jadi tersangka?"

"Sangat mungkin. Dan Hartono... kesehatannya menurun drastis karena dia baru menyadari bahwa istrinya sendiri yang mendanai pria yang menyiksa anak kandungnya. Hartono merasa dikhianati oleh semua orang di sekelilingnya."

Maria, yang duduk di pojok ruangan balai desa, tampak tidak lagi memiliki taring. Ia terus meremas sapu tangannya. "Aku akan memberikan apa saja, Lisna. Aku akan memberikan seluruh bagian warisan yang seharusnya menjadi milik anak-anakku padamu. Aku akan memberikan rumah di Menteng itu. Tolong, cabut laporanmu tentang intimidasi dan bantu aku memberikan pernyataan bahwa uang itu adalah uang santunan keluarga, bukan dana teror."

Aku berjalan mendekati Maria. Aku menatapnya dalam-dalam. "Nyonya Maria, Anda masih belum mengerti juga, ya? Sampai detik ini, Anda masih berpikir bahwa segala sesuatu bisa dibeli dengan uang."

"Lalu apa yang kamu mau?!" teriaknya frustrasi.

"Aku mau keadilan. Aku mau Anda mengakui di depan publik bahwa Anda telah memfitnah ibu saya. Saya tidak butuh rumah di Menteng. Saya sudah punya rumah di sini, di mana udaranya lebih bersih dari bau busuk rencana-rencana Anda."

Pembicaraan itu buntu. Maria pulang dengan kemarahan yang tertahan, sementara Alif tetap tinggal di desa bersamaku. Malam itu, kami duduk di pinggir sawah, mendengarkan suara jangkrik yang saling bersahutan.

"Kamu sangat berani hari ini, Lisna," ujar Alif. "Banyak orang akan tergiur dengan tawaran rumah di Menteng."

"Buat apa, Mas? Rumah itu penuh dengan energi negatif. Aku tidak ingin anak-anakku tumbuh di tempat yang dibangun dari air mata orang lain," kataku sambil menatap bulan sabit di langit. "Tapi aku khawatir tentang Aris. Jika dia terus bicara, apakah itu akan menyeret nama baikku juga?"

"Polisi tahu kamu adalah korban. Namun, Aris mencoba membangun narasi bahwa kamu 'mengetahui' kegiatannya dulu tapi diam saja karena menikmati uangnya. Dia mencoba menyeretmu masuk ke dalam lumpur yang sama."

Aku mengepalkan tangan. Aris benar-benar tidak pernah berubah. Bahkan saat sudah di ujung tanduk, dia masih mencoba menarikku jatuh bersamanya.

Keesokan harinya, sebuah percikan api baru muncul. Aris, melalui pengacaranya yang haus publikasi, merilis sebuah pernyataan video dari balik jeruji besi. Dalam video itu, dia tampak lesu dan mengaku sebagai "suami yang dimanfaatkan oleh ambisi istri".

"Lisna yang menyuruhku ikut judi online itu awalnya," fitnah Aris dalam video tersebut. "Dia bilang kita butuh modal cepat untuk pindah ke Jakarta. Dia yang memberikan ide untuk memeras keluarga Hartono. Aku hanya laki-laki bodoh yang menuruti keinginan istri yang ingin kaya mendadak."

Video itu menjadi viral dalam hitungan jam. Netizen yang tadinya membelaku kini mulai ragu lagi. Media sosialku kembali dibanjiri hujatan. “Ternyata keduanya sama-sama licik,” tulis salah satu akun. “Pantas saja Lisna cepat kaya, ternyata hasil judi online suaminya.”

Tekanan mental itu kembali datang. Kali ini lebih berat karena aku berada di desa, jauh dari akses untuk segera melakukan klarifikasi di studio TV. Aku merasa seperti sedang dikepung dari dua arah: Maria dengan kekuasaannya dan Aris dengan kelicikannya.

"Ini adalah serangan terakhir mereka, Lisna," kata Alif sambil memeriksa data transaksi bank lamaku yang berhasil ia dapatkan. "Mereka ingin menciptakan keraguan di mata hukum agar kesaksianmu nanti dianggap tidak kredibel."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Mas? Aku tidak punya bukti percakapan dari dua tahun lalu."

"Tapi kamu punya sesuatu yang lebih kuat," Alif tersenyum misterius. "Kamu punya naskah bukumu yang lama. Ingat bab tentang 'Uang yang Hilang'? Di sana kamu menulis detail tanggal dan jam saat Aris mencuri uang kue-mu. Jika kita bandingkan dengan log transaksi judi online-nya, tanggal-tanggal itu sangat akurat. Tidak mungkin seorang 'otak kejahatan' menuliskan penderitaannya sendiri dalam sebuah naskah jauh sebelum kejahatan itu terungkap."

Alif benar. Naskahku adalah saksi hidup.

Malam itu, aku tidak tinggal diam. Dengan bantuan Alif, aku mengunggah foto-foto catatan harian asliku dari tiga tahun lalu ke akun media sosial. Catatan yang penuh dengan noda minyak goreng dan coretan tangan yang lelah. Aku menunjukkan perbandingan tanggal antara saat aku menangis karena tidak bisa membeli beras dengan tanggal saat Aris melakukan deposit besar di situs judi.

"Jika saya adalah otaknya, mengapa saya membiarkan diri saya sendiri kelaparan selama tiga tahun?" tulisku sebagai penutup unggahan tersebut.

Serangan balik ini sangat efektif. Publik kembali melihat kebenaran yang sederhana namun tak terbantahkan. Kebencian netizen berbalik arah ke Aris dengan lebih dahsyat.

Namun, di tengah kemenanganku, sebuah berita duka sampai ke desa. Hartono meninggal dunia pukul sembilan malam di rumah sakit.

Duniaku mendadak sunyi. Pria yang baru saja aku temui sebagai ayah, kini telah tiada. Dan yang lebih mengejutkan, Hartono meninggalkan sebuah wasiat terakhir yang sudah disimpan oleh notarisnya sejak sebulan lalu, sebuah wasiat yang isinya akan membuat Maria kehilangan segalanya dan membuat Aris membusuk lebih lama di penjara.

"Kita harus segera kembali ke Jakarta, Lisna," kata Alif dengan nada serius. "Pembacaan wasiat ini akan menjadi perang terbuka yang sesungguhnya. Dan kali ini, tidak akan ada lagi yang bisa mengemis padamu karena kamu yang akan memegang seluruh kendali."

Aku menatap langit desa untuk terakhir kalinya. Perang ini hampir mencapai puncaknya. Aku berangkat ke Jakarta bukan untuk hartanya, tapi untuk menutup buku ini selamanya.