Kabar kematian Hartono menyebar seperti api yang ditiup angin kencang di tengah padang ilalang. Jakarta gempar. Tokoh yang selama ini menjadi pilar bisnis dan politik itu telah tiada, meninggalkan lubang besar yang kini diperebutkan oleh banyak pihak. Aku kembali ke Jakarta dengan perasaan yang tidak menentu. Ada rasa sedih yang aneh, meski aku hampir tidak pernah merasaka kasih sayangnya, namun darah yang mengalir di tubuhku adalah buktinya.
Lobi kantor notaris senior di kawasan Sudirman itu tampak seperti medan perang yang dingin. Maria sudah berada di sana, duduk di kursi paling depan dengan pakaian berkabung serba hitam yang sangat mewah. Wajahnya tertutup kerudung tipis, namun aku bisa melihat matanya yang sembab bukan karena duka, melainkan karena amarah yang ditahan. Di sampingnya, kedua anak sahnya—yang selama ini sengaja dijauhkan dariku, menatapku dengan kebencian yang nyata.
Alif menggandeng tanganku, memberikan kekuatan yang sangat kubutuhkan. Kami duduk di sisi yang berseberangan dengan keluarga besar Maria.
"Lisna," Maria menyapa dengan suara dingin saat aku baru saja duduk. "Kamu datang ke sini untuk mengambil apa yang bukan milikmu? Kamu pikir dengan surat kuasa kemarin, kamu sudah menang? Ingat, Hartono menulis wasiat ini jauh sebelum dia bertemu denganmu."
Aku menatapnya dengan tenang. "Saya datang ke sini karena diundang secara resmi oleh notaris, Nyonya. Saya tidak mencari apa-apa selain apa yang memang menjadi hak saya menurut kebenaran."
Tak lama kemudian, Pak Sanusi, notaris kepercayaan Hartono yang sudah berusia lanjut, masuk ke ruangan. Suasana seketika menjadi hening yang mencekam. Hanya suara gesekan kertas yang terdengar saat ia membuka segel amplop wasiat yang tersimpan di dalam brankas baja.
"Berdasarkan wasiat yang ditandatangani oleh almarhum Tuan Hartono pada tanggal 15 Desember tahun lalu, dan telah diperbarui dengan addendum terakhir dua hari sebelum beliau wafat," Pak Sanusi memulai dengan suara yang berwibawa.
Maria tampak menegakkan punggungnya. Ia yakin bahwa harta terbesar akan jatuh ke tangannya dan kedua anaknya.
"Poin pertama," lanjut Pak Sanusi. "Seluruh aset properti di luar negeri dan saham mayoritas di perusahaan induk diberikan kepada istri sah, Nyonya Maria, dan kedua putra-putrinya dengan syarat... perusahaan tersebut bersih dari segala bentuk audit hukum yang sedang berlangsung."
Wajah Maria tampak sedikit lega, namun ada kegelisahan saat mendengar kata "audit hukum".
"Poin kedua," Pak Sanusi menatapku sejenak. "Kepada putri saya, Lisna, yang selama tiga puluh tahun ini telah saya abaikan keberadaannya... saya mewariskan rumah kediaman lama saya di pinggiran Jakarta, seluruh royalti dari kepemilikan aset media yang saya miliki, dan yang paling utama, dana perwalian senilai lima puluh milyar rupiah yang harus digunakan untuk mendirikan yayasan bantuan sosial bagi wanita dan anak-anak."
Ruangan itu mendadak gaduh. Maria berdiri dengan wajah merah padam. "Lima puluh milyar?! Itu gila! Dia hanya anak haram dari seorang pelayan! Bagaimana bisa Hartono memberikan uang sebanyak itu kepadanya sementara perusahaan sedang dalam masa sulit?!"
"Tenang, Nyonya Maria," Pak Sanusi mengetukkan palu kecil ke meja. "Ada poin tambahan yang sangat penting. Tuan Hartono menyatakan bahwa jika terbukti ada anggota keluarga yang terlibat dalam upaya penghancuran reputasi atau ancaman fisik terhadap Lisna selama masa hidupnya, maka seluruh aset yang diwariskan kepada anggota keluarga tersebut akan dialihkan secara otomatis kepada dana perwalian yayasan milik Lisna."
Maria terduduk lemas. Ia menyadari bahwa rekaman suaranya dengan Aris yang kini berada di tangan polisi adalah bom waktu. Jika polisi membuktikan bahwa Maria mendanai Aris untuk menerorku, maka ia dan anak-anaknya tidak akan mendapatkan sepeser pun. Hartono telah memasang jebakan terakhir untuk melindungi aku dari kuburnya.
Setelah pembacaan wasiat selesai, aku keluar dari gedung dengan perasaan yang campur aduk. Uang lima puluh milyar rupiah itu adalah jumlah yang sangat besar, hampir tidak masuk akal bagi seorang mantan penjual kue sepertiku. Namun, aku tahu uang itu adalah beban tanggung jawab, bukan sekadar kekayaan.
"Lisna, tunggu!"
Aku berbalik dan melihat Maria mengejarku di lobi. Kali ini dia tidak berteriak. Dia tampak sangat ketakutan.
"Aku tahu kamu memegang rekaman itu, Lisna," bisik Maria dengan suara bergetar. "Aku tahu kamu bekerja sama dengan polisi. Tolong... jangan serahkan bukti itu. Jika aku jatuh, anak-anakku juga akan hancur. Mereka tidak salah apa-apa. Mereka hanya tumbuh besar dengan apa yang ayah mereka berikan."
Aku menatap kedua anaknya yang berdiri di kejauhan, menatapku dengan bingung. "Nyonya Maria, anak-anak Anda tidak salah. Tapi Anda yang salah karena telah mengajarkan mereka bahwa uang bisa menutupi segala kejahatan. Saya tidak akan menarik laporan saya. Biarkan hukum yang bekerja."
"Kamu kejam!" Maria mencengkeram lenganku. "Kamu pikir kamu suci? Kamu hanya beruntung!"
Aku melepaskan cengkeramannya dengan perlahan tapi pasti. "Saya tidak beruntung, Nyonya. Saya hanya bertahan hidup. Dan satu hal yang perlu Anda tahu... saya akan menyumbangkan seluruh dana perwalian itu. Saya tidak akan menyentuh sepeser pun untuk kepentingan pribadi saya. Saya punya uang dari hasil tulisan saya sendiri, dan itu sudah cukup."
Maria ternganga. Baginya, menyumbangkan uang sebanyak itu adalah kegilaan yang tak terbayangkan.
Malam harinya, di apartemen Alif yang kini menjadi tempat koordinasi kami, aku duduk memandangi draf naskahku. Alif sedang sibuk berbicara dengan beberapa penyelidik independen.
"Ada kabar dari penjara, Lisna," ujar Alif sambil meletakkan ponselnya. "Aris mencoba melakukan negosiasi lagi. Dia bilang dia punya 'kartu as' tentang Maria yang tidak ada di dalam rekaman suara yang kamu miliki. Dia ingin menukarnya dengan jaminan bahwa kamu akan mencabut gugatan KDRT-mu."
Aku menghela napas panjang. "Aris masih saja mengemis untuk kebebasannya dengan cara menjual orang lain. Apa kartu as itu, Mas?"
"Dia bilang Maria memiliki hubungan gelap dengan salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan Hartono, dan mereka berdua berencana untuk menguras aset perusahaan sebelum Hartono meninggal. Itulah sebabnya Maria sangat panik saat tahu ada audit hukum dalam wasiat itu."
Aku terdiam. Drama ini ternyata jauh lebih dalam dari sekadar perselingkuhan masa lalu ayahku. Ini adalah tentang pengkhianatan di dalam pengkhianatan.
"Apa yang harus aku lakukan, Mas? Aku tidak ingin terjebak dalam kotornya permainan mereka lebih jauh," tanyaku lelah.
Alif duduk di sampingku, menggenggam tanganku. "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, Lisna. Biarkan mereka saling menghancurkan. Tugasmu sekarang adalah fokus pada yayasanmu dan anak-anakmu. Biarkan hukum yang mengurus para pengemis kekuasaan itu."
Namun, tekanan kembali muncul saat keesokan harinya, segerombolan kerabat jauh dari pihak Aris datang ke Jakarta. Mereka menyerbu rumah Bapak Sugeng di desa dan beberapa bahkan sampai ke kantor Alif. Mereka menuntut "bagian" dari warisan Hartono karena mereka merasa Aris adalah suami sah yang telah menemani Lisna selama masa sulit.
"Kamu kaya sekarang, Lisna! Jangan lupakan keluarga suamimu!" teriak salah satu bibi Aris di sebuah video yang viral di media sosial. "Tanpa Aris, kamu tidak akan punya inspirasi buat naskahmu! Aris itu berkah tersembunyimu!"
Tekanan dari keluarga toksik Aris ini menjadi api baru yang menyala. Mereka tidak peduli dengan kejahatan Aris, yang mereka peduli hanyalah bagaimana cara mendapatkan sepotong kue dari warisan milyaran rupiah yang kuterima.
Aku mematikan layar ponselku. Ini baru separuh jalan. Hartono mungkin sudah tiada, tapi "hantu-hantu" yang diciptakan oleh uang dan keserakahan baru saja mulai berpesta.
"Mas Alif," kataku pelan. "Siapkan dokumen untuk penyerahan seluruh dana perwalian itu ke pihak ketiga yang independen. Aku ingin publik tahu bahwa aku tidak memegang uang itu. Aku ingin menghentikan para pengemis ini sebelum mereka melukai anak-anakku."