Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden kamar Presidential Suite terasa sangat menyakitkan bagi mata Najwa. Ia terbangun dengan rasa berat di sekujur tubuhnya, seolah-olah beban seluruh gedung Kusuma Tower berpindah ke pundaknya. Saat ia menoleh ke samping, sisi ranjang tempat Gus Azam tidur sudah rapi dan dingin. Suaminya itu pasti sudah bangun sejak fajar untuk shalat Subuh di masjid hotel bersama Abi Ahmad.
Najwa bangkit perlahan, melangkah menuju cermin besar di kamar mandi. Ia terkesiap melihat pantulannya sendiri. Matanya bengkak, merah, dan sembab saksi bisu dari isak tangis yang tak kunjung berhenti semalam.
"Bodoh kamu, Naj. Harusnya kamu nggak usah nangis segitu hebatnya," bisiknya pada diri sendiri sambil menyalakan keran air dingin.
Najwa tidak punya waktu banyak. Pagi ini, ada jamuan sarapan bersama keluarga besar di restoran privat lantai bawah sebelum rombongan pesantren kembali ke Jawa Timur. Najwa mengambil tas make-up miliknya. Ia mulai mengaplikasikan concealer berlapis-lapis untuk menutupi kantung matanya yang menghitam. Ia memakai foundation dengan teknik yang sangat teliti agar wajahnya terlihat segar dan bercahaya, seolah-olah ia baru saja melewati malam yang indah.
Najwa tidak memakai jilbab pagi ini, Di depan keluarganya dan keluarga Gus Azam dalam suasana privat, ia memilih untuk tetap menjadi dirinya sendiri seorang wanita karier yang rapi dengan blus satin berwarna emerald dan rambut cokelatnya yang ia ikat low ponytail yang elegan. Ia ingin menunjukkan bahwa meski ia menghormati aturan syar'i saat acara publik kemarin, ia tetap Najwa Kusuma yang mandiri.
Pintu kamar terbuka Gus Azam masuk dengan langkah tenang. Ia sudah mengenakan koko bersih dan sarung yang rapi. Saat mata mereka bertemu di cermin, Gus Azam sempat terpaku sesaat melihat Najwa yang sedang memulas gincu merah. Namun, seperti biasa, tidak ada satu kata pun yang keluar. Tidak ada pertanyaan "Kenapa matamu sembab?" atau sekadar "Sudah siap?".
"Gus, aku sudah siap, mari kita turun," ujar Najwa dengan suara yang ia buat semantap mungkin, meski hatinya bergetar.
Gus Azam hanya mengangguk, lalu berjalan mendahului menuju pintu. Najwa menarik napas panjang, memasang senyum terbaiknya senyum sandiwara yang biasa ia gunakan saat menghadapi klien paling menyebalkan sekalipun.
Restoran privat itu sudah dipenuhi oleh aroma kopi robusta dan roti panggang. Papa Hendra, Mama Ratna, Abi Ahmad, dan Umi Fatimah sudah duduk melingkar di meja bundar yang besar. Suasana tampak sangat hangat.
"Ah, ini dia pengantin baru kita!" seru Papa Hendra dengan tawa lebarnya yang khas. "Mari, duduk di sini, Naj, Gus Azam."
Najwa memeperlihatkan senyumnya dan duduk di samping Gus Azam. Ia bisa merasakan tatapan menyelidik dari Mama Ratna dan Umi Fatimah. Mata seorang ibu tidak pernah bisa benar-benar dibohongi oleh make-up setebal apa pun.
"Najwa, Sayang... kamu pucat sekali? Apa tidurnya kurang nyenyak?" tanya Mama Ratna lembut sambil mengelus tangan Najwa.
Najwa tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat natural. "Ah, Mama... Najwa cuma agak capek saja karena acara kemarin sangat luar biasa megah. Terlalu banyak tamu yang harus disapa, jadi tenaganya agak terkuras."
"Benar, Jeng Ratna," timpal Umi Fatimah sambil tersenyum penuh arti ke arah Gus Azam. "Masa-masa awal pernikahan memang penuh dengan penyesuaian. Azam, kamu harus jaga istrimu baik-baik ya. Jangan sampai Najwa kelelahan."
Gus Azam hanya mengangguk pelan, menyuap potongan buahnya dengan tenang. Ia tidak membela, tidak juga membenarkan. Kebisuannya di meja makan itu seolah dianggap sebagai "sifat pendiam seorang Gus" oleh orang tua mereka, padahal bagi Najwa, itu adalah belati yang terus menusuk.
"Oh iya, Abi, Pak Hendra," Najwa membuka suara, mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih aman bagi harga dirinya. "Ada hal penting yang ingin Najwa sampaikan sebelum rombongan kembali ke pesantren."
Semua orang meletakkan sendok dan garpunya, menatap Najwa dengan serius.
"Mengenai karir Najwa di Kusuma Tower. Najwa sudah memikirkan ini matang-matang. Najwa memutuskan untuk tetap aktif bekerja sebagai Kepala Tim Desain. Ada proyek besar di Surabaya dan Jakarta yang tidak bisa Najwa tinggalkan begitu saja. Jadi, untuk sementara Najwa akan tetap tinggal di Jakarta dan bolak-balik ke pesantren setiap akhir pekan."
Suasana meja makan mendadak hening. Papa Hendra tampak sedikit kaget, sementara Abi Ahmad menatap Gus Azam, seolah menunggu reaksi putranya. Namun, Gus Azam tetap diam. Ia bahkan tidak berhenti mengunyah, seolah keputusan istrinya yang sangat krusial itu bukan urusannya.
"Najwa... apa tidak sebaiknya kamu bicarakan dulu dengan suamimu?" Mama Ratna berbisik cemas. "Tugas istri itu kan mendampingi suami di tempatnya bertugas."
Najwa melirik Gus Azam yang masih membisu di sampingnya. "Gus Azam sudah tahu, Ma. Beliau tidak keberatan untuk hal ini iya kan, Gus?"
Najwa menatap tajam ke arah Gus Azam, menantangnya untuk bicara. Gus Azam akhirnya meletakkan garpunya, ia hanya menatap Abi Ahmad dan memberikan anggukan kecil yang sangat samar.
"Azam memang pria yang demokratis, Pak Hendra," Abi Ahmad mencoba menengahi dengan bijak. "Azam tahu Najwa punya bakat luar biasa yang diberikan Allah. Kami tidak ingin mematikan potensi itu. Selama Najwa bisa menjaga kehormatannya sebagai istri, kami serahkan urusan rumah tangga pada mereka berdua."
Najwa merasa sedikit menang, namun kemenangan itu terasa hambar. Ia mengambil keputusan besar itu secara sepihak justru karena ia ingin membalas kebisuan Gus Azam. Ia ingin menunjukkan bahwa hidupnya tidak akan berhenti hanya karena pria ini mendiamkannya.
"Terima kasih atas pengertiannya, Abi, Umi," ujar Najwa mantap. "Najwa janji tidak akan menelantarkan kewajiban Najwa. Tapi profesionalitas di kantor Papa juga adalah amanah bagi Najwa."
"Papa bangga padamu, Naj. Kamu memang selalu tahu apa yang kamu mau," Papa Hendra menepuk bahu putrinya.
Sepanjang sarapan, Najwa terus bercerita tentang proyek-proyek kantornya. Ia bicara tentang desain terbaru, tentang pertemuan dengan investor, dan tentang ambisinya. Ia bicara sangat banyak, seolah-olah ingin menutupi kesunyian yang berasal dari pria di sampingnya. Setiap kali orang tuanya bertanya pada Gus Azam, Najwa dengan sigap menjawab atau memberikan penjelasan tambahan, seolah-olah ia adalah juru bicara suaminya.
“Gus Azam memang lebih suka mendengar, Pa,” atau “Beliau setuju dengan pendapatku tadi di kamar,” adalah kalimat-kalimat sandiwara yang terus ia lontarkan untuk menjaga marwah suaminya agar tidak terlihat seperti pria yang kasar atau tidak peduli.
Padahal di bawah meja, tangan Najwa meremas serbet kuat-kuat. Ia merasa sangat lelah. Ia merasa seperti sedang melakukan pertunjukan monolog di depan penonton yang paling dingin.
"Baiklah, kalau begitu," Umi Fatimah berdiri saat waktu sarapan berakhir. "Kami harus segera ke bandara. Azam, kamu akan tinggal di Jakarta dulu selama dua hari untuk menemani Najwa, kan?"
Gus Azam berdiri, mengangguk singkat pada Uminya.
"Najwa, jaga dirimu ya, Nak. Sampai bertemu di pesantren minggu depan," Umi memeluk Najwa erat. "Sabar ya, Sayang... Allah bersama orang-orang yang sabar," bisik Umi di telinga Najwa, seolah beliau tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik make-up tebal itu.
Najwa hanya bisa mengangguk pelan, air matanya hampir saja tumpah lagi. Setelah rombongan pesantren dan orang tuanya pergi, Najwa dan Gus Azam kembali ke lobi hotel yang mulai ramai.
Najwa berdiri menghadap Gus Azam. "Gus... aku akan langsung ke kantor Kusuma Tower sekarang. Ada rapat jam sepuluh. Gus mau ikut ke kantor atau mau di hotel saja?"
Gus Azam menatapnya datar. Ia hanya menunjuk ke arah lift, memberikan isyarat bahwa ia akan kembali ke kamar.
Najwa tersenyum getir. "Baiklah. Aku pergi dulu. Assalamualaikum."
Najwa berbalik dan melangkah dengan sepatu hak tingginya yang berbunyi tegas di lantai marmer. Ia tidak menoleh lagi. Ia berjalan menuju mobil SUV-nya yang sudah menunggu di lobi. Begitu masuk ke dalam mobil dan pintu tertutup rapat, Najwa menyandarkan kepalanya ke setir. Isakannya pecah seketika.
Sandiwara pagi ini benar-benar menguras jiwanya. Ia telah memenangkan ijin untuk tetap bekerja, ia telah menjaga marwah suaminya di depan keluarga, tapi ia kehilangan dirinya sendiri dalam proses itu.
"Aku masih bekerja di kantormu, Pa... karena hanya di sana aku merasa punya suara," bisiknya lirih di tengah isak tangisnya.
Mobil itu melaju meninggalkan hotel, membawa seorang wanita karier yang hebat ke puncak kesuksesannya, sekaligus membawa seorang istri yang paling kesepian di dunia menuju gedung Kusuma Tower yang dingin.