Aroma Melati dan Perjamuan Mati

Penulis djoedo
31 January 2026

Aroma itu datang lebih dulu sebelum sosoknya, bau melati yang terlalu matang, hampir membusuk, bercampur dengan sengak kemenyan yang menyesakkan paru-paru. Udara di hutan jati itu mendadak terasa berat dan lembap, seolah oksigen telah disedot habis dan digantikan oleh uap air yang lengket.

"Sudah kubilang, Ndhuk," suara serak Nenek Sumirah merayap dari balik batang-batang pohon, pelan namun menggema di telinga. "Tamu adalah raja. Tidak sopan pergi sebelum perjamuan dimulai."

Senter di tangan Andi berkedip lemah. Baterainya sekarat. Dalam nyala yang meredup itu, sorot cahaya jatuh pada satu titik di antara dua pohon jati raksasa.

Di sana, wanita tua itu berdiri.

Nenek Sumirah tidak tampak menakutkan, setidaknya jika dilihat sekilas. Ia mengenakan kebaya beludru hitam model kutu baru yang licin, jarik batik cokelat tua, dan selendang merah di bahu. Wajahnya dihiasi senyum ramah, jenis senyum yang biasa dipamerkan tetangga saat basa-basi di pagi hari.

Namun, ada yang salah. Di tengah hutan yang becek dan penuh lumpur "Tanah Panas", ujung kain jariknya bersih tanpa noda. Tidak ada percik tanah. Tidak ada lecet. Seolah ia tidak memijak bumi, melainkan melayang satu milimeter di atasnya.

"Jangan mendekat!" bentak Andi. Suaranya pecah. Ia mengacungkan parang berkaratnya. Tangan pemuda itu gemetar hebat, membuat bayangan parang di tanah bergoyang seperti jarum jam yang rusak.

Maya mundur, punggungnya menabrak kulit pohon jati yang basah dan berlendir. Napasnya tertahan di tenggorokan. Bau anyir darah dari bibirnya yang sobek kini bercampur dengan aroma busuk melati itu, menciptakan mual yang menusuk ulu hati.

"Simpan mainanmu itu, Le," kekeh Nenek Sumirah. Suaranya kering, persis gesekan daun jati mati yang terinjak. Ia melangkah maju. Suara tongkat kayunya menghantam tanah basah dengan irama yang ganjil. Tok... jeda panjang... Tok...

"Kubilang mundur!" Andi nekat maju selangkah, pasang badan di depan Maya.

Nenek Sumirah berhenti. Senyumnya melebar, menampilkan deretan gigi yang hitam legam akibat sepah sirih. Matanya yang keruh menatap Andi, bukan dengan amarah, melainkan dengan rasa geli orang dewasa yang melihat bocah ingusan mengamuk.

"Parang karatan begitu tidak akan mempan untuk mereka," ujar Sumirah santai. Dagunya menunjuk ke kegelapan di belakang punggung Andi dan Maya.

Maya menoleh cepat. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

Makhluk-makhluk itu, sinden dengan leher patah membentuk sudut sembilan puluh derajat, wanita penampi beras, dan bayangan tanpa kepala, kini berdiri mematung di batas cahaya senter.

Mereka tidak menyerang. Namun, tubuh mereka bergetar halus, gerakan glitch yang tidak wajar. Lengan si sinden menekuk ke arah yang mustahil bagi anatomi manusia, tersentak-sentak pelan seperti boneka yang benangnya kusut. Sinden itu memiringkan kepalanya yang terbalik, menatap Maya dengan rongga mata gelap, lalu perlahan mundur dengan gerakan patah-patah, melebur kembali ke dalam batang pohon.

"Di Tanah Panas ini, kalau tidak ada yang ngemong, kalian cuma jadi camilan," lanjut Sumirah. Nadanya datar, namun efeknya membuat bulu kuduk Maya meremang. "Ayo. Makanan sudah dingin. Pamali menolak rezeki."

"Kami mau pulang," cicit Maya. Suaranya tenggelam oleh desau angin yang tiba-tiba menderu di tajuk pohon.

"Pulang?" Sumirah tertawa kecil. "Lha ini kan rumahmu, Ndhuk. Omahmu dhewe."

Wanita tua itu berbalik, memunggungi mereka. Ia berjalan pelan menuju lumbung padi yang samar-samar terlihat, yakin sepenuhnya bahwa Maya dan Andi tidak punya pilihan lain.

Dan memang, opsi mereka sudah habis. Jalan aspal telah lenyap dimakan hutan. Satu-satunya "jalan keluar" hanyalah punggung bungkuk wanita tua itu.

"May..." Andi menoleh, wajahnya pucat pasi di bawah sinar senter yang kian kuning meredup. "Kita nggak bisa lari ke sana lagi."

Maya mengangguk kaku. Kakinya terasa berat, seolah tanah liat di bawahnya berubah menjadi tangan-tangan kecil yang menahan langkah. "Kita ikut dia. Tetap di belakangku, Ndi. Jangan lepas pegangan."

Mereka menyeret kaki keluar dari naungan pohon jati, mengekor Nenek Sumirah menuju desa.


Begitu kaki Maya menyentuh jalan tanah desa, atmosfer berubah drastis. Hiruk-pikuk hutan, jeritan samar dan tawa cekikikan - lenyap seketika, digantikan oleh kesunyian mencekam yang menekan gendang telinga.

Desa Kalimati seolah berhenti di masa lalu, terperangkap dalam kapsul waktu yang membusuk.

Tidak ada tiang listrik. Tidak ada pendar cahaya biru dari layar televisi atau ponsel. Tidak ada suara mesin kendaraan. Bahkan angin pun segan bertiup di antara rumah-rumah joglo tua yang berjajar rapat. Satu-satunya penerangan berasal dari sentir - lampu minyak kecil - yang tergantung di setiap beranda, memancarkan cahaya oranye temaram yang nyaris mati.

Saat mereka melintasi deretan rumah itu, Maya merasakan ribuan mata mengawasi.

Di balik jendela-jendela kayu yang terbuka setengah, bayangan penduduk desa berdiri tegak. Mereka tidak melakukan aktivitas selayaknya manusia hidup. Tidak mengobrol, tidak merokok, tidak duduk santai. Mereka hanya berdiri kaku di dalam kegelapan rumah masing-masing, menatap keluar.

Mata mereka memantulkan cahaya senter Andi sesaat - kilatan putih hampa - sebelum kembali gelap.

Maya melihat seorang ibu menggendong bayi di teras rumah. Bayi itu tidak menangis, diam total dengan mata melotot. Sang ibu menatap Maya, kepalanya berputar pelan mengikuti langkah mereka. Gerakannya patah-patah, lambat, dan mekanis, seolah engsel lehernya kurang minyak.

"Kenapa mereka diam saja?" bisik Maya. Cengkeramannya di lengan Andi mengerat hingga terasa sakit.

"Jangan dilihat," desis Andi. "Jangan balas tatapan mereka."

Bau melati busuk itu makin menyengat saat mereka tiba di pekarangan rumah besar milik Maya. Pintu gapura terbuka lebar. Di pendopo yang luas, lampu-lampu minyak telah dinyalakan, menciptakan bayangan tiang penyangga yang memanjang di lantai seperti jeruji penjara.

Nenek Sumirah sudah menunggu di tangga pendopo.

"Cuci kaki dulu," perintahnya sambil menunjuk gentong tanah liat besar di samping tangga. Air di dalamnya hitam pekat, memantulkan bulan yang tertutup awan. Beberapa kelopak bunga kantil mengapung layu di permukaannya.

Maya ragu. Air itu berbau anyir, seperti air bekas cucian daging mentah.

"Syarat masuk rumah, Ndhuk. Biar yang 'nempel' di hutan tadi tidak ikut masuk," desak Sumirah. Matanya menyipit tajam, tak menerima penolakan.

Dengan tangan gemetar, Maya menciduk air itu menggunakan gayung batok kelapa. Dinginnya menusuk tulang, bukan kesegaran air pegunungan, tapi dingin yang mematikan saraf. Saat air itu membasuh kulit, ia merasakan sensasi lengket, seolah ada lapisan minyak yang tertinggal di betisnya.

Mereka naik ke pendopo. Lantai kayu berderit di bawah langkah kaki mereka yang basah. Di tengah ruangan, tikar pandan telah digelar. Di atasnya, tersaji tampah berisi aneka makanan. Nasi tumpeng kecil, ayam ingkung utuh yang pucat, jajan pasar, dan segelas besar cairan kental berwarna merah tua.

"Duduk," titah Sumirah. Ia sendiri bersimpuh dengan luwes, seolah sendi-sendi tuanya tidak bermasalah sama sekali.

Andi dan Maya duduk berseberangan dengan wanita tua itu. Jarak mereka hanya terpisah oleh tampah makanan yang aromanya mengacaukan indra, campuran sedap bumbu kuning dan bau samar bangkai tikus.

"Ibumu..." Sumirah memulai, tangannya sibuk meracik sirih. "Ratna itu anak yang keras kepala. Sudah kubilang, lari sejauh apa pun, darah itu ingat jalan pulang."

Maya memberanikan diri menatap wajah keriput itu. "Ibu saya meninggal karena sakit, Mbah. Bukan karena kutukan atau klenik yang Mbah percaya."

Sumirah tertawa lagi. Kali ini tawanya basah, diiringi suara batuk kecil. Ia meludah ke dalam tempolong kuningan di sampingnya. Cairan merah pekat menghantam dinding logam itu dengan bunyi ting yang nyaring.

"Sakit?" Sumirah menyeringai, menampakkan giginya yang merah seperti baru saja mengunyah daging mentah. "Apa dokter di kota bisa menjelaskan kenapa rambut ibumu rontok satu persatu setiap malam Jumat Kliwon? Atau kenapa dia muntah rambut sebelum napasnya putus?"

Darah Maya berdesir hebat. Bagaimana wanita tua di desa terpencil ini tahu detail kematian ibunya di Jakarta? Soal muntahan rambut itu bahkan tak pernah ia ceritakan pada siapapun.

"Siapa Mbah sebenarnya?" tanya Maya, nadanya menajam.

Nenek Sumirah tidak menjawab. Ia justru menyodorkan piring berisi ayam ingkung ke arah Maya. Ayam itu utuh, lengkap dengan kepala dan ceker yang menekuk aneh. Kulitnya pucat, dingin, dan berlendir.

"Makan," perintah Sumirah lembut, tapi nadanya memuat ancaman absolut. "Kalian butuh tenaga. Besok malam adalah malam puncak. Weton ibumu. Kita harus siap-siap."

"Siap-siap untuk apa?" sambar Andi curiga.

Tiba-tiba, dari arah ruang dalam rumah, ruang utama yang gelap gulita di belakang punggung Sumirah, terdengar suara itu.

Sret... Sret...

Suara seretan berat. Kain tebal yang bergesekan dengan lantai kayu kasar. Kali ini lebih dekat. Lebih jelas. Disertai suara napas berat yang berair, grok... grok..., seperti penderita asma yang paru-parunya penuh cairan.

Maya membeku. Matanya terpaku pada pintu kayu ukir di belakang Sumirah yang sedikit terbuka. Kegelapan di celah pintu itu tampak bergerak, lebih pekat dari malam.

"Untuk menyambut pemilik rumah yang sebenarnya," bisik Nenek Sumirah. Dalam remang cahaya lampu minyak, pupil matanya membesar, hitam sepenuhnya, menelan seluruh bagian putih matanya.

"Habiskan makanannya. Jangan sampai ada sisa. Kalau tidak..." Sumirah melirik ke arah pintu gelap di belakangnya, "...nanti dia yang akan menghabiskan kalian."