"Sudah kubilang," suara Sumirah berubah berat, bergetar ganda seolah ada dua entitas yang bicara bersamaan. "Tamu yang tidak sopan... akan jadi santapan."
Bau anyir menyeruak. Bukan hanya bau darah, tapi aroma manis yang membusuk-campuran melati yang terlalu matang dan formalin yang menyengat hidung. Udara di dalam gudang pengap itu seketika terasa padat, menekan dada hingga napas Maya menjadi dangkal.
Cahaya senter di tangan Andi gemetar liar, menyapu ruangan sempit itu sebelum jatuh pada sosok Nenek Sumirah yang mematung di ambang pintu. Bayangannya di lantai kayu tidak menyerupai wanita tua bungkuk, melainkan sesuatu yang tinggi besar dengan tanduk mencuat dari kepala.
"Mbah... apa yang Mbah lakukan?" Andi mundur selangkah, tumitnya menabrak tumpukan kardus berdebu.
Sumirah tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan nampan kayu di tangannya. Dua gelas cairan merah kental bergoyang pelan mengikuti ritme napasnya yang menderu. Cairan itu bukan sirup. Kekentalannya mengingatkan Maya pada darah yang mulai membeku.
"Minum, Le, Ndhuk," bujuknya. Nada bicaranya halus, kontras dengan bayangan mengerikan di belakang punggungnya. "Biar tenang. Biar 'mereka' tidak mencium bau ketakutan kalian."
Grok... grok...
Suara itu terdengar lagi. Berasal dari sudut gelap di belakang rak-rak besi berkarat. Suara basah, seperti lendir yang ditarik paksa melewati tenggorokan yang rusak.
Maya mengarahkan layar ponselnya ke sudut itu. Cahaya putih kebiruan membelah kegelapan, dan seketika itu juga, jeritan tertahan di tenggorokannya.
Pak Anton.
Pria itu-atau apa yang tersisa darinya-terkulai di atas tumpukan jerami apek. Tubuhnya terpelintir dalam posisi yang mustahil dilakukan manusia hidup. Lengan kirinya menekuk ke belakang punggung hingga tulangnya menonjol merobek kemeja batik mahal yang ia kenakan. Rahangnya menganga lebar, lepas dari engsel, menampilkan rongga mulut gelap yang penuh dengan kelopak bunga melati.
Tidak ada bola mata di wajahnya. Hanya dua lubang hitam yang menatap kosong ke arah langit-langit gudang.
"Pak Anton..." desis Maya. Kakinya lemas. Insting logisnya runtuh seketika di hadapan bukti fisik yang begitu brutal. Ini bukan sekadar pembunuhan. Ini persembahan.
Di dinding tepat di atas mayat Pak Anton, ratusan foto hitam putih tertempel berantakan. Wajah-wajah penduduk desa. Tua, muda, anak-anak. Sebagian besar dari mereka memiliki tanda silang merah tebal di dahi, digambar dengan kasar menggunakan sesuatu yang tampak seperti kapur darah.
Mata Maya menelusuri galeri horor itu dan berhenti pada satu foto di tengah. Foto seorang wanita muda dengan sanggul sederhana dan senyum tipis.
Ibunya. Ratna.
Tanda silang merah juga tergores di dahi ibunya. Namun, di bawah foto itu, ada tulisan tangan kecil berbunyi: Lunas.
"Dia cantik, kan?" Suara Sumirah menyentak kesadaran Maya. Wanita tua itu kini sudah melangkah masuk, mempersempit jarak. Pintu gudang di belakangnya tertutup sendiri dengan debaman keras, mengunci mereka di dalam ruang jagal ini.
"Mbah apakan Pak Anton?!" bentak Andi. Rasa takutnya berubah menjadi amarah putus asa. Ia mencengkeram kerah kemejanya sendiri, berusaha menghalau hawa dingin yang tiba-tiba menusuk tulang.
Sumirah terkekeh. Suaranya kering seperti gesekan daun jati mati. "Anton itu serakah. Mau beli tanah ini tanpa permisi sama yang mbaurekso. Tanah ini tidak dijual, Le. Tanah ini butuh makan."
Ia meletakkan nampan di atas meja kerja tua yang penuh debu. Gelas berisi cairan merah itu bergetar pelan.
"Tanah Panas ini lapar," lanjut Sumirah, matanya yang hitam total tanpa putih kini membelalak, menatap Maya lekat-lekat. "Dan ibumu... Ratna yang cerdas itu... dia pikir dia bisa lari. Dia pikir dengan menukar nyawanya sendiri di Jakarta, utangnya lunas."
Nenek itu meludah ke lantai. Ludahnya berwarna merah pekat.
"Utang darah tidak bisa lunas cuma dengan satu nyawa, Ndhuk. Bunganya berbunga."
Maya mundur hingga punggungnya menabrak dinding dingin yang dipenuhi foto. Pikirannya berpacu mencari jalan keluar. Kunci mobil. Ia butuh kunci mobil Pak Anton. Jika kontraktor itu ada di sini, kuncinya pasti tidak jauh.
Matanya menyapu lantai di sekitar mayat Pak Anton. Di sana, di dekat tangan kanannya yang kaku mencengkeram tanah, tergeletak benda berkilap. Kunci mobil Toyota dengan gantungan kulit.
"Andi," bisik Maya, matanya memberi kode ke arah mayat.
Andi mengerti. Namun, makhluk di sudut ruangan-sumber suara grok-grok itu-mulai bergerak. Dari balik bayang-bayang tumpukan kursi rusak, sebuah tangan panjang, kurus, dan pucat terulur. Kulitnya basah berlendir, kuku-kukunya hitam panjang.
Itu bukan Pak Anton. Itu sesuatu yang memakan Pak Anton.
"Jangan bergerak," peringat Sumirah, nadanya berubah tajam. "Si 'Penjaga' tidak suka kalau makanannya banyak tingkah."
"Kami bukan makanan!" Andi nekat. Ia menyambar sebuah balok kayu bekas kaki meja yang tergeletak di dekatnya. "May, ambil kuncinya!"
Andi menerjang maju, bukan ke arah Sumirah, tapi mengayunkan balok itu ke arah bayangan berlendir yang mencoba meraih kaki Maya.
Brak!
Pukulan itu mengenai sasaran. Terdengar suara memekik, melengking tinggi seperti anjing terjepit, namun lebih parau. Makhluk itu menarik tangannya kembali ke kegelapan.
"Sekarang, May!" teriak Andi.
Maya tidak membuang waktu. Ia menjatuhkan diri, merangkak cepat melewati genangan darah yang mulai mengering di sekitar Pak Anton, dan menyambar kunci mobil itu. Dingin logam kunci terasa menusuk telapak tangannya.
"Anak nakal!" Sumirah mendesis. Wajah ramahnya lenyap total. Kulit wajahnya seolah meleleh, tertarik ke bawah, menampilkan struktur tengkorak yang lebih lonjong dari manusia biasa.
Wanita tua itu mengangkat tangannya. Angin kencang berputar di dalam ruangan tertutup itu, menerbangkan foto-foto di dinding. Kertas-kertas foto bergambar wajah penduduk desa itu berhamburan seperti daun kering, menciptakan badai kecil yang membingungkan pandangan.
Satu foto melayang tepat ke wajah Maya sebelum jatuh ke pangkuannya. Foto dirinya sendiri. Masih bayi.
Tidak ada tanda silang merah di dahinya.
Yang ada hanyalah lingkaran hitam.
"Lari, Ndi!" Maya bangkit, menarik lengan Andi.
Mereka menabrak Nenek Sumirah-atau lebih tepatnya, menembus asap hitam yang tiba-tiba membumbung dari tubuh wanita tua itu. Bau kemenyan bakar menyengat hidung hingga Maya terbatuk.
Pintu gudang yang terkunci itu didobrak Andi dengan bahunya. Kayu lapuk itu menyerah dengan suara krak yang nyaring.
Mereka terhuyung keluar, kembali ke pendopo rumah yang luas dan gelap. Namun, suasana di luar sana sudah berubah total. Tidak ada lagi kesunyian malam yang wajar.
Suara gamelan sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Iramanya lambat, mendayu-dayu, namun nadanya sumbang dan menyayat hati.
Di halaman pendopo, di bawah sinar bulan yang temaram, puluhan penduduk desa berdiri diam mematung. Wajah mereka pucat, mata mereka hitam legam seperti mata Sumirah. Mereka semua menatap ke arah pintu gudang. Menatap Maya.
Dan di tangan mereka masing-masing, tergenggam sebuah piring tanah liat berisi bunga kantil dan irisan jeruk purut.
"Mereka..." suara Andi tercekat. "Mereka menunggu giliran?"
Maya menggeleng, mengeratkan cengkeramannya pada kunci mobil. "Bukan. Mereka menunggu kita."