Bayangan di Kebaya Hitam

Penulis djoedo
31 January 2026

Udara di pendopo itu tidak hanya dingin; ia menggigit, lembap, dan berbau anyir.

Bukan hanya bau kemenyan bakar yang kini menyesakkan dada Maya, melainkan aroma tembaga yang pekat-darah. Ingatannya masih terpaku pada pemandangan di dalam gudang tua beberapa meter di belakang mereka. Tubuh Pak Anton yang terlipat tidak wajar, rahang yang lepas, dan kelopak mata yang dijahit dengan benang serat nanas.

Namun, yang membuat perut Maya mual bukan hanya kondisi mayat itu, melainkan dinding gudang tersebut.

Deretan foto hitam putih. Wajah-wajah penduduk desa yang tersenyum kaku. Ratusan foto. Dan setiap wajah itu-kecuali wajah masa bayi Maya yang kini ia remas dalam genggaman-dicoret dengan tinta merah tebal membentuk tanda silang.

Silang merah untuk mereka. Lingkaran hitam untukku.

"Sudah kubilang, Ndhuk," suara serak Nenek Sumirah memecah lamunan horor itu. Suaranya tidak berasal dari satu arah, melainkan merayap dari sela-sela tiang kayu jati pendopo, seolah kayu tua itu sendiri yang berbicara. "Tamu adalah raja. Tidak sopan pergi sebelum perjamuan dimulai."

Cahaya senter di tangan Andi menyapu liar, membelah kabut tebal yang turun mendadak menyelimuti pekarangan. Sinar putih itu jatuh pada satu titik di antara dua pohon kamboja tua.

Di sana, berdiri sosok itu.

Nenek Sumirah mengenakan kebaya beludru hitam yang rapi, jarik batik motif parang rusak, dan selendang merah darah tersampir di bahu. Wajahnya yang penuh kerutan tersenyum ramah, tipe senyum yang biasa menyambut cucu saat lebaran.

Namun, ada yang salah. Di tengah tanah pekarangan yang becek dan penuh lumpur sisa hujan, ujung kain jariknya bersih tanpa noda. Kering. Seolah ia tidak memijak bumi, melainkan melayang satu milimeter di atasnya.

"Jangan mendekat!" bentak Andi. Suaranya pecah, separuh mengancam, separuh putus asa. Ia tidak lagi memegang balok kayu-senjata itu tertinggal saat mereka lari dari makhluk penjaga gudang tadi. Kini ia hanya mengepal tangan kosong yang gemetar.

Maya mundur selangkah, punggungnya menabrak tiang pendopo yang berlendir. Napasnya tercekat. Bau melati yang membusuk-aroma khas bunga yang ditaruh di atas makam selama tiga hari-menguar tajam dari arah Sumirah, mengalahkan bau tanah basah.

"Simpan amarahmu, Le," kekeh Nenek Sumirah. Suaranya kering, seperti gesekan daun jati mati di atas aspal. Ia melangkah maju pelan. Suara tongkat kayunya menghantam ubin pendopo dengan irama ganjil. Tok... jeda panjang... Tok...

"Pak Anton..." Maya memberanikan diri bersuara, meski tenggorokannya terasa tercekik kawat berduri. "Apa yang kalian lakukan padanya?"

Sumirah berhenti. Senyumnya melebar, menampilkan deretan gigi yang hitam karena sepah sirih. Matanya, yang di bawah sorot senter terlihat keruh tanpa putih mata, menatap lurus ke arah Maya.

"Dia serakah. Tanah ini tidak dijual, tapi dia memaksa mengukur," jawab Sumirah santai, seolah membicarakan hama tikus di sawah. "Di Tanah Panas, keserakahan dibayar dengan daging. Itu hukum alam, Ndhuk."

Dagunya menunjuk ke kegelapan di luar pendopo. "Dan kalian... kalian belum lunas."

Maya menoleh cepat ke arah halaman. Jantungnya serasa ditarik paksa ke bawah lambung.

Di batas cahaya senter yang meredup, puluhan sosok berdiri diam. Penduduk Desa Kalimati.

Mereka tidak terlihat seperti manusia normal. Di bawah temaram sinar bulan yang tertutup awan, proporsi tubuh mereka tampak distorsi. Ada leher yang sedikit terlalu panjang, lengan yang menjuntai melebihi lutut, dan postur membungkuk yang kaku.

Mereka tidak bergerak. Tidak bernapas. Mata mereka hitam total, memantulkan cahaya senter Andi seperti mata kucing di jalan raya-kosong, namun lapar. Seorang wanita di barisan depan memegang piring tanah liat berisi irisan jeruk purut, kepalanya miring ke kiri dengan sudut sembilan puluh derajat yang mustahil dilakukan manusia hidup.

"Mereka... mereka kenapa?" bisik Andi, kakinya mundur perlahan.

"Mereka menunggu," ujar Sumirah. Nadanya datar, namun membuat bulu kuduk Maya berdiri tegak. "Menunggu Weton-mu, Maya. Menunggu janji yang ditunda ibumu dua puluh lima tahun lalu."

Suara gesekan kain terdengar. Srek... Srek...

Para penduduk desa itu mulai melangkah maju serentak. Gerakan mereka patah-patah, seperti boneka kayu yang engselnya berkarat. Suara langkah kaki mereka tidak terdengar, hanya suara gesekan kain jarik yang menyeret tanah.

"Lari ke mana lagi, Ndhuk?" Sumirah merentangkan tangannya, memblokir jalan menuju hutan. "Jalan keluar sudah tertutup. Hutan ini hidup. Asap kemenyan sudah menjadi pagar."

Wanita tua itu berbalik, memunggungi mereka dan berjalan menuju rumah utama-rumah warisan Maya yang berdiri megah namun suram di belakang pendopo. Pintu utamanya terbuka lebar, menampakkan kegelapan yang pekat, seolah rumah itu adalah mulut raksasa yang siap menelan.

"Masuk. Atau kalian mau bergabung dengan Pak Anton di gudang?" ancam Sumirah tanpa menoleh.

Andi mencengkeram lengan Maya. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. "May, kita nggak punya pilihan."

Maya mengangguk kaku. Kakinya terasa berat, seolah lantai ubin di bawahnya berubah menjadi lumpur hisap. Foto masa bayinya masih ia remas, ujungnya menusuk telapak tangan, memberikan rasa sakit yang menjaga kesadarannya tetap terjaga.

Mereka melangkah mengikuti Nenek Sumirah.

Begitu kaki Maya melewati ambang pintu rumah utama, suara dunia luar lenyap seketika. Suara jangkrik, desau angin, bahkan suara napas penduduk desa di luar sana-semua mati.

Hanya ada keheningan yang menekan gendang telinga. Udara di dalam rumah terasa berat dan lembap, seperti udara di dalam gua yang belum pernah dijamah matahari. Cahaya hanya berasal dari beberapa sentir (lampu minyak) yang diletakkan di sudut-sudut ruangan, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding.

Nenek Sumirah duduk bersimpuh di tengah ruang tamu yang luas. Di depannya, sebuah tikar pandan telah digelar. Di atasnya, tersaji tampah berisi nasi tumpeng kecil, ayam ingkung yang pucat pasi, dan segelas besar cairan kental berwarna merah tua.

"Duduk," perintah Sumirah.

Maya dan Andi duduk berseberangan dengan wanita tua itu. Jarak mereka hanya terpisah oleh tampah makanan. Bau ayam ingkung itu aneh-bukan gurih, melainkan apek, bercampur dengan aroma melati busuk yang semakin menyengat.

"Ibumu bodoh," Sumirah memulai, tangannya sibuk melinting rokok klobot. "Dia pikir dengan membawamu ke Jakarta, ikatan darah ini putus? Suket teki dicabut pun akarnya masih tinggal."

"Ibu saya meninggal sakit," bantah Maya, suaranya bergetar menahan marah. "Kanker."

Sumirah tertawa. Suaranya basah, diiringi batuk kecil yang terdengar menyakitkan. Ia meludah ke samping. Cairan merah pekat.

"Sakit?" Sumirah menyeringai, gigi hitamnya tampak mengerikan dalam remang lampu minyak. "Apa dokter di kota bisa menjelaskan kenapa perut ibumu membesar setiap malam Satu Suro? Atau kenapa dia muntah rambut dan paku karatan sebelum napasnya putus?"

Darah Maya berdesir. Fakta itu-tentang muntahan rambut-adalah rahasia yang hanya ia dan dokter forensik yang tahu. Tidak ada yang ia beritahu, bahkan Andi sekalipun.

"Dari mana Mbah tahu?"

"Karena akulah yang mengirimnya," bisik Sumirah. Matanya membelalak, pupilnya membesar hingga nyaris menelan seluruh bagian putih. "Hutang darah tidak bisa lunas dengan uang, Maya. Bunganya berbunga."

Sumirah menyodorkan piring berisi ayam ingkung itu ke arah Maya. Ayam itu utuh, lengkap dengan kepala dan ceker yang menekuk aneh. Kulitnya pucat, dingin, dan berlendir.

"Makan. Kalian butuh tenaga. Besok malam adalah puncaknya."

"Kami tidak lapar," tolak Andi tegas.

Tiba-tiba, dari arah ruang tengah-lorong gelap menuju kamar-kamar belakang-terdengar suara itu.

Sret... Sret...

Suara seretan berat di atas lantai kayu. Kali ini lebih dekat. Lebih jelas. Disertai suara napas berat yang berair, grok... grok..., seperti penderita asma yang paru-parunya dipenuhi cairan.

Maya membeku. Matanya terpaku pada kegelapan lorong.

"Kalian harus makan," Sumirah tersenyum, kali ini senyumnya tidak lagi ramah, melainkan lapar. "Kalau tidak, dia yang di belakang sana yang akan makan."

Suara seretan itu makin mendekat. Dan dari kegelapan, sebuah tangan pucat dengan kuku panjang yang hitam perlahan muncul, mencengkeram kusen pintu.

"Siapa... siapa itu?" Andi mundur, kepalanya menoleh liar mencari senjata.

Sumirah menunjuk dengan dagunya. "Pemilik rumah yang asli. Eyang sudah bangun."