"Pemilik rumah yang asli. Eyang sudah bangun."
Kalimat itu terasa menggantung di udara, berat dan lembap, seolah menekan oksigen keluar dari ruang tengah rumah joglo tersebut. Suara seretan itu-sret... sret...-makin nyaring, mendekat dari balik pintu kayu jati yang menghubungkan ruang tengah dengan senthong (kamar tidur utama) bagian belakang.
Udara di dalam rumah terasa jauh lebih dingin daripada angin malam di luar. Dingin yang tidak wajar, menusuk hingga ke sumsum tulang, membawa serta aroma yang membuat perut Maya bergejolak hebat: campuran bau melati yang sudah membusuk, kemenyan bakar, dan aroma amis logam yang pekat-bau darah segar.
Nenek Sumirah berdiri tegak di tengah ruangan, tepat di depan tikar pandan yang telah digelar. Wajah tuanya diterangi cahaya lampu teplok yang bergoyang pelan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kayu. Senyumnya masih terukir, tenang namun mengerikan.
"Ayo, duduk, Ndhuk, Le," perintah Sumirah. Tangannya yang keriput menunjuk ke arah tikar. "Jangan bikin Eyang menunggu. Beliau tidak suka kalau cucunya kurang ajar."
Andi mencengkeram lengan Maya. Cengkeramannya begitu kuat hingga kuku pemuda itu menancap di kulit, namun Maya tak merasakannya. Seluruh atensi Maya tersedot pada apa yang tersaji di atas tikar itu.
Bukan nasi tumpeng atau jajanan pasar yang lazim. Di atas tampah anyaman bambu, teronggok potongan-potongan daging yang masih merah, dikerubungi lalat hijau yang entah datang dari mana di malam buta begini. Di sampingnya, sebuah ingkung ayam utuh tergeletak dengan posisi kepala yang dipelintir ke belakang, kulitnya pucat pasi dan berlendir.
Namun, bukan itu yang membuat napas Maya tercekat di tenggorokan.
Di ujung tikar, dalam remang-remang sudut ruangan yang tak terjangkau cahaya lampu utama, ada sosok lain yang sudah duduk bersila.
Sosok itu mengenakan kemeja safari warna khaki yang kini kucel dan robek di sana-sini. Tubuhnya miring ke kiri dalam posisi yang tidak alami, seolah tulang punggungnya telah dicabut paksa.
"Pak... Anton?" bisik Maya. Suaranya pecah, hanya berupa desisan ngeri.
Kontraktor yang ngotot ingin mengukur tanahnya itu tidak menjawab. Kepalanya terkulai lemas di dada. Perlahan, seolah digerakkan oleh tali yang tak kasat mata, kepala itu terangkat.
Maya membekap mulutnya sendiri, menahan jeritan yang siap meledak.
Wajah Pak Anton hancur. Rahang bawahnya lepas, menggantung miring hanya ditahan oleh sisa kulit pipi yang robek. Namun yang paling mengerikan adalah matanya. Kelopak mata pria itu tertutup rapat, bukan karena tidur, melainkan karena dijahit kasar menggunakan benang serat nanas yang tebal. Darah kering kerak di sekitar jahitan itu, membentuk pola air mata hitam di pipinya yang membiru.
"Dia tamu pertama," ujar Sumirah santai, seolah sedang membicarakan cuaca. Ia berjalan mendekat, lalu dengan gerakan lembut-terlalu lembut-mengusap rambut Pak Anton yang penuh tanah. "Sayang sekali, dia terlalu serakah. Tanah ini tidak suka diukur-ukur dengan meteran besi. Tanah ini butuh... penghormatan."
Kaki Maya lemas. Lututnya membentur lantai ubin yang dingin. Ingatannya terseret paksa pada kejadian sepuluh menit lalu di gudang belakang-gudang tersembunyi yang pintunya tertutup semak belukar.
Di sana, di bawah sorotan senter Andi yang gemetar, Maya melihat ratusan foto hitam putih tertempel di dinding kayu yang lapuk. Wajah-wajah penduduk desa. Tua, muda, anak-anak. Semuanya dicoret dengan tinta merah tebal membentuk tanda silang di bagian wajah.
Dan di tengah-tengah lautan wajah yang disilang itu, ada satu foto yang berbeda. Foto bayi perempuan yang sedang tertawa. Foto Maya.
Lingkaran hitam melingkari wajah bayi itu. Bukan silang merah. Lingkaran. Target.
"Kau membunuhnya..." Andi maju selangkah, suaranya bergetar antara marah dan takut. "Kau gila, Mbah! Ini pembunuhan!"
"Pembunuhan?" Sumirah tertawa. Suaranya kering, mirip gesekan daun jati mati. Ia meludah ke lantai-cairan merah pekat yang langsung meresap ke celah ubin. "Ini pembayaran, Le. Utang harus dibayar. Janji harus ditepati."
Grok... grok...
Suara napas basah itu terdengar lagi. Lebih dekat. Lebih berat. Berasal dari balik pintu senthong. Pintu itu kini terbuka sedikit, celah gelap menganga yang memuntahkan hawa dingin berbau kapur barus.
"Makanannya dimakan," desak Sumirah, matanya yang keruh kini melotot, pupilnya membesar hingga nyaris menelan seluruh bagian putih. "Atau kalian mau bergabung dengan Bapak ini? Jadi sajen tambahan?"
Sumirah mengambil sepotong daging mentah dari tampah, lalu menyodorkannya ke mulut Pak Anton yang menganga lebar karena rahangnya patah. Dengan bunyi krek yang menyakitkan telinga, ia menjejalkan daging itu masuk.
"Kalian pikir kenapa gudang itu penuh foto?" bisik Sumirah, nadanya berubah mendesis. "Mereka semua adalah tiang penyangga desa ini. Setiap dua puluh lima tahun, fondasi harus diperkuat. Darah diganti darah. Nyawa diganti kemakmuran."
Maya mundur, menyeret kakinya di lantai. Foto masa kecilnya masih tergenggam erat di tangan kanan, kini lecek dan basah oleh keringat dingin.
"Ibuku..." Maya memberanikan diri bersuara, meski tenggorokannya terasa seperti dicekik kawat berduri. "Apa yang Ibu janjikan padamu? Kenapa aku?"
Nenek Sumirah berhenti menyuapi mayat Pak Anton. Ia menoleh pelan, lehernya berputar dengan sudut yang sedikit terlalu jauh untuk manusia normal.
"Ibumu cerdas, Ndhuk. Ratna tahu dia tidak bisa lari selamanya. Dia menukar nyawanya sendiri dua puluh lima tahun lalu supaya kamu bisa hidup sampai hari ini. Tapi kontrak itu ada batasnya." Sumirah menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang hitam legam. "Malam ini Weton-mu. Batas waktunya habis. Eyang Sukma menagih apa yang seharusnya jadi miliknya sejak dulu."
BRAKK!
Pintu senthong terbanting terbuka lebar.
Angin kencang berhembus dari dalam kamar gelap itu, mematikan semua lampu teplok di ruang tengah seketika. Gelap gulita menyergap. Hanya ada sedikit cahaya bulan yang menerobos masuk lewat celah ventilasi di atas pintu utama, jatuh tepat di tengah ruangan.
Dalam kegelapan itu, suara seretan kaki terdengar lagi. Kini disertai bunyi kuku panjang yang menggaruk lantai kayu.
Sret... Kreeek... Sret...
"Andi, senter!" teriak Maya panik.
"Mati! Senternya mati, May!" balas Andi, terdengar bunyi klik-klik sakelar senter yang dipencet frustrasi.
Di tengah kegelapan, Maya bisa melihat siluet Nenek Sumirah berdiri kaku. Namun, ada bayangan lain di belakang wanita tua itu. Bayangan yang jauh lebih besar, lebih tinggi, dan bungkuk. Sepasang tangan pucat dengan kuku-kuku hitam sepanjang jari manusia perlahan muncul dari kegelapan, merambat naik ke bahu Nenek Sumirah.
"Selamat datang kembali, Cucu Eyang..."
Suara itu bukan suara Sumirah. Itu suara yang terdengar seperti gumpalan lumpur yang berbicara-berat, basah, dan bergema dari segala arah.
Bau anyir darah mendadak begitu pekat hingga Maya terbatuk. Ia merasakan sesuatu yang dingin dan licin menyentuh pergelangan kakinya. Sesuatu yang merayap naik dari lantai.
"Lari ke kamar!" teriak Andi, menarik tangan Maya dalam kegelapan buta.
Mereka berdua menghambur ke arah pintu kamar tamu di sisi kanan, satu-satunya ruangan yang pintunya masih terbuka. Di belakang mereka, suara tawa Nenek Sumirah meledak, bersahutan dengan suara tulang-belulang yang bergemeretak patah.
Maya membanting pintu kamar dan Andi segera menggeser lemari kayu jati berat untuk mengganjalnya.
Hening.
Napas mereka berdua memburu, satu-satunya suara di kamar yang sempit dan pengap itu. Maya merosot ke lantai, memeluk lututnya yang gemetar.
"Itu tadi..." Andi menelan ludah, suaranya parau. "Itu bukan manusia, May. Kita terjebak."
Maya membuka kepalan tangannya. Di bawah sorot tipis cahaya bulan dari jendela kamar, ia menatap foto masa kecilnya. Tinta hitam yang melingkari wajahnya seolah menatap balik, mengejek.
Dari balik pintu kamar yang baru saja mereka ganjal, terdengar suara garukan kuku. Pelan. Berirama.
Kreeek... Kreeek...
"Buka pintunya, Ndhuk," suara Nenek Sumirah terdengar dari balik kayu, kini terdengar sangat dekat dengan telinga Maya, seolah wanita tua itu menempelkan bibirnya tepat di celah pintu. "Eyang mau lihat wajahmu. Eyang rindu."
Dan di bawah celah pintu, cairan merah pekat mulai merembes masuk, menggenangi lantai kamar seperti banjir darah yang perlahan naik.