Wasiat Tanah Darah

Penulis djoedo
31 January 2026

Cairan merah pekat itu tidak berhenti di ambang pintu. Ia merayap, hidup, menjulur seperti lidah-lidah kecil yang lapar, mencari celah di antara sela-sela lantai ubin yang dingin. Bau anyir menyeruak, memenuhi paru-paru, mencekik sisa oksigen di kamar tamu yang sempit itu.

"Mundur, May," bisik Andi, suaranya parau. Ia menyeret Maya menjauh dari pintu, tumit sepatu mereka berdecit di lantai tegel. Senter di tangan Andi-yang sebelumnya mati-kini berkedip lemah, memancarkan cahaya kuning redup yang sekarat.

Sreeet...

Suara kuku panjang yang diseret di atas papan kayu terdengar dari balik pintu. Lambat. Sengaja. Disusul suara napas basah yang berat, seolah paru-paru makhluk di luar sana penuh dengan lendir.

"Sudah kubilang, Ndhuk," suara Nenek Sumirah menembus kayu jati tebal itu. Tidak ada nada teriak, hanya gumaman tenang yang justru membuat darah Maya berdesir beku. "Tamu adalah raja. Tidak sopan mengunci diri saat perjamuan dimulai."

Maya membekap mulutnya sendiri. Foto masa kecil yang sedari tadi ia remas kini basah oleh keringat dingin.

"Pergi!" teriak Andi, meski tangannya gemetar saat mengacungkan parang berkarat yang ia temukan di gudang tadi. "Jangan masuk!"

Tawa Nenek Sumirah terdengar lagi, kering seperti gesekan daun jati mati. "Masuk? Lha ini kan rumahmu, Ndhuk. Omahmu dhewe. Kenapa Simbah harus minta izin?"

Hening, senyap...

Lalu, cairan merah di lantai itu berhenti bergerak. Genangan itu perlahan surut, meresap ke dalam celah-celah ubin seolah lantai rumah ini meminumnya kembali. Suara langkah kaki berat terdengar menjauh, diikuti bunyi tongkat kayu yang menghantam lantai. Tok... jeda panjang... Tok...

Mereka tidak berani bergerak selama berjam-jam.


Waktu seolah meleleh di Desa Kalimati. Tidak ada kokok ayam yang menandakan pagi, hanya pergeseran cahaya dari hitam pekat menjadi abu-abu suram yang merembes masuk lewat celah ventilasi.

Andi duduk bersandar di lemari jati, matanya terpejam namun tangannya masih mencengkeram parang. Maya, yang tidak bisa tidur sedetik pun, membiarkan matanya menyapu seisi kamar.

Ini bukan sekadar kamar tamu.

Naluri arsiteknya bekerja. Proporsi ruangan ini berbeda. Ada lemari tanam di dinding sebelah barat yang tertutup cat kusam. Maya bangkit perlahan, kakinya masih lemas sisa teror semalam. Dengan ujung kuku, ia mengelupas cat yang menutupi panel kayu itu. Ada engsel tersembunyi.

"Andi," bisik Maya.

Andi tersentak bangun, parangnya terangkat. "Apa? Mereka masuk?"

"Bukan. Bantu aku."

Dengan sisa tenaga, Andi mencongkel panel kayu itu menggunakan ujung parang. Krak. Kayu lapuk itu menyerah. Debu tebal berhamburan, membawa aroma kertas tua dan kapur barus.

Sebuah rongga kecil tersembunyi di dinding. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku bersampul kulit hitam yang lembap dan sebuah kotak kayu kecil.

Jantung Maya berdegup kencang. Ia mengenali tulisan tangan di sampul buku itu. Tulisan tegak bersambung yang rapi. Tulisan ibunya.

Buku Harian Ratna - 1999

Tangan Maya gemetar saat membuka halaman pertama. Kertasnya menguning dan rapuh.

13 Oktober 1999 Aku tidak punya pilihan. Bapak sudah mengikat janji itu sebelum aku lahir. Mereka menyebutnya "Sekutu Hitam". Bukan sekadar pesugihan, tapi kontrak darah. Eyang Sukma tidak meminta bunga atau kemenyan, dia meminta keturunan.

Maya membalik halaman dengan panik. Napasnya tercekat.

2 November 1999 Sumirah bilang, Maya adalah wadah yang sempurna. Wetonnya cocok. Jumat Kliwon. Tulang wanginya akan membuat "Pohon Inang" tetap subur selama 25 tahun lagi. Aku harus membawanya pergi. Tapi Sumirah bilang, sejauh apa pun aku lari, darah akan ingat jalan pulang.

"Sekutu Hitam," desis Maya. Istilah itu terasa asing namun familiar, seolah pernah dibisikkan dalam mimpi buruknya.

"Apa itu, May?" Andi mendekat, matanya menyipit membaca tulisan itu.

"Ibuku..." Suara Maya pecah. "Ibuku bukan lari karena gila. Dia lari untuk melindungiku. Mereka... mereka mau menumbalkan aku sejak bayi."

Halaman terakhir buku itu hanya berisi satu kalimat yang ditulis dengan tinta merah-atau mungkin darah yang sudah mengering hitam.

Jika Maya kembali sebelum usia 26, kontrak itu batal. Nyawaku tidak akan cukup lagi.

Sebuah kesadaran mengerikan menghantam Maya. Ia baru saja berulang tahun yang ke-26 minggu lalu. Ia pulang terlambat. Atau tepatnya... ia pulang tepat waktu untuk penagihan.

"Kita harus pergi. Sekarang," ujar Andi tegas. Ia tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Wajah pucat Maya sudah cukup menjadi alasan.

Andi menyingkirkan barikade meja rias yang menahan pintu. Pintu terbuka dengan derit panjang yang menyakitkan telinga.

Rumah itu sunyi. Ruang tengah kosong. Sisa-sisa sesajen dan bau kemenyan semalam masih tercium samar, tapi jasad Pak Anton sudah tidak ada. Lantai tempat mayat itu diletakkan kini bersih, hanya menyisakan noda gelap yang samar di kayu.

Mereka berlari keluar menuju halaman.

Namun, begitu kaki Maya menyentuh tanah pekarangan, suasana berubah drastis.

Desa Kalimati seolah berhenti bernapas.

Tidak ada angin yang menggoyangkan daun pohon nangka. Tidak ada suara burung. Langit di atas mereka berwarna abu-abu keruh, seperti tertutup kain kafan raksasa.

Saat mereka berjalan cepat melewati jalan desa menuju tempat mobil diparkir, Maya merasakan ribuan mata mengawasi.

Di balik jendela-jendela kayu rumah warga yang terbuka setengah, bayangan penduduk desa berdiri tegak. Mereka tidak melakukan apa-apa. Tidak mengobrol, tidak merokok, tidak duduk santai. Mereka hanya berdiri di dalam kegelapan rumah masing-masing, menatap keluar.

Mata mereka mengikuti gerakan Maya dan Andi.

Maya melihat seorang ibu yang menggendong bayi di teras rumah. Bayi itu tidak menangis, diam total dengan mata melotot yang terlalu lebar untuk ukuran manusia. Sang ibu menatap Maya, kepalanya berputar pelan mengikuti langkah mereka, gerakannya kaku dan patah-patah seperti boneka kayu yang engselnya berkarat.

"Jangan dilihat," desis Andi, mempercepat langkahnya sambil menarik lengan Maya. "Terus jalan ke mobil."

Mobil SUV Maya terparkir di ujung jalan, di dekat gapura desa. Harapan membuncah di dada Maya. Kunci mobil sudah di tangannya.

Namun, langkah mereka terhenti.

Di tengah jalan, tepat di depan mobil, berdiri puluhan warga desa. Laki-laki, perempuan, tua, muda. Mereka berdiri berjejer, memblokir jalan keluar. Wajah mereka datar. Kulit mereka pucat, seolah darah telah berhenti mengalir di bawah permukaannya.

Di barisan paling depan, Nenek Sumirah berdiri dengan senyum ramah yang tidak mencapai matanya.

"Lho, kok buru-buru, Ndhuk?" sapa Sumirah. Suaranya halus, tapi terdengar menggema aneh di udara yang hampa. "Mau ke mana? Syukuran warisan belum dimulai."

"Minggir!" bentak Andi. "Kami mau lewat!"

"Lewat?" Sumirah terkekeh pelan. Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah ban mobil Maya.

Keempat ban SUV itu sudah lenyap. Velg mobil kini bertumpu di atas tumpukan batu bata merah.

"Di sini tidak ada sinyal, Le. Jalan ke bawah juga sudah longsor semalam," kata Sumirah santai. Ia melangkah maju, diikuti oleh serentak langkah warga desa di belakangnya. Bum. Satu langkah bersamaan yang menggetarkan tanah.

"Ibumu meninggalkan wasiat," lanjut Sumirah, matanya kini menatap tajam ke arah Maya, pupilnya membesar menelan bagian putih matanya. "Dan wasiat itu harus dipenuhi sebelum kamu bisa keluar dari sini."

Maya mundur selangkah. Aroma melati busuk itu kembali menyeruak, kali ini bercampur dengan bau tanah basah yang baru digali.

"Kalian tidak bisa pergi," bisik Sumirah, suaranya kini terdengar tepat di samping telinga Maya meski jarak mereka lima meter. "Sekutu Hitam sudah menunggu mempelainya."