Angin di sekitar berhenti secara tiba-tiba.
Bukan mereda, tapi benar-benar berhenti, seolah dunia sedang menahan napas.
Abu hitam dari sisa-sisa kebakaran lima tahun lalu menggantung di udara, tak jatuh, tak bergerak. Potongan balok hangus dan bata retak berserakan yang dulu membentuk kerangka toko antik berdiri megah, kini hanya cekungan gosong yang menganga seperti mulut kuburan.
Bau arang tua dan kayu basah bercampur dengan sesuatu yang lebih asam, seperti bau energi yang terlalu lama terperangkap.
Mia menurunkan tangannya perlahan. Cahaya dari tato di lengannya tidak langsung menyala terang. Ia berdenyut pelan, nyaris ragu, seperti jantung yang baru saja belajar berdetak kembali.
Sementara itu, Sarah berdiri di tengah reruntuhan.
Tidak ada altar batu. Tidak ada lingkaran simbol yang digambar rapi. Yang ada hanyalah bekas lantai keramik pecah, retakannya memanjang seperti urat di tanah, dan bayangan merembes dari sela-selanya.
"Sarah," bisik Mia, nyaris tak terdengar. "Dengar napas gue. Ikutin ya?"
Sarah mengangguk pelan.
Setiap tarikan napas terasa berat, seperti menghirup air. Dadanya berdenyut tidak sinkron dengan jantungnya sendiri. Ada irama lain di dalam sana, irama yang bukan miliknya.
Di sekeliling mereka, bayangan-bayangan tidak lagi menyerbu. Mereka terlihat menunggu.
Itulah yang paling menakutkan.
Reno mundur satu langkah. Matanya menyapu reruntuhan dengan cepat, menghitung, menimbang. Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar, digantikan dengan kerutan di dahi.
"Lo sadar apa yang lo lakuin, kan?" katanya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. "Ini bukan ritual pengusiran. Ini pemusnahan."
Mia tidak menoleh. "Diam," katanya singkat.
"Kalau ini berhasil," lanjut Reno, langkahnya kini memutar, mencari celah, "wadahnya hancur. Energinya nggak berpindah. Dia—" ia menunjuk Sarah, "—bakalan lenyap."
Sarah tersenyum tipis tanpa humor. "Gue tahu."
Reno berhenti. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu seperti kepanikan singkat di matanya. "Lo pikir ini pilihan lo sepenuhnya? Energi itu gak akan pergi tanpa perlawanan."
"Makanya gue di sini buat bantu dia," jawab Mia.
Kemudian ia berlutut di depan Sarah, telapak tangannya menyentuh lantai yang hangus. Debu hitam menempel di kulitnya. Ia mulai menggambar. Bukan dengan kapur, bukan dengan darah, tapi dengan cahaya redup dari ujung jarinya.
Simbol pertama terbentuk lambat.
Tidak tajam. Tidak agresif.
Seperti bekas goresan kuku di kayu tua.
Bayangan di sekeliling mereka berdesir, penasaran.
Sarah menutup mata.
Begitu ia melakukannya, dunia lain terbuka.
Ia melihat cermin. Bukan hanya satu, tapi ratusan. Cermin-cermin itu mengambang di ruang gelap tanpa batas. Setiap cermin memantulkan sesuatu yang berbeda. Wajah-wajah asing, kejadian yang belum terjadi, dan kematian yang tertunda.
Di tengah semua itu, ada satu pantulan yang paling dekat, yaitu dirinya sendiri. Wajahnya pucat, matanya kosong, tapi anehnya, ia tersenyum.
Ini mudah, kata pantulan itu tanpa suara. Lepas saja.
Sarah menggertakkan giginya. "Enggak," bisiknya.
Di dunia nyata, napasnya tercekat.
Mia merasakan perubahan itu seketika. "Sar," katanya cepat, tapi tetap pelan. "Jangan lawan bayangannya. Lepasin pelan-pelan."
"Emang kenapa kalau dilawan?" gumam Sarah.
"Kalau lo lawan, dia ngelawan balik. Kalau lo lepasin, otomatis dia gak punya pegangan lagi."
Reno tertawa pendek. "Teori yang indah."
Ia lalu bergerak cepat. Terlalu cepat.
Sebuah pisau kecil berkilat di tangannya. Sebuah artefak lama, bilahnya penuh ukiran yang berdenyut samar. Ia melemparkannya ke arah simbol yang baru setengah terbentuk di lantai.
Mia menjerit. "Reno—!"
Pisau itu tidak pernah menyentuh tanah.
Cahaya putih tipis muncul di udara, membelokkan arah bilah itu seolah ruang sendiri menolaknya. Pisau terlempar dan menghantam dinding bata runtuh dengan suara yang nyaring.
Reno terpaku.
Sarah pun membuka mata.
Untuk sesaat, matanya memantulkan cahaya yang bukan milik dunia ini.
"Udah terlambat," katanya pelan.
Bayangan di sekitar mereka bergerak serempak, membentuk lingkaran yang lebih rapat. Udara menjadi dingin, bukan seperti malam, tapi seperti ruang bawah tanah yang lama terkunci.
Mia melanjutkan ritualnya.
Simbol kedua.
Lalu, simbol ketiga.
Setiap goresan cahaya membuat lantai bergetar pelan, seperti napas panjang yang ditahan terlalu lama.
Reno mundur lagi. "Lo gak ngerti," katanya, kini tanpa senyum. "Kalau energi itu dimurnikan sepenuhnya, semua jejaknya ikut lenyap. Termasuk—"
"Termasuk lo," potong Sarah.
Reno terdiam. Untuk pertama kalinya, kebenciannya terlihat jelas. "Padahal gue udah susah payah buat menyempurnakan cermin itu. Gue bahkan harus bersembunyi terus di hutan larangan buat menyempurnakan cermin itu! Kalian gak bisa berbuat seenaknya kayak gini!"
"Enggak," jawab Mia. "Yang berbuat seenaknya dari awal itu elo! Kalau dari awal lo gak berambisi buat menyempurnakan cermin yang bahkan udah hampir lenyap keberadaannya itu, semuanya gak akan kayak gini!"
Lalu, belum sempat Reno menjawab ucapan Mia, ritual mencapai titik tengahnya. Cahaya di lantai mulai merambat ke kaki Sarah, seperti air yang naik perlahan.
Sarah merasakan berat tubuhnya berkurang.
Bayangan-bayangan menjerit. Bukan dengan suara, tapi dengan getaran yang menusuk tulang.
Reruntuhan toko antik bergetar. Pecahan kaca tua, sisa etalase yang dulu menyimpan cermin-cermin terkutuk, retak dan pecah satu per satu.
Reno berlari.
Ia tidak menuju Mia. Tapi, menuju Sarah.
Tangannya hampir menyentuh bahu Sarah ketika cahaya putih menyembur dari dada Sarah, mendorongnya terpental. Reno menghantam tumpukan balok hangus, kemudian batuk keras.
"Gue belum selesai!" teriaknya. "Ini belum—!"
Sarah melangkah maju. Setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya di tanah."Mia," katanya pelan. "Peluk gue."
Mia bangkit, air mata mengaburkan pandangannya. Ia memeluk Sarah erat, seolah bisa menahan dunia yang akan runtuh hanya dengan lengannya.
"Maafin gue," bisik Mia sambil terisak.
"Jangan minta maaf," jawab Sarah lembut. "Terima kasih. Gue titip salam buat mama papa."
Mia mengangguk.
Sementara itu, Reno merangkak berdiri. Wajahnya berubah, terlihat retak, seperti cermin yang dihantam dari dalam. Bayangan-bayangan di sekelilingnya kini berbalik arah, tertarik pada cahaya di tubuh Sarah.
"Berhenti!" jerit Reno. "Kalau lo hancur, gue juga—!"
"Emang itu intinya, kan?" ucap Sarah sambil menoleh ke arahnya dan tersenyum.
Mia mengangkat tangannya untuk terakhir kalinya. Cahaya tato di lengannya menyala penuh.
Ritual sesungguhnya dimulai.
Tidak ada ledakan langsung. Tidak ada kilat. Yang ada hanyalah keheningan yang terlalu bersih.
Lalu cahaya putih menyebar perlahan dan tak terhindarkan, mengisi setiap celah reruntuhan, menyapu bayangan seperti debu. Pecahan cermin bergetar, lalu hancur menjadi pasir halus.
Reno menjerit. Bukan karena terbakar. Tapi karena dilucuti. Bayangan yang melekat padanya tercabut satu per satu, meninggalkan tubuh yang tiba-tiba tampak kosong.
"Ini salah!" teriaknya. "Ayah gue—!"
Cahaya menelan suaranya.
Sarah menutup mata di pelukan Mia.
Tubuhnya mulai memudar, bukan menghilang tiba-tiba, tapi seperti kabut yang diterangi matahari pagi.
"Gue gak takut lagi," katanya pelan.
Cahaya mencapai puncaknya.
Dan dunia gelap itu kini retak, seolah semuanya runtuh ke dalam putih yang menyilaukan.