Dua hari berlalu sejak kejadian laporan yang hampir membuat Arema hancur di kantor. Kini semuanya sudah kembali berjalan normal, setidaknya di permukaan.
Sisca masih bersikap manis di depan orang lain, meski sorot matanya pada Arema tetap dingin. Jordi juga tidak menyinggung apa pun, seolah tak pernah terjadi sabotase itu.
Namun malam ini, bukan urusan kantor yang mengganggu pikiran Arema. Ia rebahan di atas kasur apartemennya. Lampu kamar hanya menyala temaram.
Ponselnya tergeletak di samping bantal, layar gelap tapi terasa seperti benda paling berat di dunia. Di meja kecil dekat jendela, amplop undangan itu masih tergeletak.
Undangan pernikahan Rino dan Vheronika. Tiga hari lagi. Arema menatap langit-langit kamar.
"Dateng gak, ya?" gumamnya pelan.
Dadanya terasa sesak setiap kali membayangkan suasana itu. Rino berdiri gagah dengan jas pengantin. Vhero tersenyum puas di pelaminan. Orang-orang mengucapkan selamat. Musik bahagia mengalun.
Dan dirinya?
Berdiri di antara tamu undangan, sendirian, pura-pura kuat.
Arema memejamkan mata, membayangkan dirinya datang ke pesta itu. Semua mata mungkin akan menatapnya. Ada yang kasihan. Ada yang bergosip.
"Itu mantannya, ya?"
"Kasihan banget."
Ia membalikkan badan, memeluk guling erat. "Tapi kalau gak dateng, pasti nanti dibilang cemen," gumamnya lagi. "Dibilang belum bisa move-on"
Padahal memang iya, hanya saja ia sudah terlalu lelah untuk mengakuinya.
Tangannya meraih ponsel. Ia membuka galeri. Tanpa sadar, jarinya berhenti di satu folder lama. Foto-foto bersama Rino.
Tertawa di pinggir jalan sambil makan cilok. Selfie di depan gerobak martabak. Wajah mereka dulu terlihat begitu sederhana. Bahagia tanpa banyak tuntutan.
Air mata menggenang di pelupuk mata Arema. "Kenapa sih dulu aku bisa sebuta itu," bisiknya.
Arema mengusap wajahnya cepat lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
Tiba-tiba, sebuah pikiran muncul. Sederhana. Tapi membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
"Apa aku ajak Leo aja ya," gumamnya pelan.
Ia terdiam. Membayangkan datang ke pernikahan itu, tapi tidak sendirian.
Ada Leo di sampingnya. Teman kecilnya. Orang yang sudah mengenalnya sejak masih ingusan, lari-larian di sawah, makan jajan bareng di warung kecil.
Bukan untuk pamer. Bukan juga untuk balas dendam. Tapi agar tidak merasa sendirian.
"Biar aku gak kayak orang ilang," lanjutnya lirih,
lalu tertawa kecil pada diri sendiri. Namun tawa itu langsung hilang.
"Ah, tapi kira-kira Leo mau nggak ya?" Arema menggigit bibir bawahnya.
Leo baru saja kembali dari luar negeri. Mereka juga baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun. Masa langsung diajak ke acara sensitif seperti itu?
Arema takut Leo salah paham. Juga takut dikira memanfaatkan.
Arema menjatuhkan punggungnya kembali ke kasur. Menatap layar ponsel yang kini menampilkan chat terakhirnya dengan Leo.
Masih obrolan ringan soal Taiwan, soal kampung, soal makanan favorit waktu kecil.
Ia pun mulai mengetik ....
"Leo, kamu lagi sibuk nggak?"
Namun Arema segera menghapus pesan tersebut.
Berapa menit kemudian, pesan itu diketik lagi.
"Leo, aku mau minta tolong boleh nggak?"
Dihapus kembali dihapus. "Aduh, kok kayak mau nembak orang sih, jadi grogi gini, huft," gerutunya sendiri.
Ia menutup wajah dengan bantal, menjerit kecil tanpa suara. Beberapa menit berlalu. Hanya suara AC yang terdengar.
Akhirnya ia duduk lagi, menarik napas panjang. "Udahlah, paling dia nolak. Tapi, gak ada ruginya juga kalo cuma nanya," katanya menyemangati diri sendiri.
Ia mulai mengetik lagi, kali ini memaksa jarinya untuk tidak berhenti.
"Leo, kamu hari Minggu depan ada acara nggak?"
Tanpa ragu, pesan pun langsung dikirim. Jantung Arema langsung berdebar kencang setelah pesan itu terkirim.
Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.
Lalu .…
Ting!
Balasan masuk.
"Belum ada. Kenapa, Rema?"
Arema menelan ludah. Tangannya dingin. Ia mengetik lagi, pelan-pelan.
"Aku dapet undangan nikahan dari Rino. Tapi, agak males dateng sendirian. Kalo kamu nggak keberatan, mau temenin aku, gak?"
Pesan itu terkirim. Arema langsung menjatuhkan ponselnya ke kasur seolah benda itu habis menyetrumnya.
"Ya Allah, kenapa aku jadi deg-degan gini?" gumamnya.
Ia memeluk bantal lagi, wajahnya memerah sendiri meski tak ada siapa-siapa.
Beberapa menit tak ada balasan. Pikiran buruk mulai berdatangan. "Pasti dia bingung. Pasti dia ngerasa aneh. Pasti dia mikir aku masih nggak move on."
Ting!
Pesan masuk lagi.
Arema langsung menyambar ponselnya.
"Rino mantan kamu itu?"
Arema tercekat. "Iya."
Balasan datang cepat. "Yaudah, aku temenin."
Arema terdiam. Matanya membaca ulang pesan itu berkali-kali. "Beneran? Kamu gak keberatan?"
"Gak lah. Kita kan temen. Lagian kamu gak boleh sendirian di acara kayak gitu. Ntar malah kepikiran macem-macem," balas Leo.
Hati Arema terasa hangat tiba-tiba. Bukan karena cinta. Bukan karena rasa berdebar seperti dulu dengan Rino. Tapi karena ia merasa ditemani.
"Makasih ya, Leo."
"Santai aja. Nanti aku jemput aja, ya?"
Arema tersenyum kecil. "Boleh. Tapi jangan pake motor butut kamu ya, malu aku, hehe."
Balasan Leo datang cepat. "Eh, itu motor saksi sejarah kita dulu ke sawah nyari layangan putus!"
Arema tertawa kecil sungguhan kali ini. Suara tawanya mengisi kamar yang sejak tadi terasa sepi. Obrolan mereka berlanjut ringan.
Tentang baju apa yang harus dipakai. Tentang makanan kondangan yang biasanya jadi rebutan. Tentang siapa saja kira-kira orang kampung yang bakal datang.
Tanpa Arema sadari, dadanya terasa jauh lebih ringan. Setelah chat mereda, ia meletakkan ponsel di meja samping kasur.
Matanya kembali menatap langit-langit. Pernikahan itu tetap terasa menyakitkan, dan tetap pahit.
Tapi sekarang, ia tidak harus menghadapinya sendirian.
"Seenggaknya, aku datang bukan sebagai orang yang ditinggalkan," bisiknya pelan.
Ia menarik selimut sampai ke dada. Di luar jendela, lampu-lampu kota berkelip. Mobil berlalu-lalang. Dunia tetap berjalan, tak peduli ada hati yang pernah patah.
Namun, malam ini, untuk pertama kalinya sejak menerima undangan itu, Arema tidak merasa sekosong sebelumnya.
Matanya perlahan terpejam. Di sudut hatinya, muncul perasaan kecil yang sudah lama hilang. Bukan cinta, lebih tepatnya belum.
Tapi, harapan bahwa hidupnya tidak berhenti di Rino.
Kini Arema merasa lega, ia bisa bernapas lepas. "Akhirnya, besok ada yang nemenin aku kondangan," lirihnya.
Malam semakin larut, Arema memejamkan matanya perlahan. Ia pun larut dalam mimpi.
**
Sementara itu, di kamar rumah yang akan segera ia tinggalkan setelah menikah, Rino duduk di tepi ranjang dengan lampu kamar yang redup.
Jas pengantin sudah tergantung rapi di lemari, sepatu mengilap tergeletak di bawahnya. Semua itu Vheronika yang membiayai. Terlihat sempurna, tapi dadanya justru terasa sesak.
Ia menatap ponselnya yang gelap di tangan. "Apakah aku memilih jalan yang benar?" gumamnya pelan.
Bayangan wajah Arema tiba-tiba muncul di benaknya, tawanya yang tulus, caranya menyemangati saat ia jatuh.
Rino mengacak rambutnya frustasi. Pernikahan sudah di depan mata, tapi hatinya justru dipenuhi keraguan yang tak berani ia akui pada siapa pun.