Drama

Target Operasi

15 January 2026

Kerja bakti Minggu pagi di kompleks ini bukanlah gotong royong, melainkan apel pagi militer yang disamarkan dengan sapu lidi.

Pukul 06.58, aku keluar rumah. Sesuai instruksi tak tertulis di grup, aku memakai kemeja berwarna cerah—biru muda. Di lapangan kecil dekat pos ronda, warga sudah berkumpul. Mereka semua memakai warna-warna pastel: kuning, pink, hijau toska.

Tidak ada satu pun yang memakai warna hitam atau gelap. Keseragaman ini membuat mataku sakit.

Pak Budi berdiri di tengah, memegang peluit. “Selamat pagi, pasukan kebersihan!” serunya.

“Pagi, Pak RT!” jawab warga serempak. Terlalu serempak.

Aku mengambil sapu dan bergabung di barisan belakang. Di sebelahku, seorang bapak paruh baya menyenggol lenganku pelan.

“Mas Raka, ya? Senyumnya dijaga, Mas. Ada drone.”

Aku menengadah. Di langit yang biru bersih, sebuah drone putih kecil berdengung pelan, melayang statis di atas kerumunan kami. Lensa kameranya yang hitam menatap ke bawah seperti mata Tuhan yang tidak pernah berkedip.

“Itu punya siapa?” bisikku.

“Punya seksi dokumentasi. Dimas,” jawab bapak itu tanpa menoleh ke atas. “Buat laporan mingguan ke pusat.”

Pusat? Pusat apa?

Di tengah riuh rendah sapu yang beradu dengan aspal, aku menyadari satu kejanggalan. Ada satu rumah di Blok C yang pintunya tertutup rapat, gordennya ditarik penuh, dan halamannya kosong melompong. Rumah nomor 14. Rumah Maya.

Rumah itu tampak seperti lubang hitam di tengah pelangi warna-warni kompleks kami.

“Mas,” bisik bapak di sebelahku lagi, kali ini suaranya lebih rendah. “Jangan terlalu lama lihat ke situ.”

“Kenapa, Pak?”

“Itu zona merah. Sedang dalam masa re-edukasi.”

Sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, Dimas berseru lewat pengeras suara. “Foto dulu, warga! Ayo merapat ke spanduk!”

Kami digiring seperti ternak ke depan spanduk Kerja Bakti Warga Berkarakter. Aku berdiri di baris kedua.

“Siap… senyum yang lebar! Tunjukkan kebahagiaan kita!” teriak Dimas.

Klik.

“Sekali lagi! Yang baris belakang, giginya tolong diperlihatkan!”

Aku memaksakan senyum, memamerkan gigi, sambil merasa seperti badut yang sedang ditodong senjata.

Beberapa jam kemudian, grup warga meledak dengan foto-foto itu. Wajah kami semua diedit menjadi lebih cerah, kulit lebih mulus, langit lebih biru.

Dimas: Kerja bakti sukses! Partisipasi 98%. Terima kasih warga hebat!

Ibu Ratna: MasyaAllah, indah sekali kebersamaannya. Sayang sekali ya, ada satu titik noda yang belum bergabung. Semoga pintu hatinya segera terbuka.

Aku tahu siapa yang dimaksud. Pesan itu diikuti stiker beruang menangis yang imut, tapi maknanya kejam.

Pak Budi: Akan kami tangani secara persuasif. Tenang saja, Bu. Tidak ada noda yang abadi di lingkungan kita.

Tangani. Noda. Kata-kata itu membuat tengkukku dingin.

Sore harinya, aku menyiram tanaman di teras, berpura-pura sibuk agar bisa mengamati rumah nomor 14. Pintu rumah itu akhirnya terbuka sedikit. Sangat sedikit. Cukup untuk seseorang menyelinap keluar.

Maya.

Dia tampak berantakan. Rambutnya diikat asal, matanya cekung dengan lingkaran hitam, memakai kaos oblong abu-abu yang kusut. Dia berjalan cepat menuju mobilnya, kepalanya menunduk, menghindari tatapan siapa pun.

“Mbak!” panggilku refleks.

Maya tersentak hebat. Dia menoleh dengan mata terbelalak, seolah aku baru saja melempar batu ke arahnya.

“Mbak Maya, kan? Saya Raka, tetangga depan.”

Dia tidak menjawab. Matanya liar menyapu sekeliling, ke pos satpam, ke tiang listrik, ke jendela-jendela tetangga.

“Jangan sapa saya,” desisnya pelan, suaranya gemetar.

“Kenapa?”

“Nanti kamu kena tandai. Masuk lagi, cepat.”

“Tandai apa?”

“Poin pelanggaran. Asosiasi dengan warga bermasalah.”

Dia membuka pintu mobil dengan tangan gemetar, lalu masuk dan mengunci pintu seketika. Mesin menderu, dan mobil itu melesat pergi seolah dikejar setan.

Aku berdiri terpaku di teras, memegang selang air yang masih mengucur.

Ping.

Ponsel di saku celanaku bergetar.

Ibu Ratna: Mas Raka, tadi saya lihat Mas mencoba berkomunikasi dengan rumah nomor 14. Hati-hati ya, Mas. Energi negatif itu menular. Kami sedang berusaha memperbaiki beliau, jangan sampai usaha kita terganggu.

Aku menoleh ke kiri dan kanan. Jalanan kosong. Tidak ada Ibu Ratna. Tapi dia melihatku. Dia selalu melihatku.

Pak Budi: @Raka Poin partisipasi dikurangi -2 karena berinteraksi dengan zona merah tanpa izin pengurus. Mohon kooperatif.

Aku menatap layar ponsel dengan napas tertahan. Minus dua poin.

Di kompleks ini, kemanusiaan ternyata punya harga, dan harganya mahal.

Aku mematikan keran air, lalu masuk ke rumah. Aku menarik semua tirai jendela hingga tertutup rapat. Untuk pertama kalinya, aku merasa rumahku sendiri bukanlah tempat berlindung, melainkan kotak kaca di tengah arena sirkus.