Drama

Rumah Kaca

15 January 2026

Aku tidak tidur semalam. Bagaimana bisa tidur jika kau tahu ada orang—atau sekelompok orang—yang punya akses masuk ke pekaranganmu, mencuci bajumu, dan mengembalikannya dengan ancaman halus?

Jaket yang sudah "dibersihkan" itu tergantung di sandaran kursi ruang tamu. Baunya wangi lavender, tapi bagiku baunya seperti kamar mayat.

Pagi ini, matahari bersinar terang. Terlalu terang. Cahayanya menembus jendela kaca besar di bagian depan rumahku, membuat seluruh isi ruang tamu terlihat jelas dari jalan.

Dulu, aku berpikir desain jendela besar ini modern dan minimalis. Sekarang, aku sadar ini adalah etalase.

Aku berjalan keluar rumah dengan langkah waspada. Aku perlu tahu dari mana mereka melihatku.

Aku berdiri di tengah jalan, mendongak menatap tiang-tiang listrik dan lampu jalan. Ada tiga kamera CCTV dalam radius sepuluh meter dari rumahku.

Satu di tiang utama, satu di pos ronda, dan satu lagi tersembunyi di balik rimbun pohon mangga milik tetangga sebelah.

Yang membuat darahku dingin bukan jumlahnya. Tapi arahnya.

Biasanya, CCTV perumahan diarahkan ke gerbang atau sepanjang jalan untuk memantau lalu lintas. Tapi kamera-kamera ini berbeda. Lensa mereka miring ke bawah, fokus pada sudut-sudut spesifik: pintu depan rumahku, jendela kamar tidur Maya, dan garasi Pak Hadi.

Ini bukan kamera pengawas keamanan. Ini kamera pengawas perilaku.

Aku kembali masuk ke rumah, menarik napas panjang, lalu melakukan hal yang didorong oleh rasa takut murni: aku mengambil tumpukan koran bekas sisa pembungkus barang pindahan.

Dengan lakban cokelat, aku menempelkan koran-koran itu ke kaca jendela depan. Menutup rapat pandangan dari luar. Gelap. Jelek. Tapi setidaknya aku merasa aman. Tidak ada mata yang bisa menembus kertas buram ini.

Aku baru saja menempelkan lembar terakhir ketika ponselku menjerit.

Grup Warga Cemerlang.

Dimas C: Selamat pagi. Mohon perhatian untuk rumah Blok C-12. Pemasangan koran bekas di jendela utama sangat mengganggu estetika visual blok kita. Mohon segera dicopot.

Pak Budi: Betul. Kesan kumuh bisa menurunkan standar lingkungan. Kita bukan di daerah perkampungan kumuh, Mas Raka. Kita di hunian berkarakter.

Aku menatap ponsel dengan geram. Baru lima menit!

Aku mengetik balasan dengan jari gemetar menahan marah: Saya butuh privasi, Pak. Jendelanya terlalu transparan.

Ibu Ratna: Privasi itu penting, Mas. Tapi transparansi adalah kunci kepercayaan. Kalau ditutup rapat begitu, warga jadi bertanya-tanya: ada apa di dalam? Apa yang disembunyikan?

Kalimat itu memukulku telak. Apa yang disembunyikan? Di sini, ketertutupan adalah indikasi kejahatan.

Belum sempat aku membalas, bel rumah berbunyi.

Aku mengintip lewat celah koran yang belum rapat. Dimas berdiri di sana. Wajahnya tidak lagi ramah seperti saat minta foto. Wajahnya kaku, seperti petugas sipir penjara. Dia membawa cutter di tangannya.

Aku membuka pintu. "Apa?"

"Saya bantu rapikan ya, Mas," katanya datar. Tanpa menunggu izinku, dia mulai menyayat lakban yang menempel di kacaku.

"Hei! Itu rumah saya!" bentakku.

Dimas berhenti. Dia menatapku, matanya dingin. "Fasad depan adalah milik lingkungan, Mas. Aturan halaman 4, poin 2. Warga dilarang mengubah tampilan fasad yang merusak keseragaman visual tanpa izin tertulis RT."

Dia menarik koran itu sampai sobek. Cahaya matahari kembali masuk, menelanjangiku.

"Lagipula," bisik Dimas, suaranya turun satu oktaf, "kalau Mas tutup jendelanya, tim monitoring jadi susah memastikan Mas aman. Bagaimana kalau Mas jatuh pingsan di dalam? Atau... melakukan hal yang membahayakan diri sendiri?"

Ancaman itu begitu halus, tapi begitu jelas. Kami harus melihatmu. Setiap saat.

Dimas membereskan sampah koran itu, memasukkannya ke kantong plastik yang dia bawa, lalu tersenyum tipis. "Nah. Lebih terang. Lebih sehat."

Dia pergi. Meninggalkanku berdiri di ruang tamu yang kembali terekspos.

Aku mundur ke area dapur, satu-satunya tempat yang tidak terlihat langsung dari jalan. Napasku memburu. Aku terjebak di dalam akuarium.

Aku mencoba menenangkan diri dengan menyeduh kopi. Saat itulah aku melihat ke arah teras belakang—area jemuran kecil yang tertutup tembok tinggi. Setidaknya di sana aman, pikirku.

Aku melangkah ke teras belakang. Ada satu pot bunga besar di sudut, jenis tanaman lidah mertua yang rimbun. Pot itu sedikit bergeser dari posisi aslinya. Ada bekas tanah yang tercecer, seolah baru saja diangkat dan diletakkan kembali dengan buru-buru.

Ingatanku melayang ke hari pertama. Satpam bilang kunci rumah ditaruh di bawah pot. Apakah pot ini?

Rasa curiga yang menyengat membuatku berlutut. Aku menggoyang pot berat itu, lalu mengangkatnya sedikit.

Di sana, di balik dasar pot yang lembap dan berlumut, ada sesuatu yang menempel.

Bukan kunci cadangan.

Itu sebuah kotak hitam kecil, seukuran korek api, dengan lampu indikator merah yang berkedip sangat lemah. Ada antena kabel tipis yang menjulur keluar.

Alat penyadap.

Aku membeku. Suara napasku sendiri terdengar sangat keras di telingaku.

Aku menatap alat itu. Lampu merahnya berkedip satu kali. Bip.

Mereka tidak hanya menonton. Mereka mendengarkan.

Dan jika alat ini ada di sini, di tempat yang kutemukan secara tidak sengaja... berapa banyak lagi alat serupa yang tertanam di dalam rumahku? Di balik lukisan? Di bawah meja makan? Di dalam detektor asap?

Aku meletakkan kembali pot itu dengan tangan gemetar, berusaha tidak membuat suara.

Tiba-tiba ponselku bergetar di saku. Pesan pribadi dari nomor tidak dikenal—nomor yang sama dengan yang mengirim pesan teror semalam.

“Bunganya jangan sering-sering digeser, Mas. Nanti sinyalnya putus-putus.”

Aku menjatuhkan ponselku ke lantai.