Drama

Aliansi Bawah Tanah

15 January 2026

Minggu pagi ini, aku tidak berniat menjadi warga teladan. Aku berniat menjadi pelarian.

Selembar kertas tertempel di pagar rumahku sejak kemarin sore: Pemberitahuan Kerja Bakti Wajib. Absensi Pukul 07.00. Ketidakhadiran akan dicatat dalam Log Keaktifan.

Sejak menemukan alat penyadap di pot bunga itu, aku tahu aku tidak bisa berbicara dengan Maya di dalam kompleks. Tidak di teras, tidak di ruang tamu, apalagi lewat telepon. Mereka mendengar semuanya.

Satu-satunya cara adalah berbicara di luar zona jangkauan mereka.

Pukul 06.55, aku keluar rumah. Jalanan sudah ramai dengan warga berseragam kaos pastel. Pak Budi meniup peluit, membagi sektor kebersihan seperti jenderal membagi pasukan tempur.

Aku mengambil sapu, berpura-pura menyapu trotoar sambil memindai situasi. Mataku menangkap mobil Maya keluar dari garasi. Dia berangkat kerja shift pagi. Ini kesempatanku.

Aku melempar sapu ke semak-semak.

Dimas, yang sedang memegang tablet untuk absensi, menoleh tajam. “Mas Raka? Mau ke mana? Kita baru mulai.”

“Beli sarapan sebentar di depan,” bohongku. “Maag saya kambuh. Butuh roti.”

“Di meja konsumsi ada rebusan pisang, Mas. Sehat.”

“Harus roti gandum. Alergi pisang,” kataku asal, lalu bergegas menuju motorku sebelum Dimas sempat memeriksa riwayat medisku di database gila mereka.

Aku memacu motor keluar gerbang, mengejar mobil Maya.

Kami bertemu di parkiran sebuah minimarket, sekitar dua kilometer dari gerbang kompleks. Zona netral.

Maya duduk di kursi plastik depan minimarket, memegang kopi kalengan. Tangannya gemetar. Saat melihatku datang, dia tidak tersenyum. Dia terlihat seperti orang yang baru lolos dari kecelakaan.

“Mereka menggeledah sampahku, Raka,” katanya langsung, tanpa basa-basi.

Aku duduk di sebelahnya. “Apa?”

“Dua hari lalu. Aku pulang subuh, dan aku lihat tim kebersihan sedang membongkar kantong plastik sampahku di depan rumah. Mereka bukan membuangnya ke truk. Mereka memilahnya.”

Maya meremas kaleng kopinya hingga penyok.

“Mereka mencatat apa yang kumakan,” bisiknya. “Bungkus mi instan, struk belanja, botol minuman… besoknya aku dapat teguran dari Seksi Kesehatan. Katanya pola makanku ‘tidak mencerminkan gaya hidup sehat warga berkarakter’. Mereka menyarankan aku ikut katering diet yang dikelola istri Pak Budi.”

Aku ternganga. “Mereka mengaudit sampahmu untuk jualan katering?”

“Bukan cuma katering. Itu data profil, Raka. Mereka tahu kapan aku menstruasi dari bungkus pembalut. Mereka tahu merek sabun yang kupakai. Mereka tahu segalanya.” Maya menatapku dengan mata nanar. “Kita ini bukan warga. Kita ini data sampel.”

Aku teringat alat penyadap di pot bungaku. “Aku nemu bug di teras belakang. Di bawah pot lidah mertua.”

Maya tidak kaget. Dia hanya tertawa hambar. “Selamat datang di level dua. Level satu cuma visual. Level dua audio. Level tiga… mereka masuk ke dalam kepala kita.”

“Kita harus lapor polisi,” kataku.

“Lapor apa? Bahwa RT kita terlalu perhatian? Bahwa sampah kita dirapikan? Tidak ada hukum yang mereka langgar secara teknis, Raka. Mereka berlindung di balik ‘kesepakatan warga’ yang kita tanda tangani saat beli rumah. Kamu baca fine print-nya?”

Aku menggeleng. Siapa yang membaca syarat dan ketentuan setebal buku telepon?

“Di sana tertulis: Pengelola lingkungan berhak melakukan inspeksi sanitasi dan keamanan sewaktu-waktu demi menjaga standar kawasan,” kutip Maya hafal di luar kepala. “Itu izin legal untuk mengacak-acak hidup kita.”

Kami terdiam. Suara hiruk pikuk kota di luar kompleks terdengar begitu membebaskan. Klakson angkot, teriakan tukang parkir, debu jalanan. Hal-hal yang dulu kubenci, sekarang terasa seperti surga kebebasan.

“Aku takut pulang,” kata Maya pelan.

“Kita harus pulang,” kataku. “Kalau kita lari sekarang, mereka menang. Dan… sertifikat rumahku masih di bank. Aku nggak bisa pergi begitu saja.”

Maya mengangguk lemah. Dia berdiri, membuang kaleng kopinya ke tong sampah minimarket. “Setidaknya di sini, sampahku cuma jadi sampah.”

Kami kembali ke kompleks secara terpisah. Maya masuk lebih dulu. Aku menyusul lima menit kemudian.

Saat aku mendekati gerbang otomatis, aku menempelkan kartu aksesku ke mesin sensor. Biasanya, palang akan terbuka dalam satu detik disertai suara sapaan robotik: Selamat Datang, Warga Cemerlang.

Hari ini, mesin itu berbunyi: BEEEEP. Akses Ditolak.

Aku mencoba lagi. BEEEEP. Lampu indikator menyala merah.

Kaca pos satpam diketuk dari dalam. Seorang satpam keluar. Bukan satpam ramah yang biasa menyapa. Ini satpam baru, badannya tegap, wajahnya keras. Di dadanya tertulis nama: Seksi Keamanan.

“Kartunya rusak, Pak,” kataku.

Dia tidak mengambil kartu itu. Dia melihat tablet di tangannya. “Bapak Raka? Blok C-12?”

“Iya.”

“Status Bapak sedang ditangguhkan sementara.”

Jantungku berhenti. “Ditangguhkan? Maksudnya apa? Saya tinggal di sini!”

“Ada indikasi pelanggaran prosedur keamanan. Bapak meninggalkan area kerja bakti tanpa izin koordinator lapangan, dan terdeteksi melakukan pertemuan tidak terdaftar dengan warga lain di luar zona pantau.”

Aku membeku.

Mereka tahu aku bertemu Maya. Drone itu. Atau mungkin mereka melacak GPS ponselku?

“Jadi saya nggak boleh pulang ke rumah saya sendiri?” suaraku meninggi.

“Boleh,” jawabnya datar. “Tapi status Bapak bukan lagi ‘Warga Aktif’. Bapak masuk sebagai ‘Tamu Dalam Pengawasan’. Harus meninggalkan KTP asli di pos.”

“Itu gila! Saya pemilik rumah!”

“Prosedur, Pak. Silakan KTP-nya. Atau palang tidak dibuka.”

Tanganku gemetar karena marah. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku mengeluarkan dompet, menyerahkan KTP-ku. Satpam itu menaruhnya di laci, lalu menekan tombol manual. Palang terbuka perlahan.

“Silakan masuk,” katanya dingin. “Mohon segera melapor ke Pak Budi untuk sesi klarifikasi dalam 1x24 jam.”

Aku memacu motor masuk. Kompleks terlihat sama seperti sejam yang lalu. Bersih. Rapi. Bunga-bunga bermekaran. Warga masih menyapu sambil tertawa-tawa kecil.

Tapi saat aku melewati mereka, tawa itu berhenti.

Dimas, yang berdiri di pinggir jalan, menatapku. Dia tidak melambaikan tangan. Dia mengetik sesuatu di ponselnya.

Ponselku bergetar di saku. Notifikasi masuk. Bukan dari WhatsApp. Tapi dari aplikasi pengelola lingkungan yang wajib kami instal saat pindah.

NOTIFIKASI SISTEM:

Status Warga: SUSPENDED (DITANGGUHKAN).

Alasan: Perilaku Mencurigakan & Indikasi Konspirasi.

Akses Fasilitas Umum: DIBLOKIR.

Aku sampai di depan rumahku. Pagar putih itu masih mengilap. Tapi kini rasanya bukan lagi gerbang rumah.

Rasanya seperti pintu sel yang baru saja dikunci dari luar.