Drama

Sidang Terbuka

15 January 2026

Momen krusial itu tidak datang sebagai undangan rapat yang hangat. Ia datang sebagai syarat pembebasan.

Setelah 24 jam statusku ditangguhkan—yang artinya aku harus menitipkan KTP setiap kali masuk gerbang dan dilarang menggunakan fasilitas umum—ponselku bergetar dengan notifikasi dari aplikasi pengelola.

SISTEM KEAMANAN:

Yth. Warga C-12 (Status: Suspended).

Untuk memulihkan hak akses penuh, Anda diwajibkan hadir dalam Sesi Evaluasi Perilaku.

Waktu: 19.30 WIB.

Tempat: Balai Warga (Ruang Kaca).

Agenda: Klarifikasi dan Penyelarasan.

Tidak ada opsi "Tidak Bisa Hadir". Jika aku tidak datang, aksesku mungkin akan dicabut permanen.

Aku berjalan menuju Balai Warga dengan perasaan seperti terpidana mati yang berjalan menuju kursi listrik.

Ruangan itu dindingnya kaca tembus pandang. Dari luar, orang bisa melihat ke dalam, tapi dari dalam, cahaya lampu sorot yang terlalu terang membuat kami sulit melihat keluar.

Tidak ada teh manis. Tidak ada pisang goreng. Tidak ada ramah tamah.

Kursi-kursi disusun dalam formasi huruf U. Di tengah-tengah U itu, ada dua kursi kosong yang terisolasi. Satu sudah terisi.

Maya.

Dia duduk menunduk, tangannya meremas ujung rok. Wajahnya pucat pasi, seperti orang yang sudah diinterogasi berjam-jam tanpa air.

Aku duduk di kursi sebelahnya. Dia tidak menoleh, tapi aku mendengar bisikannya yang gemetar. "Hati-hati, Raka. Mereka punya catatan."

Pak Budi berdiri di ujung meja. Dia tidak tersenyum. Di sebelahnya, Ibu Ratna duduk membuka sebuah laptop, wajahnya diterangi cahaya layar yang kebiruan. Di sekeliling mereka, Dimas dan beberapa warga senior duduk dengan wajah datar, memegang tablet masing-masing.

"Kita mulai," kata Pak Budi. Suaranya bergema di ruangan yang hening. "Sesi ini bukan untuk menghukum. Ini untuk... menyelaraskan kembali frekuensi yang terganggu."

"Saya ingin status saya dipulihkan," potongku langsung. "Saya pemilik sah rumah itu. Kalian tidak berhak memblokir akses saya."

Ibu Ratna mengetik sesuatu di laptopnya. Tak. Tak. Tak. Suara ketikannya terdengar tajam.

"Hak akses adalah privilese bagi warga yang kooperatif, Mas Raka," katanya tanpa mengangkat wajah. "Dan data menunjukkan, Anda dan Mbak Maya mengalami penurunan skor kooperatif yang drastis dalam 48 jam terakhir."

"Skor?" tanyaku.

Dimas menyalakan proyektor. Di dinding putih, muncul grafik batang. Ada namaku. Ada nama Maya. Keduanya berwarna merah, menukik ke bawah.

"Maya," kata Pak Budi, menunjuk grafik itu. "Indikasi gaya hidup tidak sehat. Ditemukan bukti konsumsi makanan instan berlebih, jam tidur tidak teratur, dan... interaksi dengan tamu pria bertopeng di jam rawan."

"Itu adik saya!" teriak Maya, suaranya pecah. "Dan apa urusannya saya makan apa?"

"Kesehatan warga mempengaruhi indeks kebahagiaan lingkungan," jawab Pak Budi datar. "Warga yang sakit-sakitan atau depresi akan menjadi beban visual dan sosial."

Beban visual. Maya menangis tanpa suara.

"Dan Anda, Mas Raka," lanjut Pak Budi, kini matanya menatapku tajam. "Indikasi pembangkangan. Menutup jendela dengan koran bekas—pelanggaran estetika berat. Mencoba melarikan diri saat kerja bakti. Dan bertemu dengan subjek dalam pengawasan (Maya) di luar zona pantau untuk merencanakan... entah apa."

"Kami cuma ngobrol!" belaku. "Itu hak asasi kami!"

"Di sini, hak asasi tunduk pada Kesepakatan Bersama," kata Ibu Ratna lembut. Terlalu lembut. "Kami curiga kalian sedang membangun narasi negatif tentang kepengurusan kami. Itu racun, Mas. Dan racun harus dinetralisir."

Suasana ruangan itu mencekam. Warga lain yang duduk di sana hanya mengangguk-angguk seperti robot setiap kali Pak Budi bicara. Tidak ada yang membela kami. Tidak ada yang bertanya "kenapa". Mereka adalah bagian dari mesin ini.

"Apa mau kalian?" tanyaku lelah.

"Pengakuan," kata Ibu Ratna. Dia menutup laptopnya dan mengambil sebuah buku tebal bersampul merah dari dalam tasnya.

Buku itu terlihat tua, tapi terawat. Di sampulnya ada tulisan emas: CATATAN DOMESTIK.

"Kami butuh kalian mengakui bahwa kalian salah, dan bersedia mengikuti program pembinaan ulang," lanjutnya. "Jika tidak... kami terpaksa membuka ini."

Dia menepuk buku merah itu.

"Apa itu?" tanyaku.

Ibu Ratna tersenyum. Senyum yang membuat darahku berhenti mengalir.

"Ini adalah log aktivitas internal. Data yang dikumpulkan dari... sensor-sensor yang mungkin tidak kalian sadari."

Dia membuka halaman yang ditandai pita pembatas.

"Mas Raka," bacanya pelan. "Senin, pukul 23.45. Anda duduk di ruang tengah, berbicara sendiri sambil memegang sendok. Anda menjatuhkan sendok itu untuk mengetes sensor suara kami. Benar?"

Aku membeku.

"Selasa, pukul 06.15," lanjutnya. "Anda di kamar mandi. Anda menelepon teman Anda yang bernama Andi, mengeluh bahwa lingkungan ini gila dan Anda ingin menjual rumah ini secepatnya. Durasi telepon 12 menit."

Jantungku serasa mau meledak. Aku menelepon Andi saat shower menyala kencang. Bagaimana mereka bisa mendengar suaraku sejelas itu di tengah deru air?

Ibu Ratna membalik halaman lagi. Matanya menatapku lurus, menusuk sampai ke tulang.

"Dan Rabu siang... saat Anda menemukan alat kecil di bawah pot lidah mertua di teras belakang..."

Dia berhenti sejenak untuk efek dramatis.

"...Anda berkata: 'Sialan, mereka mendengarkan semuanya'. Benar begitu kalimatnya, Mas Raka?"

Aku tidak bisa bernapas. Kakiku lemas.

Mereka tahu. Mereka tahu aku menemukan alat itu. Dan mereka membiarkanku menemukannya, hanya untuk melihat reaksiku.

Ibu Ratna menutup buku merah itu dengan suara blam yang keras.

"Jadi, Mas Raka. Mbak Maya. Apakah kita sepakat untuk belajar menjadi warga yang lebih baik? Atau perlu saya bacakan halaman selanjutnya... yang berisi hal-hal yang jauh lebih pribadi?"

Di ruangan kaca yang dingin itu, aku sadar aku tidak sedang berhadapan dengan tetangga. Aku berhadapan dengan monster yang memegang kunci kehidupanku.

Aku menoleh ke Maya. Dia sudah tidak menangis lagi. Dia menatap kosong ke depan, jiwanya sudah patah.

Perlahan, dengan sisa harga diri yang hancur lebur, aku mengangguk.

"Kami... sepakat," bisikku.

Pak Budi tersenyum lebar. "Bagus! Nah, begitu kan enak. Selamat datang kembali di jalan yang benar, warga."

Semua orang di ruangan itu bertepuk tangan. Tepuk tangan yang rapi. Serempak. Dan mengerikan.