Hukuman itu tidak datang dalam bentuk surat tilang atau denda uang. Ia datang dalam bentuk truk sampah yang terus melaju.
Pagi itu, Senin. Jadwal pengangkutan sampah. Aku dan Maya—yang kini resmi berstatus "Warga Dalam Pembinaan"—sudah menaruh kantong sampah kami di depan pagar sejak subuh. Bau sisa makanan dua hari mulai menyengat, menarik lalat hijau yang berdengung nyaring.
Truk sampah berwarna oranye itu masuk ke blok kami. Petugas kebersihan yang biasanya ramah melompat turun. Dia mengambil sampah Pak Hadi. Mengambil sampah Bu Tuti.
Lalu truk itu melewati rumah Maya. Dan rumahku. Tanpa berhenti.
Aku berlari keluar. "Pak! Pak! Sampah saya ketinggalan!"
Petugas itu menoleh. Wajahnya datar, tidak ada senyum. Dia menunjuk tablet yang dipegang sopir truk.
"Maaf, Mas. Blok C-12 dan C-14 statusnya hold," katanya singkat.
"Maksudnya hold?"
"Dibekukan dari layanan fasilitas umum. Datanya merah di sistem. Kami nggak bisa angkut, nanti barcode-nya nggak kebaca di TPA pusat."
Truk itu menderu pergi, meninggalkan asap hitam dan tumpukan sampahku yang mulai meleleh di bawah matahari pagi.
Aku berdiri mematung. Di seberang, Maya keluar rumah menutup hidung. Dia menatap kantong sampahnya yang dikerubungi semut.
"Mereka mau bikin kita mati pelan-pelan," gumamnya.
Ternyata bukan cuma sampah.
Pukul sepuluh, tukang sayur langganan lewat. Biasanya dia membunyikan klakson bebeknya yang khas. Kali ini dia diam, melaju kencang melewati rumah kami seolah kami adalah rumah hantu.
Saat Maya mencoba memanggilnya, tukang sayur itu hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, "Maaf, Mbak! Stok habis!" padahal gerobaknya masih penuh bayam dan tempe.
Pukul dua belas, kurir paket berhenti di pos satpam. Aku melihat dari aplikasi pelacak bahwa paketku sudah Arrived. Tapi kurir itu tidak masuk. Lima menit kemudian, status di aplikasi berubah: Penerima Tidak Dapat Ditemukan / Area Restricted.
Mereka memblokade kami.
Sore harinya, bau busuk dari depan rumah sudah tak tertahankan. Lalat mulai masuk ke ruang tamu.
Aku kehilangan kesabaran. Aku mengambil korek api dan minyak tanah sisa. Jika mereka tidak mau mengangkutnya, aku akan membakarnya sampai jadi abu.
Aku menumpuk sampah itu di pojok halaman, menyiramnya dengan minyak.
Baru saja aku menyalakan api kecil di ujung ranting, sirine berbunyi nyaring. Bukan sirine polisi. Sirine dari tiang listrik di depan rumahku.
WIIIIUUUU! WIIIIUUUU!
Lalu suara robotik dari pengeras suara terdengar ke seluruh blok:
"PERINGATAN. DETEKSI ASAP DI BLOK C-12. PEMBAKARAN SAMPAH ADALAH PELANGGARAN UU LINGKUNGAN. MOHON SEGERA PADAMKAN ATAU SISTEM SPRINKLER OTOMATIS AKAN DIAKTIFKAN."
Warga mulai keluar rumah. Mereka tidak membantu. Mereka berdiri di teras masing-masing, memegang ponsel, merekam.
Ibu Ratna keluar, memakai masker medis yang tebal. Dia tidak mendekat, hanya berteriak dari jarak aman.
"Mas Raka! Tolong jangan bikin polusi! Kita ini kawasan Eco-Green! Kasihan anak-anak kalau hirup asap!"
"Lalu saya harus apa?!" teriakku frustrasi, menginjak api itu sampai mati. "Kalian nggak angkut sampah saya!"
"Itu konsekuensi administratif, Mas," jawabnya tenang, suaranya teredam masker tapi tetap terdengar angkuh. "Selesaikan dulu masa pembinaannya, baru fasilitasnya aktif lagi. Jangan malah nambah pelanggaran baru."
Dia berbalik masuk rumah. Warga lain mengikutinya. Pintu-pintu tertutup rapat.
Aku sendirian lagi. Dengan sampah yang setengah hangus dan bau yang makin menyengat.
Malam itu, aku dan Maya makan mi instan mentah karena gas elpiji kami habis dan tukang gas dilarang masuk mengirim ke rumah kami.
Kami duduk di lantai ruang tamu rumahku yang gelap (listrik dibatasi dayanya oleh pusat, jadi lampu sering kedip).
"Kita harus pergi, Raka," kata Maya. Suaranya serak. "Aku nggak kuat."
"Kalau kita pergi, rumah ini akan mereka ambil. Mereka akan beli dengan harga murah karena 'rusak' dan 'bau'. Itu rencana Bu Ratna kan?"
"Tapi kita hidup kayak tikus!" Maya melempar mi instan itu ke lantai. "Lihat kita! Kotor. Bau. Lapar. Di rumah sendiri!"
Aku memeluknya. Dia menangis gemetar.
"Besok," kataku. "Besok aku akan paksa Pak Budi buka akses. Aku akan dobrak pos satpam kalau perlu."
Aku tertidur dengan dendam yang membara di dada.
Keesokan paginya, aku terbangun oleh suara ribut di depan rumah. Suara kuas beradu dengan tembok. Dan bau cat yang menyengat.
Aku melompat dari sofa, membuka pintu depan.
Tiga orang berseragam oranye bertuliskan TIM ESTETIKA sedang mengecat tembok pagar rumahku.
Tembok yang tadinya berwarna putih gading elegan, kini sedang diubah warnanya.
Menjadi Merah Muda Neon (Shocking Pink).
Warnanya begitu norak, begitu menyakitkan mata, kontras dengan arsitektur rumah yang minimalis.
"Hei! Apa-apaan ini?!" teriakku.
Salah satu tukang berhenti mengecat. Dia menunjuk surat perintah yang ditempel di pagar—tepat di atas tumpukan sampah yang membusuk.
SURAT PERINTAH KOREKSI VISUAL
Kepada: Warga C-12 (Dalam Pembinaan)
Berdasarkan evaluasi psikologis, penghuni rumah ini terindikasi memiliki aura depresi dan energi negatif (suram). Demi menyeimbangkan vibrasi lingkungan, Seksi Keindahan memutuskan untuk mengganti warna fasad menjadi "Joyful Pink".
Biaya pengecatan akan dibebankan pada tagihan IPL bulan depan.
Aku ternganga menatap tembok pink norak itu. Rumahku kini terlihat seperti lelucon. Seperti badut di tengah barisan tentara.
Maya keluar dari rumahnya. Dia menjerit tertahan.
Pagar rumahnya sedang dicat warna Kuning Stabilo.
Di ujung jalan, Bu Ratna berdiri memantau sambil memegang payung cantik. Dia melihatku, lalu tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol.
"Nah! Kan jadi lebih ceria, Mas Raka! Biar nggak suram terus pikirannya!"
Darahku naik ke ubun-ubun. Ini bukan hukuman. Ini penghinaan. Mereka sedang menjadikan kami tontonan sirkus.
Dan saat aku melihat warna pink menyala itu menelan rumahku sedikit demi sedikit, aku tahu satu hal: aku tidak akan mendobrak pos satpam.
Aku akan menghancurkan mereka semua.