Malam itu, rumahku yang baru dicat warna shocking pink terlihat seperti luka yang meradang di tengah kegelapan. Warnanya begitu mencolok sampai-sampai dalam gelap pun ia seolah memantulkan cahaya lampu jalan dengan agresif.
Aku sedang di halaman belakang, menggali tanah dengan sekop kecil.
Bukan untuk mengubur mayat. Aku sedang mengubur sampah organik. Karena truk sampah masih memboikot kami, dan membakar sampah dilarang sensor, satu-satunya cara agar tidak mati keracunan bau busuk adalah menanam sisa makanan ke dalam tanah.
"Mas Raka," bisik seseorang dari balik tembok pembatas samping.
Aku hampir melempar sekopku. Jantungku melompat.
"Siapa?" desisku.
"Sstt. Matikan senter."
Aku mematikan senter ponsel. Dalam remang-remang, aku melihat kepala seseorang menyembul dari balik pagar tanaman. Rambut putih, kacamata tebal.
Pak Hadi. Bendahara RT.
"Pak Hadi? Bapak mau lapor saya lagi karena menggali tanah tanpa izin?" tanyaku sinis.
"Buka pagar belakang. Cepat. Sebelum drone patroli lewat," katanya. Suaranya gemetar. Tidak ada nada wibawa yang biasa ia tunjukkan di rapat.
Aku ragu sejenak, lalu membuka grendel pagar belakang yang berbatasan dengan selokan umum. Pak Hadi menyelinap masuk. Dia membawa kantong plastik hitam besar.
Tanpa bicara, dia mengambil tumpukan sampah plastik (bungkus mi instan, botol) yang menumpuk di sudut terasku. Dia memasukkannya ke dalam kantong plastiknya sendiri dengan gerakan cepat dan gugup.
"Pak? Bapak ngapain?"
"Saya bawa pulang," bisiknya, matanya liar memindai sekeliling. "Besok truk sampah ambil di rumah saya. Di rumah saya statusnya masih hijau. Mereka angkut apa saja."
Aku terdiam, bingung. "Kenapa Bapak bantu saya?"
Pak Hadi berhenti sejenak. Dia menatap rumahku yang berwarna pink norak itu dengan tatapan jijik—bukan pada rumahku, tapi pada apa yang telah dilakukan orang-orang itu.
"Karena saya yang tanda tangan cek pembelian cat itu," katanya lirih. "Warna Joyful Pink. Harganya dua juta per galon di kuitansi. Padahal harga aslinya cuma seratus ribu di toko bangunan kiloan."
"Korupsi?" tanyaku.
Pak Hadi tertawa pahit. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda kecil. Flashdisk berwarna perak.
Dia menjejalkannya ke tanganku. Tangannya dingin dan berkeringat.
"Ini bukan cuma soal ketertiban, Mas. Ini industri," bisiknya cepat. "Saya bendahara, tapi saya cuma boneka. Bu Ratna yang pegang kendali. Coba Mas cek file di dalamnya. Folder 'Anggaran Keamanan'."
"Isinya apa?"
"Tahun lalu, kita iuran warga total 500 juta untuk 'Peremajaan Lingkungan'. Mas tahu uangnya lari ke mana? Cuma 10% buat taman dan cat. Sisanya... 90% buat beli server data, kamera pengintai mikro, dan bayar 'konsultan' luar."
Aku menggenggam flashdisk itu erat-erat. "Konsultan?"
"Mereka jual data kita, Mas," suara Pak Hadi bergetar hebat sekarang. "Data pola konsumsi. Data kesehatan dari sampah. Data pembicaraan di dalam rumah. Dijual ke perusahaan asuransi, ke agensi iklan, ke entah siapa lagi. Kompleks ini bukan hunian. Ini peternakan data. Dan kita ternaknya."
Duniaku berputar. Jadi selama ini... semua aturan gila itu... jam malam, larangan gorden tertutup, pemilahan sampah... itu semua bukan demi moral. Itu demi kualitas data agar nilai jualnya tinggi.
"Pak Hadi!"
Sebuah suara membelah malam. Tajam. Datar.
Kami berdua tersentak menoleh ke arah samping rumah.
Di sana, berdiri di kegelapan, hanya diterangi cahaya layar ponsel yang menyala terang...
Dimas.
Ponselnya terangkat tinggi, lensa kameranya mengarah tepat ke kami berdua. Ke tangan Pak Hadi yang memegang kantong sampahku. Ke tanganku yang memegang flashdisk.
KLIK.
Cahaya flash menyilaukan mata.
"Dimas..." Pak Hadi mundur selangkah, wajahnya pucat pasi seperti mayat.
Dimas menurunkan ponselnya perlahan. Dia tidak terlihat marah. Dia tidak terlihat kaget. Dia tersenyum. Senyum tipis yang sangat, sangat sopan.
"Wah, Pak Hadi," kata Dimas pelan. "Malam-malam begini main ke rumah zona merah? Bawa sampah ilegal pula. Dan itu... apa yang Bapak kasih ke Mas Raka? Hadiah?"
"Dimas, dengar dulu..." suara Pak Hadi tercekat.
"Sudah terdokumentasi, Pak," potong Dimas santai sambil mengetik sesuatu di layarnya. "Melanggar protokol isolasi. Berkomplot dengan subjek dalam pembinaan. Dan... pencurian aset informasi?"
Dia menatap flashdisk di tanganku.
"Mas Raka," kata Dimas lembut. "Simpan saja barang itu. Nanti kita bahas harganya."
Dia berbalik dan berjalan pergi, bersiul pelan. Melodi lagu wajib nasional yang terdengar sumbang di telingaku.
Pak Hadi jatuh terduduk di tanah. Dia menatapku dengan mata yang sudah kehilangan harapan.
"Habis kita, Mas," bisiknya. "Habis."