Drama

Perang Dingin

15 January 2026

Pagi itu, sinar matahari memantul ganas di tembok rumahku yang baru dicat warna Joyful Pink. Warnanya begitu norak hingga membuat mataku sakit setiap kali keluar pintu.

Aku sedang duduk di ruang tamu, menatap flashdisk pemberian Pak Hadi yang tergeletak di meja. Benda kecil itu terasa panas, seolah memancarkan radiasi.

Bel rumah berbunyi.

Aku mengintip lewat jendela yang korannya sudah disobek paksa kemarin.

Dimas.

Dia berdiri santai, mengenakan rompi oranye bertuliskan SATGAS KETERTIBAN. Di tangannya ada tablet dan segelas kopi takeaway.

Aku membuka pintu. "Mau apa lagi? Mau cat genteng rumah saya jadi warna hijau stabilo?"

Dimas tersenyum. Senyum yang berbeda dari biasanya. Tidak ada keramahan palsu ala customer service. Senyum ini miring, tajam, dan penuh kemenangan.

"Boleh masuk, Mas? Ada inspeksi rutin instalasi listrik. Katanya daya di rumah ini sering naik-turun mencurigakan."

Itu kode. Dia ingin bicara tanpa didengar tetangga.

Aku menyingkir dari pintu. Dimas masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu—tanpa kuminta—dia berjalan ke arah pot bunga lidah mertua di sudut ruangan. Dia merogoh ke bawah pot, mengambil alat penyadap yang kutemukan sebelumnya, dan mematikannya.

Klik.

"Aman," katanya santai, lalu duduk di sofaku. "Bu Ratna pasang itu di semua rumah 'bermasalah'. Baterainya boros."

"Kamu mau laporin saya soal semalam?" tanyaku langsung. "Soal Pak Hadi?"

Dimas menyesap kopinya. "Lapor? Wah, kalau saya lapor sekarang, Mas Raka dan Pak Hadi sudah dijemput tim keamanan pusat. Pak Hadi pasti langsung kena serangan jantung kalau diseret ke Re-Education Camp."

Dia menatapku lekat.

"Saya nggak lapor. Belum."

"Apa maumu?"

Dimas meletakkan tabletnya di meja. Layarnya menyala, menampilkan foto Pak Hadi yang sedang memegang kantong sampah dengan wajah ketakutan. Foto itu tajam, definisi tinggi.

"Saya bosan jadi kacung, Mas," kata Dimas pelan. "Bu Ratna pegang semua uang. Pak Budi pegang kuasa. Saya? Saya cuma tukang foto dan tukang pasang bug. Saya mau naik pangkat. Saya mau jadi Koordinator Wilayah."

"Terus?"

"Untuk naik pangkat, saya butuh prestasi besar. Menangkap pencuri sampah itu prestasi kecil. Receh." Dimas mencondongkan tubuh ke depan. "Prestasi besar adalah membongkar jaringan radikal yang mengancam stabilitas kompleks."

Aku mulai mengerti arahnya, dan perutku mual.

"Kamu mau saya menjebak Maya?"

"Bingo," Dimas menjentikkan jari. "Maya itu target utama Bu Ratna. Dia keras kepala, tidak mau ikut aturan, dan—ini yang Bu Ratna takutkan—dia punya pengaruh. Kalau Maya dibiarkan, warga lain bakal ikut membangkang."

"Maya nggak salah apa-apa!"

"Di sini, 'salah' itu cuma masalah narasi, Mas," potong Dimas dingin. "Saya butuh bukti bahwa Maya sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya. Makar. Sabotase. Atau... asusila."

Dia menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.

"Ini kamera kancing. Mas Raka pasang ini saat ngobrol sama Maya. Pancing dia bicara jelek soal Bu Ratna. Pancing dia ngomong soal rencana kabur atau melawan. Rekam semuanya."

"Kalau saya tolak?"

Dimas mengetuk layar tabletnya. Foto Pak Hadi membesar.

"Foto ini masuk ke grup WA RT dalam lima detik. Pak Hadi dipecat, dipermalukan, dan mungkin... dipidana karena penggelapan aset (sampah itu aset, ingat?). Dan Mas Raka? Mas Raka akan diusir permanen. Sertifikat rumah hangus."

Aku menatap kotak hitam itu. Lalu menatap wajah Dimas yang masih muda tapi matanya sudah mati rasa.

Ini bukan lagi soal tetangga yang menyebalkan. Ini perang.

"Berapa lama?" tanyaku parau.

"Tiga hari. Saya butuh footage bagus sebelum Rapat Besar hari Sabtu." Dimas berdiri, merapikan rompinya. "Ingat, Mas. Kita ini sama-sama korban sistem. Bedanya, saya mau jadi supir, Mas masih mau jadi penumpang."

Dia menyalakan kembali alat penyadap di pot bunga. Bip.

"Terima kasih kerjasamanya, Mas Raka!" katanya keras-keras dengan nada ceria yang dibuat-buat, untuk didengar oleh mikrofon itu. "Listriknya sudah aman. Jangan lupa bayar iuran tepat waktu ya!"

Dia keluar, meninggalkanku sendirian di ruang tamu yang hening.

Aku menggenggam kotak kamera itu sampai tanganku sakit.

Tiga hari. Aku harus mengkhianati satu-satunya teman yang kumiliki di neraka ini, atau membiarkan orang tua yang membantuku hancur lebur.

Aku mengambil flashdisk Pak Hadi. Aku mencolokkannya ke laptop yang sengaja tidak kusambungkan ke internet.

Folder: ANGGARAN KEAMANAN.

Folder: DATA BIOMETRIK WARGA.

Folder: SKEMA PENGGUSURAN TAHAP 2.

Aku membuka folder terakhir. Sebuah peta digital muncul. Peta kompleks kami.

Blok C—blok tempatku, Maya, dan Pak Hadi tinggal—ditandai dengan warna merah. Ada keterangan kecil di bawahnya: Target Demolisi (Penghancuran) - Q3 2026. Peruntukan: Mall & Apartemen Mewah.

Darahku mendidih.

Bu Ratna tidak sedang mencoba memperbaiki kami. Dia sedang mencoba mengusir kami. Semua aturan gila, sanksi sosial, warna cat norak, blokade sampah... itu semua adalah taktik pressure. Dia ingin kami tidak betah. Dia ingin kami jual murah dan pergi, supaya dia bisa meratakan tanah ini dan membangun mall.

Dimas salah. Dia pikir dia pemain catur. Padahal dia cuma bidak, sama sepertiku. Jika blok ini digusur, Dimas juga akan kehilangan pekerjaannya.

Aku menutup laptop. Napasku memburu, tapi pikiranku jernih.

Aku tidak akan merekam Maya untuk Dimas.

Dan aku tidak akan membiarkan Pak Hadi diekspos.

Aku mengambil ponselku. Aku mengirim pesan ke Maya. Bukan lewat WhatsApp, tapi lewat fitur chat di aplikasi game catur online yang pernah kami mainkan iseng-iseng dulu. Satu-satunya jalur yang mungkin belum mereka pantau.

Raka (Knight_Move): Malam ini. Jam 2 pagi. Bawa 'ayam'. Kita butuh kekacauan.

Lalu aku melihat ke arah kamera kancing pemberian Dimas.

"Oke, Dimas," gumamku. "Kamu mau footage? Aku akan kasih kamu film blockbuster."

Aku mulai menyusun rencana. Aku akan menggunakan ketamakan Dimas, ketakutan Pak Hadi, dan keberanian Maya untuk meledakkan sistem ini dari dalam.

Perang dingin sudah selesai. Sekarang waktunya membakar sesuatu.