Drama

Tamu yang Tidak Diundang

15 January 2026

Pukul 02.00 pagi. Kompleks sunyi seperti kuburan mewah.

Aku dan Maya berjongkok di balik pagar tanaman rumahku yang berwarna pink norak. Di tangan Maya, ada sebuah keranjang anyaman tertutup kain. Di dalamnya, terdengar suara krok-krok pelan.

"Kamu yakin ini akan berhasil?" bisik Maya.

"Dimas butuh tontonan, kita kasih tontonan," jawabku. "Tujuannya bukan untuk menyakiti siapa pun. Kita cuma mau bikin sensor gerak dan suara mereka gila. Kalau satu ayam dilepas, alarm akan bunyi, satgas akan bingung mengejar target yang kecil dan lincah. Itu akan membuktikan sistem keamanan mereka konyol."

Ini adalah rencanaku: Sabotase Saturasi. Jika sensor mendeteksi ancaman yang tidak bisa ditangkap (seekor ayam kampung yang panik), log data mereka akan penuh dengan error. Itu akan memberi celah bagi Pak Hadi untuk meretas masuk ke server utama nanti.

"Siap?" tanyaku.

Maya mengangguk. Dia membuka keranjang itu di celah pagar.

Seekor ayam jago berbulu merah-hitam melompat keluar. Ayam itu bingung sejenak, lalu mulai berjalan ke tengah jalan aspal yang mulus, mematuk-matuk di bawah cahaya lampu jalan LED.

Satu detik. Dua detik.

BIP.

Lampu jalan di atas ayam itu berubah warna dari putih menjadi merah berkedip.

BIP. BIP. BIP.

Suara sirine rendah mulai berdengung dari tiang listrik. Bukan suara keras, tapi suara frekuensi rendah yang membuat gigi ngilu.

SUARA ROBOTIK: Perhatian. Deteksi Objek Asing di Sektor C. Klasifikasi: Biologis Tak Teridentifikasi. Potensi: Kontaminasi.

Ayam itu kaget mendengar suara robot. Ia berkokok keras dan mulai berlari tak tentu arah.

KOK-KOK-PETOK!

Sensor suara menangkapnya. Sirine berubah menjadi melengking. Lampu-lampu rumah tetangga mulai menyala.

"Itu dia," bisikku. "Sekarang lihat satpam-satpam itu lari-lari mengejar ayam."

Tapi aku salah. Satpam tidak datang membawa jaring.

Pintu rumah Bu Ratna terbuka. Dia keluar, lengkap dengan gamis tidur sutra dan... megafon kecil yang entah kenapa selalu siap sedia.

Dia tidak terlihat bingung. Dia terlihat siap.

"WARGA CEMERLANG!" suaranya menggelegar memecah malam. "SIAGA SATU! ADA SERANGAN KLENIK!"

Aku ternganga. Klenik?

Warga mulai bermunculan keluar rumah. Bu Tuti, Pak RT, dan puluhan orang lainnya. Wajah mereka bukan wajah orang bangun tidur yang bingung. Wajah mereka tegang, mata mereka membelalak ketakutan yang tidak rasional.

"Lihat!" teriak Bu Ratna, menunjuk ayam yang sedang berlari panik di depan rumah Maya. "Ayam cemani! Itu ayam ritual! Maya sedang mencoba mengirim santet ke lingkungan kita!"

"Itu ayam kampung biasa!" teriakku dari balik pagar, lupa bahwa aku harusnya bersembunyi.

Tapi suaraku tenggelam.

"BAU MENYAN!" jerit Bu Tuti histeris, padahal yang tercium cuma bau sampahku yang belum diangkut. "Saya cium bau mayat!"

"Bersihkan! Bersihkan sebelum merasuk ke anak-anak!" teriak warga lain.

Situasi berubah dalam hitungan detik. Dari prank menjadi witch hunt (perburuan penyihir).

Dimas muncul dari kegelapan sambil memegang kamera. Dia tidak merekam ayamnya. Dia merekam Maya yang berdiri terpaku di terasnya. Dimas tersenyum padaku dari kejauhan, mengangkat jempol. Ini footage yang dia mau. Narasi: Maya si Dukun Santet.

"Serbu!" perintah Pak Budi.

Massa bergerak. Bukan ke arah ayam, tapi ke arah rumah Maya. Mereka membawa sapu, tongkat pel, dan—yang paling mengerikan—alat penyemprot hama.

"Jauhkan wabah ini!" teriak seorang bapak sambil menyemprotkan cairan putih berbau kimia keras ke arah wajah Maya.

"Berhenti!" aku melompat pagar, berlari menerobos kerumunan. "Kalian gila! Itu cuma ayam!"

Seseorang memukul punggungku dengan gagang sapu. "Diam kamu! Kamu anteknya!"

Aku jatuh tersungkur. Dari sudut mata, aku melihat ayam malang itu terpojok di dekat ban mobil Bu Ratna. Ayam itu mengepakkan sayap, ketakutan setengah mati.

Seorang petugas keamanan berseragam hitam melangkah maju. Dia tidak menangkap ayam itu. Dia mengangkat sepatu lars-nya yang berat.

KRAK.

Bunyi tulang patah terdengar jelas di sela teriakan warga.

Ayam itu berhenti bergerak. Darah segar mengalir, menodai paving block yang putih bersih.

Hening.

Semua orang berhenti berteriak. Mereka menatap darah itu.

Bu Ratna melangkah maju. Dia menatap bangkai ayam itu dengan tatapan jijik yang dibuat-buat, lalu menatap Maya yang sedang menangis sambil memegangi matanya yang perih terkena semprotan.

"Lihat," kata Bu Ratna dingin. "Darah. Sudah kuduga. Ini ritual pengorbanan yang gagal."

Dia menoleh ke warga.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu. Kita sudah lihat buktinya. Rumah nomor 14 bukan hanya tidak rapi. Rumah ini adalah sumber penyakit spiritual. Apakah kita mau membiarkan kanker ini tumbuh?"

"TIDAAAK!" jawab warga serempak, mata mereka kosong, seperti kerbau dicocok hidung.

"Mulai besok," kata Bu Ratna, "kita akan lakukan Deep Cleaning total pada blok ini. Dan Maya..." dia menatap Maya dengan senyum kemenangan, "...statusmu sekarang dinaikkan dari 'Dalam Pembinaan' menjadi 'Ancaman Biologis'."

Warga bubar dengan tertib. Mayat ayam itu dimasukkan ke kantong biohazard kuning oleh petugas. Petugas lain menyiram bekas darahnya dengan cairan pemutih sampai baunya menyengat hidung.

Dalam lima menit, jalanan kembali bersih. Kembali suci.

Aku merangkak mendekati Maya. Dia gemetar hebat, kulitnya memerah karena cairan kimia tadi.

"Mereka membunuhnya, Raka," isaknya. "Mereka membunuhnya seolah itu sampah."

Aku memeluk Maya di tengah jalan yang kembali sunyi. Di seberang, Dimas menurunkan kameranya, wajahnya puas.

Rencanaku gagal total. Aku ingin menunjukkan betapa konyolnya sistem ini. Tapi malam ini aku belajar satu hal: Sistem ini tidak konyol. Sistem ini mematikan.

Dan Bu Ratna? Dia bukan sekadar gila hormat. Dia adalah sosiopat yang bisa mengubah seekor ayam menjadi alasan untuk pembantaian.

Aku menatap sisa noda pemutih di aspal. Dendam di dadaku bukan lagi api kecil. Ia sudah menjadi kebakaran hutan.

"Kita tidak bisa pakai cara halus lagi, May," bisikku. "Mereka mau perang? Kita kasih perang."