Gerbang utama yang macet itu menjadi alasan sempurna bagi Bu Ratna.
Pukul 06.00 pagi, alih-alih memanggil tukang las untuk membuka gerbang yang 'rusak', sirene darurat berbunyi dari pos satpam. Suaranya melengking panjang, membangunkan seluruh warga yang semalam tidur gelisah.
PENGUMUMAN DARURAT.
Suara Bu Ratna terdengar lewat pengeras suara masjid kompleks—akses yang selama ini jarang dipakai kecuali untuk adzan.
"Assalamualaikum, Warga Cemerlang. Mohon perhatian. Dikarenakan adanya indikasi sabotase anarkis pada sistem keamanan gerbang utama, dan demi melindungi warga dari ancaman luar yang mungkin menyusup..."
Dia memberi jeda dramatis.
"...Maka mulai detik ini, Perumahan Berkarakter dinyatakan dalam status LOCKDOWN DARURAT hingga perbaikan selesai dan pelaku tertangkap. Tidak ada yang boleh masuk atau keluar."
Aku mengintip dari balik jendela yang pecah. Warga berkumpul di jalan, wajah mereka panik.
"Satgas Keamanan akan melakukan patroli 24 jam. Mohon warga tetap tenang di dalam rumah. Suplai logistik akan dikoordinasikan oleh pengurus."
Ini bukan perlindungan. Ini penyanderaan.
Siang harinya, panas matahari terasa memanggang atap rumahku. AC mati. Kipas angin mati. Kulkas mati.
Bukan karena pemadaman bergilir PLN. Listrik di rumah tetangga kiri-kanan menyala terang benderang. AC mereka menderu nyaman.
Hanya rumahku, rumah Maya, dan rumah Pak Hadi yang mati listrik.
Aku mencoba menaikkan saklar MCB di meteran depan. Klik. Tetap mati.
"Diputus dari pusat gardu kompleks," suara Pak Hadi terdengar dari balik pagar tanaman. Dia duduk di terasnya, berkipus dengan kardus bekas. Keringat membasahi kemejanya.
"Mereka mau kita mati kepanasan?" tanyaku geram.
"Mereka mau kita menyerah," jawab Pak Hadi tenang. "Tanpa listrik, kita tidak bisa nge-charge HP. Tanpa HP, kita tidak bisa merekam, tidak bisa lapor keluar, dan tidak bisa komunikasi. Isolasi total."
Aku melihat ke arah rumah Maya. Pintunya tertutup rapat. Aku khawatir. Maya punya stok makanan di kulkas yang sekarang pasti mulai membusuk.
Sore harinya, patroli dimulai.
Bukan satpam berseragam. Yang berpatroli adalah warga biasa yang direkrut menjadi 'Relawan Ketertiban'. Bapak-bapak yang biasanya menyapa ramah, kini berjalan beriringan membawa tongkat bisbol dan senter besar. Lengan mereka dilingkari pita merah.
Mereka berhenti di depan rumahku. Menyorotkan senter ke jendela gelap, lalu tertawa keras-keras.
"Panas ya, Mas?" teriak salah satu dari mereka—Pak RT blok sebelah. "Makanya, kalau punya rumah itu dirawat, jangan dipakai buat sarang pemberontak!"
Mereka tidak menyerang fisik. Mereka melakukan teror mental. Mereka ingin aku tahu bahwa aku dikepung.
Malam turun membawa kegelapan yang pekat. Rumahku gulita. Lilin adalah barang mewah yang harus dihemat.
Aku mengendap-endap keluar lewat pintu belakang, melompati pagar pembatas menuju rumah Maya. Aku membawa sisa roti tawar dan sebotol air mineral besar—satu-satunya stok yang kupunya.
Maya duduk di lantai ruang tamu, memeluk lutut. Gelap. Hanya ada cahaya bulan yang masuk dari ventilasi.
"Raka?" bisiknya, suaranya serak.
"Makan ini," aku menyodorkan roti.
Maya menerimanya dengan tangan gemetar. "Airku habis. Keran air mati. Pompa listriknya kan mati."
Aku mengumpat dalam hati. Mereka mematikan air juga. Ini percobaan pembunuhan perlahan.
"Kita harus keluar malam ini," kata Maya putus asa. "Kita panjat tembok belakang."
"Nggak bisa. Tembok belakang sudah dipasangi kawat berduri kemarin sore. Aku lihat tukangnya," kataku. "Dan ada drone yang terbang rendah."
Suara dengungan drone terdengar di luar, seperti nyamuk raksasa yang mengintai mangsa. Cahaya merah dari kameranya menyapu halaman rumah Maya, mencari tanda kehidupan.
Kami diam, menahan napas dalam gelap. Bersembunyi di rumah sendiri seperti tikus got.
"Bu Ratna bukan manusia," desis Maya. "Dia menikmati ini."
"Dia butuh lahan ini kosong," kataku, teringat peta di flashdisk Pak Hadi. "Semakin cepat kita hancur, semakin cepat dia dapat uangnya."
Tiba-tiba, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Bukan motor patroli. Motor yang mesinnya dimatikan mendadak.
Lalu suara langkah kaki berlari. Cepat.
PRANG!!!
Kaca jendela depan rumah Maya pecah berantakan. Sesuatu yang berat mendarat di lantai ruang tamu, menggelinding berhenti di dekat kaki kami.
Maya menjerit tertahan.
Aku menyalakan korek api dengan tangan gemetar. Cahaya api kecil menerangi benda itu.
Sebuah batu bata. Dibungkus kertas koran dan diikat karet gelang.
Aku mengambil batu itu, membuka bungkusannya. Ada tulisan spidol merah besar di atas kertas putih lusuh. Tulisannya kasar, seperti ditulis dengan amarah yang meluap:
PERGI ATAU MATI.
WARGA SUDAH MUAK.
MALAM INI PERINGATAN. BESOK API.
Aku menatap Maya. Wajahnya pucat pasi diterangi nyala korek api yang bergoyang.
"Mereka akan membakar rumah ini," bisik Maya. "Mereka akan membakar kita hidup-hidup dan menyebutnya 'kecelakaan akibat lilin'."
Korek api di tanganku padam, menyisakan bau belerang dan ketakutan yang mencekik.
Di luar, terdengar tawa samar-samar dari pos ronda. Mereka sedang merayakan ketakutan kami.
"Besok," kataku dalam gelap, suaraku dingin dan keras. "Besok kita tidak akan bertahan lagi. Besok kita ambil alih kendali."
"Caranya?"
"Kita matikan satu-satunya hal yang memberi Bu Ratna kuasa," jawabku. "Kita matikan listrik seluruh kompleks."