Drama

Penyamaran

15 January 2026

Bau bensin mulai tercium dari halaman depan.

Pukul 02.00 dini hari. "Relawan Ketertiban" di luar sana tidak main-main dengan ancaman mereka. Mereka sedang menyiapkan api unggun, dan rumah kami adalah kayu bakarnya.

"Raka," bisik Maya, mencengkeram lenganku di kegelapan ruang tamu. "Mereka menuang sesuatu di pagar."

"Aku tahu," kataku sambil mengikat tali sepatu bot hiking-ku yang sudah lama tak terpakai. "Itu sebabnya aku harus pergi sekarang. Kalau listrik mati, kamera mati, lampu jalan mati. Mereka akan panik, dan kita punya kesempatan lari."

Aku mengenakan pakaian serba hitam. Wajahku kucoreng dengan arang sisa pembakaran sampah di belakang rumah.

"Lewat mana?" tanya Maya. "Gerbang depan dijaga. Tembok belakang ada kawat berduri."

"Bawah," jawabku.

Aku menunjuk lubang kontrol selokan di area jemuran belakang.

Kompleks ini membanggakan sistem drainase tertutup yang "higienis dan tak terlihat". Pipa beton berdiameter satu meter yang mengalirkan air kotor seluruh warga menuju sungai di luar kompleks.

Itu satu-satunya jalan yang tidak dipasangi CCTV.

"Tunggu sinyalku," kataku pada Maya. "Begitu lampu mati, lari ke rumah Pak Hadi. Dia punya pintu rahasia di gudang yang tembus ke jalan kampung belakang."

Aku membuka tutup beton itu. Bau busuk menyeruak. Bau kotoran, sabun, dan dosa-dosa warga yang disembunyikan.

Aku turun.

Merangkak di dalam selokan kompleks elit ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang kubayangkan. Gelap gulita. Tanganku menyentuh lendir licin di dinding beton. Tikus-tikus seukuran lengan orang dewasa berlarian, mencicit kaget karena ada tamu tak diundang.

Di atas kepalaku, lewat celah-celah lubang drainase jalan (grill besi), aku bisa mendengar suara kehidupan di atas.

Di depan rumah Bu Tuti, aku mendengar dia sedang menelepon. "Iya, Jeng. Besok pagi kita lihat 'pertunjukan'. Katanya sih mau ada pembersihan hama secara api." Tawa kecil yang sopan.

Di pos ronda, aku mendengar suara Dimas. "Pastikan semua akses terkunci. Bu Ratna mau live report jam 7 pagi. Latar belakangnya harus... dramatis."

Aku terus merangkak. Lututku perih, napasku sesak oleh gas metana.

Tujuanku adalah Pos Satpam Utama. Di sana ada panel listrik induk (Main Distribution Panel) yang mengontrol seluruh aliran daya kompleks.

Setelah dua puluh menit yang terasa seperti selamanya, aku melihat cahaya dari celah grill di atasku. Aku berada tepat di bawah Pos Satpam.

Aku mendorong grill besi itu pelan-pelan. Berat. Tapi beruntung, tidak dikunci.

Aku menyembul keluar di area semak-semak hias di belakang pos. Tidak ada orang. Satpam sedang sibuk berpatroli di blok kami, meninggalkan pos ini kosong. Mereka terlalu percaya diri dengan sistem otomatis.

Aku mengendap masuk lewat pintu belakang pos yang tidak terkunci.

Ruangan itu dingin, penuh layar monitor. Dindingnya dipenuhi layar CCTV yang menampilkan setiap sudut kompleks. Rumahku terlihat di layar utama, dikelilingi bapak-bapak yang memegang obor.

Tapi ada satu layar yang menarik perhatianku. Layar yang menampilkan Interior Rumah Bu Ratna.

Di layar itu, Bu Ratna terlihat sedang duduk di sofa mewahnya, membaca buku dengan anggun.

Aku mengerutkan kening. Aneh.

Aku menoleh ke layar lain yang menampilkan data Konsumsi Listrik Real-Time.

Setiap rumah memiliki grafik batang yang naik turun. Rumah Bu Tuti tinggi (AC nyala). Rumah Pak Budi tinggi.

Rumah Bu Ratna (Blok A-1)... 0.00 kWh.

Garis datar. Mati total.

Aku menatap layar CCTV Bu Ratna lagi. Gambarnya jernih. Tapi... jam dinding di latar belakangnya tidak bergerak. Detik jarumnya diam di angka 12.

Itu bukan siaran langsung. Itu rekaman looping.

Aku beralih ke komputer admin di meja. Dengan tangan gemetar dan kotor oleh lumpur selokan, aku mengetikkan password standar yang pernah kulihat Dimas pakai: AdminBerkarakter123.

Masuk.

Aku membuka folder DATA PENGHUNI.

Nama: Ratna Sarumpaet (Alias)

Status: UNIT KOSONG / SHOW UNIT

Keterangan: Rumah Blok A-1 digunakan sebagai Server Farm dan Broadcast Studio. Tidak dihuni manusia. Dikendalikan jarak jauh dari Kantor Pusat Developer.

Darahku berdesir.

Bu Ratna tidak ada.

Bu Ratna—sosok ibu-ibu yang selalu tersenyum, menyapa, menegur pot bunga kami—tidak tinggal di sini. Mungkin dia bahkan bukan pemilik. Dia adalah pegawai yang datang pagi, memerankan peran "Ketua Paguyuban", lalu pulang ke rumah aslinya di tempat lain sore harinya. Atau lebih buruk... dia mengendalikan semua teror ini dari layar komputer di kantor ber-AC yang jauh dari sini.

Kami diteror oleh hantu.

Kami takut pada seseorang yang tidak punya risiko kehilangan apa pun jika kompleks ini terbakar, karena dia tidak tidur di sini.

"Bangsat," desisku.

Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke Pos. Satpam kembali.

Tidak ada waktu untuk menyalin data. Aku harus mematikan semuanya.

Aku berlari ke panel listrik besar di dinding belakang. Ada tuas merah besar bertuliskan: EMERGENCY CUT-OFF.

Aku memegang tuas itu dengan kedua tangan.

Di layar CCTV, aku melihat salah satu "relawan" di depan rumahku mulai menyulut obor. Maya dalam bahaya.

"Selamat malam, Kompleks Berkarakter," gumamku.

Aku menarik tuas itu sekuat tenaga ke bawah.

KLAK!

Suara mesin mati mendadak terdengar. Dengung AC berhenti. Lampu-lampu indikator di pos padam. Layar-layar monitor mati satu per satu, menelan wajah palsu Bu Ratna ke dalam kegelapan.

Di luar jendela, aku melihat lampu jalan di seluruh kompleks padam serentak.

Gelap gulita.

Teriakan kaget terdengar dari kejauhan.

"MATI LAMPU!"

"WOI! GELAP!"

"Senter! Mana senter?!"

Kepanikan melanda. Dalam gelap, semua orang sama. Tidak ada warga teladan, tidak ada warga bermasalah. Hanya manusia yang takut kegelapan.

Aku tersenyum dalam gelap.

Sekarang, permainan jadi adil.

Aku menyelinap keluar dari pos, kembali ke kegelapan malam, menyatu dengan bayang-bayang. Saatnya menjemput Maya dan Pak Hadi. Saatnya berburu hantu.