Drama

Kebenaran yang Telanjang

15 January 2026

Kegelapan itu total. Dan di dalam kegelapan, hierarki runtuh.

Begitu tuas listrik kumatikan, teriakan-teriakan "bakar!" di depan rumahku berubah menjadi jeritan panik. Tanpa lampu jalan, tanpa sorot lampu taman, para "Relawan Ketertiban" itu hanyalah sekumpulan bapak-bapak pengecut yang buta arah.

Aku menyelinap keluar dari semak-semak Pos Satpam, berlari dalam gelap menuju rumah Pak Hadi. Mataku yang sudah terbiasa dengan kegelapan selokan bisa melihat siluet mereka yang berlarian saling tabrak.

"Siapa itu?!"

"Senter! Nyalakan senter HP!"

"Dimas! Lapor Bu Ratna!"

Aku sampai di pintu samping rumah Pak Hadi. Maya dan Pak Hadi sudah menunggu di sana, memegang lilin kecil.

"Raka!" Maya memelukku singkat. Bajuku bau lumpur dan selokan, tapi dia tidak peduli. "Kamu berhasil."

"Listrik mati. CCTV mati. Kunci pintu magnetik mati," kataku cepat, napasku memburu. "Sekarang waktunya kita tunjukkan pada mereka siapa yang sebenarnya mereka sembah."

"Mereka masih bawa obor di depan, Raka," kata Pak Hadi cemas. "Mereka marah."

"Mereka tidak marah, Pak. Mereka takut," jawabku. "Dan orang takut butuh pemimpin. Malam ini, kita yang memimpin."

Aku mengambil megafon kecil milik Pak Hadi—sisa perlengkapan senam lansia tahun lalu.

"Ikut aku," perintahku.

Kami berjalan keluar menuju jalan utama. Cahaya senter dari puluhan warga menyilaukan mata. Mereka berkumpul di depan rumahku yang gelap gulita, bingung harus berbuat apa.

"Warga Cemerlang!" teriakku lewat megafon. Suaraku menggema, memecah kepanikan.

Semua senter menoleh ke arahku. Aku berdiri di atas kap mobil patroli yang parkir sembarangan. Maya dan Pak Hadi berdiri di sampingku.

"Itu dia! Si perusuh!" teriak Pak RT blok sebelah. "Dia yang matikan lampu! Tangkap!"

"TANGKAP SAYA!" tantangku. "Tapi sebelum kalian bakar rumah saya, ada satu hal yang harus kalian lihat. Sesuatu yang Bu Ratna tidak mau kalian tahu."

"Jangan dengarkan dia! Dia pembangkang!" teriak Dimas dari kerumunan. Dia berusaha mendekat, tapi terhalang massa yang padat.

"Di mana Bu Ratna, Dimas?" tanyaku lantang. "Kenapa saat kompleks gelap gulita begini, 'Ibu' kita yang tercinta tidak keluar menenangkan warga? Kenapa rumahnya gelap total padahal dia punya genset paling mahal?"

Warga mulai kasak-kusuk. Mereka menoleh ke arah rumah Blok A-1 di ujung jalan. Rumah paling besar. Rumah Bu Ratna. Gelap. Sunyi.

"Dia... mungkin sedang evakuasi," bela Dimas, tapi suaranya ragu.

"Dia tidak evakuasi," kataku dingin. "Karena dia tidak pernah ada di sana."

Aku melompat turun dari kap mobil. "Kalian mau kebenaran? Ayo ikut saya ke Blok A-1. Kalau saya bohong, kalian boleh bakar saya di sana."

Aku berjalan membelah kerumunan. Anehnya, mereka memberiku jalan. Rasa penasaran mengalahkan rasa benci. Massa itu bergerak mengikutiku seperti gelombang air bah, menuju rumah sang Ratu.

Kami sampai di depan pagar tinggi rumah Bu Ratna. Biasanya, pagar ini terkunci rapat dengan sistem smart lock canggih.

Tapi tanpa listrik, magnet penguncinya mati.

Aku mendorong pagar besi berat itu. Krieeet. Terbuka dengan mudah.

"Mas Raka, ini pelanggaran properti!" teriak Dimas panik. Dia mencoba menahanku, tapi Pak Hadi menghalanginya dengan tubuh tuanya.

"Biarin, Dim," kata Pak Hadi tegas. "Biar kita lihat isinya."

Aku berjalan menuju pintu utama yang besar. Pintu jati ukiran Jepara. Aku memutar gagangnya. Terkunci manual.

"Dobrak," kataku pada beberapa bapak-bapak yang membawa linggis (yang awalnya mereka bawa untuk menghancurkan rumahku). "Ayo, Pak. Katanya kalian penjaga keamanan? Cek apakah pemimpin kalian selamat di dalam."

Bapak-bapak itu saling pandang, lalu dengan ragu menghantamkan linggis ke kunci pintu.

BRAK! Sekali.

BRAK! Dua kali. Pintu terbuka.

Kami menyerbu masuk dengan senter menyala.

Dan seketika, hening.

Tidak ada sofa kulit Italia. Tidak ada lampu kristal. Tidak ada karpet Persia. Tidak ada aroma kue kering yang biasa Bu Ratna ceritakan.

Rumah itu kosong.

Lantainya semen kasar tanpa keramik. Dindingnya batako tanpa cat.

Di tengah ruangan yang luas dan dingin itu, hanya ada jejeran meja besi panjang. Di atasnya, puluhan kotak hitam berkedip lemah (baterai cadangan). Server. Kabel-kabel berseliweran di lantai seperti ular.

Di sudut ruangan, ada sebuah meja kerja kecil dengan layar hijau (green screen) di belakangnya. Ada satu set kursi mewah dan rak buku palsu—properti yang biasa dipakai Bu Ratna saat melakukan video call atau siaran langsung.

"Apa... apa ini?" suara Bu Tuti bergetar. Dia menyorotkan senternya ke dapur.

Tidak ada kompor. Tidak ada kulkas. Hanya ada tumpukan kardus mi instan dan botol air mineral untuk teknisi.

"Ini bukan rumah," kataku, suaraku bergema di ruangan kosong itu. "Ini Studio. Ini Ruang Server."

Aku berjalan ke meja kerja, mengambil sebuah bingkai foto yang tergeletak. Foto Bu Ratna tersenyum bersama "suami dan anak-anaknya". Aku membalikkannya. Itu foto stok dari bingkai yang baru dibeli. Harganya masih tertempel di belakang.

"Bu Ratna tidak tinggal di sini," jelasku pada warga yang terpaku. "Dia pegawai pengembang. Dia datang jam 8 pagi, memerankan peran sebagai 'Ibu yang Peduli', membuat aturan-aturan gila supaya kalian merasa tidak betah, mengumpulkan data kalian lewat server ini, lalu pulang jam 5 sore ke rumah aslinya di Menteng atau Pondok Indah."

"Tapi... tapi dia selalu menyapa saya..." gumam seorang ibu, menangis.

"Itu naskah, Bu. Pekerjaan," kata Maya, muncul dari belakangku. Dia memegang sebuah dokumen yang dia ambil dari meja. "Lihat ini. Jadwal Rotasi Pemeran. Ratna Sarumpaet adalah nama karakter. Yang memerankannya bulan ini namanya... Siti Aminah."

Kertas itu berpindah tangan. Warga membacanya dengan tangan gemetar.

Dunia mereka runtuh.

Semua aturan "tata krama", semua "citra lingkungan", semua "kesopanan" yang mereka junjung tinggi sampai tega menyakiti tetangga sendiri... ternyata hanyalah skenario sinetron yang ditulis oleh perusahaan properti. Mereka bukan warga terhormat. Mereka adalah figuran gratisan.

Dimas mundur perlahan ke arah pintu, wajahnya pucat pasi. Dia tahu dia tamat.

"Dimas tahu," tunjukku. "Dia dibayar bonus untuk setiap warga yang kena denda atau pindah rumah."

Mata ratusan warga beralih ke Dimas. Mata yang tadi menatapku dengan benci, kini menatap Dimas dengan murka yang jauh lebih mengerikan.

"Bukan! Saya cuma..." Dimas tergagap.

"Tangkap dia," kata Pak RT blok sebelah, suaranya rendah dan berbahaya.

Saat massa menerjang Dimas, aku menarik Maya dan Pak Hadi keluar dari rumah hantu itu.

Kami berdiri di halaman, menghirup udara malam yang dingin.

Di dalam rumah kosong itu, terdengar suara barang-barang dibanting. Server-server itu dihancurkan. Layar hijau dirobek. Ilusi Kompleks Paling Bermoral sedang dihancurkan oleh tangan-tangan yang dulu memuja-muja kerapiannya.

Aku melihat ke langit. Bintang-bintang terlihat jelas karena tidak ada polusi cahaya lampu jalan.

"Rapi sekali," gumamku.

"Apa?" tanya Maya.

"Kehancurannya," jawabku. "Rapi sekali."