Drama

Kehancuran Citra

15 January 2026

Matahari terbit di Kompleks Berkarakter dengan cara yang tidak pernah terjadi sebelumnya: menyinari kekacauan yang jujur.

Garis polisi berwarna kuning melintang di depan rumah kosong Blok A-1. Truk polisi masih parkir di jalan utama. Pagar-pagar rumah yang biasanya tertutup rapat kini terbuka lebar. Warga duduk di trotoar, minum kopi dari gelas plastik, mengobrol dengan suara keras tanpa takut ditegur.

Jalanan kotor oleh batu, pecahan kaca, dan bekas ban.

Tapi bagiku, ini adalah pemandangan paling indah yang pernah kulihat. Kompleks ini akhirnya terlihat seperti tempat tinggal manusia, bukan maket arsitektur.

Aku sedang duduk di kap mobil patroli, bahuku diperban oleh petugas medis, ketika sebuah mobil Alphard putih mengilap masuk melalui gerbang yang rusak.

Mobil itu melaju pelan, melindas puing-puing dengan arogan, lalu berhenti tepat di depan kerumunan polisi.

Pintu terbuka otomatis. Turunlah seorang wanita.

Bu Ratna.

Dia mengenakan gamis sutra pastel yang sempurna, riasan wajah yang flawless, dan senyum yang... mengerikan. Senyum itu tidak goyah sedikit pun meski dia sedang berdiri di tengah reruntuhan kerajaannya.

"Assalamualaikum, Bapak-bapak, Ibu-ibu," sapanya lembut. Suaranya masih memiliki daya magis itu—tenang, berwibawa, ibu-ibu sekali. "Ada keramaian apa ini? Kenapa tidak dikoordinasikan dulu?"

Seorang perwira polisi mendekat. "Ibu Ratna Sarumpaet?"

"Betul, Pak. Saya Ketua Paguyuban di sini," jawabnya santai. "Saya kaget melihat Bapak-bapak berseragam masuk tanpa izin. Ini kawasan privat, Pak. Kami punya aturan tata krama sendiri."

"Kami menemukan server ilegal dan data curian di properti ini," kata polisi itu tegas.

Bu Ratna tertawa kecil. Renyah. "Ah, pasti salah paham. Itu data center untuk keamanan warga. Semuanya demi kebaikan bersama. Demi menjaga... kenyamanan."

Dia menoleh ke arah warga yang berkumpul. Matanya menyapu Bu Tuti, Pak Hadi, dan warga lain yang menatapnya dengan pandangan nanar.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu," katanya, merentangkan tangan. "Jangan biarkan orang luar merusak harmoni kita. Lihat sekeliling. Berantakan, kan? Kotor, kan? Apakah ini yang kalian mau? Hidup kumuh seperti orang tidak berpendidikan?"

Suasana hening sejenak. Kata-katanya menusuk rasa insecure warga yang sudah ditanam bertahun-tahun. Beberapa warga mulai menunduk, terlihat ragu.

"Ayo," bujuk Bu Ratna lembut. "Suruh bapak-bapak polisi ini pulang. Nanti kita rapikan lagi. Kita cat ulang. Kita lupakan malam ini seperti mimpi buruk. Kembali ke kehidupan yang nyaman, tertib... beradab."

Dia hampir berhasil. Dia hampir membuat mereka tunduk lagi.

Aku melompat turun dari kap mobil.

"Cukup sandiwaranya, Mbak Siti," kataku lantang.

Bu Ratna menoleh. Senyumnya retak sedikit. "Mas Raka. Masih emosional ya?"

Aku melempar sebuah map plastik ke kakinya. Itu dokumen yang diambil Maya dari dalam rumah semalam.

"Nama aslimu Siti Aminah," bacaku. "Aktris sinetron gagal tahun 90-an. Dikontrak oleh PT. Graha Sentosa sebagai 'Konsultan Citra'. Tugasmu bukan menjaga warga. Tugasmu menaikkan nilai jual tanah dengan cara mengusir penghuni lama secara halus."

Warga tersentak.

"Bohong!" desis Bu Ratna. Tapi suaranya kehilangan kelembutannya.

"Gaji bulananmu 50 juta plus bonus kalau ada warga yang pindah," lanjutku. "Rumahmu kosong. Suamimu fiktif. Anak-anakmu foto stok dari internet. Kamu bahkan nggak suka tinggal di sini. Di catatan harianmu kamu tulis: 'Warga Blok C udik semua, susah diatur, bikin pusing'."

Bu Tuti maju selangkah. "Ibu... Ibu bilang begitu?"

Bu Ratna mundur. Topengnya lepas. Wajahnya yang tadinya keibuan berubah menjadi wajah orang kota yang memandang jijik pada kotoran.

"Kalau iya kenapa?!" teriaknya tiba-tiba. Suaranya melengking cempreng, asli. "Kalian pikir kalian bisa ngurus diri sendiri?! Lihat kalian! Baru ditinggal semalam sudah kayak binatang! Saya yang bikin tempat ini mahal! Saya yang bikin kalian merasa elit!"

"Kami nggak butuh merasa elit," kata Pak Hadi pelan. "Kami butuh merasa di rumah."

"Rumah?!" Bu Ratna tertawa mengejek. "Ini aset investasi! Dasar orang-orang kampung!"

Dia berbalik, hendak masuk kembali ke mobil mewahnya.

"Tangkap dia, Pak!" teriak Pak Hadi pada polisi.

"Tunggu," tahanku. "Biarkan dia pergi. Tapi dia nggak akan pergi dengan gaya."

Aku menoleh ke Maya yang berdiri di dekat pos satpam. Maya mengangguk. Dia menarik tali terpal sebuah truk pikap tua yang parkir di sana—truk yang seharusnya mengangkut barang pindahan Maya hari ini, tapi kami ubah fungsinya.

"Ingat ayam yang Ibu bunuh di Bab 12?" teriakku. "Teman-temannya datang mau minta klarifikasi!"

Maya membuka bak truk.

Dan... kekacauan yang sebenarnya dimulai.

Bukan satu. Bukan dua. Tapi lima puluh ekor ayam kampung berhamburan keluar dari bak truk. Ayam-ayam itu lapar, stres, dan bingung.

Mereka berlari menyerbu jalanan. Berkokok. Mengepakkan sayap. Debu beterbangan.

"Aaaah!" Bu Ratna menjerit saat seekor ayam jago mendarat di kap mobil Alphard-nya dan mematuk kaca depan.

Dua ekor ayam lain masuk ke dalam mobil yang pintunya belum tertutup, membuat supir Bu Ratna panik dan melompat keluar.

"Usir! Usir binatang-binatang ini!" jerit Bu Ratna sambil mengibas-ngibaskan tas mahalnya ke arah ayam-ayam yang mengerubunginya.

Tapi ayam-ayam itu tidak peduli pada tas Hermes. Mereka tidak peduli pada citra. Mereka hanya peduli pada... mematuk.

Bu Ratna, sang Ratu Ketertiban, kini berlari-lari kecil menghindari patukan ayam di tengah jalan, hak sepatunya patah, rambutnya acak-acakan.

"Sangat tidak estetis!" teriak Dimas dari kejauhan, tertawa terbahak-bahak.

Warga meledak dalam tawa. Tawa yang lepas. Tawa yang menghancurkan rasa takut. Mereka melihat "hantu" yang selama ini mereka takuti ternyata hanyalah seorang wanita bergaji yang takut pada unggas.

Polisi akhirnya melangkah maju, menahan tawa, dan memborgol Bu Ratna yang sedang sibuk menepis bulu ayam dari wajahnya.

"Ibu Siti Aminah," kata polisi itu. "Anda ditahan atas tuduhan penipuan, penyadapan ilegal, dan... perbuatan tidak menyenangkan."

Bu Ratna digiring masuk ke mobil polisi, diiringi kokok ayam yang bersahut-sahutan.

Aku berdiri di samping Maya dan Pak Hadi.

Kompleks kami penuh tahi ayam. Baunya tidak enak. Suaranya bising.

Tapi pagi ini, udaranya terasa sangat segar.

"Raka," kata Maya, melihat ayam-ayam yang menguasai jalanan blok elit itu. "Gimana cara bersihin ini semua?"

Aku tersenyum. "Nanti kita pikirkan. Yang penting, jangan ada yang bikin laporan di grup WA."