Drama

Manusia Biasa

15 January 2026

Sebulan setelah "Revolusi Ayam", Kompleks Paling Bermoral tidak lagi terlihat seperti brosur properti.

Ia terlihat seperti... perumahan.

Rumput di halaman Pak RT blok sebelah sudah tumbuh agak panjang karena dia malas memotongnya, dan tidak ada yang menegur. Di depan rumah Bu Tuti, jemuran pakaian dalam berjejer warna-warni, melambai ditiup angin tanpa rasa malu.

Di jalan utama, aspal yang dulunya suci kini dihiasi coretan kapur anak-anak bergambar kotak-kotak engklek dan gawang sepak bola imajiner.

Aku duduk di teras rumahku. Tembok pagarku masih berwarna Shocking Pink norak—sisa hukuman dari rezim Bu Ratna. Aku tidak mengecat ulangnya. Bagiku dan Maya, warna norak ini sekarang adalah tugu peringatan. Tanda bahwa kami pernah melawan dan menang.

Kakiku naik ke atas meja teras. Sandal jepitku kotor. Di tanganku ada kopi hitam dan pisang goreng yang minyaknya menembus kertas pembungkus.

"Mas Raka!"

Dimas lewat naik motor. Dia tidak lagi memakai seragam oranye "Satgas Ketertiban". Dia memakai kaos partai yang agak kedodoran dan celana pendek. Di jok motornya ada keranjang besar.

"Woi, Dim! Jualan apa?" teriakku.

Dimas berhenti, menyengir lebar. Wajahnya yang dulu tegang dan penuh perhitungan, sekarang terlihat santai.

"Frozen food, Mas! Nugget, sosis, bakso. Buat stok sarapan. Mau pesen? Diskon buat alumni pejuang gorong-gorong."

Aku tertawa. Dimas, si oportunis sejati. Setelah Bu Ratna ditangkap dan perusahaan pengembang kabur karena skandal penyadapan, Dimas kehilangan pekerjaan sebagai admin. Tapi dia selamat dari amuk massa berkat pembelaanku. Sekarang, dia banting setir jadi pedagang keliling.

"Nanti aku pesen sosisnya. Taruh aja di grup," kataku.

"Siap! Grup yang mana nih? Grup lama apa baru?"

"Yang baru lah. Grup lama isinya hantu," jawabku.

Dimas tertawa, membunyikan klakson bebeknya, lalu melaju pergi.

Maya keluar dari rumahnya. Dia membawa mangkuk besar berisi sayur lodeh. Rambutnya dicepol asal-asalan, wajahnya tanpa make-up.

"Titipan buat makan siang," katanya, menaruh mangkuk itu di mejaku, tepat di sebelah kakiku yang masih naik. Dulu, ini pelanggaran etika berat. Sekarang, ini cuma tetangga yang berbagi makanan.

"Makasih, May. Tumben masak?"

"Lagi pengen. Eh, kamu liat Pak Hadi?"

Kami menoleh ke arah rumah Pak Hadi. Orang tua itu sedang sibuk di bekas Pos Satpam—yang kini sudah ditinggalkan oleh satpam sewaan pengembang.

Pak Hadi dan beberapa bapak-bapak sedang memaku papan kayu baru di atas pos itu. Bukan papan pengumuman aturan.

Papan itu bertuliskan: POS RONDA & DOMINO WARGA.

"Akhirnya," kata Maya sambil tersenyum. "Tempat itu jadi berguna."

"Iya. Nggak ada lagi layar CCTV. Cuma ada meja gaple dan radio dangdut," tambahku.

Suasana damai ini terasa aneh pada awalnya. Selama berminggu-minggu, kami mengalami sindrom phantom vibration—merasa ponsel bergetar karena teguran Bu Ratna, atau merasa cemas saat menjatuhkan sendok. Tapi pelan-pelan, trauma itu sembuh. Digantikan oleh kenyamanan yang jorok tapi jujur.

Aku mengambil ponselku. Membuka aplikasi WhatsApp.

Grup lama "Warga Cemerlang – RT 04" masih ada. Pesan terakhir di sana adalah dari Bu Ratna, sebulan lalu: "Jangan biarkan orang luar merusak harmoni kita."

Grup itu sunyi. Seperti kuburan digital.

Aku menekan tombol Exit Group.

Anda keluar dari Warga Cemerlang.

Lalu aku membuka grup baru yang dibuat Pak Hadi seminggu lalu. Namanya: WARGA BIASA AJA.

Isinya kacau balau.

Bu Tuti: [Gambar GIF Kucing Joget] "Selamat pagi ibu-ibuuu, yang mau arisan tolong list ya."

Pak RT Sebelah: "Info: Kucing siapa berak di depan rumah saya? Tolong disiram ya, baunya sedap betul."

Dimas: "PROMO SOSIS BAKAR BELI 2 GRATIS 1!! MERAPAT!!"

Pak Hadi: [Forward Berita Hoax Politik] "Waspada isu terkini..."

Maya: "Pak Hadi, itu hoax Pak. Jangan disebar wkwk."

Tidak ada format laporan. Tidak ada bahasa baku. Tidak ada "izin melintas". Hanya sekumpulan manusia yang saling melempar stiker, jualan, dan protes soal kotoran kucing.

Aku tersenyum. Jempolku mengetik pesan pertamaku di grup baru itu.

Aku: Ijin share info: Ayam goreng di pengkolan depan enak banget. Yuk yang mau nitip.

Dalam hitungan detik, balasan masuk bertubi-tubi.

"Titip dada dua!"

"Paha atas satu, Mas!"

"Jangan pake sambel!"

Aku meletakkan ponsel.

Di seberang jalan, seekor ayam jago—salah satu veteran perang malam itu—berjalan santai melintasi aspal, lalu membuang kotoran tepat di tengah jalan.

Tidak ada yang lari mengejarnya. Tidak ada sirine berbunyi.

Aku membiarkannya. Maya membiarkannya.

Kami hanya duduk, menikmati kopi, dan membiarkan dunia menjadi sedikit kotor. Karena kami tahu, di balik kotoran itulah, kehidupan yang asli sedang berjalan.

"Rapi itu membosankan ya, May?" tanyaku.

Maya menyeruput kopinya, matanya menyipit menatap matahari pagi.

"Banget," jawabnya. "Mendingan berantakan, tapi punya kita sendiri."

[TAMAT]