Suara pertama yang kembali ke dunia adalah bunyi runtuhan kecil.
**krak
Bunyi pelan bata tua yang akhirnya menyerah pada gravitasi setelah sekian lama tergantung tanpa izin waktu.
Mia terbangun dengan napas tersedak.
Paru-parunya terasa perih, seolah ia baru saja muncul dari dalam air setelah tenggelam terlalu lama. Abu hitam menempel di rambut dan wajahnya.
Cahaya putih itu sudah menghilang, meninggalkan dunia dalam warna kelabu yang asing, seperti foto lama yang dicuci terlalu sering.
Ia langsung mencari satu hal.
"Sarah...?"
Suaranya serak. Hampir tidak terdengar.
Tangannya meraba-raba lantai hangus di sekelilingnya. Tidak ada kehangatan. Tidak ada cahaya. Hanya ada dingin dan debu.
Reruntuhan toko antik itu kini benar-benar mati.
Tidak ada bayangan yang bergerak. Tidak ada bisikan. Tidak ada pantulan di udara kosong. Pecahan kaca yang tersisa hanyalah kaca biasa yang kusam, buram, tak memantulkan apa pun selain cahaya pagi yang mulai merembes di antara awan.
Mia lalu duduk perlahan.
Dadanya berdenyut nyeri. Tato di lengannya telah padam sepenuhnya, hanya menyisakan garis hitam pucat, seperti tinta lama yang hampir pudar. Ia menatap lengannya lama, seolah menunggu sesuatu menyala kembali.
Namun, tidak ada.
"Sarah…" gumamnya, lebih lirih.
Angin akhirnya kembali berhembus dengan pelan dan ragu. Ia membawa bau tanah basah dan sisa arang, tapi tidak lagi membawa rasa asing yang menusuk tengkuk. Tidak ada tekanan di udara. Tidak ada perasaan diawasi.
Kutukan itu… benar-benar pergi.
Kesadaran itu datang bersamaan dengan rasa kehilangan yang menghantam dada Mia tanpa ampun.
Ia berdiri dengan kaki gemetar, berjalan tertatih ke tengah cekungan gosong tempat Sarah terakhir berdiri. Di sana, lantai retak membentuk pola tak beraturan, bekas simbol ritual yang kini telah mati.
Di tengahnya, ada sesuatu yang tertinggal.
Sebuah kalung kecil. Rantai tipisnya putus di satu sisi, liontin kaca bundar di ujungnya buram dan retak. Itu adalah kaca biasa, yang dulu pernah memantulkan wajah Sarah setiap kali ia menunduk.
Mia berlutut dan mengambilnya dengan tangan gemetar. Begitu jari-jarinya menyentuh kaca itu, dadanya terasa sesak.
"Bodoh," gumamnya, air mata Mia akhirnya jatuh. "Kenapa harus lo yang pergi…"
Tidak ada jawaban.
Tidak ada gema.
Tangisnya tenggelam di antara reruntuhan yang tak lagi peduli.
Beberapa meter dari sana, sesuatu tiba-tiba bergerak.
Mia tersentak, refleks mengangkat kepala. Tangannya otomatis mengepal, siap menarik sisa energi yang bahkan ia sadari dengan getir sudah tidak ada lagi.
Di balik tumpukan balok hangus, ada sosok yang berusaha bangkit.
Reno.
Tubuhnya terlihat… salah.
Ia masih hidup. Mia bisa melihat dadanya naik turun dengan napas berat. Tapi ada bagian dari dirinya yang seperti hilang. Bayangan di bawah kakinya terlalu tipis, nyaris tidak ada. Matanya kosong, bukan karena marah, bukan karena sakit, tapi seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang selama ini menopangnya untuk tetap berdiri.
Reno terbatuk, lalu tertawa kecil. Suara tawanya pecah, tanpa nada.
"Lucu," katanya serak. "Gue masih di sini."
Mia berdiri perlahan, amarah dan duka bercampur menjadi satu rasa pahit yang membuat kepalanya pening. "Lo mungkin masih hidup, tapi lo gak menang sama sekali."
Reno mengangkat kepala, menatapnya. "Menang?" Ia terkekeh. "Enggak ada yang menang di cerita ini."
Ia berusaha berdiri, namun gagal. Lalu ia bersandar pada reruntuhan bata. "Cermin itu… beneran hilang, ya?"
"Iya," jawab Mia datar. "Dan gak bakal balik."
Reno memejamkan mata. Untuk sesaat, ia terlihat sangat tua. "Ayah ngabisin hidupnya buat itu."
"Dan lo malah ngelanjutin sampai makan korban," balas Mia sambil mengepalkan tangannya erat-erat. "Kalau aja lo gak berambisi buat menyempurnakan cermin itu, Sarah pasti masih ada di sini."
Reno tidak membantah.
"Gue kira…" Ia terdiam, menelan ludah. "Gue kira kalau berhasil, semua bakal jadi lebih mudah."
Mia mendekat satu langkah. "Terus sekarang?"
Reno membuka mata. Di sana tidak lagi terlihat semangat yang menyala bagai api. Hanya tersisa kehampaan. "Sekarang… gue merasa kosong."
Ia tertawa lagi, kali ini tanpa suara. "Mungkin ini hukuman yang lebih kejam."
Lalu sirene tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
Pertama samar, lalu semakin jelas.
Reno tersenyum tipis. "Kayaknya dunia luar akhirnya ngejar kita."
Mia tidak menjawab. Ia menatap Reno cukup lama, lalu berbalik. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Tidak ada kemenangan yang bisa dirayakan.
Saat langkah kaki polisi dan warga mulai terdengar di luar area reruntuhan, Mia berjalan menjauh, meninggalkan Reno di antara puing-puing ambisinya sendiri.
Hari itu berlalu tanpa hujan. Langit terlihat berwarna kelabu.
Berita tentang kebakaran lama yang akhirnya diselidiki kembali muncul di beberapa portal lokal. Tentang penemuan artefak ilegal. Tentang satu tersangka yang ditemukan dalam kondisi mental tidak stabil di lokasi kejadian.
Tidak ada yang menyebut soal kutukan.
Tidak ada yang menyebut soal cermin.
Nama Sarah hanya muncul sebagai catatan kaki, korban hilang, diduga meninggal dunia.
Mia membaca semuanya dari layar ponselnya tanpa ekspresi.
Ia duduk di kamar Sarah.
Kamar itu masih sama. Rak buku berdebu. Tempat tidur belum dirapikan. Di meja kecil dekat jendela, ada cermin bulat kecil yang selama ini digunakan Sarah untuk mengikat rambut.
Mia menatap cermin itu lama.
Pantulannya stabil. Tidak beriak. Tidak membelokkan apa pun.
Ia mengangkat tangan, menyentuh permukaan kaca. Cermin itu tidak dingin berlebihan seperti sebelumnya. Dan yang pasti, tidak hidup.
"Lo berhasil, Sar," bisiknya sambil tersenyum.
Malam itu, Mia bermimpi.
Ia berdiri di ruang putih tanpa batas. Tidak ada cermin. Tidak ada bayangan. Hanya ada cahaya lembut yang tidak menyilaukan.
Di kejauhan, ada sosok yang membelakanginya.
"Mia," kata sosok itu.
Suara itu… terdengar normal. Tidak bergema. Tidak pula terdengar berlapis.
Mia terbangun dengan jantung berdebar.
Kamarnya gelap. Jam di dinding menunjukkan pukul 03.17.
Ia kemudian duduk, napasnya terengah.
"Itu cuma mimpi," gumamnya.
Namun saat ia menoleh ke cermin kecil milik Sarah yang ia letakkan di meja kamarnya, ia membeku. Di permukaan kaca itu, ada satu retakan tipis yang tidak ada sebelumnya. Hanya satu garis halus, seperti bekas kuku di kayu tua.
Mia menatapnya lama, perasaan dingin merayap perlahan ke tulang belakangnya.
Di pantulan cermin, untuk sepersekian detik, ia hampir yakin melihat sesuatu bergerak. Bukan wajah, bukan bayangan, hanya… kedipan.
Lalu, hilang.
Mia menarik napas panjang. Ia tidak tahu apakah itu sisa trauma atau sesuatu yang belum sepenuhnya pergi.
Di luar, angin malam berhembus pelan, membawa suara kota yang kembali hidup.
Dan entah di mana, jauh dari reruntuhan toko barang antik yang kini sunyi, sesuatu mungkin masih menunggu. Bukan di kaca atau cermin, bukan di bayangan, tapi di celah yang belum sempat diberi nama.