Bab 11 Keyakinan Luna

Penulis Iman-ha
01 February 2026

Di hari ketika Durov pertama kali ditemukan tertidur di teras rumah dan disiram oleh Terra, Luna tidak langsung menyadari bahwa dua kehilangan sedang terjadi bersamaan.

Yang pertama terlihat jelas: gayung plastik biru, air yang tercurah tergesa, tubuh oren yang meloncat kaget, lalu sempat berhenti di gang dengan wajah menyesal dan sedih—setidaknya itulah yang dimaknai Luna.

Durov kemudian lari menyusuri gang dengan kecepatan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Terra tertawa singkat, seperti baru menyelesaikan urusan kecil. Tidak ada niat jahat di sana, hanya spontanitas anak yang belum paham batas.

Kehilangan yang kedua tidak terlihat, tapi menetap lebih lama. Ayahnya tidak pulang hari itu. Dan hari-hari setelahnya.

Tidak ada penjelasan besar. Tidak ada perpisahan. Kehilangan itu datang seperti celah kecil yang dibiarkan terbuka, lalu melebar perlahan. Rumah kontrakan mereka tetap berdiri seperti biasa, suara kereta tetap lewat dengan jadwal yang setia, tapi ada sesuatu yang tidak kembali ke tempatnya.

Ibunya akhirnya berhenti mencari dengan cara yang bisa disebut mencari. Ia sudah mendatangi tempat-tempat yang masuk akal, lalu tempat-tempat yang hanya tersisa karena putus asa. terakhir, yang ia dapatkan bukan kabar tentang Uyan, melainkan pengakuan dosa dari Arif—bekas teman kerja ayahnya. Pengakuan yang datang tanpa diminta, seperti orang yang tiba-tiba merasa perlu meringankan dirinya sendiri.

Ibunya tidak bereaksi berlebihan. Ia tidak memarahi Arif, tidak menangis, tidak pula bertanya lebih jauh. Ia hanya diam. Diam yang dingin, seperti meja dapur setelah semua piring dibersihkan dan tidak ada lagi alasan untuk berdiri di sana.

Arif menawarkan bantuan. Kalimatnya terdengar peduli, bahkan terlatih. Ibunya menolak dengan cara yang sopan, hampir ramah. Ia tidak menutup pintu, tapi juga tidak membukanya lebih lebar. Bantuan itu tidak ditolak karena tidak berguna, melainkan karena datang dengan sesuatu yang tidak disebutkan.

Beberapa hari kemudian, Arif datang lagi. Alasannya selalu sama: menanyakan kabar pencarian Uyan. Ia duduk terlalu lama, berbicara terlalu hati-hati, dan menatap ibunya sedikit lebih sering dari yang perlu. Luna memperhatikan semua itu tanpa komentar. Ia sudah lama belajar membaca maksud dari jeda dan intonasi.

Ibunya masih muda. Masih menarik. Dan Arif—yang sudah punya anak, sudah punya istri—tampak seperti orang yang mengira kesedihan bisa membuka peluang. Bermain api, tapi menyebutnya empati.

Ibunya tetap bersikap biasa. Ia menjawab seperlunya. Tidak memberi celah, tidak juga menutup kemungkinan dengan kasar. Kesantunannya menjadi batas yang tidak terlihat, tapi kokoh.

Luna tahu, sejak ayahnya menghilang, rumah itu memang lebih sepi. Tapi sepi bukan undangan. Dan ibunya, dengan caranya yang sunyi, menjaga itu tetap jelas.

Di kunjungan terakhir Arif meminta saran kepada Dewi apakah ada cara lain yang mesti dilakukan untuk menemukan Uyan. Dewi menjawab, ia akan dengan senang hati jika seluruh utang-utang Uyan yang membuatnya dipecat, dibayarkan.

Arif terjebak dalam keheningan yang menyiksa.

Tidak ada konfrontasi. Tidak ada adegan besar. Kunjungan itu akhirnya berhenti—seperti api kecil yang padam karena tidak pernah diberi bahan bakar.

Dan di dalam keheningan itu, Luna belajar satu hal lagi tentang kehilangan dari ibunya: bukan hanya tentang siapa yang pergi, tapi juga tentang siapa yang mencoba datang dengan alasan yang salah.

Luna tidak menyatukan dua peristiwa kehilangan itu dalam satu pikiran. Ia hanya mencatat bahwa sejak hari itu, dunia terasa sedikit bergeser, seperti lantai yang tidak lagi rata meski masih bisa dipijak.

Durov tidak kembali. Begitu juga ayahnya. Dan dari dua kehilangan itu satu pemahaman mulai tumbuh dalam jiwanya, sesuatu yang tidak masuk akal tapi membentuk sejenis kesadaran atau keyakinan: jika ia menemukan Durov maka jejak ayahnya pun akan tampak.

Hari pertama Luna menunggu di teras. Hari kedua ia mengintip sudut-sudut rumah. Hari ketiga ia mulai mengerti bahwa menunggu di satu tempat tidak akan mengembalikan apa pun. Ia tidak menangis. Tidak pula mengadu. Ia hanya membawa rasa kehilangan itu ke dalam tubuhnya, membiarkannya berjalan bersamanya ke mana-mana.

Sejak saat itu, Luna mulai memperhatikan kucing-kucing liar.

Bukan dengan cara sentimental, melainkan dengan ketelitian yang baru. Setiap berangkat sekolah, ia berjalan sedikit lebih pelan. Ia melihat kolong motor, atap rendah, pinggir warung, sela-sela tembok. Ia mencoba mencocokkan warna bulu, bentuk punggung, cara ekor bergerak.

Ia tahu itu konyol. Bandung penuh kucing oren. Tapi kehilangan tidak pernah bekerja dengan logika kota besar.

Luna kelas tiga SMA. Umurnya tujuh belas. Hidupnya sedang berada di ambang: antara lulus dan tidak, antara kuliah dan tidak, antara pergi dan tinggal. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya tanpa pernah meminta jawaban cepat. Tapi satu hal menjadi pasti sejak hari itu: ada sesuatu yang hilang, dan ia ingin tahu ke mana perginya.

Di sekolah, Luna duduk di bangku yang sama. Mengisi catatan. Mengangguk saat guru bicara. Tertawa di waktu yang tepat. Tapi matanya sering tertarik ke luar jendela, ke halaman sempit tempat kadang kucing liar lewat tanpa tujuan. Ia tidak berharap apa-apa di sana. Hanya memastikan bahwa ia masih melihat.

Sepulang sekolah, Luna sering mengambil jalan memutar. Bukan karena ia yakin akan menemukan Durov, melainkan karena pulang terlalu cepat terasa seperti menyerah. Ia melewati warung nasi, menatap kolong meja. Ia berhenti sebentar di depan lapak kaki lima, berpura-pura memilih gorengan sambil memeriksa sekeliling.

Kadang ia menemukan kucing. Kadang tidak. Setiap kali gagal, ia tidak merasa kecewa, hanya mencatat bahwa pencarian ini akan panjang.

Luna mulai mengenali mereka satu per satu. Kucing hitam kurus di dekat rel. Kucing abu-abu yang selalu muncul sore hari. Anak kucing yang suatu hari ada, lalu esoknya hilang tanpa cerita. Dunia tidak memberi penjelasan, dan lama-lama Luna berhenti menuntutnya.

Ia mulai membawa sisa makanan di tasnya. Tidak setiap hari. Hanya ketika ada. Nasi, ikan kecil, apa saja yang bisa dibagi. Ia tidak selalu bertemu kucing. Tapi membawa makanan membuat pencariannya terasa punya arah. Ada sesuatu yang bisa ia berikan, bukan sekadar harapan kosong.

Kawasan rumah kontrakan mereka yang padat, berisik, dan tidak pernah benar-benar diam. Kereta lewat seperti napas besar yang teratur. Orang-orang datang dan pergi tanpa perlu saling mengenal. Kucing-kucing menjadi bagian dari lanskap, bukan individu.

Terra tidak lagi menyebut Durov. Juga ayah. Ibunya juga tidak. Luna tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya mencatat bahwa ingatan adalah urusan yang sering harus ditanggung sendirian.

Hari-hari berlalu. Bulan berganti. Luna hampir mulai meyakinkan dirinya bahwa Durov telah menemukan tempat lain. Ia mencoba berdamai dengan kemungkinan itu, meskipun kata “berdamai” terasa terlalu besar untuk sesuatu yang tidak pernah diberi nama.

Sampai suatu sore, dalam perjalanan menuju sekolah, ia melewati rumah tua peninggalan Belanda.

Rumah itu selalu ada di sana. Besar, tertutup, seolah tidak peduli pada lalu lintas manusia di sekitarnya. Bentengnya rendah tapi tebal. Halamannya ditumbuhi pohon jambu yang daunnya rimbun. Luna biasanya hanya melewatinya tanpa berpikir.

Hari itu, langkahnya terhenti.

Di atas benteng, seekor kucing oren duduk diam.

Bukan cara duduknya saja yang membuat Luna berhenti, tapi ketenangan yang mengelilinginya. Kucing itu tidak gelisah, tidak mengawasi manusia dengan curiga berlebihan. Ia duduk seperti seseorang yang sudah memilih tempatnya, meski dunia di sekitarnya belum sepenuhnya menerima pilihan itu.

Luna berdiri di bawah benteng. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena yakin, tapi karena takut berharap.

“Durov,” katanya pelan, hampir seperti memanggil ingatan.

Kucing itu tidak langsung bereaksi. Ia menoleh perlahan, seolah menimbang apakah suara itu bagian dari dunia yang perlu ia jawab.

“Durov kan?”

Luna buru-buru mebuka tas sekolahnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia tidak ingin membuat gerakan tiba-tiba, tidak ingin mengulang kejutan yang pernah membuat kucing itu pergi. Namun karena terlalu bersemangat, plastik makanan di dalam tasnya tercabut terlalu cepat sampai melayang dan jatuh tepat di atas benteng.

Durov tersentak kaget. Ia mulai waspada.

“Sial,” umpat Luna, memaki kecerobohannya sendiri. Ia jadi teringat kecerobohan-kecerobohan kecil yang biasa dilakukan ayahnya. Apakah setiap orang tua selalu mewariskan karakter buruk kepada anak-anak mereka?

“Maaf, aku tidak sengaja,” ucap Luna.

Ia mengambil bungkusan makanan itu sebelum terbang tertiup angin ke balik benteng.

“Ayo sini, Durov. Ini makanan enak.”

Durov turun perlahan. Ia mengawasi sekeliling. Nalurinya masih bekerja. Ia mengingat air, suara, dan kepanikan yang tidak ingin ia ulangi. Tapi gang ini berbeda. Jalan ini terpisah dari rumah lama. Tidak ada Terra. Tidak ada gayung.

Luna menyimpan makanan di pinggir benteng.

“Makanlah, Durov.”

Durov mendekat. Ia menatap gadis yang berdiri di depannya. Sesuatu di benaknya bergerak—bukan ingatan yang utuh, hanya getaran kecil, seperti bayangan yang lewat di kaca. Ia menurunkan kepala dan mulai makan.

Makanannya baru. Enak. Ia makan perlahan, lalu semakin cepat, seolah tahu bahwa kesempatan ini tidak selalu datang dua kali.

“Ini wilayahmu, ya?” kata Luna, lebih pada dirinya sendiri.

Durov menatapnya lagi. Untuk sesaat, wajah anak melintas di benaknya. Bukan sebagai cerita, hanya sebagai rasa yang tidak mendesak. Baginya, makanan lebih bermakna saat ini.

“Aku akan sering mampir ke sini kalau punya makanan.”

Durov terus makan.

Ia menyadari sesuatu yang tidak pernah ia pahami sebelumnya: kekalahan dari perebutan wilayah tidak selalu berarti kehilangan. Kadang kekalahan hanya berarti berpindah. Menyempitkan dunia. Menemukan sudut yang cukup.

Wilayahnya kini gang kecil di samping rumah tua ini. Tidak permanen. Tidak dijanjikan. Tapi cukup untuk malam ini. Dan mungkin besok.

Luna berdiri lebih lama dari yang ia rencanakan. Ia tidak mengelus. Tidak mendekat terlalu jauh. Ia belajar dari keheningan kucing itu bahwa jarak juga bisa menjadi bentuk perhatian.

Saat ia melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi. Durov masih di sana, tubuhnya sedikit membungkuk, tapi tenang.

Dalam perjalanan pulang, Luna merasakan sesuatu yang belum ia rasakan sejak lama: bukan bahagia, bukan lega, tapi kepastian kecil bahwa apa yang hilang tidak selalu pergi jauh. Kadang ia hanya berpindah tempat, menunggu ditemukan kembali di jalur yang sama menuju masa depan.

Dan di bawah benteng rumah Belanda, Luna tahu bahwa pencariannya tidak sia-sia—meski ia belum mengerti sepenuhnya apa yang sedang ia temukan.

Yang jelas, dari baunya yang tertinggal di rumahnya, di meja yang biasa dipakai ayahnya memelototi layar ponsel, di ruang tamu, atau bahkan di kamarnya, ada jejak samar yang membawanya pada keyakinan itu.