Pintu lift berdenting pelan, terbuka langsung ke arah ruang tamu penthouse yang luas dan dingin. Arion melangkah masuk, namun jemarinya masih terasa kaku, seolah sisa-sisa ketegangan dari Mansion Krishna masih menempel di kulitnya.
Dia meraba bibirnya sendiri. Ya benar, lebih tepatnya adalah sisa-sisa ketegangan yang masih menempel di bibirnya, sebagai jejak yang manis. Dan bahkan jejak itu terlalu dalam berpijak, sulit untuk dihapus.
Dia melempar kunci mobil ke atas meja marmer. Suaranya bergema, menekankan betapa sunyinya tempat ini dibandingkan dengan debat sengitnya dengan Zara. Si gadis mungil yang selalu berhasil membuatnya gemas setengah mati, tapi juga diam-diam selalu dia rindukan, terutama wajah cantik judes itu.
Pria tinggi itu mendekati meja bar. Mengendurkan dasi lalu menuang wiski pada gelas bening dengan beberapa butir batu es di dalamnya.
Gelas kristal di tangan Arion berdenting pelan saat dia menyesap wiski, namun gema suaranya justru mempertegas keheningan di penthouse lantai 42 itu. Cahaya matahari Jakarta dari balik jendela kaca raksasa tampak seperti taburan berlian yang hangat—indah, tapi dia tetap sendiri tetap membeku.
"Sial," desisnya pada udara kosong.
Arion meletakkan gelasnya di atas meja marmer dan berjalan mondar-mandir. Ruangan ini terlalu luas untuk satu nyawa. Setiap sudutnya yang minimalis dan mahal justru terasa seperti galeri seni yang mati. Pikirannya, seperti biasa, berkhianat. Bayangan Zara muncul tanpa izin. Bercokol dalam kepalanya seperti jam weker, yang terus mengingatkan bagaimana rasanya saat berciuman dengan gadis itu.
Dia juga ingat raut sinis gadis cantik itu, tatapan mata bola bening yang bagai tidak pernah bersahabat padanya. Tapi justru karena itulah, Arion suka sekali menggodanya.
Lalu juga teringat betapa cerewetnya Zara, kosa kata gadis itu yang tidak beraturan—tipe nada suara yang akan membuat orang di restoran mewah menoleh sinis, tapi bagi Arion, itu adalah musik paling jujur yang pernah dia dengar. Zara, dengan segala kepolosan remaja dan keberaniannya yang serampangan, telah mengobrak-abrik tatanan hidup Arion yang kaku. Teriakan dan makian Zara sekarang terdengar bagai denting piano di telinganya.
Arion meraih ponselnya, ibu jarinya berhenti tepat di atas nama 'Zara'. Hanya butuh dua kali nada sambung, dia mendengar suara yang ditunggunya dari seberang telepon.
“Hallo? Apalagi sih, Om?!”
Ketus. Seperti biasa. Dan Arion suka mendengarnya. Jika pada biasanya di saat seperti ini pasti Arion akan terus menggoda Zara. Namun kali ini tidak. Arion benar-benar serius. Dia mengkhawatirkan Zara dan juga Krishna. Alih-alih melanjutkan rencana Faris untuk membuat Zara jera, katanya. Sekarang, Arion justru mulai curiga. Faris tidak sedang membuat Zara jera, tapi sedang membuat rencana yang jauh lebih besar.
“Zara, untuk kali ini, percayalah padaku. Kamu harus hati-hati terhadap Faris. Dan untuk berjaga-jaga, kamu juga harus hati-hati pada Astrid.”
Terdiam beberapa saat.
“Ck ah, jangan aneh-aneh deh, Om. Mas Faris itu sudah tinggal dengan kami di sini cukup lama. Bahkan Papa saja sangat percaya padanya. Dan Kak Astrid, karena dia istrinya Mas Faris, sudah tentu akan selalu mengikuti suaminya. Dan Om Arion, dengar ya, dibandingkan dengan Mas Faris, kamu itu adalah orang asing bagiku dan juga Papa. Ah, sudahlah. Aku mau siap-siap berangkat ke kampus.”
“Hei Zara—“
Tut tut tut. Sambungan telepon diputus oleh Zara.
Arion merasa tak nyaman. Entahlah. Perasaannya begitu kuat, bahwa ada yang tak beres dengan Faris. Dia sangat mencurigai gerak-gerik temannya itu. Meskipun mereka berteman sejak masa kuliah, tapi Arion tidak pernah sepenuhnya percaya pada Faris. Ya, mereka memang berteman, tapi seakan ada satu batas tipis di antara mereka berdua, yang dengan sengaja tidak ditunjukkan ke permukaan.
Menurut Arion, Faris punya alasan sangat tepat jika ingin mencelakai Krishna. Namun dia tetap berharap, isi pikirannya tidak berwujud.
Untuk menyegarkan diri kembali, Arion memilih berendam di air hangat pagi ini.
Kakinya melangkah membuka pintu kamar mandi dua meter yang terbuat dari bahan kayu jati solid berukir. Ruangan ini lebih menyerupai tempat pemandian dewa daripada sekadar ruang sanitasi; luasnya hampir menyamai luas apartemen kelas menengah, dengan dinding berlapis statuario marble yang guratan abunya tampak menari di bawah pendar lampu kristal.
Arion melepas jam tangan Patek Philippe miliknya dan meletakkan di atas meja wastafel dari onyx. Dia menatap pantulan dirinya di cermin lebar yang dilengkapi teknologi anti-fog. Wajahnya tampak lelah, namun matanya tetap tajam—ciri khas pria yang baru saja memenangkan akuisisi perusahaan bernilai triliunan di pagi hari.
"Nyalakan sistem, Jennie," gumamnya pelan.
"Tentu, Tuan Arion. Menyiapkan suhu air di tiga puluh delapan derajat Celsius," suara lembut AI bergema di ruangan.
Detik berikutnya, alunan saksofon yang serak dan seksi mulai mengalir dari speaker tersembunyi di langit-langit. Sebuah komposisi jazz klasik dari Miles Davis memenuhi atmosfer, memberikan ketenangan yang kontras dengan kebisingan beribu pikiran tentang Zara di kepalanya.
Arion menanggalkan setelan formalnya, lalu melangkah menuju jacuzzi berukuran raksasa yang terletak di sudut ruangan, tepat di samping jendela kaca besar yang menyuguhkan pemandangan Jakarta pagi hari dari lantai empat puluh dua.
"Sempurna," bisik pria jangkung itu saat tubuhnya tenggelam ke dalam air yang bergejolak lembut.
Dia menyandarkan kepalanya pada bantalan empuk di pinggiran jacuzzi. Arus air yang berputar mulai memijat otot-otot punggungnya yang tegang. Arion memejamkan mata, membiarkan melodi ‘So What’ meresap ke dalam indera pendengarannya.
Di tangan kanannya kini sudah ada segelas single malt scotch yang baru saja dia ambil dari bar mini di samping kolam.
"Tuan, ada pesan masuk dari Nona Lisa mengenai rapat internal rencana pembukaan cabang baru Nawasena siang ini," interupsi Jennie di sela-sela nada saksofon yang melengking rendah.
Arion menyesap minumannya, merasakan sensasi terbakar yang nyaman di tenggorokannya. "Abaikan, Jennie. Untuk satu jam ke depan, jangan biarkan satu pun urusan dunia bisnis mengusikku.”
"Dimengerti, Tuan. Mode 'Senyap' diaktifkan. Oh, maaf Tuan Arion, tapi bagaimana jika Nona Lisa kembali menghubungi. Dia adalah sekertaris yang tangguh."
“Ck ah, aku tau itu, Jen. Tapi aku tetap tidak mau diganggu. Atau namamu mau kuganti menjadi Zara?”
“Oh, jangan, Tuan Arion. Biarkan namaku tetap Kim Jennie.”
Arion terkekeh kecil. Kemudian kembali larut dalam dunianya. Di sini, di tengah kemewahan yang dia bangun dengan tangan dinginnya, hanya ada dia, uap air yang wangi sandalwood, dan improvisasi piano yang meliuk-liuk indah. Di luar sana, orang-orang mungkin menganggapnya hiu yang tak punya perasaan, namun di dalam jacuzzi ini, Arion hanyalah seorang pria yang mencoba membasuh lelah di atas puncak dunia yang sepi.
Terutama—dunia percintaannya.