Ray tidak pernah benar-benar percaya pada masa depan, tetapi ia rajin memeriksanya setiap pagi.
Ia bangun sebelum alarm, bukan karena disiplin, melainkan karena tubuhnya terbiasa terjaga di jam-jam yang tidak produktif menurut standar siapa pun. Cahaya dari layar ponsel menyala lebih dulu daripada matahari. Grafik sudah bergerak. Dunia sudah bekerja tanpa persetujuannya.
Myro, kucing persia putih, tidur di atas dadanya.
Kucing betina itu ringan, tetapi kehadirannya absolut. Ia tidak bertanya. Ia tidak menuntut. Ia ada, dan itu cukup. Ray menyesuaikan napasnya agar tidak mengganggu posisi Myro. Ia pernah membaca bahwa kucing memilih tempat tidur berdasarkan detak jantung. Ia tidak tahu apakah itu benar. Ia hanya tahu Myro selalu kembali.
Rumah peninggalan Belanda itu luas dan tertata. Ray tinggal seorang diri di dalamnya. Keluarganya telah pindah ke Jakarta, sementara ia memilih menetap. Baginya, rumah ini tidak boleh dibiarkan kosong—terlalu banyak kenangan yang akan ikut pergi jika ia ditinggalkan. Sesekali, tukang kebun dan istrinya datang untuk merawat halaman dan bagian-bagian rumah yang tak selalu ia perhatikan.
Poster lama yang belum pernah dilepas masih menempel di dinding kamar Ray, The Beatles, band yang melintasi segala zaman. Kakek dan ayahnya mendengarkan The Beatles. Rak buku berdiri rapi, lebih sering menjadi alas debu daripada tempat membaca. Ia suka membaca buku-buku sejarah sekadar untuk mencari benang merah bagaimana kehidupan di masa lalu sebelum kehidupannya saat ini.
Dua jendela besar menghadap taman kecil dan pohon jambu yang berbatasan langsung dengan gang sempit. Dari sana, suara motor dan teriakan anak-anak menyatu, sesekali terdengar suara klakson panjang kereta api di kejauhan, semua hadir tanpa ritme, seperti kehidupan yang berjalan begitu saja.
Rumah itu berada di pinggir jalan utama. Bangunannya berdampingan dengan gang kecil yang menuju permukiman padat—tempat orang-orang datang dan pergi tanpa pernah benar-benar saling mengenal.
Ray menggeser ponsel dengan satu tangan. Grafik merah. Lagi. Tidak jatuh. Tidak naik. Menggantung.
Pasar kripto sudah lama berhenti menjadi soal uang baginya. Ia lebih menyerupai eksperimen psikologis massal. Siapa yang panik duluan. Siapa yang bertahan tanpa alasan. Siapa yang menolak realitas dengan istilah baru.
Black swan, kata orang-orang di linimasa. Peristiwa langka. Tak terduga. Mengubah segalanya.
Ray mengernyit. Ia tidak suka istilah itu. Terlalu puitis untuk kehancuran yang sistematis.
Ia membuka forum. Pesan-pesan bergulir cepat. Ada yang menyalahkan ‘whale’. Ada yang menyebut konspirasi. Ada yang mengunggah meme kucing dengan caption absurd. Ada yang bikin meme chandlestick merah tembus dari layar laptop ke kolong meja.
Dunia runtuh sambil bercanda. Orang-orang menderita, yang lain tertawa.
Myro bergerak. Kakinya menyentuh leher Ray. Hangat. Sedikit kuku terasa. Ray menahan diri untuk tidak mengelus. Ia tahu Myro tidak suka sentuhan tiba-tiba.
Ia teringat alasan ia memelihara kucing.
Bukan karena kesepian. Ia selalu menolak kata itu. Lebih karena kelelahan. Dunia manusia terlalu penuh suara. Terlalu banyak klaim. Terlalu banyak yang ingin diyakini.
Myro tidak pernah meminta Ray untuk optimistis.
Ray pergi ke dapur untuk menyiapkan kopi dan sarapan. Air mendidih terdengar seperti dengungan rendah. Myro mengikuti, duduk di dekat kaki meja. Matanya mengikuti gerakan Ray tanpa harap, hanya perhatian.
Ray membuka ponselnya. Wallet terbuka. Angka masih di sana, tapi rasanya sudah tidak nyata. Seperti melihat rumah di peta setelah kebakaran.
Pesan dari Celestia masuk. Menanyakan kabar dan kapan mau main ke toko hewannya. Ray menjawab teman lama di masa SMA-nya itu.
Kapan-kapan aku akan mampir lagi sambil membeli vitamin buat Myro.
Celestia langsung membalasnya.
Aku tunggu, Ray. Sekalian bawa Myro-mu.
Ray senyum sendiri. Celestia selalu enerjik dan optimis.
Ray mengingat Doge—bukan anjing—tetapi token meme yang pernah dianggap lucu lalu menjadi serius tanpa peringatan. Ia masih memegang sedikit. Bukan karena yakin, melainkan karena ingin melihat sejauh apa irasionalitas bisa bertahan.
Di luar, suara tukang sayur lewat, disusur tukang bakso, tukang bubur ayam…. Dunia analog terus berjalan.
Ray membaca berita: bursa bangkrut, stablecoin goyah, algoritma gagal membaca ketakutan manusia. Semua terasa familiar. Ia tidak panik. Ia juga tidak tenang. Lebih seperti sudah menduga, tetapi tidak siap.
Ia membuka tab lain. Video tentang kucing viral. Seekor kucing oren melompat ke etalase toko, menjatuhkan kaleng, lalu kabur. Komentar penuh tawa. Ray menonton sampai habis. Ia tidak tahu kenapa.
Myro melompat ke meja, menyenggol ponsel. Layar berubah. Ray tidak marah. Ia tersenyum kecil. Ada sesuatu yang menenangkan dalam gangguan tanpa motif.
“Kalau semua runtuh,” gumam Ray, suaranya hampir tidak ada, “kamu tetap makan, kan?”
Myro mengeong pelan. Tidak menjawab. Tidak menyangkal.
Siang datang tanpa pengumuman. Ray tidak keluar rumah. Ia memesan makanan daring. Menghitung sisa saldo. Menyusun ulang ekspektasi tanpa benar-benar menyadarinya.
Ia membaca tentang orang-orang yang kehilangan segalanya dalam semalam. Ia juga membaca tentang yang untung besar karena kebetulan. Narasi saling bertabrakan. Tidak ada pelajaran.
Ray menutup layar. Duduk di lantai. Myro mendekat, menyentuh lututnya dengan kepala. Ray mengelus perlahan. Ia merasakan dengkur halus. Getaran kecil yang konsisten.
Ia berpikir tentang generasinya. Tentang janji fleksibilitas yang ternyata berarti ketidakpastian permanen. Tentang kerja yang bisa dilakukan dari mana saja, tapi tidak pernah selesai. Tentang masa depan yang selalu ditunda dengan istilah baru.
‘Black swan’, pikir Ray lagi. Bukan burung. Bukan peristiwa. Tapi kebiasaan dunia untuk berpura-pura stabil.
Sore hari, hujan turun sebentar. Ray membuka jendela. Bau aspal basah naik. Ia melihat seekor kucing kampung melintas di benteng rumahnya. Oren. Kurus. Berjalan cepat, waspada.
Ray memperhatikannya lebih lama dari yang ia sadari. Ada sesuatu dalam cara kucing itu bergerak—seperti selalu siap kabur, tetapi tidak sepenuhnya takut.
Kucing itu melihatnya, mengamati, benaknya seperti mencatat sesuatu.
Ray menutup jendela.
Malam datang. Grafik masih bergerak, tetapi Ray tidak lagi melihat. Ia menyalakan lampu kecil. Myro kembali ke dadanya. Dengkur itu kembali.
Ray berpikir tentang membeli satu kucing lagi. Bukan karena perlu. Lebih karena ingin ada variabel baru yang tidak bisa diprediksi algoritma.
Ia tertidur dengan pikiran setengah terbuka. Bermimpi tentang angka yang berubah menjadi suara, lalu menghilang. Tentang burung hitam yang tidak jatuh, hanya terbang rendah, terlalu dekat dengan tanah untuk disebut langit.
Durov, kucing oren itu, melintasi wilayahnya dengan hati-hati. Dunia mereka tidak bertemu malam itu. Tetapi bunyinya sama: dengkur rendah, hampir tak terdengar, menopang reruntuhan masing-masing.
Luna tidak datang malam itu. Ia bangkit setelah meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ia akan pergi ke tong sampah warung di dalam gang, barangkali masih ada sisa makanan yang terbuang.