Tepat setelah sosok itu menghilang di ujung jalan, Luna melambatkan langkah.
Ia tidak tahu siapa lelaki itu. Ia hanya melihat punggungnya sebentar—jaket gelap, langkah cepat, tubuh yang tampak terbiasa menembus gang tanpa menoleh. Tidak ada alasan baginya untuk memperhatikan, tapi entah mengapa pandangan Luna tertahan sepersekian detik lebih lama. Lalu lelaki itu lenyap di tikungan, dan dunia kembali ke ukuran yang biasa.
Gang sempit itu masih sama: tembok-tembok kusam, bau selokan yang naik turun tergantung cuaca, suara radio dari rumah yang tak pernah benar-benar tertutup. Benteng rumah Belanda masih berdiri kokoh—diam, besar, dan seolah tidak terlibat dengan kehidupan di sekitarnya. Bagi Luna, benteng itu seperti garis batas antara yang bergerak dan yang menetap.
Ia berhenti di tempat biasa.
“Durov,” panggilnya pelan.
“Durov!” kali ini ia kaget mendengar suaranya yang terlalu keras.
Beberapa detik tidak ada jawaban. Luna sudah terbiasa dengan itu. Ia tahu kucing tidak datang karena dipanggil, melainkan karena memilih.
Lalu terdengar suara gesekan halus. Seekor kucing oren muncul di atas benteng, meloncat turun dengan gerakan yang lebih sigap dari tubuhnya yang tampak kurus. Ia mengibas-ngibaskan ekornya, menandai kehadiran tanpa mendekat terlalu cepat.
“Kau pasti lapar,” kata Luna.
Kalimat itu bukan pertanyaan. Ia membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan plastik kecil makanan kucing. Plastik itu sudah sedikit lecek, diselipkan di antara buku dan seragam cadangan. Luna menuangkannya di pinggir benteng, di tempat yang sama seperti sebelumnya.
“Makan yang banyak,” katanya lagi. “Aku keterima kerja part-time.”
Durov mendekat dan mulai makan. Tidak ragu, tapi juga tidak ceroboh. Kepalanya terangkat sebentar, menatap Luna, lalu kembali ke makanan. Jika ia masih manusia, mungkin kalimat itu akan memancing respons lain—senyum kecil, pertanyaan lanjutan, atau kecemasan yang ditutupi candaan. Tapi sebagai kucing, ia memilih naluri yang lebih sederhana: makan, bertahan, memastikan malam bisa dilewati.
Luna duduk di atas batu rendah. Tasnya hampir terjatuh, buru-buru ia menangkap takut isinya tumpah. Ia membiarkan bahunya rileks. Sepatu sekolahnya sudah sedikit aus di bagian tumit. Ia sadar betul bahwa setiap hari yang ia jalani kini bergerak menuju sesuatu yang tidak pasti.
Kerja part-time bukanlah kemenangan besar. Ia hanya satu potong kecil dari upaya panjang agar hidup tidak ambruk sekaligus. Ia akan mengerjakan apa saja: mencatat, membalas pesan orang lain atas nama toko atau akun yang tidak pernah ia lihat wajah pemiliknya. Ia tidak memilih-milih. Ia hanya menghitung hari.
Sekolahnya hampir selesai. Ujian datang berlapis. Guru-guru mulai bicara tentang masa depan dengan nada yang sama seperti membicarakan cuaca: netral, seolah semua orang punya payung yang sama.
Luna tahu ia tidak.
Di rumah, ibunya bekerja di laundry dengan jam yang makin panjang. Bau deterjen menempel di udara, di tangan, di baju yang digantung terlalu rapat. Adiknya masih butuh banyak hal—seragam, buku, uang saku yang selalu terasa kurang. Kontrakan tidak pernah benar-benar aman; selalu ada rasa bahwa mereka hanya satu keterlambatan dari masalah baru.
Semua itu tidak ia ceritakan pada Durov. Tidak perlu. Tapi hanya kepada Durov ia merasa bebas bercerita.
“Sekarang aku lagi ujian,” katanya sambil memperhatikan kucing itu makan. “Terus mau tes beasiswa kuliah.”
Ia berhenti sebentar, seolah menimbang apakah kalimat berikutnya perlu diucapkan.
“Aku mungkin akan jarang menemuimu. Sibuk.”
Durov tidak bereaksi. Ia terus makan, sedikit lebih cepat, seperti tahu makanan ini tidak selalu ada. Bagi Durov, waktu tidak dibagi menjadi rencana dan masa depan. Waktu hanyalah jarak antara lapar yang satu dan yang berikutnya.
Luna tersenyum tipis. Ia sudah menduga.
“Tapi aku tidak akan melupakanmu, Durov.”
Kalimat itu keluar tanpa penekanan. Tidak meminta balasan. Tidak juga berjanji berlebihan. Hanya pernyataan kecil yang ingin ia percayai sendiri.
Durov menghabiskan makanannya. Ia menjilat kakinya, lalu duduk kembali di dekat benteng. Mata mereka bertemu sebentar—cukup lama untuk diingat, cukup singkat untuk tidak menyakitkan.
Luna tidak pernah benar-benar percaya pada firasat. Ia tumbuh di rumah yang mengajarkan bahwa hidup berjalan karena sebab-sebab kecil yang masuk akal: uang habis karena gaji kecil, lelah karena kerja terlalu lama, orang pergi karena tidak kuat bertahan. Tapi sejak ayahnya menghilang, ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan rapi. Dan Durov adalah salah satunya.
Ada cara kucing itu duduk yang mengganggunya. Terlalu tenang. Terlalu seperti seseorang yang sedang menunggu, bukan berburu. Kadang, saat Durov menoleh, Luna merasa seperti sedang ditatap balik oleh sesuatu yang lebih tua dari tubuh kecil itu. Bukan hantu. Bukan kenangan. Lebih seperti kebiasaan yang belum tahu harus pergi ke mana.
Ayahnya dulu juga sering duduk seperti itu. Di teras kontrakan, di kursi plastik yang kakinya sudah tidak seimbang. Diam, menatap jalan, seolah menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak bisa sebutkan. Bukan orang, bukan kabar. Hanya kemungkinan.
Luna pernah menertawakan kebiasaan itu. Menganggapnya malas. Menganggap ayahnya terlalu banyak berpikir. Dan kini, yang cukup mengusik pikirannya, ia merasa kebiasaan ayahnya itu seperti cermin yang memantul pada dirinya. Sekarang, ketika melihat Durov diam terlalu lama, ia merasa tawa itu kembali—tapi tanpa suara.
Ada hal-hal kecil lain yang terasa janggal. Cara Durov mendekati, tapi tidak pernah meminta. Cara ia makan cepat, lalu berhenti seolah mengingat sesuatu. Cara ia tidak pernah berebut, bahkan ketika lapar. Luna pernah berpikir: kucing kampung biasanya tidak sesopan ini.
Ia tidak menyusun kesimpulan. Ia tidak berani. Menghubungkan ayahnya dengan seekor kucing terdengar seperti lelucon yang terlalu kejam, bahkan untuk dirinya sendiri. Tapi pikirannya tetap mencatat, diam-diam, seperti orang yang menyimpan struk belanja barang rusak—tidak berguna, tapi sulit dibuang.
Kadang Luna berbicara pada Durov tanpa sadar mengubah nada suaranya. Lebih pelan. Lebih seperti ketika ia berbicara pada ayahnya dulu, saat ayahnya terlihat rapuh tapi tidak mau diakui. Durov tidak menjawab. Tapi ia juga tidak pergi.
Mata mereka kembali bertemu. Luna yang pertama mengalihkan pandangan.
Ia merasa bodoh, tapi juga tenang. Jika benar ada jejak ayahnya di situ, ia tidak perlu bukti. Tidak perlu pengakuan. Cukup tahu bahwa sesuatu yang hilang belum sepenuhnya lenyap—hanya berpindah bentuk, dan memilih diam.
Dan diam, Luna belajar, kadang lebih jujur daripada penjelasan apa pun.
Luna berdiri. Ia merapikan tasnya, memandang gang sekali lagi. Dunia ini sempit, tapi tidak sepenuhnya menutup. Ia merasa, entah mengapa, bahwa hidupnya sedang bergerak ke persimpangan lain—bukan yang besar dan dramatis, melainkan yang sunyi, yang baru akan terasa dampaknya jauh setelah ia melewatinya.
Ia melangkah pergi, menyusuri jalan menuju rumah.
Durov tetap tinggal di sana, di wilayah kecilnya di samping benteng rumah tua. Wilayah itu sementara. Tapi malam ini, seperti yang sering terjadi dalam hidup mereka berdua, sementara sudah cukup.