Bab 15 Doge

Penulis Iman-ha
01 February 2026

Malam turun dengan cara yang rapi, seperti sesuatu yang sudah dijadwalkan sejak lama. Ray makan seadanya, memberi makan Myro, lalu duduk di lantai. Ia tidak menyalakan musik. Keheningan terasa lebih jujur. Ia membuka laptop, menatap layar tanpa fokus, lalu menutupnya lagi. Dunia digital terasa terlalu berisik untuk pikirannya yang sedang berjalan lambat.

Ia membuka aplikasi catatan dan menulis satu baris: toko hewan Celestia. Tidak ada penjelasan. Tidak ada rencana lanjutan.

Nama itu muncul dengan cara yang tidak dramatis, seperti bau hujan yang masuk dari celah jendela. Celestia—teman SMA. Anak dari sahabat ayahnya. Perempuan yang sejak dulu tampak tahu apa yang ia inginkan, dan lebih penting lagi, tahu bagaimana cara berdiri di tengah ruangan tanpa meminta izin.

Keesokan harinya Ray datang.

Toko itu kecil dan baru, terjepit antara laundry dan kedai kopi. Cat dindingnya masih menyimpan bau segar. Etalase bersih. Lampu putih menyala tanpa hiasan. Di kaca depan tertulis nama Celestia dengan gelar yang masih terasa asing, seperti pakaian baru yang belum dilunakkan oleh waktu.

Bel pintu berbunyi. Celestia menoleh.

Ia berdiri di balik meja, rambutnya diikat rendah. Jas kerjanya rapi, mengikuti tubuh tanpa berlebihan. Tidak ada riasan mencolok. Tidak ada senyum yang dipaksakan. Tatapannya berhenti di Ray sedikit lebih lama dari yang diperlukan, seolah memastikan sesuatu benar-benar hadir di hadapannya.

“Kau datang,” katanya. Bukan pertanyaan.

Ray mengangguk. “Ayahku titip salam. Katanya, ayahmu menunggu pembukaan toko ini lebih lama dari kelulusannya sendiri.”

Celestia tersenyum kecil. “Mereka selalu begitu. Lebih percaya pada masa depan kita daripada kita sendiri.”

Ia keluar dari balik meja dan berjalan mendekat. Jarak di antara mereka menyempit tanpa disepakati. Celestia berdiri terlalu dekat untuk ukuran formal, tapi terlalu santai untuk dianggap kebetulan. Ray bisa merasakan panas tubuhnya, samar, seperti sesuatu yang baru dimatikan tapi belum dingin.

“Kau kelihatan sama,” kata Celestia. “Masih seperti anak yang duduk di bangku belakang, pura-pura tidak peduli.”

“Dan kau,” Ray menimpali, “masih seperti orang yang sudah menentukan hasil sebelum ujian dimulai.”

Celestia tertawa pendek. Ia tidak mundur.

Mereka berjalan ke deretan kandang. Celestia memimpin, langkahnya mantap. Ray mengikuti, memperhatikan bagaimana Celestia menguasai ruang: berhenti di titik yang membuat orang lain menyesuaikan diri, bergerak tanpa menoleh untuk memastikan diikuti.

Di salah satu kandang, seekor Persia jantan duduk dengan tenang. Bulunya tebal, terawat. Matanya besar, yakin pada dunia.

“Ini,” kata Celestia. “Persia jantan. Tenang. Sehat. Sudah divaksin.”

Ray menunduk. “Seperti kucing yang tidak pernah tahu apa itu kekurangan.”

Celestia berjongkok untuk membuka kandang. Gerakannya perlahan, disengaja. Saat berdiri kembali dengan kucing di pelukannya, ia berdiri terlalu dekat. Bahunya hampir menyentuh lengan Ray. Ia tidak meminta maaf. Ia juga tidak bergerak menjauh.

“Kau mau pegang?” tanyanya.

Sebelum Ray menjawab, Celestia sudah memindahkan kucing itu ke tangannya. Jari-jarinya menyentuh pergelangan Ray, menahan lebih lama dari yang perlu, seolah memastikan keseimbangan. Ray merasakan sentuhan itu seperti sesuatu yang sengaja diletakkan, bukan kebetulan.

“Apa namanya?” tanya Celestia.

“Doge.”

Celestia menaikkan alis. “Ayahmu pasti akan tertawa.”

“Dia yang mengajarkan selera humor buruk.”

Celestia tersenyum. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, cukup untuk membuat Ray menyadari jarak.

“Ayahku selalu bilang, kau akan jadi orang yang aman untuk diandalkan.”

“Aman bukan kata yang menarik.”

“Bagi sebagian orang,” kata Celestia pelan, “aman adalah segalanya.”

Mereka menuju meja kasir. Celestia menulis tanpa tergesa. Tangannya cekatan. Sesekali ia berhenti, menatap Ray, lalu melanjutkan. Seolah kehadiran Ray adalah sesuatu yang perlu diukur, bukan hanya dicatat.

“Kau masih tinggal di rumah itu?” tanyanya.

“Iya.”

“Rumah yang terlalu besar untuk satu orang,” katanya, lalu menatap Doge. “Tapi tidak untuk kucing.”

“Bagaimana dengan Myro?”

“Dia…” Ray memilih kata yang tepat untuk menggambarkan karakter kucing kesayangannya. “Bijak.”

Celestia tertawa manja. “Aku setuju.”

Celestia mendorong boks ke arah Ray. Saat Ray mengambilnya, Celestia meletakkan tangannya di atas tangan Ray. Tidak menekan. Tidak menarik. Hanya menahan. Kontak singkat, tapi penuh niat.

“Aku traktir kopi,” katanya. “Sebelah.”

Di kedai kopi, Celestia memilih tempat duduk yang membuat Ray membelakangi jendela. Ia duduk menyamping, lututnya hampir sejajar dengan kaki Ray. Saat berbicara, ia condong. Saat diam, ia bersandar, lengan menyentuh sandaran kursi Ray. Setiap gerakan kecil terasa seperti pernyataan.

Mereka berbicara tentang SMA, tentang ayah mereka yang bersahabat sejak lama, tentang rencana yang tidak pernah diumumkan tapi selalu diasumsikan. Celestia menyebutnya tanpa beban.

“Mereka selalu membayangkan kita,” katanya, sambil mengaduk kopi Ray tanpa bertanya. “Seperti itu hal yang paling masuk akal.”

Ray menatap cangkirnya. “Dan menurutmu?”

Celestia tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkirnya, menyesap perlahan, lalu menatap Ray dari balik bibir cangkir.

“Menurutku,” katanya akhirnya, “beberapa hal memang perlu didorong sedikit agar bergerak.”

Ia berdiri lebih dulu ketika mereka hendak pergi. Saat Ray bangkit, Celestia berdiri di depannya, menghalangi jalan sesaat. Ia merapikan kerah jaket Ray dengan gerakan yang terlalu intim untuk sekadar sopan.

“Kau boleh datang kapan saja,” katanya. “Untuk Doge. Atau untuk hal lain.”

Ray mengangguk. Ia tidak mundur. Ia juga tidak melangkah maju.

Ketika Ray berjalan pergi, ia menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui: Celestia tidak sekadar menunggu. Ia menekan dengan sabar, menguasai ruang sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang tahu bahwa waktu berada di pihaknya.

Celestia berdiri di depan toko, menatap punggung Ray tanpa melambaikan tangan.

Di titik-titik yang tidak saling tahu, kehidupan bergerak sedikit lebih dekat. Tidak dengan langkah besar. Tidak dengan tanda. Hanya dengan perubahan kecil—seperti grafik yang tampak tenang, tapi menyimpan arah yang pelan-pelan bergeser.

Dan Ray, tanpa menyadarinya, sudah berada di dalam kurva itu.

Ia tiba di rumah disambut Myro. Kucing putih itu langsung mengendus Doge dengan jarak aman. Tidak mendesis. Tidak ramah. Hanya mencatat keberadaan. Doge duduk, sedikit bingung, tetapi tidak takut. Ia terbiasa dengan ruang tertutup dan tangan manusia.

Ray mengamati mereka seperti menonton dua sistem operasi berbeda mencoba berbagi memori.

Malam itu, Ray bermimpi tentang Celestia yang datang ke rumahnya sambil membawa kandang yang terbuka, tetapi tidak ada yang keluar. Semua memilih tetap di dalam.

Di gang yang sama, Durov merasakan perubahan tanpa melihat penyebabnya.

Ada bau baru di udara. Bukan bau ancaman, bukan bau makanan. Bau sesuatu yang dilindungi. Bau bulu yang jarang disentuh hujan. Bau kucing yang tidak perlu berkelahi untuk hidup.

Durov mengikuti bau itu sampai batas wilayahnya sendiri. Ia berhenti. Dunia kucing punya aturan tak tertulis yang lebih keras dari hukum manusia. Ia duduk, menimbang dengan tubuhnya, bukan pikirannya.

Bau itu berasal dari balik benteng. Dari jendela yang sama.

Durov tidak mendekat. Ia tidak pergi. Ia hanya menunggu sampai bau itu menjadi bagian dari malam, seperti suara motor jauh atau dengkur generator.

Malam itu Luna tidak datang mengantarkan makanan. Saatnya mencari makan sendiri.