Hy bab 12Lantai dedelapandedelapanlapandedelapandedelapanlapanlapanlapan belas KusumaKusumaKusumaKusumaKusumaKusumaKusumaKusuma Tower terasa seperti dunia yang berbeda babagibabagigibabagibabagigigigi Najwa. Begitu pintu lift terbuka, aroma kopi arabica dan suara langkah kaki yang terburu-buru menyambutnya. Staf kantor menunduk hormat, menyapa "Pagi, Bu Najwa," dengan nada segan. Di sini, Najwa adalah ratu. Di sini, dia adalah penentu keputusan. Namun, saat ia melangkah menuju ruangannya, ia merasa langkah kakinya terasa berat, seolah sepatu hak tingginya terbuat dari timah.Najwa masuk ke ruangan kerjanya yang sangat luas, meletakkan tas bermereknya di atas meja jati dan langsung menyalakan laptop. Jujur saat ini Najwa sangat butuh kesibukan. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari ingatan tentang punggung dingin Gus Azam di atas sajadah hotel semalam.Tok, tok!Belum sempat Najwa membuka email pertama, pintu ruang kerjanya terbuka. Selvi dan Desi masuk dengan wajah yang... yah, sulit dijelaskan. Antara penasaran, cemas dan antusias yang tertahan."Naj! Kamu beneran masuk kantor?" Selvi langsung duduk di kursi depan meja Najwa tanpa diminta. "Gila ya, pengantin baru macam apa yang hari pertama setelah nikah langsung duduk di depan monitor?"Desi menyusul membawa dua kaleng minuman dingin. Ia menatap Najwa dengan mata menyipit, meneliti setiap inci wajah sahabatnya. "Naj, concealer kamu tebel banget hari ini. Tumben? Biasanya kamu lebih suka look yang natural kalau ke kantor."Najwa tertawa, tawa yang terdengar sangat terlatih. "Aku cuma kurang tidur Des. Acara kemarin kan luar biasa melelahkan. Terus tadi pagi harus sarapan bareng keluarga besar Gus Azam dulu sebelum mereka balik ke Jawa Timur.""Terus Gus Azam mana?" tanya Selvi cepat. "Dia di hotel? Atau... dia di rumahmu?""Beliau masih ada di hotel dan sedang istirahat," jawab Najwa singkat sambil pura-pura sibuk dengan berkas di depannya. "Aku sudah ijin tadi dan beliau nggak keberatan aku langsung kerja."Desi meletakkan minumannya, ia mendekatkan wajahnya ke arah Najwa. "Naj, jujur sama kita gimana malam pertama kamu? Gus Azam... dia bicara apa aja sama kamu? Dia romantis nggak? Atau seenggaknya dia kasih kamu kado apa gitu setelah sah?"Pertanyaan Desi seperti siraman air es bagi Najwa. "Dia shalat semalam suntuk dan mendiamkanku sampai aku ketiduran karena capek nangis", batin Najwa menjerit. Tapi lidahnya sudah terlatih untuk berbohong demi menjaga Marwah suaminya."Gus Azam itu pria yang sangat religius, Des," Najwa memulai, suaranya tenang dan penuh wibawa. "Malam pertama kami... kami habiskan dengan shalat berjamaah dan berdoa untuk keberkahan pernikahan ini. Beliau ingin memulai semuanya dengan dasar ibadah. Jadi, jangan bayangkan malam pertama ala film-film romantis ya."Selvi mengernyitkan dahi. "Berjamaah? Terus setelah shalat? Dia nggak ajak kamu ngobrol soal masa depan atau rencana bulan madu?""Kami sudah bahas itu pagi tadi saat sarapan," Najwa berbohong lagi tanpa berkedip. "Beliau sangat mendukung karirku. Malah beliau bilang, bakatku ini amanah jadi soal bulan madu, kita tunda dulu karena aku mau fokus ke proyek Surabaya."Desi menyandarkan punggungnya, ia tidak sepenuhnya percaya. "Naj, kamu itu sahabat kita dari jaman kuliah. Kita tahu cara kamu bicara kalau lagi ada masalah. Mata kamu nggak bisa bohong, Naj. Sembab itu bukan cuma karena capek acara kemarin kan?, tapi karena tangisan. Apa Gus Azam... apa dia menyakitin kamu lewat kata-katanya?"Najwa tersenyum getir, menatap Desi dengan tatapan yang seolah berkata 'jangan tanya lagi'. "Des, Gus Azam tidak pernah menyakitiku dengan kata-katanya. Malah, dia adalah pria paling tenang yang pernah aku temui. Kalian tahu sendiri kan dia orangnya nggak banyak bicara? Justru itu yang bikin aku merasa tenang. Dia nggak pernah nuntut macam-macam.""Tapi Naj, pernikahan itu butuh komunikasi!" Selvi mulai emosi. "Kamu mau hidup sama orang yang cuma diam? Kamu itu Najwa Kusuma! Kamu butuh lawan bicara yang sepadan, bukan patung!""Dia bukan patung, Sel!" Najwa sedikit menaikkan nadanya, membela Gus Azam dengan insting seorang istri. "Dia cuma punya cara yang berbeda dalam berekspresi. Aku menghargai prinsipnya. Tolong, jangan buat aku seolah-olah sedang menderita. Aku bahagia dengan pilihanku saat ini."Suasana ruangan menjadi hening. Selvi dan Desi terdiam, mereka tahu kalau Najwa sudah menggunakan nada bicaranya yang "profesional", itu artinya mereka tidak boleh masuk lebih dalam lagi."Oke, oke, kalau kamu bilang begitu," ujar Desi pelan. "Tapi kalau ada apa-apa, kamu harus cerita ya. Jangan ditanggung sendiri hanya karena kamu mau kelihatan hebat di depan Papa kamu.""Iya, aku tahu," jawab Najwa, kini suaranya melunak. "Sudah ya, sekarang kita bahas soal proyek di Surabaya. Aku mau tim kita sudah siap minggu depan karena aku bakal sering bolak-balik ke sana."Sepanjang hari itu, Najwa menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Ia mengadakan rapat maraton, meninjau desain interior, dan menghubungi para vendor. Ia sengaja membuat dirinya sangat sibuk agar tidak ada ruang di kepalanya untuk memikirkan Gus Azam yang sedang sendirian di hotel.Namun, setiap kali ia sendirian di lift atau saat sedang meminum kopinya, bayangan wajah Gus Azam yang membeku kembali muncul. Ia merasa sangat nyesek setiap kali melihat cincin di jarinya. Cincin itu adalah ikatan sah, tapi hatinya merasa sangat tidak terikat pada siapapun.Sore harinya, saat ia baru saja akan mengemasi barang-barangnya, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk. Bukan dari suaminya, tapi dari Umi Fatimah."Nak Najwa, Umi dan Abi sudah sampai di pesantren dengan selamat. Azam masih di hotel, ya? Tolong layani suamimu dengan baik ya, Nak. Dia memang sedang dalam masa sulit, tapi Umi yakin kamu adalah jawaban dari doa-doa kami."Najwa meremas ponselnya. "Masa sulit apa, Umi? Kenapa aku yang harus menanggung semua ini?." Batin Najwa.Najwa menutup matanya sejenak, menghirup aroma ruangan kantornya yang mewah. Di sini, dia merasa dihargai. Di sini, kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah hukum. Tapi Najwa tahu, sebentar lagi ia harus pulang ke hotel, kembali menjadi seorang istri yang tidak dianggap, kembali menjadi wanita yang harus memohon sedikit perhatian dari bibir yang membisu."Ayo, Naj. Kamu kuat," bisiknya pada dirinya sendiri.Najwa mengambil tasnya, merapikan rambut cokelatnya yang terurai dan melangkah keluar ruangan. Ia harus kembali ke sandiwara selanjutnya. Ia harus kembali menemui suaminya, pria yang mungkin saat ini pun sedang tidak menantinya dengan rindu, melainkan dengan sajadah yang kembali terbentang.Hy bab 12Lantai delapan belas Kusuma Tower terasa seperti dunia yang berbeda bagi Najwa. Begitu pintu lift terbuka, aroma kopi arabica dan suara langkah kaki yang terburu-buru menyambutnya. Staf kantor menunduk hormat, menyapa "Pagi, Bu Najwa," dengan nada segan. Di sini, Najwa adalah ratu. Di sini, dia adalah penentu keputusan. Namun, saat ia melangkah menuju ruangannya, ia merasa langkah kakinya terasa berat, seolah sepatu hak tingginya terbuat dari timah.Najwa masuk ke ruangan kerjanya yang sangat luas, meletakkan tas bermereknya di atas meja jati dan langsung menyalakan laptop. Jujur saat ini Najwa sangat butuh kesibukan. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari ingatan tentang punggung dingin Gus Azam di atas sajadah hotel semalam.Tok, tok!Belum sempat Najwa membuka email pertama, pintu ruang kerjanya terbuka. Selvi dan Desi masuk dengan wajah yang... yah, sulit dijelaskan. Antara penasaran, cemas dan antusias yang tertahan."Naj! Kamu beneran masuk kantor?" Selvi langsung duduk di kursi depan meja Najwa tanpa diminta. "Gila ya, pengantin baru macam apa yang hari pertama setelah nikah langsung duduk di depan monitor?"Desi menyusul membawa dua kaleng minuman dingin. Ia menatap Najwa dengan mata menyipit, meneliti setiap inci wajah sahabatnya. "Naj, concealer kamu tebel banget hari ini. Tumben? Biasanya kamu lebih suka look yang natural kalau ke kantor."Najwa tertawa, tawa yang terdengar sangat terlatih. "Aku cuma kurang tidur Des. Acara kemarin kan luar biasa melelahkan. Terus tadi pagi harus sarapan bareng keluarga besar Gus Azam dulu sebelum mereka balik ke Jawa Timur.""Terus Gus Azam mana?" tanya Selvi cepat. "Dia di hotel? Atau... dia di rumahmu?""Beliau masih ada di hotel dan sedang istirahat," jawab Najwa singkat sambil pura-pura sibuk dengan berkas di depannya. "Aku sudah ijin tadi dan beliau nggak keberatan aku langsung kerja."Desi meletakkan minumannya, ia mendekatkan wajahnya ke arah Najwa. "Naj, jujur sama kita gimana malam pertama kamu? Gus Azam... dia bicara apa aja sama kamu? Dia romantis nggak? Atau seenggaknya dia kasih kamu kado apa gitu setelah sah?"Pertanyaan Desi seperti siraman air es bagi Najwa. "Dia shalat semalam suntuk dan mendiamkanku sampai aku ketiduran karena capek nangis", batin Najwa menjerit. Tapi lidahnya sudah terlatih untuk berbohong demi menjaga Marwah suaminya."Gus Azam itu pria yang sangat religius, Des," Najwa memulai, suaranya tenang dan penuh wibawa. "Malam pertama kami... kami habiskan dengan shalat berjamaah dan berdoa untuk keberkahan pernikahan ini. Beliau ingin memulai semuanya dengan dasar ibadah. Jadi, jangan bayangkan malam pertama ala film-film romantis ya."Selvi mengernyitkan dahi. "Berjamaah? Terus setelah shalat? Dia nggak ajak kamu ngobrol soal masa depan atau rencana bulan madu?""Kami sudah bahas itu pagi tadi saat sarapan," Najwa berbohong lagi tanpa berkedip. "Beliau sangat mendukung karirku. Malah beliau bilang, bakatku ini amanah jadi soal bulan madu, kita tunda dulu karena aku mau fokus ke proyek Surabaya."Desi menyandarkan punggungnya, ia tidak sepenuhnya percaya. "Naj, kamu itu sahabat kita dari jaman kuliah. Kita tahu cara kamu bicara kalau lagi ada masalah. Mata kamu nggak bisa bohong, Naj. Sembab itu bukan cuma karena capek acara kemarin kan?, tapi karena tangisan. Apa Gus Azam... apa dia menyakitin kamu lewat kata-katanya?"Najwa tersenyum getir, menatap Desi dengan tatapan yang seolah berkata 'jangan tanya lagi'. "Des, Gus Azam tidak pernah menyakitiku dengan kata-katanya. Malah, dia adalah pria paling tenang yang pernah aku temui. Kalian tahu sendiri kan dia orangnya nggak banyak bicara? Justru itu yang bikin aku merasa tenang. Dia nggak pernah nuntut macam-macam.""Tapi Naj, pernikahan itu butuh komunikasi!" Selvi mulai emosi. "Kamu mau hidup sama orang yang cuma diam? Kamu itu Najwa Kusuma! Kamu butuh lawan bicara yang sepadan, bukan patung!""Dia bukan patung, Sel!" Najwa sedikit menaikkan nadanya, membela Gus Azam dengan insting seorang istri. "Dia cuma punya cara yang berbeda dalam berekspresi. Aku menghargai prinsipnya. Tolong, jangan buat aku seolah-olah sedang menderita. Aku bahagia dengan pilihanku saat ini."Suasana ruangan menjadi hening. Selvi dan Desi terdiam, mereka tahu kalau Najwa sudah menggunakan nada bicaranya yang "profesional", itu artinya mereka tidak boleh masuk lebih dalam lagi."Oke, oke, kalau kamu bilang begitu," ujar Desi pelan. "Tapi kalau ada apa-apa, kamu harus cerita ya. Jangan ditanggung sendiri hanya karena kamu mau kelihatan hebat di depan Papa kamu.""Iya, aku tahu," jawab Najwa, kini suaranya melunak. "Sudah ya, sekarang kita bahas soal proyek di Surabaya. Aku mau tim kita sudah siap minggu depan karena aku bakal sering bolak-balik ke sana."Sepanjang hari itu, Najwa menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Ia mengadakan rapat maraton, meninjau desain interior, dan menghubungi para vendor. Ia sengaja membuat dirinya sangat sibuk agar tidak ada ruang di kepalanya untuk memikirkan Gus Azam yang sedang sendirian di hotel.Namun, setiap kali ia sendirian di lift atau saat sedang meminum kopinya, bayangan wajah Gus Azam yang membeku kembali muncul. Ia merasa sangat nyesek setiap kali melihat cincin di jarinya. Cincin itu adalah ikatan sah, tapi hatinya merasa sangat tidak terikat pada siapapun.Sore harinya, saat ia baru saja akan mengemasi barang-barangnya, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk. Bukan dari suaminya, tapi dari Umi Fatimah."Nak Najwa, Umi dan Abi sudah sampai di pesantren dengan selamat. Azam masih di hotel, ya? Tolong layani suamimu dengan baik ya, Nak. Dia memang sedang dalam masa sulit, tapi Umi yakin kamu adalah jawaban dari doa-doa kami."Najwa meremas ponselnya. "Masa sulit apa, Umi? Kenapa aku yang harus menanggung semua ini?." Batin Najwa.Najwa menutup matanya sejenak, menghirup aroma ruangan kantornya yang mewah. Di sini, dia merasa dihargai. Di sini, kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah hukum. Tapi Najwa tahu, sebentar lagi ia harus pulang ke hotel, kembali menjadi seorang istri yang tidak dianggap, kembali menjadi wanita yang harus memohon sedikit perhatian dari bibir yang membisu."Ayo, Naj. Kamu kuat," bisiknya pada dirinya sendiri.Najwa mengambil tasnya, merapikan rambut cokelatnya yang terurai dan melangkah keluar ruangan. Ia harus kembali ke sandiwara selanjutnya. Ia harus kembali menemui suaminya, pria yang mungkin saat ini pun sedang tidak menantinya dengan rindu, melainkan dengan sajadah yang kembali terbentang.Lantai delapan belas Kusuma Tower terasa seperti dunia yang berbeda bagi Najwa. Begitu pintu lift terbuka, aroma kopi arabica dan suara langkah kaki yang terburu-buru menyambutnya. Staf kantor menunduk hormat, menyapa "Pagi, Bu Najwa," dengan nada segan. Di sini, Najwa adalah ratu. Di sini, dia adalah penentu keputusan. Namun, saat ia melangkah menuju ruangannya, ia merasa langkah kakinya terasa berat, seolah sepatu hak tingginya terbuat dari timah.

Najwa masuk ke ruangan kerjanya yang sangat luas, meletakkan tas bermereknya di atas meja jati dan langsung menyalakan laptop. Jujur saat ini Najwa sangat butuh kesibukan. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari ingatan tentang punggung dingin Gus Azam di atas sajadah hotel semalam.

​Tok, tok!

​Belum sempat Najwa membuka email pertama, pintu ruang kerjanya terbuka. Selvi dan Desi masuk dengan wajah yang... yah, sulit dijelaskan. Antara penasaran, cemas dan antusias yang tertahan.

​"Naj! Kamu beneran masuk kantor?" Selvi langsung duduk di kursi depan meja Najwa tanpa diminta. "Gila ya, pengantin baru macam apa yang hari pertama setelah nikah langsung duduk di depan monitor?"

​Desi menyusul membawa dua kaleng minuman dingin. Ia menatap Najwa dengan mata menyipit, meneliti setiap inci wajah sahabatnya. "Naj, concealer kamu tebel banget hari ini. Tumben? Biasanya kamu lebih suka look yang natural kalau ke kantor."

​Najwa tertawa, tawa yang terdengar sangat terlatih. "Aku cuma kurang tidur Des. Acara kemarin kan luar biasa melelahkan. Terus tadi pagi harus sarapan bareng keluarga besar Gus Azam dulu sebelum mereka balik ke Jawa Timur."

​"Terus Gus Azam mana?" tanya Selvi cepat. "Dia di hotel? Atau... dia di rumahmu?"

​"Beliau masih ada di hotel dan sedang istirahat," jawab Najwa singkat sambil pura-pura sibuk dengan berkas di depannya. "Aku sudah ijin tadi dan beliau nggak keberatan aku langsung kerja."

​Desi meletakkan minumannya, ia mendekatkan wajahnya ke arah Najwa. "Naj, jujur sama kita gimana malam pertama kamu? Gus Azam... dia bicara apa aja sama kamu? Dia romantis nggak? Atau seenggaknya dia kasih kamu kado apa gitu setelah sah?"

​Pertanyaan Desi seperti siraman air es bagi Najwa. "Dia shalat semalam suntuk dan mendiamkanku sampai aku ketiduran karena capek nangis", batin Najwa menjerit. Tapi lidahnya sudah terlatih untuk berbohong demi menjaga Marwah suaminya.

​"Gus Azam itu pria yang sangat religius, Des," Najwa memulai, suaranya tenang dan penuh wibawa. "Malam pertama kami... kami habiskan dengan shalat berjamaah dan berdoa untuk keberkahan pernikahan ini. Beliau ingin memulai semuanya dengan dasar ibadah. Jadi, jangan bayangkan malam pertama ala film-film romantis ya."

​Selvi mengernyitkan dahi. "Berjamaah? Terus setelah shalat? Dia nggak ajak kamu ngobrol soal masa depan atau rencana bulan madu?"

​"Kami sudah bahas itu pagi tadi saat sarapan," Najwa berbohong lagi tanpa berkedip. "Beliau sangat mendukung karirku. Malah beliau bilang, bakatku ini amanah jadi soal bulan madu, kita tunda dulu karena aku mau fokus ke proyek Surabaya."

​Desi menyandarkan punggungnya, ia tidak sepenuhnya percaya. "Naj, kamu itu sahabat kita dari jaman kuliah. Kita tahu cara kamu bicara kalau lagi ada masalah. Mata kamu nggak bisa bohong, Naj. Sembab itu bukan cuma karena capek acara kemarin kan?, tapi karena tangisan. Apa Gus Azam... apa dia menyakitin kamu lewat kata-katanya?"

​Najwa tersenyum getir, menatap Desi dengan tatapan yang seolah berkata 'jangan tanya lagi'. "Des, Gus Azam tidak pernah menyakitiku dengan kata-katanya. Malah, dia adalah pria paling tenang yang pernah aku temui. Kalian tahu sendiri kan dia orangnya nggak banyak bicara? Justru itu yang bikin aku merasa tenang. Dia nggak pernah nuntut macam-macam."

​"Tapi Naj, pernikahan itu butuh komunikasi!" Selvi mulai emosi. "Kamu mau hidup sama orang yang cuma diam? Kamu itu Najwa Kusuma! Kamu butuh lawan bicara yang sepadan, bukan patung!"

​"Dia bukan patung, Sel!" Najwa sedikit menaikkan nadanya, membela Gus Azam dengan insting seorang istri. "Dia cuma punya cara yang berbeda dalam berekspresi. Aku menghargai prinsipnya. Tolong, jangan buat aku seolah-olah sedang menderita. Aku bahagia dengan pilihanku saat ini."

​Suasana ruangan menjadi hening. Selvi dan Desi terdiam, mereka tahu kalau Najwa sudah menggunakan nada bicaranya yang "profesional", itu artinya mereka tidak boleh masuk lebih dalam lagi.

​"Oke, oke, kalau kamu bilang begitu," ujar Desi pelan. "Tapi kalau ada apa-apa, kamu harus cerita ya. Jangan ditanggung sendiri hanya karena kamu mau kelihatan hebat di depan Papa kamu."

​"Iya, aku tahu," jawab Najwa, kini suaranya melunak. "Sudah ya, sekarang kita bahas soal proyek di Surabaya. Aku mau tim kita sudah siap minggu depan karena aku bakal sering bolak-balik ke sana."

​Sepanjang hari itu, Najwa menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Ia mengadakan rapat maraton, meninjau desain interior, dan menghubungi para vendor. Ia sengaja membuat dirinya sangat sibuk agar tidak ada ruang di kepalanya untuk memikirkan Gus Azam yang sedang sendirian di hotel.

​Namun, setiap kali ia sendirian di lift atau saat sedang meminum kopinya, bayangan wajah Gus Azam yang membeku kembali muncul. Ia merasa sangat nyesek setiap kali melihat cincin di jarinya. Cincin itu adalah ikatan sah, tapi hatinya merasa sangat tidak terikat pada siapapun.

​Sore harinya, saat ia baru saja akan mengemasi barang-barangnya, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk. Bukan dari suaminya, tapi dari Umi Fatimah.

​"Nak Najwa, Umi dan Abi sudah sampai di pesantren dengan selamat. Azam masih di hotel, ya? Tolong layani suamimu dengan baik ya, Nak. Dia memang sedang dalam masa sulit, tapi Umi yakin kamu adalah jawaban dari doa-doa kami."

​Najwa meremas ponselnya. "Masa sulit apa, Umi? Kenapa aku yang harus menanggung semua ini?." Batin Najwa.

​Najwa menutup matanya sejenak, menghirup aroma ruangan kantornya yang mewah. Di sini, dia merasa dihargai. Di sini, kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah hukum. Tapi Najwa tahu, sebentar lagi ia harus pulang ke hotel, kembali menjadi seorang istri yang tidak dianggap, kembali menjadi wanita yang harus memohon sedikit perhatian dari bibir yang membisu.

​"Ayo, Naj. Kamu kuat," bisiknya pada dirinya sendiri.

Najwa mengambil tasnya, merapikan rambut cokelatnya yang terurai dan melangkah keluar ruangan. Ia harus kembali ke sandiwara selanjutnya. Ia harus kembali menemui suaminya, pria yang mungkin saat ini pun sedang tidak menantinya dengan rindu, melainkan dengan sajadah yang kembali terbentang. ​​Lantai delapan belas Kusuma Tower terasa seperti dunia yang berbeda bagi Najwa. Begitu pintu lift terbuka, aroma kopi arabica dan suara langkah kaki yang terburu-buru menyambutnya. Staf kantor menunduk hormat, menyapa "Pagi, Bu Najwa," dengan nada segan. Di sini, Najwa adalah ratu. Di sini, dia adalah penentu keputusan. Namun, saat ia melangkah menuju ruangannya, ia merasa langkahnya berat, seolah sepatu hak tingginya terbuat dari timah.

​Najwa masuk ke ruangannya yang luas, meletakkan tas bermereknya di atas meja jati, dan langsung menyalakan komputer. Ia butuh kesibukan. Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari ingatan tentang punggung dingin Gus Azam di atas sajadah hotel semalam.

​Tok, tok!

​Belum sempat Najwa membuka email pertama, pintu ruangannya terbuka. Selvi dan Desi masuk dengan wajah yang... yah, sulit dijelaskan. Antara penasaran, cemas dan antusias yang tertahan.

​"Naj! Kamu beneran masuk kantor hari ini?" Selvi langsung duduk di kursi depan meja Najwa tanpa diminta. "Gila ya, pengantin baru macam apa yang hari pertama setelah nikah langsung duduk di depan monitor?"

​Desi menyusul, membawa dua kaleng minuman dingin. Ia menatap Najwa dengan mata menyipit, meneliti setiap inci wajah sahabatnya. "Naj, concealer kamu tebel banget hari ini. Tumben? Biasanya kamu lebih suka look yang natural kalau ke kantor."

​Najwa tertawa, tawa yang terdengar sangat terlatih. "Aku cuma kurang tidur, Des. Acara kemarin kan luar biasa buat aku capek, Terus tadi pagi harus sarapan bareng keluarga besar Gus Azam dulu sebelum mereka balik ke Jawa Timur."

​"Terus Gus Azam mana?" tanya Selvi cepat. "Dia di hotel? Atau... dia di rumahmu?"

​"Beliau masih ada di hotel dan sedang istirahat," jawab Najwa singkat sambil pura-pura sibuk dengan berkas di depannya. "Tenang saja Aku sudah ijin tadi sebelum ke kantor dan beliau nggak keberatan aku langsung kerja."

​Desi meletakkan minumannya, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Najwa. "Naj, jujur sama kita. Gimana malam pertama kamu? Gus Azam... dia bicara apa aja sama kamu? Dia romantis nggak? Atau seenggaknya dia kasih kamu kado apa gitu setelah sah?"

​Pertanyaan Desi seperti siraman air es bagi Najwa. Dia shalat semalam suntuk dan mendiamkanku sampai aku ketiduran karena capek nangis, batin Najwa menjerit. Tapi lidahnya sudah terlatih untuk berbohong demi menjaga Marwah suaminya.

​"Gus Azam itu pria yang sangat religius, Des," Najwa memulai, suaranya tenang dan penuh wibawa. "Malam pertama kami... kami habiskan dengan shalat berjamaah dan berdoa untuk keberkahan pernikahan ini. Beliau ingin memulai semuanya dengan dasar ibadah. Jadi, jangan bayangkan malam pertama ala film-film romantis ya."

​Selvi mengernyitkan dahi. "Berjamaah? Terus setelah shalat? Dia nggak ajak kamu ngobrol soal masa depan atau rencana bulan madu?"

​"Kami sudah bahas itu pagi tadi saat sarapan," Najwa berbohong lagi tanpa berkedip. "Beliau sangat mendukung karirku. Malah beliau bilang, bakatku ini amanah. Jadi soal bulan madu kita sepakat akan menunda dulu karena aku mau fokus untuk proyek Surabaya."

​Desi menyandarkan punggungnya, ia tidak sepenuhnya percaya. "Naj, kamu itu sahabat kita dari jaman kuliah. Kita tahu cara kamu bicara kalau lagi ada masalah. Mata kamu nggak bohong, Naj. Sembab itu bukan cuma karena capek acara, tapi karena tangisan. Apa Gus Azam... apa dia nyakitin kamu lewat kata-katanya?"

​Najwa tersenyum getir, menatap Desi dengan tatapan yang seolah berkata "jangan tanya lagi". "Des, Gus Azam tidak pernah menyakitiku dengan kata-katanya. Malah, dia adalah pria paling tenang yang pernah aku temui. Kalian tahu sendiri kan dia orangnya nggak banyak bicara? Justru itu yang bikin aku merasa tenang. Dia nggak pernah nuntut macam-macam."

​"Tapi Naj, pernikahan itu butuh komunikasi!" Selvi mulai emosi. "Kamu mau hidup sama orang yang cuma diam? Kamu itu Najwa Kusuma! Kamu butuh lawan bicara yang sepadan, bukan patung!"

​"Dia bukan patung, Sel!" Najwa sedikit menaikkan nadanya, membela Gus Azam dengan insting seorang istri. "Dia cuma punya cara yang berbeda dalam berekspresi. Aku menghargai prinsipnya. Tolong, jangan buat aku seolah-olah sedang menderita. Aku bahagia dengan pilihanku."

​Suasana ruangan menjadi hening. Selvi dan Desi terdiam, mereka tahu kalau Najwa sudah menggunakan nada bicaranya yang "profesional", itu artinya mereka tidak boleh masuk lebih dalam lagi.

​"Oke-oke kalau kamu bilang begitu," ujar Desi pelan. "Tapi kalau ada apa-apa, kamu harus cerita ya. Jangan ditanggung sendiri hanya karena kamu mau kelihatan hebat di depan Papa."

​"Iya, aku tahu," jawab Najwa, kini suaranya melunak. "Sudah ya, sekarang kita bahas soal proyek di Surabaya. Aku mau tim kita sudah siap minggu depan karena aku bakal sering bolak-balik ke sana."

​Sepanjang hari itu, Najwa menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Ia mengadakan rapat maraton, meninjau desain interior, dan menghubungi para vendor. Ia sengaja membuat dirinya sangat sibuk agar tidak ada ruang di kepalanya untuk memikirkan Gus Azam yang sedang sendirian di hotel.

​Namun, setiap kali ia sendirian di lift atau saat sedang meminum kopinya, bayangan wajah Gus Azam yang membeku kembali muncul. Ia merasa sangat nyesek setiap kali melihat cincin di jarinya. Cincin itu adalah ikatan sah, tapi hatinya merasa sangat tidak terikat pada siapapun.

​Sore harinya, saat ia baru saja akan mengemasi barang-barangnya, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk. Bukan dari suaminya, tapi dari Umi Fatimah.

​"Nak Najwa, Umi dan Abi sudah sampai di pesantren dengan selamat. Azam masih di hotel, ya? Tolong layani suamimu dengan baik ya, Nak. Dia memang sedang dalam masa sulit, tapi Umi yakin kamu adalah jawaban dari doa-doa kami."

​Najwa meremas ponselnya. "Masa sulit apa, Umi? Kenapa aku yang harus menanggung semua ini?," Batinnya.

​Najwa menutup matanya sejenak, menghirup aroma ruangan kantornya yang mewah. Di sini, dia merasa dihargai. Di sini, kata-katanya adalah hukum. Tapi ia tahu, sebentar lagi ia harus pulang ke hotel, kembali menjadi seorang istri yang tidak dianggap, kembali menjadi wanita yang harus memohon sedikit perhatian dari bibir yang membisu.

​"Ayo, Najwa Kamu itu perempuan kuat," bisiknya pada dirinya sendiri.

​Najwa mengambil tasnya, merapikan rambut cokelatnya yang terurai, dan melangkah keluar ruangan. Ia harus kembali ke sandiwara selanjutnya. Ia harus kembali menemui suaminya, pria yang mungkin saat ini pun sedang tidak menantinya dengan rindu, melainkan dengan sajadah yang kembali terbentang.