Najwa melangkah keluar dari lift lantai eksekutif dengan perasaan yang aneh. Sepanjang jalan dari kantor menuju hotel, hatinya berdegup kencang. Ia bahkan sempat mampir ke sebuah restoran mewah untuk membelikan makanan kesukaan yang mungkin cocok dengan lidah orang pesantren nasi briyani yang harum dan lembut. Di dalam mobil, ia terus berlatih tersenyum. Ia ingin menunjukkan pada Gus Azam bahwa meski suaminya itu diam, ia akan tetap menjadi istri yang melayani dengan baik.“Mungkin kalau aku lebih dulu membuka suara dengan lembut, dia akan luluh,” batin Najwa mencoba menghibur dirinya sendiri dengan cara nya.Saat ia membuka pintu kamar Presidential Suite, suasana hening menyambutnya. Namun, ada yang berbeda yang Najwa lihat, dimana ada koper milik Gus Azam yang sebelumnya berada di sudut ruangan, kini sudah berdiri tegak di dekat pintu masuk. Tasbih kayu dan sajadah tipis milik Gus Azam juga terlihat sudah tidak ada lagi di atas meja.Hati Najwa mencelos melihat pemandangan yang membuat dia benar-benar binggung dengan kisah rumah tangga yang baru saja di jalaninya.Najwa melihat kearah Gus Azam sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi lampu kendaraan. Pria itu sudah mengenakan jubah lengkap, seperti sudah siap untuk melakukan perjalanan jauh."Gus..." Panggil Najwa dan sembari mendekat ke arah Guz Azam, tapi sebelumnya Najwa meletakkan kantong makanan yang ia bawa ke atas meja ruang tamu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Assalamualaikum Gus Aku baru saja pulang. Aku belikan makanan untuk kita makan malam bersama. Gus belum makan, kan?."Najwa menatap punggung suaminya dengan penuh harap. Ia sudah menyiapkan diri jika Gus Azam hanya akan menjawab dengan anggukan atau gelengan. Tapi kali ini, keajaiban yang ia nantikan terjadi. Gus Azam perlahan memutar tubuhnya.Mata mereka bertemu. Gus Azam menatap Najwa dengan tatapan yang sulit diartikan ada sedikit rasa bersalah yang melintas sangat cepat, sebelum kembali tertutup oleh lapisan es yang dingin.Gus Azam membuka bibirnya. Jantung Najwa seolah berhenti berdetak. Ia sudah siap mendengarkan suara merdu yang kemarin menggetarkan panggung akad nikah itu. Suara yang ia harapkan akan bertanya, "Bagaimana kantormu?" atau seenggaknya, "Terima kasih makannya.""Waalaikumsalam, Aku harus pulang ke pondok malam ini," suara Gus Azam keluar. Terdengar berat dengan intonasi rendah dan sangat merdu di dengar, namun nadanya sedatar garis kematian. "Ada jadwal dakwah dan urusan madrasah yang mendesak. Abi sudah mengirimkan supir untuk menjemputku."Najwa terpaku di tempatnya berdiri. Senyum yang sejak tadi ia siapkan runtuh seketika. Rasanya seperti disiram air es di tengah malam yang dingin. Suara yang ia tunggu-tunggu, suara yang ia banggakan di depan sahabat-sahabatnya tadi siang, ternyata hanya keluar untuk sebuah pengumuman kepergian."Malam ini, Gus?" suara Najwa serak, menahan tangis yang tiba-tiba mendesak di tenggorokan. "Tapi... bukankah Umi bilang Gus akan di sini selama dua hari? Aku bahkan sudah mengatur jadwalku agar besok bisa menemanimu keliling Jakarta sebentar sebelum kita ke pesantren minggu depan."Gus Azam tidak memberikan jawaban. Ia hanya menatap Najwa sesaat, lalu melirik jam di tangannya. Gus Azam tidak menjelaskan mengapa jadwalnya berubah, ia tidak memberikan alasan yang masuk akal, ia hanya memberikan fakta bahwa dia akan pergi malam ini juga kepada Najwa yang notabennya adalah istrinya."Jemputan sudah ada di lobi," lanjut Gus Azam lagi, memotong segala kemungkinan protes dari Najwa. "Assalamualaikum."Pria itu meraih kopernya dan menariknya lalu berjalan melewati Najwa tanpa menyentuh tangannya untuk sekedar salaman pamit ala pasangan suami istri, bahkan Gus Azam pergi tanpa menatap matanya Najwa untuk terakhir kali sebagai tanda perpisahan. Langkah kakinya yang tegas meninggalkan aroma parfum kayu gaharu yang tertinggal di udara kamar hotel itu.Najwa hanya bisa berdiri mematung, kepalanya tertunduk, ia mengangguk pasrah karena suaranya sudah hilang ditelan sesak. Ia mendengar pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang sangat pelan, namun efeknya seperti dentuman bom di hati Najwa." Dia pergi begitu saja." Batin Najwa.Najwa menatap bungkusan makanan yang masih hangat di atas meja. Meja yang seharusnya menjadi tempat mereka berbagi cerita pertama sebagai suami istri, kini hanya menjadi saksi bisu dari sebuah penolakan halus yang paling menyakitkan."Cuma pamit..." bisik Najwa pilu. "Suaranya seindah itu, tapi cuma dipakai untuk meninggalkanku."Najwa terduduk di sofa ruang tamu yang ada di kamar hotel, Najwa tidak menangis keras seperti semalam. Air matanya jatuh satu-satu, membasahi tangannya yang masih berhias henna. Ia merasa sangat bodoh. Ia merasa sandiwaranya di kantor tadi siang benar-benar menjadi lelucon yang pahit. Di depan Selvi dan Desi ia membela Gus Azam setinggi langit, tapi nyatanya pria itu bahkan tidak menganggapnya cukup penting untuk sekadar diberi jawaban atas pertanyaannya.Rasa sesak itu berubah menjadi rasa ingin melarikan diri. Najwa merasa kamar hotel mewah ini terlalu luas dan terlalu hampa. Setiap sudut ruangan ini mengingatkannya pada punggung Gus Azam yang menjauh.Dengan gerakan yang cepat dan kacau, Najwa mulai memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Ia tidak mau tinggal di sini satu malam lagi. Ia meraih ponselnya dan menelepon resepsionis."Halo... saya ingin check out sekarang. Ya, lantai eksekutif, kamar Najwa Kusuma."Setelah menutup telepon, Najwa mengambil kunci mobilnya. Ia tidak menelepon Papanya atau Mamanya. Ia tidak mau mereka tahu kalau pengantin pria mereka sudah kabur kembali ke pesantren di malam kedua pernikahan. Ia memilih untuk pergi ke satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura yaitu Apartemen pribadinya di kawasan Jakarta Selatan.Mobil SUV Najwa melesat membelah kemacetan Jakarta. Ia menyetir dengan pandangan yang buram karena air mata yang tidak mau berhenti mengalir. Sesampainya di apartemen, ia langsung melempar tasnya ke lantai dan merebahkan diri di sofa kulitnya yang dingin.Apartemen ini terasa sunyi, tapi setidaknya ini adalah kesunyian yang ia kenal. Tidak ada sajadah yang membentang di sudut ruangan sebagai pengingat akan penolakan. Tidak ada aroma gaharu yang membuatnya merana.Najwa menatap langit-langit apartemennya. Ia merasa hidupnya baru saja berputar 180 derajat ke arah yang salah. Kemarin dia adalah wanita paling bahagia karena dipuji ribuan orang, malam ini dia adalah wanita yang merasa paling tidak berharga di dunia."Gus..." gumamnya lirih. "Kamu bilang diammu adalah dzikir. Tapi kenapa aku merasa diammu adalah cara paling kejam untuk membunuh perasaanku secara perlahan?"Malam itu, di tengah kesendiriannya di apartemen, Najwa mulai meragukan keputusannya. Ia mulai bertanya-tanya apakah minggu depan ia benar-benar sanggup menginjakkan kaki di Pesantren Al-Hidayah? Apakah ia sanggup hidup di rumah pria yang suara merdunya hanya digunakan untuk berpamitan pergi?."Di balik jendela apartemennya, Jakarta tetap bising. Namun bagi Najwa, bisingnya kota ini jauh lebih baik daripada keheningan membeku yang baru saja ditinggalkan Gus Azam di kamar hotel tadi. Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan batinnya membawanya ke dalam tidur yang penuh dengan tanda tanya yang tak terjawab.Najwa melangkah keluar dari lift lantai eksekutif dengan perasaan yang aneh. Sepanjang jalan dari kantor menuju hotel, hatinya berdegup kencang. Ia bahkan sempat mampir ke sebuah restoran mewah untuk membelikan makanan kesukaan yang mungkin cocok dengan lidah orang pesantren nasi briyani yang harum dan lembut. Di dalam mobil, ia terus berlatih tersenyum. Ia ingin menunjukkan pada Gus Azam bahwa meski suaminya itu diam, ia akan tetap menjadi istri yang melayani dengan baik.“Mungkin kalau aku lebih dulu membuka suara dengan lembut, dia akan luluh,” batin Najwa mencoba menghibur dirinya sendiri dengan cara nya.Saat ia membuka pintu kamar Presidential Suite, suasana hening menyambutnya. Namun, ada yang berbeda yang Najwa lihat, dimana ada koper milik Gus Azam yang sebelumnya berada di sudut ruangan, kini sudah berdiri tegak di dekat pintu masuk. Tasbih kayu dan sajadah tipis milik Gus Azam juga terlihat sudah tidak ada lagi di atas meja.Hati Najwa mencelos melihat pemandangan yang membuat dia benar-benar binggung dengan kisah rumah tangga yang baru saja di jalaninya.Najwa melihat kearah Gus Azam sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi lampu kendaraan. Pria itu sudah mengenakan jubah lengkap, seperti sudah siap untuk melakukan perjalanan jauh."Gus..." Panggil Najwa dan sembari mendekat ke arah Guz Azam, tapi sebelumnya Najwa meletakkan kantong makanan yang ia bawa ke atas meja ruang tamu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Assalamualaikum Gus Aku baru saja pulang. Aku belikan makanan untuk kita makan malam bersama. Gus belum makan, kan?."Najwa menatap punggung suaminya dengan penuh harap. Ia sudah menyiapkan diri jika Gus Azam hanya akan menjawab dengan anggukan atau gelengan. Tapi kali ini, keajaiban yang ia nantikan terjadi. Gus Azam perlahan memutar tubuhnya.Mata mereka bertemu. Gus Azam menatap Najwa dengan tatapan yang sulit diartikan ada sedikit rasa bersalah yang melintas sangat cepat, sebelum kembali tertutup oleh lapisan es yang dingin.Gus Azam membuka bibirnya. Jantung Najwa seolah berhenti berdetak. Ia sudah siap mendengarkan suara merdu yang kemarin menggetarkan panggung akad nikah itu. Suara yang ia harapkan akan bertanya, "Bagaimana kantormu?" atau seenggaknya, "Terima kasih makannya.""Waalaikumsalam, Aku harus pulang ke pondok malam ini," suara Gus Azam keluar. Terdengar berat dengan intonasi rendah dan sangat merdu di dengar, namun nadanya sedatar garis kematian. "Ada jadwal dakwah dan urusan madrasah yang mendesak. Abi sudah mengirimkan supir untuk menjemputku."Najwa terpaku di tempatnya berdiri. Senyum yang sejak tadi ia siapkan runtuh seketika. Rasanya seperti disiram air es di tengah malam yang dingin. Suara yang ia tunggu-tunggu, suara yang ia banggakan di depan sahabat-sahabatnya tadi siang, ternyata hanya keluar untuk sebuah pengumuman kepergian."Malam ini, Gus?" suara Najwa serak, menahan tangis yang tiba-tiba mendesak di tenggorokan. "Tapi... bukankah Umi bilang Gus akan di sini selama dua hari? Aku bahkan sudah mengatur jadwalku agar besok bisa menemanimu keliling Jakarta sebentar sebelum kita ke pesantren minggu depan."Gus Azam tidak memberikan jawaban. Ia hanya menatap Najwa sesaat, lalu melirik jam di tangannya. Gus Azam tidak menjelaskan mengapa jadwalnya berubah, ia tidak memberikan alasan yang masuk akal, ia hanya memberikan fakta bahwa dia akan pergi malam ini juga kepada Najwa yang notabennya adalah istrinya."Jemputan sudah ada di lobi," lanjut Gus Azam lagi, memotong segala kemungkinan protes dari Najwa. "Assalamualaikum."Pria itu meraih kopernya dan menariknya lalu berjalan melewati Najwa tanpa menyentuh tangannya untuk sekedar salaman pamit ala pasangan suami istri, bahkan Gus Azam pergi tanpa menatap matanya Najwa untuk terakhir kali sebagai tanda perpisahan. Langkah kakinya yang tegas meninggalkan aroma parfum kayu gaharu yang tertinggal di udara kamar hotel itu.Najwa hanya bisa berdiri mematung, kepalanya tertunduk, ia mengangguk pasrah karena suaranya sudah hilang ditelan sesak. Ia mendengar pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang sangat pelan, namun efeknya seperti dentuman bom di hati Najwa." Dia pergi begitu saja." Batin Najwa.Najwa menatap bungkusan makanan yang masih hangat di atas meja. Meja yang seharusnya menjadi tempat mereka berbagi cerita pertama sebagai suami istri, kini hanya menjadi saksi bisu dari sebuah penolakan halus yang paling menyakitkan."Cuma pamit..." bisik Najwa pilu. "Suaranya seindah itu, tapi cuma dipakai untuk meninggalkanku."Najwa terduduk di sofa ruang tamu yang ada di kamar hotel, Najwa tidak menangis keras seperti semalam. Air matanya jatuh satu-satu, membasahi tangannya yang masih berhias henna. Ia merasa sangat bodoh. Ia merasa sandiwaranya di kantor tadi siang benar-benar menjadi lelucon yang pahit. Di depan Selvi dan Desi ia membela Gus Azam setinggi langit, tapi nyatanya pria itu bahkan tidak menganggapnya cukup penting untuk sekadar diberi jawaban atas pertanyaannya.Rasa sesak itu berubah menjadi rasa ingin melarikan diri. Najwa merasa kamar hotel mewah ini terlalu luas dan terlalu hampa. Setiap sudut ruangan ini mengingatkannya pada punggung Gus Azam yang menjauh.Dengan gerakan yang cepat dan kacau, Najwa mulai memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Ia tidak mau tinggal di sini satu malam lagi. Ia meraih ponselnya dan menelepon resepsionis."Halo... saya ingin check out sekarang. Ya, lantai eksekutif, kamar Najwa Kusuma."Setelah menutup telepon, Najwa mengambil kunci mobilnya. Ia tidak menelepon Papanya atau Mamanya. Ia tidak mau mereka tahu kalau pengantin pria mereka sudah kabur kembali ke pesantren di malam kedua pernikahan. Ia memilih untuk pergi ke satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura yaitu Apartemen pribadinya di kawasan Jakarta Selatan.Mobil SUV Najwa melesat membelah kemacetan Jakarta. Ia menyetir dengan pandangan yang buram karena air mata yang tidak mau berhenti mengalir. Sesampainya di apartemen, ia langsung melempar tasnya ke lantai dan merebahkan diri di sofa kulitnya yang dingin.Apartemen ini terasa sunyi, tapi setidaknya ini adalah kesunyian yang ia kenal. Tidak ada sajadah yang membentang di sudut ruangan sebagai pengingat akan penolakan. Tidak ada aroma gaharu yang membuatnya merana.Najwa menatap langit-langit apartemennya. Ia merasa hidupnya baru saja berputar 180 derajat ke arah yang salah. Kemarin dia adalah wanita paling bahagia karena dipuji ribuan orang, malam ini dia adalah wanita yang merasa paling tidak berharga di dunia."Gus..." gumamnya lirih. "Kamu bilang diammu adalah dzikir. Tapi kenapa aku merasa diammu adalah cara paling kejam untuk membunuh perasaanku secara perlahan?"Malam itu, di tengah kesendiriannya di apartemen, Najwa mulai meragukan keputusannya. Ia mulai bertanya-tanya apakah minggu depan ia benar-benar sanggup menginjakkan kaki di Pesantren Al-Hidayah? Apakah ia sanggup hidup di rumah pria yang suara merdunya hanya digunakan untuk berpamitan pergi?."Di balik jendela apartemennya, Jakarta tetap bising. Namun bagi Najwa, bisingnya kota ini jauh lebih baik daripada keheningan membeku yang baru saja ditinggalkan Gus Azam di kamar hotel tadi. Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan batinnya membawanya ke dalam tidur yang penuh dengan tanda tanya yang tak terjaterjawabterjaterjawabwabterjaterjawabterjaterjawabwabwabwab.​Najwa melangkah keluar dari lift lantai eksekutif dengan perasaan yang aneh. Sepanjang jalan dari kantor menuju hotel, hatinya berdegup kencang. Ia bahkan sempat mampir ke sebuah restoran mewah untuk membelikan makanan kesukaan yang mungkin cocok dengan lidah orang pesantren nasi briyani yang harum dan lembut. Di dalam mobil, ia terus berlatih tersenyum. Ia ingin menunjukkan pada Gus Azam bahwa meski suaminya itu diam, ia akan tetap menjadi istri yang melayani dengan baik.

​“Mungkin kalau aku lebih dulu membuka suara dengan lembut, dia akan luluh,” batin Najwa mencoba menghibur dirinya sendiri dengan cara nya.

​Saat ia membuka pintu kamar Presidential Suite, suasana hening menyambutnya. Namun, ada yang berbeda yang Najwa lihat, dimana ada koper milik Gus Azam yang sebelumnya berada di sudut ruangan, kini sudah berdiri tegak di dekat pintu masuk. Tasbih kayu dan sajadah tipis milik Gus Azam juga terlihat sudah tidak ada lagi di atas meja.

​Hati Najwa mencelos melihat pemandangan yang membuat dia benar-benar binggung dengan kisah rumah tangga yang baru saja di jalaninya.

​Najwa melihat kearah Gus Azam sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi lampu kendaraan. Pria itu sudah mengenakan jubah lengkap, seperti sudah siap untuk melakukan perjalanan jauh.

​"Gus..." Panggil Najwa dan sembari mendekat ke arah Guz Azam, tapi sebelumnya Najwa meletakkan kantong makanan yang ia bawa ke atas meja ruang tamu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Assalamualaikum Gus Aku baru saja pulang. Aku belikan makanan untuk kita makan malam bersama. Gus belum makan, kan?."

​Najwa menatap punggung suaminya dengan penuh harap. Ia sudah menyiapkan diri jika Gus Azam hanya akan menjawab dengan anggukan atau gelengan. Tapi kali ini, keajaiban yang ia nantikan terjadi. Gus Azam perlahan memutar tubuhnya.

​Mata mereka bertemu. Gus Azam menatap Najwa dengan tatapan yang sulit diartikan ada sedikit rasa bersalah yang melintas sangat cepat, sebelum kembali tertutup oleh lapisan es yang dingin.

​Gus Azam membuka bibirnya. Jantung Najwa seolah berhenti berdetak. Ia sudah siap mendengarkan suara merdu yang kemarin menggetarkan panggung akad nikah itu. Suara yang ia harapkan akan bertanya, "Bagaimana kantormu?" atau seenggaknya, "Terima kasih makannya."

"Waalaikumsalam, Aku harus pulang ke pondok malam ini," suara Gus Azam keluar. Terdengar berat dengan intonasi rendah dan sangat merdu di dengar, namun nadanya sedatar garis kematian. "Ada jadwal dakwah dan urusan madrasah yang mendesak. Abi sudah mengirimkan supir untuk menjemputku."

​Najwa terpaku di tempatnya berdiri. Senyum yang sejak tadi ia siapkan runtuh seketika. Rasanya seperti disiram air es di tengah malam yang dingin. Suara yang ia tunggu-tunggu, suara yang ia banggakan di depan sahabat-sahabatnya tadi siang, ternyata hanya keluar untuk sebuah pengumuman kepergian.

​"Malam ini, Gus?" suara Najwa serak, menahan tangis yang tiba-tiba mendesak di tenggorokan. "Tapi... bukankah Umi bilang Gus akan di sini selama dua hari? Aku bahkan sudah mengatur jadwalku agar besok bisa menemanimu keliling Jakarta sebentar sebelum kita ke pesantren minggu depan."

​Gus Azam tidak memberikan jawaban. Ia hanya menatap Najwa sesaat, lalu melirik jam di tangannya. Gus Azam tidak menjelaskan mengapa jadwalnya berubah, ia tidak memberikan alasan yang masuk akal, ia hanya memberikan fakta bahwa dia akan pergi malam ini juga kepada Najwa yang notabennya adalah istrinya.

​"Jemputan sudah ada di lobi," lanjut Gus Azam lagi, memotong segala kemungkinan protes dari Najwa. "Assalamualaikum."

​Pria itu meraih kopernya dan menariknya lalu berjalan melewati Najwa tanpa menyentuh tangannya untuk sekedar salaman pamit ala pasangan suami istri, bahkan Gus Azam pergi tanpa menatap matanya Najwa untuk terakhir kali sebagai tanda perpisahan. Langkah kakinya yang tegas meninggalkan aroma parfum kayu gaharu yang tertinggal di udara kamar hotel itu.

​Najwa hanya bisa berdiri mematung, kepalanya tertunduk, ia mengangguk pasrah karena suaranya sudah hilang ditelan sesak. Ia mendengar pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang sangat pelan, namun efeknya seperti dentuman bom di hati Najwa.

​" Dia pergi begitu saja." Batin Najwa.

​Najwa menatap bungkusan makanan yang masih hangat di atas meja. Meja yang seharusnya menjadi tempat mereka berbagi cerita pertama sebagai suami istri, kini hanya menjadi saksi bisu dari sebuah penolakan halus yang paling menyakitkan.

​"Cuma pamit..." bisik Najwa pilu. "Suaranya seindah itu, tapi cuma dipakai untuk meninggalkanku."

​Najwa terduduk di sofa ruang tamu yang ada di kamar hotel, Najwa tidak menangis keras seperti semalam. Air matanya jatuh satu-satu, membasahi tangannya yang masih berhias henna. Ia merasa sangat bodoh. Ia merasa sandiwaranya di kantor tadi siang benar-benar menjadi lelucon yang pahit. Di depan Selvi dan Desi ia membela Gus Azam setinggi langit, tapi nyatanya pria itu bahkan tidak menganggapnya cukup penting untuk sekadar diberi jawaban atas pertanyaannya.

​Rasa sesak itu berubah menjadi rasa ingin melarikan diri. Najwa merasa kamar hotel mewah ini terlalu luas dan terlalu hampa. Setiap sudut ruangan ini mengingatkannya pada punggung Gus Azam yang menjauh.

​Dengan gerakan yang cepat dan kacau, Najwa mulai memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Ia tidak mau tinggal di sini satu malam lagi. Ia meraih ponselnya dan menelepon resepsionis.

​"Halo... saya ingin check out sekarang. Ya, lantai eksekutif, kamar Najwa Kusuma."

​Setelah menutup telepon, Najwa mengambil kunci mobilnya. Ia tidak menelepon Papanya atau Mamanya. Ia tidak mau mereka tahu kalau pengantin pria mereka sudah kabur kembali ke pesantren di malam kedua pernikahan. Ia memilih untuk pergi ke satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura yaitu Apartemen pribadinya di kawasan Jakarta Selatan.

​Mobil SUV Najwa melesat membelah kemacetan Jakarta. Ia menyetir dengan pandangan yang buram karena air mata yang tidak mau berhenti mengalir. Sesampainya di apartemen, ia langsung melempar tasnya ke lantai dan merebahkan diri di sofa kulitnya yang dingin.

​Apartemen ini terasa sunyi, tapi setidaknya ini adalah kesunyian yang ia kenal. Tidak ada sajadah yang membentang di sudut ruangan sebagai pengingat akan penolakan. Tidak ada aroma gaharu yang membuatnya merana.

​Najwa menatap langit-langit apartemennya. Ia merasa hidupnya baru saja berputar 180 derajat ke arah yang salah. Kemarin dia adalah wanita paling bahagia karena dipuji ribuan orang, malam ini dia adalah wanita yang merasa paling tidak berharga di dunia.

​"Gus..." gumamnya lirih. "Kamu bilang diammu adalah dzikir. Tapi kenapa aku merasa diammu adalah cara paling kejam untuk membunuh perasaanku secara perlahan?"

​Malam itu, di tengah kesendiriannya di apartemen, Najwa mulai meragukan keputusannya. Ia mulai bertanya-tanya apakah minggu depan ia benar-benar sanggup menginjakkan kaki di Pesantren Al-Hidayah? Apakah ia sanggup hidup di rumah pria yang suara merdunya hanya digunakan untuk berpamitan pergi?."

​Di balik jendela apartemennya, Jakarta tetap bising. Namun bagi Najwa, bisingnya kota ini jauh lebih baik daripada keheningan membeku yang baru saja ditinggalkan Gus Azam di kamar hotel tadi. Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan batinnya membawanya ke dalam tidur yang penuh dengan tanda tanya yang tak terjawab. ​