Komedi #anak #sekolah

Betang

02 February 2026

Pada pertengahan tahun 2024 Rama praktek turun lapangan di kepulauan Banggai Sulawesi Tengah. Setelah dua tahun menimba ilmu di bangku kuliah dengan format “datang tak dijemput - duduk- dengar dosen - pulang tak diantar.” Memasuki tahun ketiga kuliah, Ia diwajibkan untuk belajar langsung di lapangan dengan mengabdikan ilmu yang Ia dapatkan selama di bangku kuliahnya pada suatu desa. Lebih tepatnya Rama turun lapangan di satu desa yang sama sekali gak ada satu orang pun yang Ia kenal disana. ....

    Pagi hari itu jam setengah delapan Ia baru bangun.  Dan pemberangkatan mahasiswa yang akan turun lapangan adalah jam delapan tepat.
    “KAMPRET ! GUE TELAT !” Rama berteriak kaget meloncat dari kasur langsung ke kamar mandi. (entah bagaimana caranya, pokoknya gitu).
        Hanya ada waktu setengah jam untuk mandi, packing barang bawaan, bersiap-siap, make maskara, pasang bulumata, garis alis mata, bedak plus lipstik, kemudian berangkat ke kampus itu gak cukup. (ini kok kayak banc* gini). Ralat. 
    Hanya ada waktu setengah jam untuk mandi, PUP, packing barang bawaan, bersiap-siap, kemudian berangkat ke kampus itu gak cukup.
    Maka Ia berpikir pas lagi di kamar mandi dalam posisi bok*r. Dirinya harus meminimalisir waktu-waktu persiapannya. Maka, hasil perhitungan kalkulasi waktu persiapannya adalah :
    Mandi 5 menit. (waktu normal biasanya Ia mandi 30 menit)
    Packing 10 menit. (waktu normal biasanya Ia kalo packing 45 menit)
    Bersiap-siap 10 menit. (waktu normal biasanya Ia bersiap-siap biar keliatan ganteng maksimal 20 menit)
    Maskara, bulumata, alismata, bedak plus lipstik tidak dia lakukan. ini adegan wanita. Rama adalah pria. 
    Berangkat ke kampus 5 menit + ngebut. (waktu normal biasanya ke kampus 5 menit juga sih, tanpa ngebut). Hehehe.

    Tiga puluh menit yang harus maksimal.
    ....

    Mandi 5 menit. 
    Ini mengharuskan dirinya untuk memecahkan rekor mandi tercepat selama Ia hidup, dan melewatkan bagian-bagian nostalgia + ngayal di kamar mandi (BUKAN NGERES).  
    Mandi selesai.
    ....

    Packing 10 menit. 
    Baju, celana, kolor dan daleman Rama pilih secara acak. Tidak lagi memilih dengan warna favoritnya. Dan, yang paling penting adalah sarung. Maklum Rama anak soleh waktu itu. 
    Packing selesai.
    ....

    Bersiap-siap 10 menit. 
    Pakai parfum, minyak rambut, nyisir rambut, cukur kumis karena saat itu kumisnya sedang lebat, ingin juga mencukur bulu ketek juga tapi keteknya menolak, dan terakhir mempersiapkan kebutuhan lain tubuhnya yang seksi. Eh.  
    Persiapan selesai.
    ....

    Akhirnya dengan rambut belah pinggir, kumis bersih, kaos, celana jeans, sepatu, jacket, tas ransel kehidupan di punggugnya, dan sebotol air mineral di tangan kanan. 
    Ia berangkat.
    Ia sampe di kampus dengan selamat. Dan, teman-temannya masih ada. Rama hampir telat.
    ....

    Jam setengah sembilan (8.30) Ia dan rombongan teman-teman lainnya diberangkatkan ke desa-desa tempat praktek. 
    Desa tujuan mereka ada di pulau seberang, pulau Banggai Kepulauan. Tidak satu daratan dengan kotanya, Luwuk Banggai. 
    Rama dan teman-temannya didampingi dosen pembimbing menyebrang lautan menggunakan kapal kayu berukuran sekitar 30 x 8 meter dan jarak tempuh selama 2 jam. 
    Dan, lagi-lagi dirinya jadi seorang pelaut. 
    Kali ini bukan kapal ferry, tapi kapal kayu.
    ....

    Sekitar dua jam perjalanannya di atas laut. Akhirnya kapal mereka bersandar di pelabuhan kecil sederhana yang tidak banyak orang mengantri berebut berlarian mencari barang bawaan penumpang demi mencari sehelai kertas berwarna yang bernilai jual di negeri ini. 
    Rama lega. 
    Ia dan teman-temannya sampai dengan kusam. 
    Tapi yang paling penting adalah dua jam di atas laut, tidak membuat dirinya berhasrat untuk berubah menjadi Putra Duyung.  
    ....

    Setelah turun, Rama dan teman-teman kelompoknya langsung menuju desa lokasi kami tinggal selama dua minggu ke depan. 
    Kurang lebih satu jam perjalanan kami dengan truk yang dimodifikasi menjadi sarana angkutan pedesaaan. Akhirnya kelompok posko Rama sampai di lokasi desa tempat mereka melakukan praktek lapangan kuliah.
    Namanya Desa Bangunemo.
    ....

    Mereka diantar langsung oleh kepala desa beserta aparat-aparat desa lainnya ke tempat tinggal sementara untuknya dan teman-temannya hidup selama dua minggu di desa itu. Rama ditunjuk sebagai ketua kelompok atau disebut koordinator desanya. 
    Sebagai KorDes (Koordinator Desa) yang mantep, Rama berusaha membuat hubungan suasana antara dirinya, teman-temannya, kepala desa, aparat desa, dan masyarakat setempat menjadi harmonis dengan memulai beberapa percakapan-percakapan ringan untuk pembahasan awal. 
    “ee pak disini orangnya kok bisa berkulit gelap unyu-unyu eksotis gitu yaa ?” dalem hatinya. Tapi tak berani Ia ungkapkan.
    Ia takut kena tempeleng (tampar) kepala desa. 
    Adegan tadi baru ada di khayalannya. 
    Rama selamat. 
    ....

    Belum sempat dirinya memulai percakapan, pak kepala desa telah memulai lebih dulu. 
    “dek disini air bersihnya ngalir seminggu 2 kali, dan gak ada sumber mata air lain di desa ini selain aliran air PAM.”  kata pak kepala desa sambil nyengir kepadanya. 
    “oohhh .. gitu yaa pak, gak apa-apa pak semoga kami bisa menyesuaikan nantinya.” bales Rama sambil nyengir juga ke bapak kepala desa. 
    Akhirnya mereka sama-sama NYENGIR.
    ....

    “iyaa begitu. bisa tidak bisa kalian harus menyesuaikan. Hahaha…” tambah pak kepala desa sambil tertawa memperlihatkan gigi nya kepadanya. 
    “hahahaha ... iyaa pak harus.” Rama membalas dengan semangat. Sambil tertawa memperlihatkan giginya juga ke bapak kepala desa. 
    Sekarang mereka sama-sama memperlihatkan GIGI.
    ....

    “jadi masyarakat disini sistemnya menampung air sebanyak mungkin ketika air PAM mengalir. Untuk keperluan-keperluan rumah tangga mereka..” tambah pak kepala desa.
    “oohh ... gitu yaa pak. Waaaah! luar biasa...”  balas Rama yang berusaha hanyut membuat suasana harmonis, padahal dalam hatinya gelisah.

    Saat itu Ia harus bener-bener menerima kenyataan, bahwa Ia akan jarang mandi, jarang sikat gigi, jarang shampoan, jarang *italic text*, dan yang paling dirinya khawatirkan adalah Ia gak bisa PUP tanpa air. 
    PUP pake tisu saja Ia gak bisa. Apalagi nanti harus diganti pake daun. 
    AKU GAK BISA.
    SUMPAH ! INI SERIUS !
    Tiba-tiba pikirannya mulai hampa. 
    Rama berpikir apakah dirinya bisa bertahan selama dua minggu disana.
    ....

    “tapi tenang dek, di tempat tinggal kalian kami sudah sediakan air sebanyak mungkin untuk keperluan-keperluan kalian. Gak usah khawatir.” kata pak kepala desa yang memecah kegelisahan dalam dirinya waktu itu. 
    “waaah... hehehe luar biasa pak, saya berterima kasih sekali...” jawab Rama bahagia. 
    Akhirnya setelah kurang lebih 20 menit bincang-bincang kesana kemari, pak kepala desa bersama rombongannya pamitan pergi untuk urusan mereka masing-masing yang sepertinya Ia tak perlu tau hal itu. 
    Iya gak penting juga sih.
    ....

    Rama dan teman-teman kelompoknya berada di sebuah rumah jaga sederhana di dalam sekolah dasar (SD). Yang sebenarnya rumah itu adalah rumah tinggal penjaga sekolah SD di desa itu. BUKAN HOROR. 
    Karena belum ada yang bertugas menjaga di sekolah itu, akhirnya rumah tersebut dijadikan tempat posko Rama dan teman-temannya untuk sementara waktu oleh kepala desa. 
    Sebut saja pengungsian sementara.
    ....

    Siang itu menjadi awal Rama dan teman-temannya berada di lingkungan baru yang sama-sekali mereka tak tau. 
    Mereka masih semangat.
    Mereka mulai bersih-bersih mempersiapkan posko sekretariatan kami. 
    Ada yang menyapu. Ada yang membongkar-bongkar barang bawaan. Ada yang lari-lari mencari kompor. Ada yang mempersiapan dapur karena kita sudah kelaparan, dan ada yang asyik ngobrol dengan masyarakat. 
    ITU RAMA sebagai ketua kelompok. Berharap sambil nge-TEH.
    ....

    Sejam kemudian posko mereka bersih, rapih, tenang, damai, sentosa, sejahterah tapi makanan belum matang. 
    KAMPRET. LAPER. 
    Teman kelompoknya Ajun dan Pading sudah enak tiduran di kamar yang katanya kecapek’an. Mereka menunggu makanan matang. Sama seperti dirinya. 
    Berbeda dengan Jimmy. 
    Jimmy masih semangat dan bisa cerewet di depan posko bareng anak-anak SD yang ada saat itu.

Rama mencoba mengutak-atik hpnya mencari sinyal, berjalan kesana kemari bertindak sesuka hati seperti kera sakti. Hasilnya sama aja. GAK ADA SINYAL. ....

    “ada ? dapet sinyal ?” Jimmy bertanya ke Rama, memecah kebingungan.
    “te ada. Sinyal PHP. Kadang-kadang saja muncul...” Rama menjawab.
    “Ram, co nga liat  itu anak (Ram, coba kamu lihat anak itu)” kata Jimmy, sambil nunjuk salah satu anak di depan posko.
    “kenapa dia ?” balas Rama.

    Saat itu Ia melihat sosok anak dengan badan sedikit gempal dan lebih besar dari anak-anak lainnya. Bentuk kepalanya bundar, agak plontos dengan rambut tipis. Wajahnya kusam berdebu. Mungkin dia habis tayamum dengan debu gara-gara gak ada aer.

    “BODOK SKALI ! (BODOH SEKALI) hahaha...” kata Jimmy sambil ketawa. 
    “hah ? Bodoh Bagimana ?” Rama penasaran. Sambil liat anak tanpa nama itu yang belum Ia kenal siapa namanya.
    “co tanya, itung-itungan. hahaha... Betang sini dulu ? (coba tanya hitung-hitungan. Hahaha... Betang kesini dulu)” Jimmy memanggil anak itu.
    “sapa depe nama ? (siapa namanya)” Rama bertanya merasa agak aneh.
    Jimmy jawab singkat. 
    “BETANG” 
    ....

    “BETANG ?” Rama bingung. 
    Khayalannya muncul. 
    Mungkin namanya Aslinya BETRAN, tapi setelah ada kejadian aneh di desa itu, namanya berubah jadi = BETANG. 
    Atau mungkin juga BETANG adalah kepanjangan dari BE-go lan-TANG. (seperti seseorang yang bego namun penuh percaya diri).
    ....
    “depe nama BETANG ? (namanya BETANG) ” Rama bertanya skali lagi. 
    Ia masih penasaran.
    “iyo, co nga dengar ee. Betang, coba 1 + 1 barapa ? (iya, coba kamu dengar ya. Betang, coba 1 + 1 berapa?) ” Jimmy bertanya ke Betang.
    Kemudian dengan lantang Betang jawab. 
    “SEBELAS!”
    ....

    “HAHAHAHAHAHAHA......” Rama dan Jimmy tertawa hampir mati.
    “yeh memang butul. 1+1 SEBELAS... (memang betul. 1+1 SEBELAS...)” si Betang menjelaskan dengan wajah datar tak berdosa. 
    ....
    “coba, 10+10 berapa ?” Jimmy belum puas tertawa.
    Betang terlihat berpikir sejenak. 
    Kemudian dia jawab, 
    “TIGAH PULUH!”

    “HAHAHAHAHAHAHA....” Rama dan Jimmy tertawa lagi hampir mati. 
    ....

    Sejak saat itu Rama dan teman-teman kelompoknya mengenal anak kelas 6 SD bernama Betran di desa itu. 
    Ralat. 
    BETANG.
    Anak laki-laki umur 11 tahun, dengan wajah bundar, kulit gelap, mata besar, dan ingus meleleh dari hidungnya setiap 10 detik. 
    Anak ABSURD.
    ....

    Betang tinggal di rumah depan posko kita. Jadi gak heran kalo dia bisa ada di posko mereka waktu itu. 
    Bahkan setiap hari, jam, menit, detik, waktu Rama dan temen-temennya pasti bisa liat wajah dia. Ingin rasanya Rama melakukan operasi plastik wajahnya menjadi seperti Baim si artis cilik unyu biar enak diajak main dan di cubit-cubit, sampe bengkak pipinya. 
    Faktanya Rama dan temen-temen gue malah amit-amit ke dia. Haha. Canda. 
    ....

    Seiring waktu berjalan. Hari demi hari berganti selama di posko Rama menyadari bahwa tidak ada anak yang paling konyol sekonyol-konyolnya di desa itu selain BETANG.
    Di antara anak-anak yang sering datang main di posko mereka, cuman  BETANG anak kelas 6 yang tidak tau hasil penjumlahan 10 + 10, 20 + 20, bahkan 1 + 1. 
    Cuma BETANG anak yang suka main gelembung ingus dari hidungnya.
    Cuma BETANG anak yang mau mereka suruh makan pisang satu sisir sendirian tanpa berhenti.

Meskipun pulangnya dia beol-beol (PUP). ....

    Cuma BETANG anak yang mau mereka suruh mengusir babi yang masuk ke pekarangan sekolah SD, tempat posko mereka tanpa pake sendal.
    Dan, cuma BETANG anak yang hobby pipis sembarangan di depan posko mereka.
    ....

     Tapi di balik semua itu, 
    BETANG anak yang sangat akrab dengan dirinya dan teman-teman di posko mereka. 
    BETANG selalu memberikan tawa karena kekonyolan-kekonyolan yang sering dia lakukan.
    ....

    Pernah suatu pagi.

    Ramai anak-anak SD yang bermain di halaman sekolah, menunggu bel masuk kelas untuk belajar. Di antara anak-anak yang bermain, Rama, Jimmy dan teman-teman poskonya melihat BETANG berdiri di depan pintu kelas dengan badannya disandarkan ke dinding. 
    Betang menatap ke atas. 
    Dia melihat papan kecil penanda ruangan “IV (KELAS EMPAT)” Rama dan teman-teman tau, kalo ada tulisan tanda ruangan “IV (KELAS EMPAT)” di papan itu.

    Mereka penasaran. 
    Kenapa BETANG seolah diam kebingungan menatap papan tanda ruangan “IV (KELAS EMPAT).”

    Rama dan Jimmy menghampiri BETANG. Diikuti anak-anak SD lainnya yang mengekor seperti monyet melihat pisang ke Rama dan jimmy .
    “kenapa BETANG ? baca ini kelas berapa ?” tanya jimmy sambil nutup tulisan “EMPAT” di papan tanda ruangan itu.
    Dengan pede. 
    BETANG jawab. 
    “KELAS...”
    “ EM...PAT...” 
    “BLASSS...”
    ....

    “AHAHAHAHAHAHAHAHAHA ....” Rama dan Jimmy hampir mati tertawa berguling-guling di lantai depan kelas. Bareng anak-anak SD lainnya.
    Itu menjadi tawa paling heboh mereka selama berada di desa itu, bahkan sampe kembali ke kota, Rama masih bisa tertawa inget kejadian itu. Semua gara-gara BETANG. 
    Rama menyebut dia anak ABSURD posko Bangunemo.
    ....

    Rama bersama teman-teman kelompoknya sudah tiga kali kembali lagi di desa itu, dan tetep aja sama. Mereka masih di tempat tinggal yang sama. Depan rumah BETANG.
    BETANG masih seperti yang sebelumnya.
    BEGO.

    Sampai habis masa praktek lapangan Rama dan teman-temannya di Desa Bangunemo, Kecamatan Bulagi Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah.

(Percakapan asli menggunakan bahasa dan logat khas daerah Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah di ubah menjadi Bahasa Indonesia Gahol.)