Non-fiksi #petualangan

ALASKA

Penulis Mashar67
04 February 2026

Alaska

Inilah tamasya saya yang pertama dalam paket ”Grand Orient & South Pacific Cruise.” Itu adalah nama paket wisata yang dijual di atas kapal pesiar. Paket wisata ini berlangsung hampir tiga bulan lamanya. Menyusuri Vancouver, singgah di beberapa kota kecil di Alaska dan selanjutnya menyusuri negara-negara di benua Asia, Australia, kepulauan Pacific dan terakhir singgah di Los Angeles.

Alaska adalah salah satu negara bagian yang dimiliki Amerika Serikat. Di sana saya memperoleh kesempatan berkunjung di seluruh kota yang membentang dari Ketchikan, Juneau, Sitka, Valdez hingga Seward. Alaska merupakan negara pertama dari jalur petualangan keliling dunia sambil bekerja di atas kapal pesiar.

Menurut sejarah, pada awalnya Alaska dimiliki oleh Rusia tapi kemudian dibeli oleh Amerika Serikat dengan imbal beli sebesar US $ 7.2 juta. Proses serah terima tanah seluas 586.000 mil persegi itu tertuang dalam perjanjian tanggal 30 Maret 1867 antara pihak Amerika Serikat dengan Rusia. Pada awalnya banyak rakyat Amerika yang tidak mengerti apa manfaatnya membeli tanah seluas namun sesepi itu. Mereka menganggapnya sebagai sebuah kebodohan. Itulah sebabnya perjanjian itu dikenal dengan ”Seward Folly” atau kebodohan yang dibuat di Seward. Di kota itulah perjanjian tersebut ditandatangani. Tapi di kemudian hari, Alaska sangat dikenal karena tambang minyak, emas dan ikan salmon-nya. Tambang minyak berlimpah ruah di Valdez. Pipa-pipa panjang mengalirkan minyak setiap hari ke pantai Valdez. Di sana pula dibangun pelabuhan terapung terbesar yang dibuat manusia di dunia.

Bicara soal minyak bumi, kita sering dibuat terkecoh dengan fakta yang ada. Kalau ditanya negara mana yang paling kaya minyak bumi, kita akan dengan cepat menjawab Arab Saudi atau Indonesia. Jika Anda menjawab Arab Saudi atau Indonesia, itu adalah jawaban yang salah. Jawaban yang benar adalah Amerika Serikat! Jawaban ini pasti akan membuat Anda terperanjat kaget. Itulah hebatnya bangsa Amerika. Dia tidak mau mengumbar habis energi di dalam negeri. Sebisa mungkin dia akan menguras habis energi dari negera lain lebih dahulu. Suatu saat nanti, kita akan datang dan mengemis-ngemis ke Amerika untuk mendapatkan sumber energi. Harga yang disodorkan ke kita pasti bakal mencekik leher.

Oleh karenanya, jangan bangga lagi dengan julukan bangsa Indonesia yang ”gemah ripah loh jinawi” ini. Bangsa yang dikarunia sumber alam melimpah, seperti yang pernah dinyanyikan oleh Koes Plus dengan perumpamaan ”bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu....orang bilang tanah kita tanah surga tongkat kayu dan batu jadi tanaman….” Nyatanya kita tak sanggup menjaga sumber alam yang kita miliki. Kita juga amat royal mengobral kekayaan alam dengan harga yang amat murah ke pihak asing. Minyak bumi, air, hutan, buruh dan entah apa lagi yang bakal kita jual murah ke mereka.

Kembali ke soal tamasya ke Alaska, kota pertama yang saya kunjungi adalah Ketchikan. Menurut sejarah, Ketchikan dulunya kota tambang emas dan tempat mancing ikan salmon suku Indian. Nama Ketchikan sendiri diambil dari bahasa Indian: ”katcha-kanaa” atau kepak sayap burung elang.

Di Kethickan ini saya sempat berkunjung ke sebuah museum Dolly. Begitu membaca nama museumnya, pikiran saya langsung melayang ke Surabaya. Di sana ada kompleks pelacuran terkenal dengan nama Dolly. Tidaklah salah. Museum Dolly adalah sebuah museum berupa rumah kecil peninggalan seorang pelacur yang dulu harus berjuang menyambung hidup di tengah-tengah pekerja tambang, yang ketika itu terjadi penambangan emas besar-besaran di Alaska.

Saya tidak tahu persis, apakah nama kompleks pelacuran Dolly di Surabaya mendapat ide dari nama museum ini. Di dalam museum itu sempat saya lihat bekas ruang tamu, ruang tidur, dapur, foto-foto pribadi, beserta perlengkapan rumah tangga yang masih tampak terawat rapi. Tak tampak kesan norak atau kampungan dari benda-benda yang ditinggalkannya. Saya membayangkan apa yang terjadi puluhan tahun silam di tengah-tengah belantara Alaska yang selalu berselimut salju itu. Perempuan yang bernama Dolly itu mungkin tak lagi berpikir apakah pekerjaan yang dilakukannya itu dosa atau tidak. Yang terpikirkan olehnya barangkali adalah bagaimana menyambung hidup di tengah ganasnya Alaska, tanpa sanak saudara.

Di Alaska ini, saya berkesempatan bisa menyaksikan megahnya gunung salju abadi Mendenhall Glacier. Dari Juneu, ibu kota Alaska, saya membeli paket wisata ke sana dengan shuttle bus. Gunung salju itu bisa saya nikmati dari jauh, karena memang ukurannya luar biasa. Sebenarnya saya ingin sekali bisa naik helikopter buat berkeliling dan mendarat tepat di atas salju abadi itu. Namun harga sewa yang ditawarkan masih jauh dari ukuran keuangan yang saya miliki saat itu.

Kota terakhir Alaska adalah Seward. Dia juga menjadi kota yang paling beku di antara saudara lainnya. Kota ini terkenal karena hampir setiap tahun diselenggarakan lomba Iditarod, napak tilas perburuan emas penduduk asli hingga pedalaman kutub utara. Para penduduk asli itu dulunya biasa membawa perbekalan dan surat-menyurat dari Seward ke pusat tambang emas di Nome. Dari Nome, jutaan dolar emas dikirim balik ke Seward dengan menggunakan kereta yang ditarik anjing-anjing kutub. Rute yang dilalui adalah menyeberang dua pengunungan salju Yukon hingga laut Bering.

Di kota ini saya punya banyak waktu buat jalan-jalan, karena di tempat ini seluruh penumpang yang mengambil paket Alaska Tour berakhir dan berganti dengan penumpang baru. Dengan demikian, saya punya banyak waktu luang sejak breakfast hingga waktu menjelang dinner. Kegiatan favorit saya adalah naik bukit bersalju dan melukis, sekaligus memuaskan dahaga untuk fotografi.

Kegiatan lain adalah memancing ikan salmon. Pada saat mancing, banyak saya jumpai para pehobi mancing di Seward ini. Mereka datang bersama keluarga, sekalian pesta bakar ikan di bibir pantai. Kegiatan-kegiatan waktu luang itu sangat penting untuk saya lakukan. Kegiatan waktu luang itu dapat dijadikan katarsis atau makanan rohani untuk melepas kejenuhan. Kegiatan itu bisa juga dimaknai sebagai sebuah oase dari rutinitas kerja yang bisa menggerus emosi hinga batas nadir.

Berada di Alaska memang akan membawa sensasi tersendiri. Alamnya yang berbeda secara ekstrim dengan alam di negara tropis macam Indonesia, seolah telah menyeret saya ke alam lain yang hanya sempat saya temui di alam mimpi. Mimpi itu kini hadir nyata di hamparan depan mata saya. Sore harinya, saat kapal mulai meninggalkan Alaska, terlihat gunung salju di kejauhan runtuh pada sebagian dindingnya, menimbulkan suara gelegar ketika bongkahan es raksasa itu mengempas air laut dan menjadi serpihan-serpihan es yang mengapung di seluruh hamparan laut.

Petualangan berikutnya adalah di Muroran, Jepang ...