Non-fiksi #petualangan

XINGANG, CHINA

Penulis Mashar67
04 February 2026

Dari Vladivostok kapal berlayar menyusuri tepi barat benua Asia. Mampir sebentar di Pusan (atau Busan), Korea Selatan. Tak banyak yang bisa saya ceritakan ketika mampir di Pusan, kecuali pengalaman makan mie instant di kedai tengah kota sambil berdiri. Barangkali itu memang kebiasaan masyarakat kota Pusan yang tak punya waktu banyak untuk bersantai ria. Mie instant itu dapat dibeli dari mesin otomat yang berjejer di kedai dan kita sendiri yang memasaknya dengan air panas juga sudah tersedia dengan hanya menekan tombol air panas. Dari sana, kapal kemudian bergerak ke selatan menuju kota Xingang, Cina.

Xingang adalah kota pelabuhan dengan warna kusam. Lebih kusam daripada Vladivostok. Barangkali inilah ciri khas negara komunis. Tampaknya, semangat hidup sama rata sama rasa benar-benar diterapkan di sini. Sehingga yang tampak di depan mata adalah bangunan yang hampir seragam. Tak ada yang mencolok antara bangunan mentereng dengan bangunan biasa. Tapi itu semua tak menyurutkan niat untuk terus melangkah menyusuri lekuk liku kota itu. Lorong-lorong flat kumuh yang saya lewati mulai memperlihatkan suasana hiruk pikuk manusia di dalamnya.

Pada sebuah bangunan, saya dan beberapa teman sempat memperlambat langkah dan kemudian berhenti di depan pintu merah menyala yang setengah terbuka. Di dalamnya berdiri seorang perempuan dengan kipas di tangan, mempersilahkan kami semua untuk masuk ke dalam. Dalam hitungan detik, kami mulai faham, ini adalah rumah bordil! Aroma wewangian pembangkit syahwat sudah mulai tercium begitu kami memasuki pintu merah itu. Kami melihat-lihat beberapa foto perempuan yang dipajang di samping jendela. Ada yang masih terlihat belia, tapi ada juga yang sudah setengah tua. Mereka tampaknya sudah siap untuk menampung berbagai selera. Dari dalam ruangan, muncul seorang perempuan lain setengah tua, dengan kipas di tangan menutup mulut. Dari gerak-geriknya, dia adalah germo di rumah bordil itu. Mata nakalnya mengerling kami semua, memberi isyarat untuk segera masuk ke kamar. Kami belum bereaksi. Begitu dia mulai bicara dan kipas yang sejak tadi menutup mulutnya mulai terbuka, barulah kami terperanjat dan segera kabur demi melihat deretan gigi yang hampir sebagian besar dilapisi metal putih itu. Kami tak mau jadi korban keganasan giginya!

Lepas dari rumah bordil nan horor itu, kami mulai mencium bau menyengat yang yang terbawa angin dari arah depan. Bau khas pasar tradisional itu segera mengepung pernapasan, tak menyisakan hawa segar sedikit pun. Tapi kami tak kuasa untuk lari menghindar, karena di seberang sana kami melihat ada atraksi unik yang tak pernah kami lihat sebelumnya di Indonesia. Di sana, kami lihat seorang laki-laki berkaos singlet dengan kepala diikat handuk kumal sedang mengaduk adonan tepung liat dengan kedua tangannya.

Sejurus kemudian, dengan gerakan bak pemain silat, kedua tangannya mulai mencabik, memilin, mengayun tepung liat itu. Dan sungguh ajaib, dalam sekejap berubah menjadi adonan mie! Suatu pemandangan yang amat langka untukdilewatkan. Di sebelahnya, berderat pedagang kelontong. Ruparupa barang digelar di atas tikar plastik yang terhampar di pinggir jalan. Udara panas merayap, ditingkah bau menyengat yang kembali menyergap hidung dan masuk ke paru-paru. Kali ini isi perut sudah mulai bergolak protes.

Tak kuat dengan bau menyengat, kami kabur ke sebuah toko ”Seaman club” yang terletak tak jauh dari pasar tradisional tadi. Ini adalah toko khusus buat para pelaut. Ada banyak souvernir khas Cina yang digelar di dalam toko. Di dalam toko itu barulah kami berpencar mencari cindera mata sesuai selera masing-masing yang bisa kami bawa pulang nanti sebagai buah tangan telah menginjakkan kaki di daratan Cina. Saya sempatkan membeli replika ”the great wall of China,” serta kotak kayu tempat perhiasan. Kelak di kemudian hari, kotak kayu itu saya pergunakan sebagai kado istimewa sebagai tempat menaruh cincin kawin pada pesta perkawinan saya. Beberapa souvenir lain, satu persatu masuk ke kantong plastik.

Sambil menunggu teman lain yang masih rakus belanja, saya iseng-iseng mampir ke toilet buat buang air kecil. Toilet itu terletak di bagian belakang toko. Tapi buru-buru niat itu saya urungkan demi melihat suasana horor yang terpampang di depan mata. Toilet itu rupanya tidak berpintu dan saya lihat ada seorang laki-laki sedang jongkok meringis di dalamnya, sedang berjuang melepas hajat besarnya, dengan bau tinja yang segera menyebar ke mana-mana. Puih! Saya tak kuasa melanjutkan kunjungan muhibah ini. Saya cepat-cepat pulang balik ke kapal. Mohon maaf, bukannya saya tak suka dengan negeri tirai bambu ini, tapi saya memang tergolong tipe makhluk yang sangat mencintai keindahan, kebersihan dan kerapian.

Kesan suram itu sulit hilang dari ingatan ketika orang memperbincangkan sesuatu yang berbau Cina. Gambaran tentang Cina yang terbangun di kepala saya selalu berkaitan dengan hal-hal negatif: kumuh, jorok, dekil. Kesan buruk itu belakangan bertambah, ketika saya pulang ke Tanah Air dan bekerja di sebuah biro perjalanan wisata. Ketika itu saya menjadi pemandu rombongan pejabat dari Provinsi Sichuan yang belajar tentang cara beternak hewan seperti kambing atau sapi di Indonesia. Kesan negatif yang masih tersimpan di kepala adalah praktik korupsi luar biasa yang mereka lakukan di Indonesia.

Ceritanya, ketika mereka akan melakukan pembayaran untuk urusan akomodasi dan perjalanan selama di Indonesia, mereka minta dibuatkan kuitansi dengan nilai yang berlipat-lipat dari yang seharusnya mereka bayarkan. Madame Zhang yang menjadi pimpinan rombongan dengan gaya aristokratnya seolah tak bersentuhan dengan perkara nista ini. Anak buahnya dengan cantik telah menyelesaikan segala urusan ini. Hasil mark-up yang mereka lakukan mereka pakai buat belanja patung kayu di Jogja, perak di Bali, dan seabrek oleh-oleh yang tentu saja akan dibagi rata di sana.

Seluruh konstruksi gambaran tentang Cina menjadi sempurna kebobrokannya ketika baru-baru ini saya membaca buku kisah nyata ”China Undercover” karya Chen Guidi dan Wu Chuanto. Ini kisah pilu dan berdarah-darah dari sebagian besar penduduk Cina yang petani itu. Kisah diawali dengan matinya seorang petani Ding Zuomang dari Desa Luying karena terlalu vokal menuntut pembebasan pajak yang semakin mencekik leher petani desa. Kisah kedua adalah pembantaian 4 petani Desa Zhang yang dilakukan oleh kader partai desa yang murka karena para petani tak mau diperas dengan berbagai pajak ngawur yang mereka ciptakan. Cerita ketiga adalah tragedi Desa Gao, yang mengumbar keangkaramurkaan Zhang Jidong untuk mengobrak-abrik penduduk desanya sendiri karena adanya perlawanan petani. Tragedi keempat terjadi di Desa Wang, Kecamatan Baumiao.

Seluruh peristiwa itu terjadi di Provinsi Anhui, Cina, dalam rentang tahun 1992-1996. Itu artinya terjadi pada abad 21 di mana hak asasi dan keadilan di depan hukum harusnya sudah ditegakkan. Ketika seorang petani berteriak, “Tak seorangpun dapat melebihi hukum.” Dengan entengnya seorang pejabat Cina mencemooh: “Kau benar-benar percaya omong kosong yang kau lihat di TV dan kau baca di korankoran mengenai aturan hukum? Jangan tolol. Mungkin di Amerika seorang pejabat lokal dapat mendakwa presiden - tapi itu di Amerika, bukan Cina. Biar kuberi tahu, ini Cina, di sini manusia yang mengatur, dan aku mengaturmu!”

Kisah nyata ini menjadi kontroversial di Cina dan sempat dilarang oleh pemerintah. Karena bisa menjatuhkan citra bangsa Cina dengan sederet cap negatif: korup, sadis, rakus, dsb. Tapi 10 juta kopi bajakannya sempat beredar di pasar gelap di Cina dan kini bahkan sudah beredar di banyak negara. Saya mendapatkan buku itu sudah dalam edisi terjemahan Indonesia.

Di ujung belahan dunia lain, warga bangsa Cina menggeliat dan berhasil membuktikan bahwa mereka bukanlah kelompok bangsa yang lemah. Mereka telah menyebar ke segala penjuru dunia, mulai dari ujung Alaska, Rusia, Eropa, Afrika, Amerika, hingga di pelosok kecamatan di Indonesia. Penyebaran bangsa Cina itu ternyata telah dimulai jauh sebelum Christopher Colombus menemukan Amerika dan James Cook menemukan Australia. Fakta sejarah yang cukup mengejutkan, saya temukan setelah membaca buku fenomenal karya Gavin Menzies, berjudul ”1421: Saat Cina Menemukan Dunia.” Dalam buku itu ditemukan fakta bahwa Colombus ternyata menggunakan panduan peta pelayaran yang dibuat oleh bangsa Cina. Dan fakta menunjukkan bahwa bangsa Cina relatif berhasil di perantauan, membangun imperium bisnis, menggurita bagai raksasa ekonomi yang liat dan tak terpatahkan.

Petualangan berikutnya di negeri indah kepulauan Pasifik: Vanuatu, Sufa-Fiji, American-Samoa.