Ritual Pagi di Perbatasan
Matahari Tangerang belum benar-benar terbit, tapi hawa panasnya sudah mengetuk jendela nako rumah kontrakan petak tiga itu dengan sopan santun setipis tisu toilet terminal. Di dalam kamar yang sempit namun tertata dengan presisi militer, Sarah sedang melakukan ritual morning routine yang sakral. Bukan, dia bukan CEO startup di SCBD yang sedang menyeduh kopi single origin dari biji kopi Flores Bajawa. Sarah adalah CEO dari kehidupannya sendiri, Founder dari "Sarah & Ben Logistics Solutions" (nama keren untuk akun ganda ojek online suami-istri), dan pagi ini, dia sedang menghadapi krisis eksistensial yang lebih berat daripada inflasi harga BBM.
"Ben, wake up! Kita harus briefing strategi hari ini. Algoritma lagi moody parah," seru Sarah sambil menepuk pipi suaminya, Bambang—yang lebih suka dipanggil Ben demi personal branding - dengan spons bedak yang sudah agak dekil.
Ben menggeliat. Suara dengkurannya terputus, digantikan oleh erangan protes kaum proletar yang kurang tidur. "Sar, ini jam empat pagi. Ayam tetangga aja masih overthinking mau berkokok atau nggak. Lu ngapain sih udah full makeup?"
Sarah tidak menjawab. Dia sibuk memoleskan lipstik merah marun matte finish yang diklaim tahan badai, tahan minyak gorengan, dan tahan caci maki pelanggan. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin lemari plastik yang retak di ujung kanan. Di sana, dia tidak melihat seorang ibu yang masih menanggung cicilan panci marble coating. Dia melihat seorang wanita karier yang siap menaklukkan aspal jalanan Ciledug.
"Denger ya, Ben. Hari ini tuh big day. Ingat nggak undangan nikahan si Siska 'Ular Kobra' Wijaya? Itu nanti malam. Di Hotel JHL Solitaire Gading Serpong. The JHL Solitaire, Ben. Bukan gedung serbaguna kelurahan," cerocos Sarah sambil merapikan alisnya yang harus presisi simetris. "Gue butuh dana talangan buat nebus sewa kebaya di Tante Yul. Dan target revenue kita hari ini harus tembus lima ratus ribu bersih. Net profit, bukan gross."
Ben bangkit duduk, menggaruk kepalanya yang masih berantakan seperti sarang burung pipit pasca-badai. Dia menatap istrinya dengan tatapan nanar campuran antara cinta dan kelelahan kronis. "Lima ratus ribu? Sar, lu kira kita jualan ginjal? Orderan lagi anyep. Kemarin aja gue cuma dapet nganter galon ke lantai empat tanpa lift. Itu workout gratis yang nggak gue minta."
"Itu karena mindset lu kurang growth oriented, Ben!" Sarah berbalik, mengibaskan rambutnya yang baru saja dicatok lurus (meski nanti akan lepek lagi setelah lima menit memakai helm). Dia mengambil jaket hijau kebesarannya dari gantungan, memperlakukannya seolah itu adalah blazer Chanel tweed edisi terbatas.
Sarah menyemprotkan parfum refill aroma vanila yang menyengat ke seluruh tubuhnya. Wangi ini adalah senjata biologis untuk melawan bau asap knalpot Kopaja dan aroma got Ciledug yang legendaris. "Kita harus main cerdas. Gue udah analisis data. Jam segini, target pasar kita adalah anak-anak sekolah internasional di Bintaro yang ketinggalan buku PR, atau karyawan budak korporat yang butuh kopi susu gula aren sebelum meeting pagi. High urgency, high tipping potential."
Dia menuangkan kopi hitam dari termos ke dalam dua gelas belimbing. Uap panas mengepul, membawa aroma kafein murahan yang menendang ulu hati. Sarah menyesapnya dengan anggun, jari kelingking sedikit terangkat.
"Ini bukan sekadar ngojek, Ben. Ini urban survival game," bisik Sarah dramatis. "Dan gue menolak kalah dari Siska. Gue harus datang ke nikahannya, pamer kalau hidup gue happy, makan buffet sepuasnya, lalu pulang dengan kepala tegak. Understand?"
Ben menghela napas panjang, menyerah pada takdir. Dia tahu, kalau Sarah sudah masuk mode "Ambisius Jaksel", tidak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan banjir setinggi lutut di Ciledug Indah pun akan dia terjang dengan gaya kupu-kupu.
"Iya, Madam CEO," jawab Ben lemas, menyeruput kopinya. "Tapi kalau ban bocor lagi kayak minggu lalu, jangan nyalahin universe ya. Salahin paku."
"Paku itu cuma obstacle kecil dalam journey menuju kesuksesan, Ben. Ayo, suit up!"
Mereka keluar dari kontrakan. Langit Tangerang mulai membiru, namun udara sudah terasa berat dan lembap. Motor matic cicilan ke-24 mereka terparkir di teras, tampak gagah meski baret-baret halus mulai menghiasi bodinya - tanda jasa dari pertempuran sengit di kemacetan Hasyim Ashari. Sarah memasang helmnya, mengunci tali pengikatnya dengan bunyi klik yang mantap. Bagi Sarah, bunyi itu adalah lonceng dimulainya perdagangan saham di Wall Street.
"Ingat, Ben. Jangan ambil orderan Gofood yang kuahnya banyak kalau rutenya lewat polisi tidur Graha Raya. Kita minimize risk, maximize return," instruksi Sarah melalui interkom imajiner (berteriak dari balik kaca helm).
"Siap, Bos. Doain pantat gue nggak tepos hari ini," gumam Ben sambil menstarter mesin. Suara mesin menderu, memecah keheningan gang.
Sarah menatap jalanan di depan. Matanya menyipit tajam. Di kepalanya, dia bukan sedang menuju pangkalan ojek. Dia sedang menuju medan perang. Dan musuhnya hari ini bukan hanya kemacetan atau panas matahari, tapi gengsi masa lalu yang harus dia tebus lunas nanti malam.
Neraka Bocor Halus dan Algoritma Durjana
Pukul sebelas siang, matahari Tangerang sudah tidak lagi sopan. Dia berubah menjadi monster yang memuntahkan api ke aspal, memanggang siapa saja yang cukup bodoh untuk berada di luar ruangan. Sarah merasakan keringat mulai melunturkan foundation tebalnya, menciptakan alur-alur sungai kecil di lehernya. Tapi dia tidak peduli. Dia sedang dalam misi.
Posisi saat ini: Lampu merah Alam Sutera yang durasinya lebih lama daripada hubungan asmara selebgram.
Ponselnya bergetar. Notifikasi masuk. Bukan orderan kakap yang dia harapkan, melainkan pesan dari grup WhatsApp "Alumni SMA 2010 - Sukses Mulia".
Siska Wijaya: "Guys, jangan lupa ya nanti malam! Dresscode: Elegant Glam. See you! 😘"
Sarah mendengus. Jempolnya menari di atas layar retak ponselnya, mengetik balasan chat pribadi dengan Ben.
Sarah: "Ben, posisi? Gue baru dapet 150 ribu. Masih jauh dari target. Lu gimana?"
Ben: "Lagi nyangkut di BSD. Nganterin tanaman hias segede gaban. Ibu-ibunya galak, minta tanamannya nggak boleh goyang sedikitpun. Dikira gue bawa bayi tabung kali."
Sarah: "Hustle harder, Sayang! Jangan lemah. Gue mau geser ke area Gading Serpong. Katanya di sana lagi banyak orderan lunch orang kantor."
Tiba-tiba, aplikasi di ponsel Sarah berbunyi nyaring. Ting-nong!
Mata Sarah membelalak. Orderan Gofood. Restoran: "Seblak Mercon Level Kematian". Tujuan: Cluster elit di BSD yang satpamnya terkenal lebih ribet daripada imigrasi Amerika Serikat. Jumlah pesanan: 15 bungkus.
"Gila," desis Sarah. "Ini mau makan siang apa mau simulasi sakit maag massal?"
Tapi dia melihat nominal ongkos kirim dan tip yang dijanjikan. Matanya berbinar. Ini dia. Ini adalah whale client yang dia tunggu. Kalau dia ambil ini, target kebaya aman. Tapi tantangannya jelas: membawa 15 bungkus kuah merah membara di tengah terik matahari, dengan risiko tumpah yang bisa mengubah jaket hijaunya menjadi instalasi seni abstrak beraroma kencur.
Sarah menekan tombol "Terima". Adrenalin membanjiri darahnya.
Perjalanan mengambil pesanan berjalan mulus, meski dia harus berdebat dengan tukang parkir yang memaksa minta dua ribu padahal Sarah cuma parkir tiga detik. Masalah sebenarnya dimulai saat pengantaran.
Jalanan menuju BSD macet total. Ada perbaikan jalan - proyek abadi yang sepertinya tidak akan pernah selesai sampai kiamat tiba. Truk-truk tanah raksasa merayap seperti dinosaurus besi, menyemburkan debu tebal yang langsung menempel di wajah Sarah.
"Sialan," umpat Sarah di balik maskernya. "Muka gue glowing bukan karena skincare, tapi karena minyak campur debu proyek."
Dia bermanuver. Menyelip di antara celah sempit antara Pajero Sport dan trotoar. Spion motornya nyaris menyenggol bodi mobil mewah itu. Jantungnya berdegup kencang. Satu goresan saja, dan tamatlah riwayat keuangannya bulan ini. Dia harus menggunakan skill berkendara tingkat dewa: The Ciledug Swerve.
Tiba-tiba, bencana menyerang tanpa permisi.
Motornya terasa oleng. Bagian belakang bergoyang liar seperti pedangdut koplo. Sarah menyeimbangkan diri sekuat tenaga, menahan beban 15 bungkus seblak di gantungan depan dan boks belakang. Dia menepi.
Ban belakang kempes. Bukan bocor biasa. Ini sobek samping.
Sarah menatap ban yang tak berdaya itu dengan tatapan kosong. Panas matahari serasa menertawakannya. Dia melihat jam. 12:30. Pelanggan sudah mulai chat bertanya, "Mbak, kok berhenti? Saya udah laper nih, mau pingsan."
"Pingsan lu nggak sebanding sama penderitaan gue, Dek," gumam Sarah getir.
Dia menelepon Ben. Tidak diangkat. Ben pasti sedang bertarung dengan tanaman hias itu. Sarah sendirian. Di pinggir jalan raya yang gersang, dengan ban bocor, seblak yang mulai dingin, dan harga diri yang terancam runtuh.
Apakah dia harus menyerah? Membatalkan pesanan, membiarkan ratingnya hancur, dan melupakan mimpi datang ke pernikahan Siska dengan kepala tegak?
Tidak. Sarah bukan tipe wanita yang menyerah hanya karena karet bundar sialan.
Dia melihat sekeliling. Ada bengkel tambal ban kecil sekitar 500 meter di depan. Dia turun, standar dua motornya tidak mungkin dipakai. Dia harus mendorong.
Mendorong motor matic dengan beban muatan penuh di tengah siang bolong Tangerang adalah bentuk penyiksaan fisik yang harusnya dilarang oleh PBB. Setiap langkah adalah perjuangan. Otot betisnya menjerit. Keringat membanjiri punggungnya, merusak tatanan kebaya imajiner yang sudah dia bayangkan.
"Ayo, Sar. Lu bisa. Lu wanita kuat. Lu wanita independen. Lu wanita yang butuh validasi sosial!" rapalnya seperti mantra.
Sampai di bengkel, abang tambal bannya menatapnya kasihan. "Waduh, Neng. Sobek ini mah. Harus ganti ban dalem. Ban luarnya juga udah botak, bahaya."
"Ganti aja, Bang. Yang penting cepet. Saya bawa nyawa orang ini," kata Sarah sambil menunjuk bungkusan seblak.
Dompetnya menipis seketika. Keuntungan hari ini tergerus biaya bengkel. Sarah ingin menangis, tapi air mata akan merusak maskaranya. Dia menahan napas, menatap langit yang mulai mendung.
"Cobaan apa lagi ini, Tuhan? Apa gue kurang sedekah? Atau karena gue sering bohong bilang 'otw' padahal masih boker?"
Selesai ganti ban, Sarah tancap gas. Dia tidak peduli lagi dengan lubang jalan. Dia terbang. Dia sampai di gerbang cluster mewah itu dengan napas memburu. Satpam menghadangnya dengan tatapan curiga.
"KTP mana? Tinggalin di sini. Jaket buka. Periksa tas."
Sarah menurut dengan sisa kesabaran setipis kulit bawang. Dia masuk ke dalam kompleks yang sunyi dan damai, kontras sekali dengan neraka di jalan raya tadi. Rumah-rumah gedongan berdiri angkuh.
Dia sampai di rumah nomor 88. Seorang gadis remaja keluar dengan wajah cemberut.
"Lama banget sih, Mbak? Keburu bad mood nih aku."
Sarah ingin sekali melempar seblak itu ke wajah glowing anak itu. Tapi dia tersenyum. Senyum "Customer Service" terbaiknya. "Maaf ya, Kak. Tadi ada insiden ban meledak. Tapi seblaknya saya jagain kayak anak sendiri kok. Masih anget."
Gadis itu mendengus, mengambil bungkusan itu tanpa bilang terima kasih, dan membanting pintu pagar.
Sarah berdiri terpaku di depan pagar tinggi itu. Ponselnya berbunyi. Notifikasi tip masuk.
Rp 5.000.
Sarah tertawa. Tawa yang kering dan hampa. Lima ribu rupiah. Cukup untuk beli permen karet guna menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Tapi kemudian, notifikasi lain muncul. Poin performanya naik. Dia mencapai target bonus harian.
"Oke," bisiknya. "Masih ada harapan."
Cinderella Versi Ojol
Malam telah jatuh di Gading Serpong. Lampu-lampu hotel JHL Solitaire berkilauan, mengejek kemiskinan siapa saja yang memandangnya dari bawah. Di parkiran motor yang tersembunyi di belakang gedung (karena motor butut dilarang parkir di lobi utama), Sarah dan Ben sedang melakukan transformasi ajaib.
Mereka bersembunyi di balik pilar beton. Sarah melepas jaket ojolnya, memperlihatkan kebaya merah marun yang sudah dia pakai sejak sore di balik jaket itu. Ajaibnya, kebaya itu tidak terlalu kusut. Bau apek sedikit tercium, tapi Sarah segera menyemprotkan sisa parfum vanilanya secara agresif.
"Ben, batik lu rapiin. Jangan kayak orang mau ngelayat," omel Sarah sambil membedaki wajahnya yang berminyak di bawah sinar lampu parkiran yang remang-remang. Dia mengganti sandal jepitnya dengan high heels 7 cm yang dia simpan di dalam jok motor.
"Sar, lu yakin kita masuk? Ini hotel bintang lima. Satpamnya ngelihatin kita dari tadi," bisik Ben, tampak tidak nyaman dengan kemeja batiknya yang agak kesempitan di bagian perut.
"Pede aja, Ben. Kuncinya itu confidence. Kalau kita jalan kayak yang punya gedung, orang nggak bakal nanya."
Mereka berjalan menuju lobi. Sarah menggandeng lengan Ben erat-erat, bukan karena romantis, tapi untuk menahan gemetar kakinya yang lelah setelah seharian menekan rem dan gas.
Pintu kaca otomatis terbuka. Hawa dingin AC menyambut mereka, membelai kulit mereka yang terbakar matahari. Wangi lobi hotel—campuran aroma bunga lili dan uang - langsung menusuk hidung.
Mereka masuk ke ballroom. Pemandangannya menyilaukan. Lampu kristal, dekorasi bunga segar yang harganya mungkin setara pendapatan mereka setahun, dan tamu-tamu yang terlihat seperti keluar dari majalah Tatler.
Dan di sana, di pelaminan, berdiri Siska. Cantik, berkilauan, dan tampak sempurna.
Sarah menarik napas. "Ayo, Ben. Kita salaman, makan, foto, terus cabut."
Mereka mengantre di barisan salaman. Jantung Sarah berdegup kencang saat giliran mereka semakin dekat. Dia menyiapkan senyum terbaiknya, senyum "hidup gue sukses banget lho".
Saat mereka sampai di depan Siska, mata pengantin wanita itu membelalak.
"Sarah? OMG! Sarah 'Preman Kelas'!" pekik Siska dengan suara cempreng yang tidak berubah sejak SMA.
Sarah tersenyum manis. "Halo, Siska. Happy Wedding ya. Gila, gorgeous banget lo malam ini. Konsepnya apa nih? Royal Wedding kearifan lokal?"
Siska tertawa, tapi matanya memindai penampilan Sarah dari atas ke bawah. "Makasih lho udah dateng. Gue kira lo nggak bakal sempet. Kan denger-denger lo sibuk banget... bisnis logistik ya?"
Itu dia. Sindiran halusnya.
"Iya dong, Sis. Logistics is the backbone of economy, kan? Sibuk banget emang, ngurusin armada, client retention, biasalah pusingnya entrepreneur," jawab Sarah lancar, menggunakan semua istilah yang dia pelajari dari podcast bisnis gratisan.
"Wah, hebat. Suami lo juga?"
"Partner strategis," kata Sarah sambil menepuk lengan Ben. Ben hanya mengangguk kaku, tersenyum seperti patung manekin.
Tiba-tiba, seorang pelayan hotel berlari kecil ke arah pelaminan, membisikkan sesuatu ke Siska dengan wajah panik. Wajah Siska berubah pucat.
"Aduh, gawat. Obat maag gue ketinggalan di kamar atas. Gue nggak bisa berdiri lama-lama nih, perut gue melilit parah gara-gara diet ketat seminggu ini," desis Siska panik pada suaminya, tapi suaranya terdengar oleh Sarah. "Mbak, tolong ambilin dong!" perintahnya pada pelayan.
"Maaf Bu, kunci kamar Ibu dibawa Ibu mertua, dan beliau sedang di toilet," jawab pelayan itu takut-takut.
Siska tampak seperti mau pingsan. Wajahnya yang penuh makeup mahal mulai berkeringat dingin. Citra sempurnanya terancam runtuh oleh asam lambung.
Sarah melihat momen itu. Insting ojolnya - insting penolong yang terasah di jalanan segera mengambil alih. Dia lupa pada gengsi, lupa pada persaingan. Dia melihat seseorang yang butuh bantuan darurat. High urgency.
"Sis," panggil Sarah tegas. "Lo butuh obat maag cair yang sachet-an kan? Yang mint?"
Siska menatap Sarah, matanya berkaca-kaca menahan sakit. "I-iya... kok lo tahu?"
"Gue selalu ready stock. Occupational hazard," kata Sarah cepat. Dia membuka tas kecilnya (yang sebenarnya tas kondangan murah yang dia modifikasi), dan mengeluarkan dua sachet obat maag cair. Jangan tanya kenapa dia bawa obat maag ke kondangan. Ojol sejati selalu siap sedia P3K.
"Nih. Minum sekarang. Jangan gengsi. Lo mau muntah di gaun Vera Wang KW Super lo itu?"
Siska menyambar obat itu, merobeknya dengan gigi (melupakan keanggunan), dan menenggaknya rakus. Beberapa detik kemudian, dia menghela napas panjang. Warna kembali ke wajahnya.
"Gila... life saver banget lo, Sar," bisik Siska tulus. Topeng sombongnya retak sedikit. "Sumpah, gue laper banget, cuma makan angin dari pagi demi gaun ini muat."
Sarah tertawa kecil. Tawa yang asli kali ini. "Makanya, Sis. Hidup jangan terlalu dipaksain. Kembung kan lo jadinya."
Siska terkekeh. "Lo bener. Thanks ya, Sar. Sumpah, thanks banget."
Momen itu hanya berlangsung sepuluh detik. Antrean di belakang sudah mulai tidak sabar. Sarah dan Ben turun dari pelaminan.
Mereka tidak jadi makan banyak. Sarah merasa kenyang. Bukan karena makanan, tapi karena kemenangan kecil yang aneh itu. Dia tidak memamerkan kekayaan palsu. Dia justru menyelamatkan "musuh"-nya dengan obat maag warung seharga dua ribu rupiah.
Nasi Goreng Gila Pinggir Jalan
Pukul sepuluh malam. Pesta sudah usai bagi Sarah dan Ben. Mereka kembali ke parkiran motor, melepas sepatu hak tinggi yang menyiksa, dan kembali memakai sandal jepit.
"Gila, kaki gue rasanya mau copot," keluh Sarah sambil memijat betisnya.
"Tapi lu seneng kan?" tanya Ben sambil menyalakan rokok sebatang - hadiah untuk dirinya sendiri setelah seharian menahan diri.
Sarah diam sejenak, menatap gedung hotel yang menjulang tinggi. "Seneng sih. Ternyata si Siska manusia juga. Bisa sakit perut, bisa panik. Duit banyak nggak bikin asam lambung dia jadi rasa stroberi."
Mereka keluar dari area hotel, kembali membelah malam Tangerang. Angin malam terasa lebih bersahabat sekarang. Mereka berhenti di sebuah tenda Nasi Goreng Gila di pinggir jalan raya Serpong. Tempatnya sederhana, di sebelah got, dengan pengamen yang menyanyikan lagu "Bento" dengan suara sumbang.
Mereka memesan dua porsi pedas mampus.
Saat nasi goreng datang, Sarah makan dengan lahap. Jauh lebih nikmat daripada canapé mungil di hotel tadi yang rasanya seperti gabus dikasih mayones.
"Ben," kata Sarah dengan mulut penuh nasi.
"Hmm?"
"Besok kita tetep narik kan?"
"Ya iyalah, Sar. Cicilan panci lu belum lunas. Ban motor tadi juga ngutang dulu sama abangnya," jawab Ben realistis.
Sarah tertawa. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Ben. Di sekeliling mereka, suara klakson truk dan debu jalanan menjadi simfoni yang akrab.
"Tau nggak, Ben? Tadi pas gue kasih obat ke Siska, gue sadar sesuatu."
"Apaan? Bahwa kita harus jualan obat maag?"
"Bukan. Gue sadar kalau gue sebenernya lebih hebat dari dia. Dia butuh validasi satu gedung buat ngerasa happy. Gue? Gue cuma butuh lu, motor butut ini, sama nasi goreng gila yang kerupuknya banyak."
Ben tersenyum, mengusap rambut Sarah yang bau asap dan vanila. "Tumben lu bijak. Kesambet setan BSD ya?"
"Sialan lu."
Mereka tertawa bersama di bawah lampu merkuri yang berkedip-kedip. Besok, matahari Tangerang akan kembali memanggang mereka. Besok, algoritma aplikasi mungkin akan kembali kejam. Besok, pelanggan ribet akan kembali menguji iman.
Tapi malam ini, Sarah adalah Ratu Aspal. Dia telah menaklukkan hari yang keras, menyelamatkan pengantin yang sombong, dan menikmati makan malam terbaik bersama satu-satunya "investor" yang percaya pada kegilaannya.
Dan bagi Sarah, itu sudah lebih dari cukup. Hidup di Tangerang memang keras, sekeras aspal jalanannya, tapi selama roda masih berputar, harapan akan selalu ada di tikungan berikutnya.
"Udah ah, ayo balik. Besok pagi ada promo Gofood jam 7. Kita harus standby," kata Sarah, kembali memasang mode CEO-nya.
"Siap, Bos," jawab Ben, kali ini dengan senyum tulus.
Motor matic itu pun melaju, menghilang ditelan debu dan malam, membawa sepasang pejuang receh yang menolak menyerah pada nasib.
SELESAI