Non-fiksi #petualangan

PACIFIC ISLANDS

Penulis Mashar67
04 February 2026

Selepas Singapura, kapal melanjutkan pelayaran ke Darwin, Australia, setelah singgah sehari di Padang Bai, Pulau Bali.

Ada mendung menggelayut di dalam hati ketika menyadari kapal merapat di Tanah Air, tapi tak ada satu pun saudara yang menyempatkan diri buat menjenguk. Saya sangat berharap ada saudara yang bisa datang menjenguk, minimal sebagai obat rindu di hati. Banyak teman-teman lain yang mendapat kunjungan saudara. Perusahaan memang memberi kesempatan yang luas bagi sanak saudara awak kapal pesiar asal Indonesia untuk datang berkunjung dan masuk ke dalam kapal pesiar, sekaligus wisata gratis keliling kapal pesiar yang tinggi besar itu. Sebuah ide yang bagus untuk menjalin hubungan yang baik antara awak kapal dengan keluarga mereka. Dengan adanya wisata grartis ini, minimal akan muncul kebanggan bagi saudara-saudara mereka. Tapi kemudian saya menyadari, diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengadakan perjalanan Jawa-Bali, hanya untuk menjenguk saya seorang diri. Saya juga tak bakal sanggup bertemu dengan mereka hanya dalam waktu hitungan jam, lalu kemudian perpisah lagi dengan jarak yang semakin jauh saja. Saya simpan rindu itu hingga kepulangan saya nanti.

Dari Bali, kapal meneruskan pelayaran ke Australia, singgah di Darwin yang terkenal panas. Darwin memang memiliki topografi bergurun dan konon masih banyak berkeliaran buaya-buaya yang ganas. Dari Darwin kapal mulai menempuh perjalanan nan panjang menyusuri Lautan Pacific nan teduh. Singgah di bebarapa pulau eksotik yang terbentang sepanjang lautan teduh, mulai dari Vanuatu, Sufa-Fiji, American-Samoa, hingga Hawaii.

Kata pacific sendiri secara harfiah memang berarti teduh. Kata ini sempat terkenal saat penyanyi Hoegeng memopulerkan acara ”Hawaian song” atau ”Irama Lautan Teduh” di TVRI. Beberapa tahun kemudian acara itu dilarang oleh pemerintah orde baru. Bukan karena irama lautan teduhnya, tapi karena sang penggagas acara, Hoegeng, adalah lawan politik Soeharto. Dia masuk dalam kelompok Petisi 50, satu angkatan dengan Ali Sadikin.

Pelayaran sepanjang lautan teduh ini semakin membuat hati saya bergelayut sepi. Apalagi dalam pelayaran sepanjang Alaska-Vladivostok-Naha-Muroran-Hongkong-Singapore-Bali-Darwin hingga melayari lautan teduh ini belum ada kiriman surat-surat dari Indonesia. Sudah ada berbilang bulan pelayaran ini, tak satupun surat kekasih atau sanak saudara yang ditujukan kepada saya. Lupakah mereka? Surat menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Bukan gaji bulan, atau bahkan tips dari para tamu.

Di sela-sela tawa riang teman-teman yang mendapat kiriman surat, saya kadang-kadang tercenung sejenak, seolah hendak menepis amarah, rasa jengkel dan juga rindu yang mengganggu. Itu semua karena surat yang saya nantikan tak kunjung tiba barang selembarpun. Saya tak tahu apa yang terjadi di sana. Jarak ini semakin jauh. Komunikasi tak lagi lancar. Saya hanya berharap bahwa itu semua hanyalah masalah teknis berupa lambatnya lalu lintas surat yang harus dikirim ke kantor pusat di Seattle, dan kemudian baru dikirimkan ke kapal yang selalu berpindah pelabuhan ini. Saya berharap, akan tiba juga surat untuk saya di pelabuhan berikutnya. Harapan itu selalu saya panjatkan, seperti kepastian akan datangnya pelabuhan setelah berlayar.

Lewat pukul 12 tengah malam, saya belum juga bisa memicingkan mata. Malam-malam berikutnya, tidur menolak datang. Akhir-akhir ini saya mengalami kesulitan untuk tidur. Bukan saja karena menunggu datangnya surat, tapi juga karena kapal sedang bergerak mendekati garis batas waktu internasional, menuju ke arah yang berlawanan dengan garis edar matahari. Hampir setiap hari, waktu selalu maju 30 menit hingga 1 jam lamanya. Malam sudah lewat pukul 2 dini hari, padahal seharusnya baru pukul 10 malam.

Dua hari sudah pelayaran di tengah Samudra Hindia…

Sore hari sekitar pukul 14.30, saya duduk termenung di buritan kapal menatap samudra yang luas tak terbatas. Ombaknya tak terlalu besar. Langit biru gelap dengan awan yang berserak jarang-jarang. Warna laut cenderung biru gelap, mendapat pantulan warna biru langit di atasnya. Angin laut menampar keras di wajah. Ada rasa asin menempel di bibir. Saya tak tahu lagi, apakah rasa asin itu sepenuhnya berasal dari cipratan air laut, atau sebagian berasal dari air yang keluar dari kelopak mata.

Kapal pesiar terus bergerak ke arah matahri terbit. Tapi saya justru merasakan kapal pesiar seperti hendak mau tenggelam …

Di saat duduk termangu di buritan, Pak Rukman, teman sekerja yang lebih senior, datang membuyarkan lamunan. Dia datang sambil menenteng radio transistor yang tengah mengumandangkan lagu dangdut dari stasiun RRI. Lagu-lagu merdu mendayu Rhoma Irama cukup jelas terdengar di telinga. Jenis musik dangdut memang menjadi salah satu favorit saya. Jenis musik ini tergolong jujur, sedikit norak dan kampungan. Masa bodoh. Saya tetap suka. Tanpa sadar, kepala, tangan, hingga ujung kaki ikut bergoyang mengikuti irama dangdut. Ah, ternyata masih ada ruang buat katarsis di tengah-tengah suasana sepi itu.

Kapal Holland-America Lines terus bergerak menyusuri lautan pacific. Tibalah saatnya di Pago Pago, American Samoa, setelah sebelumnya singgah di Vanuatu dan Fiji. Beda dengan kedua negara kepulauan itu, Samoa jauh lebih berkesan. Di tempat sebelumnya, Vanuatu adalah pulau kecil dengan suasana keseharian mirip pulau Bali bagian barat yang sepi. Sementara Fiji adalah negara kecil dengan penduduk mayoritas keturunan India. Mereka tidak hanya menduduki sektor ekonomi tapi juga sektor pemerintahan.

American Samoa, sesuai namanya, adalah negeri kecil di kepulauan pacific yang dirancang sebagai tempat kunjungan wisata milik Amerika. Banyak tempat lain di sepanjang lautan pacific ini dimiliki oleh negara-negara besar, macam Aruba yang menjadi milik Belanda atau Hawaii yang juga dimiliki Amerika Serikat.

Suasana alam American Samoa sungguh sejuk dan permai, sesejuk tempat asal saya di lereng gunung Lawu. Di sini, suasana alam pantai dan gunung berhutan tropis menyatu. Benar-benar merupakan perpaduan yang spektakuler. Sambil berkendara opelet sewaan yang mirip jeepney di Filipina, saya mencoba menikmati suasana alam dan keramahan penduduknya. Opelet yang saya tumpangi adalah suatu jenis angkutan yang sangat sederhana. Beda dengan taxi yang pernah saya tumpangi di Hawaii: sebuah limousine!

Hari itu, tampaknya mereka tampil spesial dengan memasang pelepah daun kelapa pada setiap pilar pintunya. Sepanjang perjalanan terlihat bangunan rumah penduduk berderet di sepanjang tepian pantai dengan gaya rumah mirip gaya rumah penduduk di pulau Jawa. Wajah-wajah penduduk terlihat memancarkan keramahan dan kedamaian. Duh, damainya negeri ini. Suasana yang macam begini ini yang bisa meruntuhkan pertahanan mental dan bisa membangkitkan penyakit orang perantauan: home sick!

Hujan deras mengguyur bumi Samoa, ketika kapal hendak meninggalkan pelabuhan yang mulai sepi. Dari atas buritan kapal pesiar, saya menyaksikan sebuah tarian perpisahan dan lambaian tangan penduduknya seolah tak rela melepas kepergian seorang sahabat.

Petualangan berikutnya, ketemu Bob Marley di Karibia!