Non-fiksi #petualangan

3 S IN CARIBBEAN

Penulis Mashar67
04 February 2026

if every man says all he can, if every man is true, do I believe the sky above is Caribbean blue…

Syair lagu “Caribbean Blue” yang dilantunkan oleh Enya ini serasa menggenapi nuansa eksotisme Karibia yang tak pernah habis tergerus oleh waktu. Betapa tidak, semua imajinasi dan khayalan tentang surga di benak kaum lelaki selalu identik dengan pantai, pasir putih, pohon nyiur melambai, cocktail party, dan gadis pantai yang menemani kita berpesta dansa. Mimpi ini pula yang selalu dijual melalui film-film Hollywood ketika pada akhir film sang jagoan yang berhasil keluar dari kesulitan perlu merayakan kemenangan dengan pergi ke sana. Karibia memang sudah sejak lama dikenal sebagai surga bagi para pemburu 3 S, yaitu sun, sea, sex.

Karibia bukanlah nama negara tapi sekumpulan negera-negara yang sebagian besar berupa negara pulau yang tersebar di Amerika Tengah. Mereka disatukan oleh laut Karibia. Beberapa negara yang tergabung dalam kelompok negara Karibia diantaranya adalah Puerto Rico, Jamaica, Grand Cayman, Republik Dominica, dan Costa Rica. Berapa pulau di antaranya sampai saat ini masih dimiliki oleh negara bekas penjajah macam Curacao yang menjadi milik Belanda. Pulau Martinique dan Guadaloupe adalah milik Perancis, dan pulau Barbados adalah milik Inggris. Karibia juga menjadi home port bagi kapal pesiar Holland-America Line yang terletak di St Maarten. Banyak perusahan kapal pesiar lainnya yang memiliki home port di Karibia ini. Konon kabarnya, keputusan ini dilakukan semata-mata karena alasan bisnis semata, yaitu untuk menghindari pajak yang cukup tinggi jika home portnya di Amerika Serikat. Banyak kapal pesiar yang hilir mudik di seputaran Karibia. Apa lagi kalau bukan menjual eksotisme negara tropis yang memang aduhai itu.

Pada liburan musim panas, paket wisata yang menjual Karibia selalu ramai diminati pelancong. Bahkan saya sempat memergoki beberapa orang Indonesia berada di atas kapal pesiar yang melayari Kariba itu.

Petualangan di Karibia dimulai dari Key West, kota di negara bagian Amerika Serikat yang terletak di ujung paling selatan. Itulah sebabnya, Key West juga dikenal dengan julukan “The southernmost city in the continental USA.” Kota ini bisa menyombongkan diri sebagai satusatunya kota yang masih terang benderang ketika matahari telah tenggelam. Barangkali boleh disamakan dengan Ujung Pandang, yang kini lebih suka disebut Makasar.

Key West adalah sebuah kota kecil yang telah disulap menjadi kota wisata dunia. Hampir semua kapal-kapal pesiar kelas dunia selalu menyempatkan diri buat buang jangkar di sini. Barangkali memang letaknya yang sangat strategis di jalur lintas laut antara Tampa, Mexico, Jamaica, dan Cayman Island. Suasana keseharian kota Key West hampir mirip dengan suasana pulau dewata Bali. Banyak art shop, dan café berjajar di sepanjang jalan. Bahkan café-café terang sudah mulai buka di siang hari. Dengan kondisi udara yang cenderung mendekati tropis, tak heran jika pada siang hari banyak para wisatawan cukup santai hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Saya sendiri tak terlalu bersemangat untuk menghabiskan banyak waktu di Key West. Hemat energi untuk petualangan di Karibia nanti!

Petualangan pertama di Karibia adalah berkunjung ke Cayman Island. Ombak besar menyambut kedatangan kapal pesiar. Kapal terpaksa tidak bisa sandar di pelabuhan, dan berhenti beberapa kilometer dari tepi pantai untuk menghindari hantaman ombak yang bisa menyeret kapal membentur dinding pelabuhan. Diperlukan kapal-kapal kecil yang biasa disebut tender untuk mengangkut penumpang pergi balik menuju pelabuhan.

Di tengah rintik hujan saya mencoba menyibak sudut-sudut Cayman Island yang terasa romantis. Harum bau tanah yang tersiram hujan segera menyergap hidung. Ombak laut masih saja ganas menerjang hingga ke jalan raya George Town, ibukota Cayman Island. Saya sempat basah kuyup oleh semburan ombaknya.

Angin dingin berhembus agak kencang, saya pun segera berlari mencari sedikit kehangatan di restoran yang terletak di seberang pantai. Dengan secangkir cappuccino dan sepotong cookies, tubuh menjadi hangat kembali. Saya melanjutkan jalan-jalan di Cayman Island setelah hujan berhenti, dan matahari secara perlahan kembali menampakkan keperkasaannya. Dengan sepeda sewaan, saya berkeliling Cayman Island sambil sesekali masuk di beberapa art shop untuk mencari cinderamata.

Kesan sekilas terhadap harga-harga di Cayman Island rupanya agak sedikit mahal dibandingkan dengan tempat-tempat lain yang pernah saya kunjungi. Mungkin hampir sama mahalnya dengan negara Jepang. Sebagai perbandingan 1 US dolar adalah setara dengan 80 cent mata uang lokal. Tapi jangan dikira bahwa dengan mahalnya harga di Cayman Island banyak orang lari menghindar. Justru banyak orang-orang kaya dari penjuru dunia datang dan sekaligus menyimpan uangnya di pulau kecil ini. Cayman Island memang dikenal sebagai negara bebas pajak bagi mereka yang menyimpan uangnya di sini. Konon kabarnya, dulu ketika Edy Tanzil berhasil membobol uang bank Bapindo ada kemungkinan ia sempat lari dan memarkir uang hasil jarahannya di sini. Saya jadi curiga, pasti sekarang banyak para koruptor yang mengikuti jejak Edy Tanzil, yang kini sedang diburu KPK, memarkir uang hasil jarahannya di beberapa bank di Cayman Island ini.

Menjelajahi Cayman Island tidaklah lengkap jika belum merasakan kehidupan malamnya. Ada sederet night club, bar, atau bahkan comedy bar. Di sepanjang Seven Mile Beach kita bisa menemukan Matrix Night Club dan Bobo’s Iguana. Bersama kawan atau sendirian kita bisa menghabiskan malam sambil mendengarkan musik atau sekaligus turun berjoget reggae, disco, calypso, salsa dan meringue. Suasana malam di Cayman Island akan lebih seru sepanjang weekend. Di Aston Rutty Center kita bisa menemukan berbagai atraksi seni yang digelar penduduk setempat, mulai dari live music atau talent show di udara terbuka. Bagi mereka peminat konser musik, The Lion Center yang terletak di Red Bay biasa menawarkan konser musik mulai dari pop, country hingga rock.

Petualangan kedua di Karibia adalah menjelajah Jamaika. “Welcome to Bob Marley Island, man!” Sapaan yang mengagetkan dari seorang lelaki berkulit hitam dan berambut gimbal a la Bob Marley di pintu masuk pelabuhan Montego Bay. Aroma keramahan dan keakraban mulai terasa ketika kaki baru saja menginjak bumi Jamaika. Rupanya itu adalah sambutan hangat khas penduduk Jamaika kepada para pendatang yang baru tiba.

Montego Bay terletak di ujung utara Jamaika. Sementara ibu kota Jamaika, Kingston, terletak kurang lebih 90 km ke arah tenggara. Di sanalah Bob Marley – Si Raja Reggae dunia – hidup dan dimakamkan. Bagi penggemar berat Bob Marley, bisa berkunjung ke Bob Marley Museum yang terletak di 56 Hope Road, Kingston. Museum ini dulunya adalah rumah Bob Marley, di mana kita bisa melihat-lihat suasana dalam rumah sembari nonton pemutaran film tentang si Raja Reggae itu.

“Warna” Bob Marley hampir mendominasi seluruh kota, termasuk di Montego Bay ini. Kombinasi warna kuning, hijau, dan merah seolah menjadi warna wajib bagi para penduduknya, mulai dari rumah, pakaian, mobil, sepeda, hingga topi butut yang terbuat dari anyaman benang. Tak lupa, di hampir sudut-sudut kota ada gambar daun surga, alias daun ganja yang berjari tiga itu. Itulah simbol kaum rastafara. Warna Bob Marley seolah telah menjadi semacam budaya yang tumbuh di Jamaika. Budaya yang termanifestasi dalam bentuk seni musik dan tarian rakyat akan sangat mudah ditemui di sini. Mereka akan sangat bangga memamerkan kebolehan mereka di bidang seni, terutama pada saat festival seni dengan mengenakan pakaian kebesaran Bandana.

Sambutan “welcome to Bob Marley Island” hanyalah salam pembuka. Jika kita menanggapi dengan gembira, maka akan muncul ajakan yang sedikit membujuk, “do you want black pussy, or do you want chiki-chiki?” Penasaran saya bertanya apa itu arti chiki-chiki? Ternyata itu adalah ajakan untuk bermesum ria, menikmati perempuan Jamaika yang berkulit hitam itu. Jangan mengira bahwa perempuan yang sedang ditawarkan berada di suatu ruangan tersembunyi atau dibalik kaca. Mereka dengan demonstratif bahkan ikut berdiri berjajar di pinggir jalan dengan dandanan dan pakaian menyolok mata. Dan itu terjadi di siang hari bolong! Ada juga teman saya yang berhasrat untuk menikmati perempuan Jamaika ini. Dengan sedikit negosiasi jadilah transaksi seks berlangsung di siang hari.

Saya tak ingin mengorek lebih jauh berapa tarif mereka. Teman saya hanya sempat bilang sambil pamitan menghilang di balik pintu, “Ton, aku duluan ya, kepala sudah pening nih!” Itulah risiko seorang pelaut yang sepanjang tahun diombang-ambing ombak laut dengan segala hasrat yang meledak-ledak.

Suasana seperti ini juga pernah saya alami ketika saya sempat mampir di Republik Dominika. Bedanya, di sini perempuannya lumayan cantik-cantik. Mirip bintang telenovela yang sering mampir di layar kaca. Ketika kami sedang makan siang di restoran di tengah kota yang tak sepenuhnya rapi dan bersih, ternyata di sana sudah banyak perempuan penjaja seks menunggu sambil mencari-cari perhatian. Di seberang meja tempat kami makan terlihat satu perempuan cantik yang terus menggoda sembari sesekali mengembuskan asap rokok dari sela-sela bibirnya yang merah mengkilat. Bagi kami-kami yang tak kuat iman, silahkan segera melepas hasrat! Saya sendiri lebih memilih untuk terus berjalan menyusuri sudut kota Montego Bay yang cukup ramai siang itu. Beberapa tempat yang sempat saya kunjungi antara lain adalah pusat perbelanjaan ”Casa Manolo” duty free, persis di seberang jalan resor Holiday Inn, yang menjual berbagai macam perangkat elektronik, video camera dan parfum.

Sorenya, kapal kembali bergerak ke tujuan berikutnya. Sungguh sayang, saya tak sempat menikmati kehidupan malam kota Montego Bay. Tapi konon kabarnya, kota Montego Bay bakal semarak pada Sabtu malam, di mana seluruh penduduknya tumpah ruah di jalan merayakan malam akhir minggu. Pesta berlangsung di udara terbuka di tengah kota Montego Bay. Kita bisa menghabiskan malam di sini sembari memesan makan dan minum. Siapa tahu, kita bisa menemukan teman baru di arena ini. Namun demikian, tetaplah hati-hati jika kita sendirian di kota ini. Montego Bay bukanlah kota yang cukup aman buat jalan-jalan sendirian.

Langit Karibia sore itu sungguh cerah. Hanya sedikit awan terlihat menggumpal di sana sini. Selebihnya biru bersih. Sama bersihnya dengan warna air laut yang juga membiru menerima pantulan warna dari langit.

Kembali terdengar sayup-sayup Enya melantunkan tembang

if all you told was turned to gold, if all you dreamed were new, imagine sky high above, in Caribbean blue…

Petualangan berikutnya, kita masuk ke dalam kapal pesiarnya. Berjumpa dengan berbagai polah tingkah manusia di dalamnya!