Drama

Jalan Buntu Bernama Blok M

04 February 2026

Pagi datang bukan sebagai harapan, melainkan sebagai tenggat waktu yang kejam.

Banyu meninggalkan rumah seperti seorang aktor yang naik ke panggung tanpa menghafal naskahnya. Kebohongan yang ia rangkai terasa seperti kerikil tajam di sepatunya.

Ia mencium kening Fajar yang masih setengah terlelap, aroma khas anak-anak yang polos menusuk rasa bersalahnya. Lalu, ia menerima bekal dari Dina—sepotong tempe goreng dan nasi yang dibungkus daun pisang, masih hangat.

Gestur itu, sebuah rutinitas cinta yang sederhana dan tanpa pamrih, hari ini terasa seperti belati yang mengiris pelan.

Dina tidak bertanya banyak, tapi matanya yang lelah dan sedikit sembap seolah memindai setiap kebohongan yang coba Banyu sembunyikan di balik senyum paksanya.

"Hati-hati," ucap Dina lewat gerakan bibir yang lambat, tangannya menyentuh lengan jaket Banyu sejenak.

Sentuhan itu mengandung sejuta pertanyaan yang tak terucap: Kamu baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semalam kamu terlihat hancur?

Banyu hanya sanggup mengangguk, tak berani menatap mata istrinya lebih dari dua detik. Ia takut istrinya akan melihat retakan di dalam dirinya, sama jelasnya seperti retakan di layar ponselnya.

Ia memutar motor, menarik gas, dan melarikan diri dari kehangatan rumah yang tak lagi mampu ia lindungi.

Di jalanan, Banyu adalah seorang prajurit tanpa senjata, diasingkan dari medan perang. Ia menyalakan motor, getaran mesin yang biasanya terasa akrab dan menenangkan kini terasa asing, beresonansi dengan kegelisahannya.

Ia melaju tanpa tujuan yang jelas, ponsel di holder stang menjadi monumen hitam kegagalannya. Di setiap lampu merah, ia dikepung oleh pemandangan yang menyakitkan: driver-driver lain, ponsel mereka menyala terang dengan warna-warni peta digital, jari-jari mereka lincah menggeser layar, menerima orderan.

Mereka adalah bagian dari sistem, denyut nadi digital kota ini yang terus berdetak. Sementara Banyu, untuk dua puluh tiga jam ke depan, telah diamputasi. Ia adalah hantu yang mengenakan jaket abu-abu, melintasi kota yang tak lagi bisa melihat atau mendengarnya.

Ia memacu motornya menuju Blok M. Bukan ke mal megahnya yang berkilauan, tapi ke pembuluh darah baliknya, ke gang-gang dan warung kopi tempat para driver melepas lelah dan menambal harapan.

"Basecamp biasa," begitu pesan singkat Bang Sapto.

Banyu tahu tempat itu. Sebuah warung kopi semi permanen yang terjepit di antara tembok belakang sebuah ruko yang kotor dan pilar beton jalan layang yang masif.

Tempat itu selalu berbau kopi gosong, asap rokok kretek yang pekat, dan aroma samar keputusasaan yang mengering di bawah terik matahari.

Saat Banyu tiba, pemandangan itu persis seperti yang ia ingat, sebuah diorama perjuangan urban. Belasan motor terparkir serampangan, beberapa knalpot masih mengeluarkan uap panas.

Beberapa driver sedang tertidur di atas jok motor mereka, wajah tertutup helm, mencari istirahat curian di tengah kebisingan. Yang lain duduk di bangku-bangku plastik panjang, menatap layar ponsel dengan intensitas seorang penjudi yang menunggu kartu terakhirnya dibuka.

Di pojok, di bawah naungan pilar yang lebih teduh, tiga orang driver sedang berkomunikasi. Tangan mereka bergerak dengan kecepatan dan presisi yang memukau, sebuah tarian sunyi yang penuh makna di tengah hiruk pikuk visual kota.

Mereka adalah kawan-kawan Tuli. Banyu mengenali salah satunya, Adi, yang pernah beberapa kali satu rombongan dengannya saat orderan makanan ramai.

Banyu memarkir motornya, melepas helm, dan berjalan mendekat. Udara terasa berat dan panas, diperparah oleh deru samar lalu lintas dari jalan layang di atas kepalanya. Ia merasa kecil, seorang penyusup di dunianya sendiri.

Bang Sapto ada di sana, duduk sedikit terpisah dari yang lain, seolah ia adalah episentrum dari gravitasi komunitas kecil itu.

Usianya mungkin baru awal empat puluhan, tapi garis-garis di sekitar matanya menceritakan kisah perjalanan ribuan kilometer lebih panjang dari usia kalendernya. Rambutnya sudah mulai memutih di pelipis, jaketnya lebih pudar dari milik Banyu, dan di antara jari telunjuk dan jari tengahnya terselip sebatang rokok kretek yang asapnya menari-nari malas.

Ia tidak sedang melihat ponsel. Matanya menatap kosong ke arah jalanan, seolah sedang membaca arus takdir dari pergerakan acak kendaraan.

Banyu mendekat dengan ragu. Ia berdiri sejenak, menunggu diperhatikan, merasa seperti anak sekolah yang hendak menghadap kepala sekolah.

Bang Sapto akhirnya menoleh. Matanya tajam, tidak menunjukkan keterkejutan, seolah ia sudah menduga kedatangan Banyu.

Ia mematikan rokoknya di asbak kaleng yang sudah penuh, lalu memberi isyarat dengan dagunya, menunjuk bangku kosong di hadapannya. Sebuah undangan tanpa kata.

Banyu duduk. Keheningan di antara mereka berbeda dari keheningan yang biasa Banyu alami. Ini adalah keheningan yang padat, penuh pemahaman.

"Kopi?" Bang Sapto membentuk huruf 'K' dengan jarinya lalu membuat gerakan seperti mengaduk.

Banyu menggeleng. Perutnya kosong, tapi ia tidak punya uang untuk kemewahan sekecil itu.

Ia langsung ke pokok persoalan. Dengan gerakan tangan yang sedikit gemetar karena campuran malu dan putus asa, ia mulai bercerita.

"Akun kena suspend," isyarat Banyu, tangannya membentuk gerakan mengunci di depan dadanya. "Laporan pelanggan. Kue tart."

Ia menceritakan kronologi kemarin dengan detail yang menyakitkan. Ponsel yang mati karena panas, sebuah pengkhianatan dari alat kerjanya sendiri. Alamat yang hilang dari ingatan. Pelanggan yang marah. Kue yang ditolak. Vonis dari aplikasi yang dingin dan tanpa ampun.

Setiap gerakan tangannya adalah sebuah pengakuan kegagalan, sebuah pembacaan vonis atas dirinya sendiri.

Bang Sapto mendengarkan tanpa menyela, wajahnya seperti batu karang yang sudah ribuan kali dihantam ombak. Tidak ada iba, hanya pemahaman yang dalam dan lelah.

Ia pernah mendengar cerita serupa puluhan kali, dalam berbagai versi, dengan akhir yang selalu sama.

Ia adalah pendeta pengakuan dosa bagi para driver yang tersesat di labirin algoritma. Setelah Banyu selesai, Sapto mengambil sebatang rokok baru, menyalakannya, dan mengembuskan asap tebal yang menyamarkan ekspresinya sejenak.

"HP," isyarat Sapto, menunjuk ponsel Banyu yang mati. "Masih rusak?"

Banyu mengangguk pasrah. "LCD. Kena air hujan kemarin. Panas. Mati total."

Sapto menghela napas lagi. Ia menatap Banyu lekat-lekat, tatapan yang menimbang-nimbang. Menimbang tingkat keputusasaan Banyu. Menimbang beratnya beban yang terlihat dari bahunya yang sedikit merosot. Menimbang risiko dari solusi yang akan ia tawarkan.

"Ini jalan buntu, Nyu," isyarat Sapto, tangannya bergerak lambat dan tegas, seolah sedang memahat kata-kata itu di udara. "Sistem tidak punya hati. Kamu gagal, kamu dibuang. Selesai. Kita ini cuma angka buat mereka."

Jantung Banyu mencelos. Kata-kata itu, meski tanpa suara, menghantamnya seperti pukulan fisik. Itu adalah kebenaran yang selama ini ia coba sangkal.

"Aku butuh kerja, Bang," isyarat Banyu, nadanya memohon, harga dirinya luruh bersama keringat di pelipisnya. "Fajar... sepatunya bolong. Listrik kemarin baru diisi. Beras tinggal sedikit."

Ia membenci dirinya sendiri karena harus membeberkan kemiskinan keluarganya seperti itu. Tapi ia tidak punya pilihan lain.

Bang Sapto terdiam lama. Ia menatap keramaian jalanan, lalu kembali menatap Banyu.

Ia melihat lingkaran hitam di bawah mata Banyu. Ia melihat kekusutan di wajahnya. Ia melihat getaran di tangannya yang berusaha disembunyikan. Ia melihat seorang ayah yang terpojok, seekor binatang yang siap melakukan apa saja untuk melindungi sarangnya.

Akhirnya, ia membuat keputusan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan posisi tangannya agar isyaratnya lebih personal dan tidak mudah dilihat orang lain. Gerakannya kini lebih cepat, lebih konspiratif, seolah berbagi rahasia terlarang.

"Ada dua jalan," isyarat Sapto. "Dua-duanya gelap. Dan dua-duanya ada harganya. Tidak ada yang gratis di Jakarta ini, Nyu. Bahkan pertolongan sekalipun."

Banyu menahan napas. Di tengah kebisingan visual Blok M, di bawah bayang-bayang pilar beton yang angkuh, sebuah pintu menuju dunia bawah tanah baru saja dibukakan untuknya. Dan ia tahu, tanpa ragu sedikit pun, ia akan melangkah masuk. Apapun harganya.