"Jalan gelap" yang dibicarakan Bang Sapto tidak beraspal mulus; ia terbuat dari lapisan-lapisan risiko dan kebohongan.
Sapto memaparkan dua pilihan itu dengan ketenangan seorang ahli bedah yang menjelaskan prosedur amputasi. Tidak ada emosi, hanya fakta-fakta dingin yang harus diterima pasiennya.
"Pilihan pertama: Joki," isyarat Sapto. Tangannya membentuk gestur menunggang kuda, lalu menunjuk ke arah driver lain yang sedang melintas.
"Kamu pakai akun orang lain. Akun yang bersih, ratingnya bagus. Poinnya kamu ambil, hasilnya bagi dua. Lima puluh-lima puluh. Sederhana."
Banyu memproses informasi itu. Menjadi joki. Kata itu terasa asing dan kotor. Itu berarti menjadi hantu. Ia akan bekerja di bawah nama dan wajah orang lain.
Setiap notifikasi yang masuk bukan untuk Banyu, tapi untuk pemilik akun. Jika pelanggan menyapa, mereka akan menyapa orang lain. Ia harus menghapus identitasnya sendiri—Banyu, ayah dari Fajar, suami dari Dina, seorang lelaki Tuli yang berjuang untuk diakui—selama delapan, sepuluh, dua belas jam sehari.
Konsep itu membuatnya mual. Itu bukan sekadar pekerjaan, itu adalah penghapusan diri secara sukarela, sebuah tindakan yang bertentangan dengan semua yang telah ia perjuangkan. Selama ini ia berjuang agar terlihat, agar dianggap ada. Pilihan ini memintanya untuk lenyap.
"Risikonya?" isyarat Banyu, tenggorokannya terasa kering.
"Besar," jawab Sapto tanpa ragu, matanya menatap lurus ke mata Banyu. "Sangat besar. Verifikasi wajah sekarang makin sering, acak. Bisa pagi, bisa siang. Kalau kamu gagal verif, akun langsung beku permanen. Bukan suspend, tapi putus mitra. Yang punya akun kehilangan mata pencaharian selamanya. Kamu? Namamu di-blacklist di seluruh sistem. Kamu tidak akan pernah bisa jadi driver lagi. Di mana pun. Seumur hidup."
Sebuah hukuman mati di dunia digital. Banyu menelan ludah.
Ia membayangkan wajah Fajar, lalu wajah pemilik akun yang tidak ia kenal, yang juga punya keluarga untuk dinafkahi.
Satu kesalahan kecil darinya bisa menghancurkan dua keluarga sekaligus. Risiko ini terlalu mengerikan, terlalu berat untuk ditanggung.
"Pilihan kedua?" tanya Banyu, suaranya nyaris tak berbentuk, berharap ada jalan yang lebih terang, lebih manusiawi.
Sapto menggeser posisi duduknya, seolah hendak memperkenalkan opsi yang lebih aman. Ia mengambil ponselnya—sebuah model lama yang casing-nya sudah retak-retak tapi layarnya tampak berfungsi baik.
"Pinjam HP," isyaratnya. "Aku ada HP cadangan. Tidak bagus, RAM kecil, kadang lemot. Tapi bisa jalan. Kamu pakai itu. Tapi akunmu masih di-suspend. Jadi kamu harus tunggu sampai besok pagi. Setelah itu, kamu bisa kerja lagi pakai akunmu sendiri, jadi dirimu sendiri."
Ini terdengar lebih masuk akal. Lebih aman. Beban di dada Banyu sedikit terangkat. Ia bisa menunggu satu hari. Ia bisa menjelaskan pada Dina. Mungkin.
"Tapi," lanjut Sapto, dan Banyu tahu selalu ada 'tapi' yang menyakitkan. "HP itu bukan gratis. Kamu sewa. Dua puluh lima ribu sehari. Setor di muka. Dan kalau rusak, kamu ganti. Harga HP-nya lima ratus ribu."
Beban di dada Banyu kembali menghantamnya, lebih keras dari sebelumnya. Dua puluh lima ribu.
Angka itu langsung berputar di kepalanya, dikonversi menjadi kebutuhan pokok. Itu harga sekilo telur dan beberapa bungkus mi instan. Itu ongkos jahit sepatu Fajar pada Pak Ujang. Itu uang yang harus ia ambil dari jatah makan keluarganya untuk menyewa alat kerja.
Dan risiko mengganti lima ratus ribu jika ponsel itu rusak—mengingat ponselnya sendiri baru saja mati—terasa seperti berjalan di atas tali di atas jurang tanpa jaring pengaman.
Ia akan terjerat utang pada satu-satunya orang yang menolongnya. Itu adalah penjara yang berbeda, penjara kehormatan yang tak terlihat.
Banyu terdiam, menimbang dua pilihan neraka itu. Menjadi hantu tanpa identitas dengan risiko pemusnahan total, atau tetap menjadi dirinya sendiri tapi dengan belenggu utang dan kecemasan yang mencekik. Keduanya adalah jalan menuju keputusasaan.
"Aku butuh uang... hari ini, Bang," isyarat Banyu pelan, sebuah pengakuan yang pahit.
Ia bisa merasakan kembali tekstur kain kanvas sepatu Fajar yang menipis di ujungnya, bisa melihat bayangan wajah Dina yang berusaha tersenyum meski cemas. "Aku tidak bisa pulang dengan tangan kosong lagi. Semalam... aku sudah berbohong."
Bang Sapto menatapnya lama. Pengakuan terakhir Banyu sepertinya mengubah segalanya.
Sapto melihat keputusasaan murni di mata Banyu. Keputusasaan yang melampaui logika dan perhitungan risiko. Keputusasaan seorang ayah yang terpojok, yang harga dirinya sudah compang-camping.
Akhirnya, Sapto menghela napas panjang, seolah menyerah pada takdir. Ia mematikan rokoknya yang kedua.
"Baik," isyaratnya. "Satu hari. Hanya untuk hari ini. Setelah itu, tidak ada lagi. Kamu jadi joki. Aku punya satu akun. Namanya Agus. Orangnya sedang pulang kampung sebulan, akunnya nganggur."
Sapto membuka ponselnya, jarinya bergerak cepat di atas layar yang penuh goresan. Ia menunjukkan sebuah profil di layar. Foto seorang pria kurus berkumis tipis, tersenyum canggung ke arah kamera. Namanya: Agus Setiawan. Rating: 4.9. Wajah yang ramah sekaligus asing.
"Dia tidak Tuli," isyarat Sapto, sebuah peringatan keras. "Kalau pelanggan telepon, jangan diangkat. Langsung chat, bilang lagi di jalan, berisik. Jangan bicara. Suaramu beda. Paham?"
Banyu mengangguk kaku. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia bisa merasakan getarannya di ujung jari.
"Bagi hasilnya enam puluh-empat puluh. Enam puluh untuk kamu. Karena kamu yang butuh," tambah Sapto. Sebuah kemurahan hati yang membuat Banyu merasa semakin kecil dan terhina.
Sapto menuliskan username dan password di aplikasi catatan, lalu menyerahkan ponselnya pada Banyu.
Banyu mengeluarkan ponselnya yang mati, menukarnya dengan ponsel milik Sapto. Sapto menyerahkan ponsel miliknya yang layarnya sudah menyala.
"Ini HP cadanganku. Akun Agus sudah nyantol (login) di situ. Jangan pernah di-logout. Kalau keluar, minta verifikasi muka, tamat riwayatmu." Banyu menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Di layar, peta Jakarta sudah terbentang.
Layar berubah. Kotak merah "AKUN DITANGGUHKAN" yang menghantuinya lenyap. Digantikan oleh peta Jakarta yang familier, dengan ikon mobil kecil di tengahnya. Di pojok atas, bukan lagi fotonya yang terpampang, melainkan wajah pria asing berkumis tipis itu. Saldo: Rp 12.500.
Banyu bukan lagi Banyu. Ia adalah Agus Setiawan.
Perasaan aneh menjalari tubuhnya. Campuran antara kelegaan yang luar biasa dan rasa jijik pada diri sendiri yang mendalam. Ia telah menjual namanya, meminjam wajah orang lain, demi beberapa lembar uang.
Ting!
Sebuah getaran pendek dari ponsel. Sebuah notifikasi orderan masuk. Rush-Bike. Jarak jemput 1.2 KM. Tujuan: Menara Palma, Kuningan. Tarif: Rp 22.000.
Jantung Banyu berhenti sesaat. Itu nyata. Uang itu nyata. Harapan itu nyata.
Ia menatap Bang Sapto, matanya bertanya, mencari konfirmasi terakhir. Sapto hanya mengangguk sekali, wajahnya serius dan tanpa senyum. Sebuah anggukan yang berarti: Pergilah. Bertahan hiduplah. Dan jangan sampai tertangkap.
Banyu menekan tombol "Terima". Ia berdiri, mengenakan helmnya. Stiker di belakang helmnya, "Saya tunarungu/tuli. Mohon kerja samanya," terasa seperti sebuah ironi yang kejam, sebuah kebohongan yang ia kenakan di atas kebohongan lainnya. Hari ini, ia harus berpura-pura bisa mendengar.
Ia menyalakan mesin motor. Getarannya terasa berbeda, seolah motor itu tahu pengemudinya adalah seorang penipu.
Ia menarik gas, meninggalkan warung kopi itu, melaju ke jalanan sebagai hantu bernama Agus. Di dalam dadanya, ada harapan yang baru tumbuh, namun harapan itu berakar pada tanah kebohongan yang paling rapuh.