Romansa #Adult romance

Kasih Kado Apa?

05 February 2026

Sore itu langit kota berwarna jingga keemasan ketika Arema turun dari ojek online di depan sebuah pusat perbelanjaan besar.

Tubuhnya lelah setelah seharian berkutat dengan laporan, jadwal rapat, dan panggilan telepon yang tak ada habisnya, tapi pikirannya jauh lebih riuh daripada kakinya yang pegal.

Ia berdiri sejenak di depan pintu kaca mall yang terbuka otomatis.

"Apa aku beneran mau dateng, ya?" gumamnya pelan. "Dateng ke nikahan mantan sendiri."

Tangannya mengepal tanpa sadar. Undangan itu seperti duri kecil yang terus menusuk sejak hari pertama ia menerimanya.

Bukan karena ia masih ingin kembali, tidak, ia sudah berusaha meyakinkan dirinya tentang itu. Tapi karena ada luka harga diri yang belum benar-benar sembuh.

"Aku harus kelihatan baik-baik aja. Gak boleh keliatan hancur," batinnya.

Ia melangkah masuk. Udara dingin AC langsung menyambut, kontras dengan panas jalanan di luar. Lampu-lampu terang, etalase mengilap, dan musik lembut yang mengalun membuat suasana terasa mewah dan tenang.

Sangat berbeda dengan hiruk pikuk terminal tempat ia biasa berjualan martabak dulu. Langkah Arema melambat ketika melewati deretan toko kado.

"Kasih kado apa ya?" gumamnya lagi.

"Jam dinding? Set alat makan? Sprei? Rasanya semua terlalu biasa."

Ia tak ingin terlihat terlalu peduli, tapi juga tak mau terkesan asal.

"Ah, ribet banget sih kamu, Rema." Ia menghela napas sendiri.

Ia masuk ke sebuah toko perlengkapan rumah tangga yang elegan.

Rak-rak kayu tertata rapi, lampu kuning hangat menyinari berbagai barang pecah belah yang tampak mahal. Arema memandangi satu set gelas kristal.

"Bagus sih, tapi kayaknya mahal," bisiknya, sambil melirik harga dan langsung mundur pelan.

Belum sempat ia beralih ke rak lain, sebuah suara pria yang dalam dan familiar memanggil dari belakang.

"Arema?"

Tubuh gadis itu refleks menegang. Ia menoleh cepat. "Pak Jordi?"

Pria tinggi berjas santai warna abu-abu itu berdiri beberapa langkah darinya.

Tangannya memegang kantong belanja dari toko lain. Wajahnya tampak sedikit terkejut, tapi senyum tipis langsung muncul.

"Kamu ngapain di sini?" tanya Jordi, mendekat.

Arema mendadak salah tingkah. Tangannya menggaruk kepala yang jelas-jelas tidak gatal.

"Eh, ini, Pak, teman saya dua hari lagi mau nikah. Saya diundang, jadi mau cari kado," jawabnya agak terbata.

Jordi mengangguk pelan, matanya mengamati Arema beberapa detik lebih lama dari biasanya. "Teman dekat?" tanyanya ringan.

Arema menelan ludah. "Mantan," jawabnya dalam hati, tapi yang keluar justru, "Teman lama, Pak."

Jordi tidak bertanya lebih jauh, tapi entah kenapa Arema merasa pria itu seperti mengerti ada cerita yang lebih rumit di balik jawaban singkatnya.

"Apa mau aku temenin ke kondangan?" Jordi tiba-tiba menawarkan.

Jantung Arema seperti melonjak ke tenggorokan. "Hah?"

Jordi terlihat santai saja. "Maksudku, kalau kamu nggak enak datang sendiri. Kadang ke acara begitu lebih nyaman kalau ada teman."

Arema terdiam. Otaknya langsung berlari ke mana-mana.

"Duh, kenapa nggak bilang dari kemarin, kan aku sudah sama Leo. Eh, tapi Pak Jordi juga gak tau kalau yang nikah itu mantanku," batinnya.

Ia menatap lantai mengilap, bingung sendiri. Di satu sisi, datang bersama Jordi, atasannya, pria mapan, CEO perusahaan besar. Pasti akan membuatnya terlihat berhasil.

Mungkin itu akan menampar harga diri Rino tanpa perlu satu kata pun.

Tapi di sisi lain, Leo. Pria yang tulus, teman kecilnya, yang ia ajak justru karena ingin merasa nyaman, bukan pamer.

"Gimana?" Suara Jordi membuyarkan lamunan Arema.

"Eh, em … saya pikir-pikir dulu gimana, Pak? Soalnya saya sudah ajak teman. Apa saya batalin saja?"

Kalimat itu menggantung. Bahkan ia sendiri tak yakin dengan ucapannya.

Jordi tersenyum tipis, tidak tersinggung sedikit pun. "Terserah kamu saja. Itu hak kamu. Ya sudah, kalau sudah dapat keputusan kabarin saja. Kalau sudah sama teman juga tidak apa-apa."

Nada suaranya tenang, dewasa, tidak memaksa. Justru itu yang membuat Arema merasa makin tak enak.

"Pak Jordi baik banget sih," batinnya.

Mereka pun berjalan beriringan keluar dari toko itu, menuju area tengah mall yang luas. Langkah mereka pelan.

"Kadonya sudah kepikiran mau beli apa?" tanya Jordi.

"Belum, Pak. Bingung. Mau yang biasa takut kelihatan nggak niat. Mau yang bagus takut kebanyakan mikir." Arema terkekeh kecil, tapi tawanya terdengar hambar.

Jordi meliriknya. "Kamu masih peduli sama penilaian?"

Pertanyaan itu menohok. Arema terdiam beberapa detik. "Bukan peduli, Pak, cuma pengin kasih kado dengan cara yang elegan saja. Biar nggak keliatan kayak orang remeh."

Jordi mengangguk pelan. "Kalau begitu, belikan sesuatu yang mencerminkan kamu. Sederhana, tapi tulus. Nggak perlu mahal buat terlihat berkelas."

Arema menoleh. "Mencerminkan saya?"

"Iya. Kamu itu pekerja keras, hangat, dan nggak neko-neko. Jangan tiba-tiba jadi orang lain cuma buat pembuktian."

Kata-kata itu membuat dada Arema terasa hangat sekaligus perih.

"Kalau Rino dulu ngomong gitu ke aku," pikirnya sekilas, lalu cepat-cepat mengusir bayangan itu.

Mereka berhenti di depan toko perlengkapan dapur premium. Jordi menunjuk satu set alat masak elegan warna krem.

"Itu bagus. Berguna, tahan lama. Simbol rumah tangga yang serius."

Arema tersenyum kecil. "Pak Jordi kayak sering milihin kado nikahan."

Jordi terkekeh pelan. "Sering datang, jarang ditanya kapan nyusul."

Arema ikut tertawa, suasana mendadak lebih ringan.

Akhirnya ia memutuskan membeli satu set alat masak itu. Tidak terlalu mencolok, tapi berkualitas.

Saat kasir membungkus dengan kertas kado warna soft gold, Arema menatapnya lama.

"Ini penutup, ya," bisiknya dalam hati.

Setelah keluar dari toko, mereka berdiri di dekat eskalator.

"Saya pulang dulu ya, Pak. Makasih sudah nemenin milih," ucap Arema sopan.

"Sama-sama. Jangan lupa kabari soal kondangan itu," balas Jordi.

Arema mengangguk. Saat ia berjalan menjauh, kantong kado di tangan, pikirannya kembali berisik.

Leo atau Pak Jordi?

Datang sebagai Arema yang sederhana bersama teman lama, atau Arema yang naik kelas bersama CEO?

Ia menghela napas panjang. "Kenapa urusan hati nggak pernah sesimpel laporan keuangan sih," gumamnya lirih sambil melangkah keluar mall.

Tanpa sadar bahwa keputusan kecil ini bisa mengubah banyak hal di hari pernikahan nanti.

**

Sampai di apartemen, Arema membuka pintu dengan gerakan lemas. Begitu pintu tertutup, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tengah.

Tasnya ia biarkan tergeletak di lantai, sementara kotak kado masih ia peluk di dada. Plafon putih di atasnya terasa seperti layar kosong tempat pikirannya berputar tanpa henti.

"Apa aku datang sama Pak Jordi aja, ya? Biar mereka pada panas sekalian. Mereka pikir aku nggak bisa dapat ganti," batinnya, menatap lurus ke atas.

Ia membayangkan wajah Vheronika yang selalu penuh kemenangan, lalu membayangkan ekspresinya jika melihat Arema datang berdampingan dengan seorang CEO tampan dan mapan.

Bibirnya melengkung tipis. "Tapi kalau Leo, Rino kan udah kenal. Jadi kayaknya nggak mungkin panas."

Senyumnya perlahan pudar. Kini yang tersisa hanya satu pertanyaan yang menggantung, ia ingin membuktikan sesuatu atau benar-benar sudah ingin sembuh?