Non-fiksi #petualangan

WELCOME ON BOARD

Penulis Mashar67
05 February 2026

Kini tibalah saatnya memasuki dunia nyata dari kehidupan kapal pesiar. Apa yang saya ceritakan pada segmen ”Around the World” bolehlah dianggap sebagai good news, alias berita baiknya.

Nah, sebentar lagi saya akan sampaikan kabar kurang baiknya atau bad news-nya. Persoalan urutan mana yang lebih dulu disampaikan, good news atau bad news sebenarnya tidak begitu penting. Inti persoalannya sebenarnya hanya menyangkut kesiapan mental kita saja. Secara alamiah, orang lebih memilih untuk mendengar good news terlebih dahulu daripada bad news. Dan buku ini memang menawarkan pilihan yang pertama dengan menghadirkan cerita baiknya terlebih dahulu, yaitu dengan menceritakan perjalanan keliling dunia.

Bicara soal berita baik dan berita buruk, saya kok jadi teringat anekdot soal berita baik dan berita buruk ini.

Alkisah, ada serombongan tentara yang sungguh mengharapkan kedatangan komandan mereka di medan tempur karena sudah berbulan-bulan tak pernah mendapat kunjungan sang komandan. Sudah sekian lama mereka bertempur menyabung nyawa, dan semenjak itu pula tak pernah ganti baju, apalagi untuk urusan pakaian dalam alias underwear. Ketika datang saatnya sang komandan menjenguk para prajurit, dengan arif nan bijaksana sang komandan menawarkan terlebih dahulu kepada para prajurit, berita mana yang lebih dulu ingin mereka dengar. Dengan serempak mereka menjawab untuk mendengar berita baiknya lebih dulu. ”Baiklah,” kata sang komandan. ”Berita baiknya adalah kalian semua akan mendapat ganti celana dalam yang baru.” Sontak para prajurit berteriak kegirangan, ”horreee!” ”Nah, sekarang tibalah dengan berita buruknya. Kalian akan mendapat ganti celana dalam dari celana dalam bekas teman sesama prajurit sendiri!” Kontan para prajurit lemas dengan berita itu, tapi sebagai prajurit tak ada kata menolak. Dengan sigap mereka berteriak tegas, ”siap, ganti dengan celana dalam sesama prajurit!”

The morale story is keduanya sama saja. Tak penting mana yang lebih dulu hadir mengunjungi kita. Sekali lagi, ini adalah persoalan kesiapan mental kita. Anyway, untuk pemanasan soal berita kurang baik ini (sebenarnya tak bisa dikatakan 100% berita kurang baik), saya akan memberi sedikit pemanasan dengan menjelaskan soal sosok kapal pesiar itu sendiri. Pemanasan ini penting, sambil menyiapkan mental bagi anda yang tidak punya bayangan sedikitpun tentang kapal pesiar. Baiklah, saya akan mulai menceritakan saat-saat pertama kali saya mengenal kapal pesiar secara lebih dekat.

Pagi-pagi sekali, dari hotel tempat saya transit di Vancouver, Kanada, saya bersama rombongan menuju dermaga dengan mini van. Dari jauh kapal pesiar Rotterdam, milik Holland America Lines, terlihat menjulang tinggi di atas laut. Sosok kapal pesiar itu terkesan berwibawa. Warna biru pada bagian lambung bawah seolah menegaskan warna biru laut dan warna langit pagi yang masih agak gelap tersaput kabut pagi. Bagian lambung atas berwana putih bersih, membentuk bidang pembatas antara laut dan langit. Burung-burung camar terbang berputar di atasnya, seolah mengucapkan selamat datang, sambil menebar kebahagiaan yang terkirim bersama semilir angin laut.

Dari seberang dermaga saya lihat teman-teman seangkatan yang telah lebih dulu bergabung melambaikan tangan dari atas kapal pesiar. Mereka adalah Novel, Boni, Ade, dan David. Sementara kami yang baru saja bergabung terdiri dari Hartono, Eri, Wawan Gito, Koyan, Tata, Agus, Rizal, dan Hafids, dengan semangat kami membalas lambaian tangan mereka. Dari kejauhan saya dapat melihat gurat gembira di wajah-wajah mereka. Kegembiraan mereka adalah pemompa semangat untuk terus tegap melangkah memasuki dunia kerja pertama kami.

Begitu memasuki lambung kapal pesiar, kami langsung disambut oleh salah satu head steward, Pak Alex, menuju ruang tunggu di dek B. Lorong-lorong yang kami lalui tampak seperti labirin. Ada banyak tangga menurun yang kami lalui sebelum mencapai dek B. Di sepanjang perjalanan menuju dek B itu, saya temukan tulisan dari bahan kuningan yang tertempel di beberapa sudut kapal: ”In the beginning God created the heaven, the earth…..and the sea.” Persis seperti siklus hidup yang kini saya alami. Masa kecil yang indah di desa, bermain di petak sawah, memancing ikan di sungai, berenang di airnya yang jernih. Kemudian masa remaja di kota kecil untuk melanjutkan sekolah. Dan kini mulailah saatnya babak baru untuk terbiasa hidup di atas laut! Tulisan itu ternyata tertempel di mana-mana. Tulisan itu seolah menegaskan bahwa laut yang maha luas ini adalah ciptaan Tuhan yang terakhir, dan kini saya persis berada di atasnya!

Posisi dek B berada tepat 2 tingkat di bawah dek utama, tempat pertama kali masuk ke dalam kapal pesiar tadi. Dek B inilah yang berfungsi sebagai tempat tinggal para kru kapal pesiar. Inilah rupanya rumah kedua kami yang bakal memenuhi ruang sejarah hidup selama satu tahun ke depan. Kami kemudian diantar ke kabin setelah masing-masing mendapat life jacket.

Kabin tempat saya bakal habiskan 12 bulan kontrak kerja di atas kapal pesiar itu tampak rapi, meskipun dalam ruangan berukuran 3 x 4 meter itu terisi 4 orang dengan model tempat tidur susun. Di dalam kabin tersedia meja belajar, cermin, lemari pakaian, dan wastafel. Dinding yang terbuat dari besi tampak mendapat sentuhan warna krem yang terkesan lembut. Beberapa poster perempuan bule berbikini tertempel di sudut dinding, berdampingan dengan kalender yang penuh lingkaran merah dan tanda silang. Sebuah upaya dari para penghuni kabin untuk menandai hari-hari yang telah terlewati, sambil menghitung berapa hari lagi yang akan dilalui menjelang kepulangan nanti. Sama persis seperti penghuni penjara yang sedang menghitung hari pembebasan, kembali ke kehidupan normal.

Selanjutnya kami berkumpul di taylor section untuk mengambil seragam dan sepatu. Seorang petugas di taylor section dengan gesit mencatat dan membagi seragam. Dari penampilannya saya langsung bisa menangkap bahwa petugas di taylor section ini pastilah orang Asia. Dari logat bicaranya, terdengar seperti campuran bahasa Melayu, Jawa, Batak, atau Ambon. Belakangan saya baru tahu bahwa petugas di taylor section itu adalah orang Filipina. Selain orang Indonesia, pekerja kelas dua lainnya memang berasal dari Filipina.

Pekerja kelas satu biasanya berasal dari gabungan dua nama perusahaan ini Holland-America Lines, yakni Amerika dan Belanda. Orang Amerika menangani bidang hiburan seperti wisata di darat, casino, dan theatre. Orang Belanda sebagian besar menangani bidang perkapalan dan manajemen hotel, mulai dari Captain, Chief of Engineer, Purser, Hotel Manager, Chef D’ Cuisine, dan Maitre D’ Hotel. (Sekedar infromasi, hanya sebagian kecil orang Indonesia yang bisa menduduki posisi Maitre D’ Hotel ini).

Saya mendapat dua stel seragam untuk service breakfast dan lunch serta dua stel untuk dinner. Seragam terdiri dari baju lengan panjang warna putih, celana panjang hitam, rompi serta jas lengkap warna biru tua dengan warna merah pada kerah. Saya juga mendapat sepatu warna hitam mengkilat, seperti sepatu polisi. Saya segera membayangkan, betapa gagah saya pada saat mengenakan seragam itu? Atau saya justru khawatir dengan kostum yang menyala dan sedikit ”norak” itu akan tampil seperti pelawak yang kedodoran.

Cerita berikutnya tentang lokasi kerja alias battle ground kami sehari-hari …