Drama

Krim Manis, Kebohongan Pahit

05 February 2026

Matahari Jakarta mulai tergelincir turun, mengubah langit menjadi kanvas abu-abu yang muram. Di pinggir jalan Cipete yang ramai, Banyu masih duduk terpaku di atas motornya.

Ia menatap layar ponselnya yang retak. Di sana, sebuah kotak merah menyala dengan tulisan yang menjadi vonis kematian bagi pencahariannya:

AKUN DITANGGUHKAN (SUSPEND) Durasi: 23 Jam 58 Menit. Alasan: Laporan Pelanggan (Tidak Profesional/Barang Rusak)

Angka itu terus menghitung mundur. Detik demi detik. Bagi Banyu, itu bukan sekadar hitungan waktu. Itu adalah hitungan mundur menuju kelaparan. Dua puluh empat jam tidak bisa menerima orderan berarti besok—hari di mana ia seharusnya menebus dosa karena gagal membeli sepatu hari ini—ia juga tidak akan bisa bekerja.

Aplikasi "Laju" telah mengunci aksesnya. Algoritma tidak peduli layarnya rusak karena air hujan. Algoritma tidak peduli ia berputar-putar mencari alamat tanpa panduan suara. Di mata sistem, ia hanyalah unit yang gagal.

Banyu mematikan layar ponselnya. Gelap. Sama seperti perasaannya.

Ia menunduk, menatap boks kue di pangkuannya. Kue tart cokelat yang seharusnya menjadi pusat kebahagiaan pesta ulang tahun Ryan—anak yang tidak ia kenal—kini menjadi beban seberat batu di pahanya. Aroma cokelat yang manis menguar dari celah kardus, menusuk hidung, memicu rasa mual yang aneh di perut Banyu yang kosong.

Apa yang harus ia lakukan dengan benda ini? Membuangnya ke tempat sampah rasanya mubazir, sebuah dosa bagi orang yang kesulitan makan sepertinya. Mengembalikannya ke toko kue? Mustahil. Toko itu pasti akan menolaknya mentah-mentah atau malah menuntut ganti rugi lebih parah.

Banyu membuka sedikit tutup boks itu. Tulisan Selamat Ulang Tahun Ryan masih terbaca jelas, meski huruf 'R'-nya sedikit meleleh karena panas.

Sebuah ide gila, namun menyedihkan, melintas di kepalanya.

Ia merogoh saku jaketnya, mencari sesuatu. Ia menemukan struk parkir minimarket yang sudah lecek. Banyu melipat kertas kecil itu menjadi semacam sendok darurat. Dengan tangan gemetar, ia mulai mengerik bagian atas kue itu.

Ia menyendok krim putih yang membentuk tulisan Ryan. Satu huruf demi satu huruf ia angkat, lalu ia oleskan ke pinggiran kue agar tersamar.

R... Y... A... N... Hilang.

Kini, tulisan di kue itu hanya: Selamat Ulang Tahun.

Tanpa nama. Tanpa pemilik.

Sama seperti nasib Banyu saat ini. Tidak ada yang memiliki, tidak ada yang peduli.

Ia menutup kembali boks itu dengan hati-hati. Ia akan membawanya pulang. Bukan sebagai sampah sisa orang kaya, tapi sebagai "hadiah kejutan" untuk Fajar. Kebohongan ini terasa pahit di lidahnya, lebih pahit dari aspal jalanan, tapi ia tidak punya pilihan. Ia tidak bisa pulang hanya membawa tangan kosong dan kabar buruk soal akun yang kena suspend.

Ia harus pulang membawa setidaknya satu hal yang manis. Meskipun manis itu palsu.

Banyu menyalakan mesin motor. Tarikan gasnya terasa berat, mungkin olinya sudah minta ganti. Banyu mencoba mengabaikan getaran tidak wajar yang merambat kasar ke stang motornya. Ia memutar gas, melaju pelan membelah kemacetan sore arah pulang.

Perjalanan pulang terasa sepuluh kali lebih lama dari biasanya. Setiap kali Banyu melihat driver ojol lain yang melintas dengan membawa penumpang atau paket, dadanya nyeri. Mereka sedang bekerja. Mereka sedang mengumpulkan poin. Sementara Banyu? Ia adalah prajurit yang dilucuti senjatanya, diusir dari medan perang.

Ia sampai di kontrakan saat langit sudah gelap sempurna. Lampu-lampu rumah tetangga sudah menyala, mengirimkan bayangan panjang ke jalan setapak yang sempit.

Banyu memarkir motor. Ia mengambil boks kue itu, menimangnya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, memasang "topeng" terbaiknya. Topeng seorang ayah yang lelah tapi sukses. Topeng seorang suami yang bertanggung jawab.

Ia mengetuk pintu.

Tok. Tok. Tok.

Pintu terbuka cepat, seolah Dina memang sudah menunggu di baliknya sejak tadi.

Wajah istri tercintanya muncul. Ada guratan cemas di dahinya yang langsung mengendur begitu melihat Banyu berdiri utuh.

Banyu mengangkat tangannya, melambai pelan sambil tersenyum lelah. Sebuah sapaan bisu yang hangat.

Dina membalas senyum itu tipis. Matanya langsung menyapu tubuh Banyu, memeriksa. Jaket kotor, celana jeans berdebu, wajah kusam. Lalu tatapan Dina jatuh ke tangan Banyu.

Ke boks kue transparan itu.

Mata Dina membelalak.

Banyu segera masuk, meletakkan kue itu di meja makan. Fajar yang sedang menggambar di lantai—dengan buku gambar yang kertasnya sudah habis dan ia gambar ulang di bagian belakangnya—langsung melompat bangun.

"Ayah!"

Banyu menangkap gerakan mulut anaknya. Ia berlutut, merentangkan tangan. Fajar menubruk pelukannya. Bau matahari dan keringat anak kecil menyeruak, menjadi satu-satunya aroma yang mampu menetralkan bau kegagalan di tubuh Banyu.

"Ayah bawa apa?" Fajar menunjuk boks kue itu, matanya berbinar seperti melihat harta karun.

Banyu tersenyum lebar. Senyum yang ia paksakan hingga pipinya sakit.

Ia menggunakan bahasa isyarat campur lisan, “Kejutan. Kue cokelat.”

Dina mendekat. Ia tidak tampak seantusias Fajar. Matanya menatap kue mewah itu, lalu menatap Banyu dengan penuh selidik. Insting istri tidak bisa dibohongi. Dia tahu harga kue seperti itu. Dia tahu kondisi dompet suaminya pagi tadi.

"Kamu beli?" tanya Dina tanpa suara, gerak bibirnya lambat dan tegas.

Banyu menggeleng. Ia sudah menyiapkan skenario ini sepanjang jalan. Tangannya bergerak lincah, berbohong.

“Bukan beli. Tadi ada pelanggan... orang kaya. Anaknya ulang tahun, tapi kuenya kelebihan. Dia kasih buat aku. Rezeki Fajar.”

Dina menatap mata Banyu. Mencari kebenaran.

Banyu berusaha tidak mengedipkan mata. Ia menahan tatapan itu, memohon dalam hati agar Dina percaya. Tolong, Din. Jangan tanya lagi. Biarkan malam ini kita senang sebentar.

Dina akhirnya menghela napas. Bahunya turun. Dia memilih untuk percaya, atau setidaknya, memilih untuk tidak membongkar kebohongan itu di depan anak mereka.

"Syukurlah," ucap Dina pelan.

"Boleh makan? Boleh?" Fajar melompat-lompat, menarik ujung baju Banyu.

Banyu mengangguk. “Boleh. Ayo potong.”

Dina pergi ke dapur mengambil pisau dan piring kecil. Banyu membuka boks kue itu. Bagian yang ia kerik tadi terlihat agak berantakan, krimnya tidak rata.

"Kok jelek?" tanya Fajar polos, menunjuk bekas tulisan 'Ryan' yang hilang.

Jantung Banyu berhenti sesaat.

Dina yang baru datang membawa pisau langsung menyela cepat. Banyu membaca gerak bibir istrinya yang sigap saat bicara pada Fajar, 'Itu kena goyang di motor Ayah tadi. Kan jalanan macet. Rasanya pasti tetap enak."

Dina menyelamatkannya. Banyu menatap istrinya dengan rasa terima kasih yang mendalam. Dina tahu ada yang tidak beres, tapi dia menutupi celah itu demi Fajar.

Mereka duduk melingkar di lantai. Kue itu dipotong. Potongan pertama yang besar diberikan untuk Fajar.

Anak itu langsung menyuapnya. Krim cokelat belepotan di mulutnya. Matanya terpejam saking menikmatinya. "Enak banget!" seru Fajar.

Banyu mengambil sepotong kecil untuk dirinya. Ia memasukkannya ke mulut.

Rasanya sama seperti saat ia mencicipinya di pinggir jalan tadi siang. Manis. Lembut. Mewah.

Tapi kali ini, saat ia melihat Fajar makan dengan lahap, rasa manis itu tidak lagi terasa seperti ejekan. Rasa manis itu menjadi penawar luka. Setidaknya, kegagalannya hari ini bisa membuat perut anaknya kenyang dengan sesuatu yang mahal.

Namun, pertanyaan yang Banyu takutkan akhirnya keluar juga.

Dina meletakkan piring kuenya. Dia menatap kaki Fajar, lalu menatap Banyu.

"Sepatunya?" tanya Dina lirih. "Katanya mau beli sepatu baru hari ini?"

Kunyahan Banyu terhenti. Kue bolu di mulutnya mendadak terasa seperti pasir kering yang mencekik tenggorokan.

Ia meletakkan piringnya pelan. Ia tidak berani menatap Dina. Ia menatap lantai ubin yang retak.

Ia tidak bisa berbohong soal ini. Uangnya tidak ada. Banyu mengangkat tangan, membuat isyarat pelan-pelan.

“Maaf. Uangnya belum cukup. *HP aku rusak tadi siang... orderan susah.”

Dia tidak berani bilang kalau akunnya di-suspend. Itu terlalu menakutkan untuk diungkapkan sekarang.

Wajah Dina berubah mendung. Kekecewaan itu nyata, meski ia berusaha menahannya. Dia melirik Fajar yang tidak peduli, masih sibuk menjilati sisa cokelat di jarinya.

"HP-nya rusak parah?" tanya Dina.

Banyu mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku. Layarnya gelap. Ia mencoba menyalakannya, tapi layarnya berkedip-kedip tidak jelas, lalu mati lagi. Kerusakan akibat panas tadi siang sepertinya permanen.

"LCD-nya kena," gumam Dina. Dia tahu istilah itu karena dulu HP lamanya pernah begitu. "Mahal benerinnya, Nyu. Tiga ratus ribu ada kali."

Tiga ratus ribu. Angka itu terdengar seperti vonis hukuman mati.

Banyu menunduk. Tangan kanannya mengepal di atas lutut.

“Besok aku coba servis di tempat temen. Siapa tahu bisa murah. Atau cuma kabelnya kendor.”

Dina tidak menjawab. Dia hanya menatap suaminya dengan tatapan iba bercampur lelah. Dia tahu Banyu sedang berusaha menenangkan situasi, padahal realitanya mereka sedang di ujung tanduk. Tanpa HP, Banyu tidak bisa kerja. Tanpa uang, HP tidak bisa benar. Ini lingkaran setan.

"Ya sudah," kata Dina akhirnya. Dia membereskan piring kotor. "Yang penting kamu pulang selamat. Sepatu Fajar... nanti dijahit dulu aja sama Pak Ujang di depan gang. Masih bisa dipakai seminggu dua minggu lagi."

Solusi Dina terdengar praktis, tapi menyakitkan harga diri Banyu. Istrinya harus menambal kemiskinan mereka lagi. Malam semakin larut. Fajar sudah tertidur kembali di kamar, perutnya kenyang oleh kue cokelat mahal.

Banyu duduk di teras depan, ditemani nyamuk dan segelas air putih hangat yang diambilnya dari dapur. Ia duduk memeluk lutut di lantai semen yang dingin. Kepalanya terasa mau pecah. Di saat seperti ini, orang lain mungkin membakar uang untuk rokok demi mengusir stres, tapi Banyu tidak punya kemewahan itu. Uang receh di sakunya terlalu berharga, harus dijaga ketat untuk kebutuhan Fajar besok.

Ia hanya bisa memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Menekan rasa pening yang menjalar dari leher ke kepala.

Ia mengeluarkan ponselnya lagi. Mencoba menyalakannya. Ajaib. Mungkin karena suhu malam yang dingin, ponsel itu menyala. Layarnya memang bergaris-garis dan sentuhannya lari-lari, tapi masih bisa menampilkan gambar.

Banyu membuka aplikasi "Laju".

Kotak merah itu masih ada.

Sisa Waktu Penangguhan: 18 Jam 45 Menit.

Ia tidak bisa bekerja besok.

Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit teras yang penuh sarang laba-laba.

Besok dia harus keluar rumah pagi-pagi seperti biasa. Dia harus berpura-pura pergi bekerja agar Dina tidak cemas.

Tapi ke mana dia harus pergi?

Tiba-tiba, sebuah ide muncul. Komunitas.

Ada sebuah grup WhatsApp kecil—sangat kecil—berisi para driver ojol Tuli di Jakarta Selatan. Anggotanya tidak sampai sepuluh orang. Mereka jarang kopdar karena sibuk bertahan hidup masing-masing.

Tapi ada satu nama yang Banyu ingat. Bang Sapto. Seniornya. Orang yang dulu mengajarinya cara mengakali GPS yang lemot.

Banyu membuka WhatsApp dengan susah payah karena layar sentuhnya error. Ia mencari kontak Bang Sapto.

Ia mengetik pesan dengan typo di sana-sini karena keyboardnya loncat-loncat:

"Bang Sapto. Akun kena suspen. HP rusak. Boleh ikut nngkrong bsk? Butuh saran."

Lima menit kemudian, centang dua biru.

Balasan masuk. Singkat. Khas Bang Sapto.

"Ke basecamp biasa. Blok M. Bawa kopi."

Banyu tersenyum tipis. Sangat tipis.

Setidaknya besok ia punya tujuan. Ia tidak sendirian di jalan buntu ini.

Ia menghabiskan sisa air putih di gelasnya dalam sekali teguk. Rasanya tawar, setawar nasibnya hari ini. Tapi air itu cukup untuk membasahi kerongkongannya yang kering karena menahan tangis seharian.

Di dalam rumah, Dina mungkin sedang menangis dalam diam, atau mungkin sedang menghitung ulang belanja bulanan yang minus.

Banyu masuk, mengunci pintu.

Malam ini mereka selamat karena kue sisa. Besok? Besok adalah pertarungan baru. Dan kali ini, Banyu harus bertarung tanpa senjata.

Ia membaringkan tubuhnya di samping Fajar. Telinga kirinya menempel di bantal, menciptakan keheningan total. Telinga kanannya menangkap dengkuran halus anaknya. Resonansi napas Fajar adalah satu-satunya suara yang ingin Banyu dengar selamanya.

"Maafkan Ayah, Nak," batinnya. "Sepatumu bolong, tapi Ayah janji, masa depanmu tidak akan bolong seperti saku Ayah malam ini."

Banyu memejamkan mata, membiarkan kelelahan menyeretnya ke dalam mimpi di mana akunnya tidak merah, dan sepatu Fajar mengkilap baru.